FIRST LOVE (Story' At School Of Art)

FIRST LOVE (Story' At School Of Art)
Sepenggal kisah 'Sabrina dan Lucia'



Sabrina dan Lucia, dua saudara yang terlahir dari keluarga seniman amatir. Ayahnya bernama Rizal dan Ibunya yang bernama Ratna, selain seniman orang tua Sabrina juga menyukai kegiatan yang berkaitan dengan alam, mereka dipertemukan pada saat lomba Napak tilas sejarah. Mereka menjadi satu tim dan berhasil meraih juara ke-2, saat kegiatan itulah awal mereka berkenalan dan akhirnya mereka menikah dan dikaruniai anak kembar yaitu Lucia dan Sabrina.


Lucia terlahir lebih dulu dari Sabrina, ia anak yang rajin dan penurut, ia juga anak yang cenderung tidak percaya diri dan tertutup. Berbeda dengan Sabrina, dia memiliki pribadi yang periang dan selalu ceria dan memberikan kehangatan kepada siapa saja yang ada di dekatnya. Namun, Sabrina juga anak yang sedikit pembangkang, tak jarang ia selalu menjawab perkataan dari orang tuanya, Sabrina memiliki dunianya sendiri yang menurutnya hal itu akan membawa dirinya ke pengalaman yang berbeda.


Ibu Sabrina dan Lucia termasuk orang tua yang memiliki ekspektasi yang tinggi untuk anak-anaknya, ia selalu mendorong anak-anak nya untuk belajar dan terus belajar supaya bisa mendapatkan nilai A. Selain itu beliau juga memasukkan anak-anaknya ke perguruan bela diri untuk membentuk karakter mereka, tapi tetap saja setiap anak pasti punya pembawaannya sendiri. Lucia anak yang pandai dan selalu mendapat nilai A di sekolah, sedangkan Sabrina hanya beberapa pelajaran saja yang mendapat nilai A dan yang lainnya B atau mungkin C.


" Ya ampun Sabrina...!!!! kamu belajar gak sih?! Ulangan seperti ini saja kamu tidak bisa! 70?? Nilai apa ini 70?? Ya ampun, sungguh berbeda sekali antara kamu dan kakak mu! Kakak mu Lucia saja bisa mendapatkan nilai sempurna dengan mudah, kamu...!!! HAH!! Nanti malam tidak ada makan malam untuk kamu!! Belajar di kamar dan jangan pernah bermimpi bisa keluar kamar sampai besok pagi!!! " bentak Ibu


" Bu, sudahlah. Tiap anak kan juga berbeda-beda, kita bisa lihat kalau kemampuan Sabrina itu ada di seni budaya. Lihatlah kamarnya yang bagus itu, dia lho yang mendekor ulang dan mengecatnya. Lukisan di dinding kamarnya itu, dia loh yang membuatnya bagus kan... sungguh estetik. " kata ayah.


" untuk apa dia bisa ini itu tapi nilai akademik nya NOL BESAR...!!! Bikin malu saja! Beda sekali dengan Lucia, dia pintar, rajin, dan dia juga mendapat beasiswa. ahh, kenapa Sabrina sangat berbeda dengan kakaknya? Dia selalu menjadi pengacau, susah sekali mengatur dia. Apa aku harus memasukkan dia ke tempat les lainnya supaya pelajaran di sekolah bisa cepat unggul sama seperti kakaknya, hah... bahkan kakaknya saja tidak butuh guru les untuk bisa mendapatkan nilai sempurna. " keluh Ibu


" kalau kamu terus menekan dia seperti itu yang ada dia stres lho, sayang. Sabrina itu menuruni bakat seni kita, harusnya kamu juga bangga. Dan jangan suka membanding-bandingkan anak kita, bukannya semangat malah jadi down dan timbul rasa dendam. " kata Ayah


