
Sekolah pun kembali beraktivitas seperti biasanya, namun kali ini semua siswa tengah bersiap menghadapi ujian semester ganjil yang akan diadakan pada bulan Desember. Baik itu senior maupun junior semuanya belajar dengan tekun dan serius, di asrama pun juga kini di jaga semakin ketat oleh pengawas. Mulai pukul 19.00 tak ada yang boleh izin keluar dari asrama, kalaupun ada yang mau izin keluar mereka harus di awasi oleh pengawas lainnya, sedangkan siswa yang belajar di sanggar di haruskan mengambil cuti dengan alasan ujian semester ganjil. Tak ada yang berani melanggar aturan tersebut dan tak ada yang berani membantah, karena hukumannya adalah poin di kurangi dan tidak di izinkan mengikuti ujian semester ganjil.
Kondisi di kamar yang dihuni oleh Sabrina dan kawan-kawan pun tak jauh beda, setelah mereka selesai makan malam bersama di kantin mereka langsung naik ke kamar dan belajar.
" udah malem, woy. Tidur, biar gak ngantuk... " kata Jesica
" udah, tidur duluan sana. Aku nanti nyusul, masih ada yang perlu aku pelajari soalnya. " kata Sabrina
" awas nanti sakit loh, jangan maksain diri, Rina. "
" iya jes, tenang aja. aku gak bakal sakit kok, udah bobo dulu sana. Apa mau nunggu aku kelonin, hahah. "
" ogah, kamu kalo tidur kayak helikopter. Muter-muter gak karuan, " ujar Jesica
Sabrina pun melanjutkan belajarnya, sedangkan yang lainnya memilih untuk tidur karena mata tak lagi bisa diajak berkompromi untuk membaca buku.
" Rina, aku mau nanya boleh? " ucap Irene
" lah, ren. Belum tidur? nanya apa? "
" emm, kamu deket sama kak Alex dari kapan? "
" hm, dibilang deket enggak juga sih, ren. Tapi kita mulai ngobrol itu pas masih MOS dulu, dia minta traktir aku. Ih, sebel deh kalo inget kejadian itu! 350.000 ku melayang gara-gara dia, padahal aku udah irit-irit biar bisa nabung. huhumb, kenapa kamu ngeliat aku kayak orang cemburu gitu? " kata Sabrina
" kamu! traktir makan kak Alex?! " teriak Irene
" Woy! kalo ngomong kalem aja ngapa? gak perlu pake ngegas segala. " bentak Jesica
" iya maaf, maaf. " kata Irene
" kamu, traktir kak Alex? kok bisa, ceritanya gimana? "
" kamu ingat gak, dulu waktu kita masih baru di sekolah ini kita di kerjain sama orang dengan suara cekikikan gitu. Terus aku kan nyiram air ke orang yang ada di samping kamar mandi. Mereka itu kak Alex dan teman-temannya. " jawab Sabrina
" hah?! serius? terus-terus? "
" ya besoknya aku di kerjain balik sama kak Alex, dan keluarlah 350.000 ku dari kantong. " jawab Sabrina
" kamu, punya nomornya kak Alex gak? " tanya Irene
" punya sih, kenapa? mau minta? besok ya aku tanya sama orangnya dulu boleh apa enggak. aku takut kalo sembarangan ngebagiin nomor telepon orang... " jawab Sabrina
" oh, okey. " kata Irene
Ke esokan harinya...
" Rin, pucet amat muka kamu kayak mayat. " kata Mida
" gak tau nih, badan ku gak enak banget rasanya. Perut bagian kiri ku juga sakit banget. "
" kamu sakit? " tanya Jesica
" kayaknya... " jawab Sabrina sambil menutup dirinya pakai selimut
" hmm, ya sudah nanti aku bilang ke wali kelas mu kalau kamu sakit. Istirahat, jangan lupa makan. " kata Jesica
Jesica dan yang lainnya pun bergegas menuju ke gedung kelas. Seperti yang Jesica janjikan, ia pun menuju ruang guru untuk menyampaikan bahwa Sabrina tidak bisa hadir di kelas karena sakit. Kabar Sabrina sakit rupanya terdengar oleh Alex, saat jam istirahat Alex berlari menuju ke kamar Sabrina.
