
Hampir sebulan Sabrina terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit sejak kejadian waktu itu, dan akhirnya Sabrina mulai menunjukkan tanda-tanda ia mulai sadar, mulai dari jari yang bergerak, kening yang berkedut namun mata Sabrina masih enggan terbuka. Alex dan yang lainnya harus sabar menanti perkembangan kesehatan Sabrina.
" Aih, aku rindu loh sama kamu Rina. Rindu bercampur sakit, kapan sih kamu bangunannya...?? gak capek apa tidur mulu? mandi kagak, gosok gigi juga kagak, makan sama minum pake selang, udah manja bau jigong pula. Dih, punya temen kek gini amat yak?! Bangun, mandi sono lu!! " ujar Jesica
Jesica, Mida, dan Erwin yang paling sering berkunjung ku rumah sakit untuk menemani Sabrina sambil membawa buku pelajaran mereka, tak jarang Jesica juga diam-diam memperdengarkan musik kesukaan Sabrina dengan memasukkan headset ke telinganya, hal itu pernah ketahuan oleh dokter dan sempat kena teguran. Bang Heri hanya sesekali saja menjenguk Sabrina karena ia harus menghadap ke ketua karate Indonesia perihal Sabrina yang mengkonsumsi obat penenang, Bang Heri terkena skorsing sedangkan Sabrina harus mengembalikan semua piagam dan medali yang pernah ia raih. Karena menurut mereka, Sabrina tidak layak menjadi pemenang sebab ia positif menggunakan obat-obatan.
Mereka yang melihat hanya bisa pasrah dan diam saja.
Hari itu Darius kembali mendapat telpon dari Anita dengan nomor yang berbeda, Anita menanyakan perihal kondisi Sabrina saat ini. Darius mengatakan tidak tahu, dan ia tidak pernah menjenguk Sabrina. Namun, Anita tak lantas percaya dengan kata-kata Darius. Anita menyuruh Darius untuk pergi menjenguk Sabrina dan melaporkannya ke Anita.
" untuk apa aku melaporkan hal itu ke kamu? " tanya Darius
" aku hanya ingin tahu, aku merasa bersalah karena sudah mencelakai dia. Tapi kalau aku ke sana pasti aku akan diusir oleh mereka. Jadi, aku minta tolong sama kamu, ya... " jawab Anita
Jawaban Anita meyakinkan Darius,
" Tapi, setelah ini jangan sampai kamu menghubungi aku lagi. Aku tidak mau terseret kasus mu dan masuk penjara bersama mu! Selain itu, jangan pernah lagi kamu mendekati apalagi menyentuh Sabrina, kalau sampai berani awas saja! Bakal aku kejar kamu sampai ke ujung dunia. " kata Darius
Darius menuju rumah sakit dengan membawa sebuah buket bunga. Ia sempat bertemu Erwin di pintu masuk rumah sakit dan bertanya lokasi tempat Sabrina rawat inap.
" Jes, kak Darius ke sini tuh! " ujar Mida
" Hai, kalian sejak kapan ada disini? " tanya Darius
" kita dari jam berapa tadi ya? lupa, hehe " jawab Jesica
" gimana kondisi Sabrina sekarang? "
" masih gitu-gitu aja kak, belum ada perkembangan. Haish, kangen celotehannya Sabrina, lekas bangun lagi Rin... " kata Jesica
" aku, boleh masuk gak? "
" boleh, tapi jangan lama-lama ya... " kata Mida
Darius pun masuk ke kamar dan melihat langsung kondisi Sabrina yang masih tak sadarkan diri. Darius menaruh buket bunga di meja samping tempat tidur, ' maaf aku gak bisa jagain kamu... mungkin memang aku tak layak untukmu, cepat sembuh dan lekas kembali ceria seperti kemarin. '
Darius juga mengambil gambar Sabrina dan dikirimkan ke Anita. Anita yang melihat foto kondisi Sabrina tersenyum lega, setidaknya ia aman sekarang karena saat ini Sabrina masih belum bisa di interogasi terkait kasus waktu itu. Darius juga mengatakan kepada Anita untuk datang langsung ke rumah sakit dan meminta maaf kepada Sabrina dan keluarga.