" Lucia itu seperti aku, aku dulu selalu juara kelas. Bahkan saudaraku yang lainnya iri karena nilai ku, hanya saja dia sedikit tertutup. Atau aku cari kegiatan lain yang bisa membuat dia percaya diri ya? "


" jangan terlalu banyak kegiatan, nanti malah jadi tidak bisa konsentrasi. " kata Ayah


Ya, seperti itulah orang tua pasti banyak maunya, katanya semua demi anak nyatanya itu adalah obsesi mereka saja. Kalau anaknya tidak berhasil, yang di salahkan ya si anak, ada aja alasannya misalnya 'pasti kamu gak mau usaha lebih keras lagi kan, makanya gagal!' abis itu di bandingkan deh tuh sama anak lainnya. Itu juga yang di alami oleh Sabrina, untungnya ia punya kakak yang pengertian dan selalu memberinya semangat.


" kakak juga usaha kok, dek. Kakak belajar dari jam 7.00 malam sampai jam 12.00 malam, tidur juga cuma sejam. 1 hal yang harus kamu ingat dek, usaha tidak akan mengkhianati hasil. " kata Lucia.


Ibu dan Ayah sebenarnya berbeda prinsip dalam mendidik anak mereka, Ayah selalu mendengarkan keluh kesah mereka, ayah pun selalu mengajarkan mengenai tanggung jawab. Sedangkan Ibu lebih ke menuntut dan tidak mau peduli dengan apa yang di inginkan anaknya, mereka harus patuh dengan semua kata-kata Ibunya. Bahkan mereka pun di masukkan ke tempat pelatihan bela diri untuk membentuk karakter mereka yang berani dan tidak mudah terkalahkan.


" kak, rasanya aku gak sanggup nurutin kemauan Ibu. Capek fisik dan pikiran, waktu istirahat juga dikit banget... " keluh Sabrina


" sabar dek, kamu pasti bisa kok! Anggap saja kita juga berjuang untuk diri kita sendiri. " kata Lucia


" Tapi semua kegiatan yang Ibu daftarin buat aku tuh gak ada yang aku sukai, kecuali nari. Itu pun aku minta sama Ayah, sama Ibu hampir gak di kasih izin. Kak, bolos sekali yuk... " kata Sabrina


" hush...! nanti kalau ketahuan Mama bisa habis kita. " ujar Lucia


Lucia tersenyum melihat adiknya cemberut, ia pun merangkul dan mengajaknya pergi membeli es krim sebelum tiba di tempat pelatihan bela diri.


" kamu tunggu disini sebentar, kakak mau ke toserba seberang jalan itu dulu. " kata Lucia


Sabrina mengangguk sambil terus menikmati es krimnya yang sudah hampir meleleh.


" HEI...! kamu sudah berani membantah kita ya...! cepat kasih semua uang mu atau kamu akan terus kami pukuli sampai kamu tak bisa bangun lagi!! "


Lucia yang mendengar ucapan itu melihat dari ujung gang kecil. Ada 6 orang anak laki-laki yang tengah memalak dan memukuli seorang anak hingga ia babak belur. Aksi Lucia yang memergoki itupun disadari oleh para pelaku dan mereka menyuruh Lucia untuk pergi menjauh dan jangan ikut campur urusan mereka atau kalau tidak mereka mengancam akan memukuli Lucia. Lucia tak gentar, dan tertawa sinis. Ia pun membantu anak laki-laki yang dianiaya itu, namun karena kalah jumlah Lucia hanya memikirkan satu cara yaitu,


" LARI BURUAN...!!! " teriak Lucia


Ia pun kembali melewati kedai es krim tempat Sabrina membeli es krim. Ditariknya tangan Sabrina dan ia mengajak adiknya ikut lari tunggang langgang,


" heh, kak! kamu lari-larian dikejar siapa sih? " tanya Sabrina yang mulai kelelahan


" udah lari duluan aja, nanti aku jelasin! ah, sial mereka masih ngejar kita! Lari lebih kenceng lagi dek...!!! " kata Lucia


Mereka terus saja berlari tak tentu arah, hingga akhirnya anak laki-laki itu membawanya bersembunyi di bawah jembatan.