BRAAAK...!!!
" Sabrina...! gimana kondisi mu sekarang? Ya Tuhan, badan mu panas banget. Kita ke rumah sakit ya. " kata Alex panik
" ughh, enggak ah. Aku gak mau ke rumah sakit, aku di sini aja. Istirahat aja di kamar, paling besok juga sembuh. "
" Udah makan? "
" gak nafsu makan " jawab Sabrina lesu
Alex sudah sangat khawatir, dia menelpon Johan untuk meminjam mobil Andriano.
" Kamu aja sana yang nganterin si Alex, aku lagi males kemana-mana. " ucap Andriano
" haish, ya sudah. "
Alex dan Johan pun pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Sabrina.
" Dia kena gejala typus, dia punya magh juga. Ditambah dia sepertinya mengkonsumsi obat tidur dalam jangka waktu yang panjang. Karena di dalam laporan hasil labnya ada kandungan seperti sejenis obat tidur. " kata dokter
" obat tidur? kalau itu saya kurang tahu, dok. Tapi sepertinya dia baik-baik saja. " kata Alex
" ya sudah, tolong bilang ke teman kamu itu untuk jangan sering-sering mengkonsumsi obat tidur karena kasihan liver dan ginjalnya nanti. ini saya resep kan obat dosisnya saya kurangi saja, selain itu makan yang teratur dan istirahat yang cukup, jangan sering begadang dan banyak pikiran " kata dokter
" baik dokter. Terimakasih, "
Sesampainya di depan gerbang sekolah...
" Mampus, Lex! Alex! ada Anita di depan gerbang! " ujar Johan
BRUAAAK...!!!
" ALEX!! TURUN KAMU...! " teriak Anita
" hadeeh, masalah lagi... "
" ngapain sih Nita? " tanya Alex
Anita tak menghiraukan pertanyaan Alex, ia segera menuju ke mobil dan membuka pintu mobil belakang. Anita kaget karena ia melihat Sabrina yang sedang tiduran di kursi belakang, tanpa bertanya atau memberi isyarat apapun Anita menjambak rambut Sabrina hingga ia meringis kesakitan dan menyeret Sabrina yang lemah itu turun dari mobil.
PLAAAAK...!!!
Tamparan Anita mengenai pipi Sabrina dan membuatnya terjatuh ke tanah. Sabrina hanya diam tak berkutik karena ia sadar akan kondisi tubuhnya. Tak hanya itu saja, Anita juga menendang dan menginjak tubuh Sabrina bahkan Anita tak peduli dengan rintihan Sabrina yang meminta untuk menghentikan perbuatannya itu.
" ANITA CUKUP!!! " teriak Alex
Anita yang mendengar teriakan Alex pun berhenti, Alex segera menarik tubuh Anita dan menyuruh Johan untuk membawa Sabrina ke ruang kesehatan untuk dibersihkan lukanya. Alex telah kehilangan kesabaran untuk terus mengerti dan memaklumi sifat buruk Anita.
" Cukup, Nit. Mulai detik ini juga, kalau sampai aku tahu kamu nyakitin apalagi nyentuh sehelai rambutnya Sabrina, aku bakal hancurin hidup kamu. Sekarang kita jalani hidup kita sendiri, aku sekarang lebih nyaman di dekat Sabrina. Aku capek dengan semua tingkah dan sifat mu yang angkuh, yang seolah-olah tak ada satu orang pun yang akan mampu melawan mu! inget, roda kehidupan itu berputar, kalau sudah waktunya kamu akan merasakan apa yang mereka rasakan. Sekali lagi aku ingetin, JANGAN PERNAH KAMU SENTUH SABRINA!! INGAT ITU...!! " kata Alex
Anita diam mematung mendengar perkataan Alex yang justru membela Sabrina. Sama sekali bukan seperti Alex yang akan langsung takut dan merayu jika tahu Anita sudah marah.