" sayang, Mama rindu sekali berbincang berdua bersama kamu. Sudah lama sejak kepergian kakak mu, kita duduk berdua. Kalau kamu sudah pulih nanti, Mama mau ajak kamu pulang ke rumah kita, kita jalani kehidupan kita dengan membuka lembaran baru. Mama janji, mama gak akan lagi memarahi mu dan menyalahkan mu, lekas sembuh sayangnya Mama. "
" maaf, ibu tunggu di luar dulu ya. Kami akan mengecek kondisi pasien dulu, " kata Dokter
Seluruh keluarga Sabrina terlihat lega dan bahagia. Mama Sabrina segera memberitahu Jesica mengenai kondisi Sabrina yang sudah mau membuka matanya. Segera setelah Jesica menerima kabar itu ia langsung menghubungi Alex dan yang lainnya, mereka pun menuju ke rumah sakit.
" Tante! "
" Tante, Sabrina benar sudah sadar? Dia sudah mau membuka matanya? " tanya Alex
" Iya, nak. Sabrina sudah sadar dan sudah mau membuka matanya. Dokter masih memeriksa kondisi Sabrina sekarang, kita berdoa saja semoga kedepannya dia bisa lekas pulih. " jawab Mama Sabrina
Alex tersenyum bahagia, ia tak sabar ingin segera bertemu dan berbincang tentang banyak hal bersama Sabrina. Jesica pun sangat bersyukur, akhirnya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan.
" Sabrina sekarang sudah sadar, namun dia masih lemah. Kita akan observasi sekitar 3 hari ke depan, kalau fisiknya dapat pulih lebih cepat ia bisa di pindah ke kamar rawat inap. Tapi, jangan membuat mentalnya tertekan, takutnya nanti berdampak pada proses pemulihannya. Kalian boleh jenguk tapi satu persatu, saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa bisa cari saya lagi. "
" Terimakasih dokter...! "
" Makasih, dokter...! "
" Dokter hebat! Terimakasih...! "
Mama Sabrina memberikan kesempatan untuk Alex bertemu dengan Sabrina, mengingat selama ini Alex lah yang selalu memberikan semangat untuk Sabrina dan memberikan sugesti yang baik untuk Sabrina. Alex tak sanggup menahan air matanya ketika melihat senyum Sabrina. Sabrina menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada Alex untuk jangan menangis. Alex menggenggam telapak tangan Sabrina dan menciumnya, ia tak mampu berkata-kata. Hanya air mata kebahagiaan yang terus saja menetes ke pipinya, Alex mengusap rambut Sabrina dengan lembut sambil tersenyum dan terus menatap mata Sabrina. ' Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan permohonan ku selama ini... Terima kasih Sabrina, kamu akhirnya sadar. Lekaslah pulih, aku ingin segera menari bersama kamu di panggung... '
Hari demi hari perkembangan kondisi Sabrina mulai berangsur membaik, ia pun dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Teman-temannya pun semakin banyak yang menjenguk ke rumah sakit, bahkan orang tua dari Alex, Jesica, dan Erwin pun datang menjenguk Sabrina. Mereka membawakan beberapa bingkisan dan bunga untuk Sabrina, kamar tempat Sabrina menginap penuh dengan makanan, buah, dan bunga. Untung saja Sabrina di tempatkan dikamar VIP dan semua biaya perawatan ditanggung oleh keluarga Erwin dan Alex. Mama Sabrina yang awalnya menolak akhirnya hanya bisa menerima semua pemberian dari keluarga teman dekat anaknya itu. Bahkan Mamanya Alex sampai mendatangkan dokter yang paling terkenal di Jepang hanya untuk merawat Sabrina.
" Haih, aku jadi gak enak hati sama kak Alex dan Erwin. Aku yang dari keluarga biasa-biasa aja gini jadi pusing mikirin gimana caranya balas budi ke kalian berdua... " kata Sabrina
" Alah, itu mah gak usah dipikirin! yang penting kalau ada tugas koreografi kamu bantuin aku bikin gerakan koreo. Hehe... " jawab Erwin
" udah tenang aja, aku gak mengharap balas budi dari kamu. Cukup jadi mantunya Mama aku aja, aku bahagia banget. " kata Alex sambil tersenyum
" aih, apaan sih?! aku serius... "
" kita dua rius, hayo...?! " sahut Erwin
PLAAAK ..!!
Seiring berjalannya waktu, kondisi Sabrina berangsur membaik dan dokter pun memperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.