" Kita sembunyi di sini dulu aja. huh, huh, huh,... " kata anak laki-laki itu


" uwah, gila! gila, kakak ku terlalu berani. Hah, capeknya... " keluh Sabrina


" maaf ya aku udah bikin kalian sengsara. Tapi, makasih udah bantu aku. Nama ku Johan, Johan Zaidan. "


" Lucia, dan itu adik ku Sabrina. Tapi, ngomong-ngomong mereka itu siapa? " tanya Lucia


" Mereka itu orang pribumi di daerah ini, dan mereka sering malakin anak-anak sekolah yang lewat di gang itu. Dan aku udah sering jadi korban mereka... " kata Johan


" terus kamu gak lawan mereka? atau paling tidak lapor keamanan yang ada di situ. " tanya Lucia


" percuma, yang ada makin berulah mereka. Hah, untuk hari ini uang saku ku selamat... Sepertinya mereka sudah tidak ada, kita keluar sekarang? "


" bentar kak, kaki ku kram! adududuh...! gak bisa di gerakin yang kanan, aduh... " rintih Sabrina.


Lucia membantu Sabrina meregangkan otot kakinya, setelah dirasa sudah mendingan mereka pun berjalan menuju ke tempat pelatihan bela diri. Johan yang tadinya menolak ajakan Lucia pun hanya bisa pasrah setelah ditarik paksa oleh Lucia.


" bang Heri! " sapa Lucia


" Yo, kalian terlambat 5menit! " ujar bang Heri


" iya bang, maaf! tadi nolongin dia yang lagi di hajar sama preman kampung. Lihat tuh, dia babak belur kayak gitu. " kata Lucia


" ya sudah, kalian lekas ganti baju dan lari 3x putaran! setelah itu di lanjut latihan. " kata Bang Heri menghampiri Johan yang berdiri menatap Lucia. Bang Heri melihat postur tubuh Johan yang saat itu kurus dan lemah kemudian menghela nafas panjang.


" kamu ikut latihan sekalian, laki kok lembek. Haduuuh... " kata Bang Heri


Johan masih diam terpaku ditempatnya ia berdiri, Bang Heri pun menarik dan membawanya ke ruang ganti.


Sabrina berlatih terpisah dengan Lucia, ia harus berlatih untuk mengikuti turnamen pertamanya. Sedangkan Lucia harus melatih para pemula, Johan pun ikut berbaris di belakang. Ia terlalu tinggi untuk ikut bergabung dengan tingkat pemula, karena di sana umumnya yang pemula adalah siswa sekolah dasar kelas 3 atau kelas 4. Lucia tersenyum melihat Johan yang serius mengikuti kegiatan itu, selesai latihan mereka duduk berdua di gazebo samping kolam.


" Udah berapa lama kamu ikut latihan bela diri? " tanya Johan


" eemmb, 3 tahunan kalau gak salah ingat, kalau adik ku baru 2 tahun. Gimana, udah berasa seperti pendekar belum? "


" hehe, lumayan pegel sih badan ku. Tapi kalau untuk latihan basic okelah, cukup menguras energi... " kata Johan


" latihan bela diri itu yang penting harus bisa kontrol emosi, dan terus dilatih jangan cuma tau dasarnya aja. "


" btw, kamu gak ikut turnamen? " tanya Johan


" aku gak tertarik dengan turnamen, aku lebih suka latihan dan kalaupun tanding, itu hanya untuk naik tingkat aja. " jawab Lucia


Waktu terus berjalan, Lucia dan Johan pun semakin akrab. Dan seiring berjalannya waktu, timbul benih-benih cinta antara Johan dan Lucia, namun Johan belum sempat mengutarakan isi hatinya justru harus dihadapkan dengan perpisahan. Johan harus pindah kota lagi mengikuti keluarganya, bahkan ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Lucia. Lucia merasa kecewa dengan Johan, dan itu berdampak terhadap nilainya di sekolah.


