FIRST LOVE (Story' At School Of Art)

FIRST LOVE (Story' At School Of Art)
Pencarian Anita



Setelah tragedi berdarah kemarin, Sabrina berhasil keluar dari zona kritis. Namun tubuhnya belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran, itu di akibatkan Sabrina kehilangan banyak darah, selain itu cutter yang dipakai Anita untuk menusuk Sabrina kondisinya sudah sedikit berkarat. Dokter harus mengeluarkan darah yang terkontaminasi karat terlebih dahulu, hal itu pun butuh ke hati-hatian yang ekstra mengingat lokasi luka ada di bagian perut.


Secara bergantian teman Sabrina menemani dan memberi semangat untuknya supaya lekas sadar dan pulih. Bahkan ibu kandung Sabrina pun akhirnya datang menjenguk anaknya yang hanya tinggal Sabrina. Beliau menangis dan berdo'a untuk kesembuhan Sabrina, beliau pun berjanji tak akan lagi memperlakukan Sabrina dengan kejam. Beliau tak ingin kehilangan anak untuk yang kedua kalinya.


" Tante, tante istirahat dulu saja ya. Biar Rina kami yang jaga, nanti kalau ada perkembangan tentang Rina kami akan segera hubungi tante. " kata Jesica


" Tante tidak apa-apa, tante ingin menjaga anak tante. Selama ini tante tidak pernah memberikan kasih sayang untuk Sabrina, tante selalu menuntutnya untuk mengikuti keinginan tante. Tante juga selalu membedakan dia dengan kakaknya... Sayang, mama minta maaf atas kesalahan mama, mama janji akan menyayangi kamu dan tidak membedakan mu lagi... bangun ya sayang, mama kangen dengan senyum ceria mu. " kata Mama Sabrina


" ya udah, kalau itu mau tante. Kita juga gak bisa maksa, tante tidur di ranjang sebelah aja. Kita nanti yang jagain Rina sambil main kartu. hehe... "


" iya, nanti kalau sudah ngantuk saja. Kalau boleh tahu, kalian satu kelas? " tanya mama Sabrina


" kalau saya dan Jesica satu kamar dengan Sabrina tante, kita udah biasa melewati masa sulit tante. Bahkan waktu ujian kemarin kita begadang bareng. " jawab Mida


" sebenarnya ada satu teman lagi, namanya Irene. Tapi dia juga penyebab utama Sabrina terluka seperti ini... Kami minta maaf, karena tidak bisa menjaga Sabrina dengan baik. " kata Jesica.


" Lalu, bagaimana dengan pelakunya? "


" pelaku sedang dicari polisi tante, tapi dia anak yayasan sekolah, takutnya dia lolos karena ortunya banyak uang. Tapi kami juga sedang usahain supaya pelaku di hukum dengan berat. " kata Jesica


Mereka berbincang sepanjang malam, Jesica pun menanyakan mengenai sosok Lucia, kakak Sabrina yang telah tiada lebih dulu di tangan penjahat. Mama Sabrina bercerita siapa itu Lucia, dan segala perbedaan antara Lucia dan Sabrina pun tak luput dari cerita itu. Dan saat itu pula Johan yang sudah ada di depan pintu mencuri dengar, ia terkejut ketika nama Lucia disebut, ketika Mama Sabrina menceritakan kronologi kematian Lucia, Johan tersentak dan tak bisa berkata apapun. Air mata pun tak mampu dibendung, ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju kafetaria. Pikirannya melayang membayangkan sosok Lucia yang telah membuatnya jatuh hati dan ingin mencari keberadaannya lagi. Namun langkah itu harus terhenti, karena Lucia sekarang telah berada di dunia yang berbeda dengannya. Duduk diam sembari menikmati embun yang menempel di kaca, ia mengambil HP-nya dan memandangi wallpaper yang bergambar foto Lucia dan Johan saat masih ikut bela diri.


" Jo! ngapain kamu duduk di sini sendirian? " tanya Jesica mengagetkan Johan yang tengah melamun


" gak papa, lagi boring aja. Gimana kondisi Sabrina? "


" masih sama kayak kemarin, Jo. Kapan dia sadarnya. hmmm. " jawab Julia


" tadi aku gak sengaja denger kalian lagi ngomongin kakaknya Sabrina ya? " tanya Johan penasaran


" he.em, sebelumnya aku cuma gak sengaja lihat foto kakaknya Sabrina yang di pasang si dompet Sabrina, kalo pas aku tanya sama Rina dia cuma jawab, kakak ku udah meninggal lama... "


Johan menunduk, Lucia... ya dialah orang yang pernah membuat Johan berubah dari orang yang pengecut menjadi dia yang pemberani. Luci, kenapa kamu ninggalin aku duluan...! bahkan aku belum sempat jumpa dengan mu lagi.