" Kamu pasti akan menyesal atas perbuatan mu ini Alex! Ingat, ayah mu yang saat ini di penjara akan aku buat dia makin menderita di sana! dan aku akan buat kamu tidak bisa lagi menjenguk dia. " ancam Anita
" hahahah, bahkan aku tak peduli dengan hal itu. Yang aku pedulikan sekarang adalah Sabrina, paham kamu? " ujar Alex
Sabrina di obati oleh Jesica di ruang kesehatan, Jesica juga langsung terbawa emosi saat mengetahui kalau temannya yang sedang sakit itu malah dianiaya oleh seniornya.
" kenapa gak lapor guru BK aja sih, Jo? kamu kan saksi mata! " tanya Jesica marah
" kamu kan tahu sendiri Anita anaknya siapa, ya pasti guru BK akan tetap membela Anita. " jawab Johan
" AAAARGHH...!!! ikutan emosi kan aku! "
" aduh sakit! pelan-pelan dong, Jes... sakit, huhuu " rintih Sabrina
Alex pun akhirnya tiba ke ruang kesehatan, ia di omelin habis-habisan oleh Jesica. Bahkan Jesica juga mengatakan untuk jaga jarak dengan Sabrina karena Anita itu ancaman terbesar dan bisa saja mencelakai Sabrina kapanpun.
" huhuhu, kasihan sekali teman ku ini, sudah sakit masih di sakitin pula. aku gak Terima, rasanya aku pengen mukulin dia, tapi kalau bukan karena kak Alex Sabrina gak akan kayak gini. huhuhu, sabar ya Rin. " kata Jesica
" apaan sih, udah lah Jesica. toh aku masih sehat kan... " ujar Sabrina
" sehat pala lu peyang! babak belur gini, mana muka pucet kayak orang udah meninggal pula. huhuhu... gak tega aku, btw waktu kalian bertiga keluar Anita tahu gak? "
" Setahu aku sih gak ada, " jawab Alex
" Kita keluar pas jam pelajaran kok. Tapi, aku sempat ketemu teman kamu yang sekamar juga di jalan pas mau nyampe kamar mu. " jawab Johan
" siapa? Mida? "
" Bukan, dia bawa biola kok. " jawab Johan.
" biola? Irene? " tanya Sabrina.
" mungkin, dia nanya mau ngapain ke asrama cewek. Ya aku jawab mau nganter Sabrina ke rumah sakit sama Alex "
" Irene... kayaknya aku pernah kenal sama org itu " kata Alex
" iya, kakak kenal sama dia kok. Dia yang waktu pesta promnight itu ngajakin kakak dansa tapi di halangin sama kak Anita. " kata Sabrina
" oh, iya aku inget! Tapi dari mana kamu tahu? sepertinya aku gak liat kamu ikut pesta itu. "
" aku lihat dari atap gedung, aku males ke acara yang seperti itu. Terus tiba-tiba kak Darius dateng dan ngelihat kak Alex dari atas. " kata Sabrina
" oh, kalian berduaan ya di atap. Emm, ngapain aja? Gandengan tangan gak? "
Belum sempat Sabrina menjawab pertanyaan Alex, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan Darius dengan ekspresi wajah panik.
" Sabrina, kamu gak kenapa-kenapa kan? Ya ampun sampai luka lecet kayak gini, pipi juga merah. " kata Darius panik
" aku gak papa kok kak, udah di obati juga sama Jesica. "
" Gara-gara kamu kan, Lex! aku udah ingetin sama kamu untuk jauhi Sabrina, karena Anita itu berbahaya untuk wanita lain yang ada di dekat kamu! " kata Darius
" Kalau aku jauhi dia, lantas bagaimana dengan kamu? kamu mau cari kesempatan untuk dekati dia? aku tahu kalau kamu sedang berusaha mendekati Sabrina. kalau aku saja tidak bisa mendapatkan hatinya dia, belum tentu kamu juga bisa mendapatkan hal itu. " kata Alex
Sabrina dan yang lainnya melongo mendengar perkataan Alex. 'hei, permisi. Bisakah kalian mengatakan hal itu di belakang ku saja? aku malu, aku takut nanti besar kepala. Terlebih sekarang ada teman ku, aku gak mau jadi bahan ejekan mereka di kamar nanti... Aduuuh! '