" dek, bolos yuk... Aku males banget ikut les. " kata Lucia


" haih, tumben nih orang ngajak bolos. Masih patah hati ya? " tanya Sabrina


" Mau gak?! "


" Ya mau lah! Tapi kalau ketahuan Mama kamu yang tanggung jawab loh ya... " kata Sabrina


Dan benar saja, hari itu mereka bolos les akademik dan ketahuan oleh Mama. Tentu saja yang dimarahi bukan Lucia melainkan Sabrina, karena Mama tidak percaya kalau Lucia yang mengajak untuk membolos. Lucia tak berani bersuara untuk membela adiknya, ia hanya melihat adiknya di marahi dan dipukul oleh Mama. Kesabaran Sabrina mulai habis, Sabrina pun berontak!


" AKU MUAK SAMA KELUARGA INI! MAMA GAK PERNAH PERCAYA SAMA AKU! SELALU LUCIA YANG MAMA BELA! SEBENARNYA AKU ITU ANAK KANDUNG MAMA BUKAN SIH?! " teriak Sabrina penuh emosi


" SABRINA JAGA KALIMAT MU! "


PLAK...!!


" tampar terus, Ma! biar Mama puas! ayo tampar lagi! tapi setelah tamparan terakhir, jangan harap Mama bisa lihat aku lagi!! " kata Sabrina


" Ma, udahlah... Lucia, kamu bilang siapa yang pertama kali ngajak bolos? kamu atau Sabrina? " tanya Papa


" ya pasti Sabrina lah! gak mungkin Lucia, dia itu rajin dan penurut, gak kayak dia! " sahut Mama


Sabrina geram dan mengucapkan kalimat kotor di depan Mama dan Papanya, kemudian ia lari keluar rumah. Lucia pun mengejar adiknya yang pergi dari rumah, mereka berdua bertengkar di pinggir jalan hingga Sabrina tak sengaja mendorong tubuh Lucia sampai terjatuh. Dan kebetulan saat itu pula ada sebuah truk melaju kencang lewat di dekat mereka,


BRAAAK...!!!


" KAK ANITA...!!!!!!!!!!! " teriak Sabrina histeris


Sabrina melihat jelas bagaimana kakaknya Lucia mengalami kecelakaan. Darah segar mengalir dari tubuh Lucia yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan. Tubuh Lucia terpental sejauh 3meter, Sabrina meminta bantuan dari orang sekitar untuk menelpon ambulance, namun mereka yang melihat kejadian itu justru mengambil video dan memfoto Lucia tanpa peduli dengan rintihan Sabrina yang meminta tolong. Untunglah ada seorang pria yang menelpon ambulance dan Lucia segera dibawa ke rumah sakit, namun sayangnya tubuh Lucia tak mampu bertahan, ia dinyatakan meninggal sesaat setelah sampai di rumah sakit.


Keluarga Sabrina yang mengetahui kejadian itu bergegas ke rumah sakit, tangis Mama pun pecah ketika beliau melihat tubuh anak kesayangannya sudah terbujur kaku. Beliau memaki dan terus saja menyalahkan Sabrina atas kejadian itu. Sabrina hanya bisa menangis menyesali perbuatannya, ia terpuruk. Dan tak lama sejak meninggalnya Lucia Papa pun ikut menyusul berpulang ke pangkuan Tuhan, dan saat itulah Sabrina memutuskan untuk ikut pindah bersama Bu dhe dan sepupunya, ia pun di sekolahkan di sana. Mereka menyayangi Sabrina seperti anak sendiri, mereka pula yang membawa Sabrina dan merawat Sabrina sampai ia bisa bangkit seperti sekarang ini.