Di tempat lain, Alex dan Andriano membantu pihak kepolisian untuk menangkap Anita. Selain itu, ia juga masih mengumpulkan beberapa bukti lagi untuk menjebloskan Papa Anita ke penjara dengan kasus korupsi. Darius pun juga ikut membantu, ia berusaha sendirian dan datang ke rumah Anita, sayangnya rumah itu hanya ada PRT dan kepala pelayan saja.


Wajah Anita dan Papanya pun disebar ke penjuru kota oleh pihak polisi supaya lebih mudah mendapat informasi. Darius mencoba menghubungi Anita namun tak terhubung, ia mengecek media sosial milik Anita pun tak aktif. Ia benar-benar menghilang bagai di telan bumi, sedangkan nasib Irene sekarang tak jauh berbeda dengan Anita. Ia dikucilkan di sekolah, tak ada yang mau menjadi temannya.


Tak terasa waktu sudah hampir 2minggu, dan Sabrina masih saja belum sadarkan diri. Mama, Jesica, Muda, dan yang lainnya masih bergantian menemani Sabrina. Alex tak mampu menahan air matanya ketika menemani Sabrina di rumah sakit.


" bangun Rina, aku kangen sama kamu. Kalau kamu bangun aku akan langsung melamar kamu, dan kita menikah. Gak perlu pacaran, takut putus! " ujar Alex


Hal itu juga di dengar oleh orang tua Sabrina, dan juga sepupu Sabrina.


" keluar bentar boleh? "


" eh, iya kak. kenapa? " tanya Alex


" kamu yang waktu itu pergi bareng Rina ya? "


" iya kak, kakak masih ingat sama saya? "


" haih, kamu serius suka sama Rina? " tanya sepupu Sabrina


" iya kak, aku suka sama dia dan aku juga akan jaga dia semampu aku. " jawab Alex


Alex terdiam, ia merenungkan perkataan sepupu Sabrina. ' ya, semua salah ku. karena aku yang menyukai Sabrina ketika aku masih berhubungan dengan Anita. Aaaaaarrrggghhh...! ****! damn! Bagaimanapun caranya aku harus bisa membalas dendam, akan aku buat mereka merasakan apa yang aku rasakan...! '


Alex kembali ke kantor polisi dan bertanya tentang perkembangan kasus Anita. Pihak kepolisian belum mampu memberikan keterangan apapun karena mereka masih kesulitan untuk menemukan jejak keluarga Anita.


RRIIIIING... RRIIIIIIING...


" Halo... "


" Halo, Darius... "


Terdengar suara seorang perempuan yang rasanya tak asing ditelinga Darius.


" ANITA...?! " teriak Darius


" ssssttt, pelankan suara mu. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku menghubungi mu. " kata Anita.


" Polisi saat ini sedang mencari mu, dan kamu malah menghubungi ku? Apa kamu mau menyeret ku ikut masuk ke permainan mu? " tanya Darius


" aku tak tahu harus menghubungi siapa lagi selain kamu, teman ku semua menjauhiku. Darius aku mau minta tolong sama kamu, bisa? "


" maaf, Nita aku gak mau punya urusan sama kamu. Yang ada aku akan melapor ke polisi kalau kamu baru saja menghubungiku. " kata Darius


" kalau kamu mau bantu aku, aku akan bantu kamu dapetin Sabrina, gimana? "


" apa mau kamu... " tanya Darius


" aku pengen kamu ke kantor Papa aku dan ambil buku jurnal yang covernya warna Coklat. Simpan buku itu dulu dan jangan sampai ada orang lain tahu tentang ini. " kata Anita


Setelah Anita mengakhiri pembicaraannya dengan Darius, Darius bergegas kembali ke sekolah dan berlari menuju ke kantor Papanya Anita.


" Anita, kantor papa mu di kunci. Aku gak punya akses untuk masuk ke ruangannya. " ujar Darius


" minta sama pak Rino, dia bawahannya Papa ku... " kata Anita


Darius kembali berlari untuk menemui Pak Rino dan meminta kunci kantor Papa Anita. Setelah pintu terbuka, Darius bergegas mencari buku jurnal yang Anita maksud.


" wow, wow, wow, Alex! look... kau pasti kenal siapa orang itu? " ujar Andriano


Nampak di layar monitor milik Andriano gambar Darius yang terekam jelas tengah melakukan aktivitas mencurigakan, mengingat ruangan itu sudah di kunci.


" Darius, sedang apa dia disitu? Aku akan samperin dia. " kata Alex


" wait! ada orang selan Darius yang juga ada di ruangan itu... mirip seperti Pak Rino bukan sih? "


" Pak Rino? " tanya Alex


" Iya, Pak Rino yang bagia akuntan sekolah. " jawab Andriano


Mereka terus melihat gerak gerik Darius dan Pak Rino, mereka pun juga melihat buku jurnal yang dibawa Darius keluar dari ruangan Papa Anita. Mereka juga tak lupa untuk memindahkan file rekaman itu ke sebuah flashdisk.


Mereka berharap dengan semua bukti rekaman itu akan membantunya menghukum Anita dan Papanya.