
Hari ini adalah hari pelantikan untuk ketua serta anggota OSIS yang baru. Tepat di tengah upacara bendera yang setiap senin berlangsung, di akhir sesi upacara di selipkan proses pindah tugas anggota OSIS lama ke yang baru meskipun ketuanya tetaplah Alex. Dari kejauhan Sabrina melihat salah seorang temannya Irene yang ternyata lolos seleksi dan menjadi anggota OSIS yang baru. Sabrina tersenyum, dan ikut bertepuk tangan memberi selamat untuk mereka yang sudah terpilih dan resmi menjadi anggota OSIS.
Setelah upacara selesai, para siswa kembali ke kelas mereka masing-masing untuk mengikuti kegiatan yang telah dijadwalkan. Sedangkan Sabrina yang tak mempunyai kegiatan apapun memilih duduk menyendiri di taman belakang.
DRRRRTT... DRRRRTTT...
" mama? "
" Halo, ma. Ada apa? tumben telpon Sabrina. "
" ya, kata bu dhe kamu kemarin ada acara pemilihan OSIS di sekolah mu, kamu terpilih tidak? "
" iya ma, Sabrina sempat terpilih. Tapi... "
" SEMPAT?! ITU ARTINYA KAMU TIDAK LOLOS SELEKSI?! IYA KAN!! " tanya mama Sabrina dengan penuh amarah
" Maaf, ma... " jawab Sabrina sambil menahan tangis
" DASAR BODOH! ANAK DUNGU! seleksi seperti itu saja kamu tidak lolos? bikin malu saja! HAAAHHH...! Andaikan anak ku Lucia masih ada aku pasti tidak akan merasa stress seperti ini, memang benar ya kamu itu hanya beban! Sama seperti Papa mu yang udah mati itu, mau mati aja bikin aku susah! Kamu harusnya malu jadi anak yang gak bisa bikin orang tuanya bangga! Contoh itu Lucia, semasa dia hidup dia selalu bikin mama bangga dengan semua prestasinya! "
" maaf ma, aku hanya tidak mau nanti pelajaran ku akan terganggu dan nilai ku menurun. " kata Sabrina
" ALAAH...!!! ALASAN SAJA KAMU! BILANG SAJA KAMU ITU DENDAM KAN SAMA MAMA, KARENA MAMA SELALU BANDINGKAN KAMU SAMA KAKAK KAU LUCIA?! " bentak Mama Sabrina
" engga, ma. aku gak pernah punya maksud seperti itu, aku cuma ingin mama bangga sama aku. Aku pengen mama lihat aku sebagai Sabrina, bukan sebagai pengganti kakak. Aku sadar ma, sampai kapan pun itu aku gak akan bisa seperti kakak. Tolong ma, hargai usaha aku ma, sekali aja ma. Aku pengen mama bangga dengan semua usaha aku, "
" Apa yang mau di banggain dari anak yang bodoh seperti kamu?! Kamu bahkan sudah membunuh kakak mu! Mama tahu kamu itu iri dan dengki sama kakak kamu, kamu pengen kakak kamu mati kan! PEMBUNUH KAMU...!! "
"MA! CUKUP NGATAIN AKU PEMBUNUH! BUKAN AKU YANG NYEBABIN KAKAK MENINGGAL! kakak meninggal karena kecelakaan ma, stop ma! jangan nyudutin aku soal kakak, aku mohon ma... " rintih Sabrina
Sabrina berdebat hebat dengan Mamanya di telepon, Sabrina terus menangis meskipun telepon telah di matikan olehnya. Semua caci maki bisa ia terima jika itu keluar dari mulut orang lain, tetapi jika itu semua keluar dari mulut sang mama sungguh amat menyayat hati hingga membuat Sabrina kehilangan akal sehatnya.
Sabrina merasakan kepalanya pusing dan sakit, ia pun kembali ke kamarnya dan mengambil obat yang dari dokter psikiaternya kemudian meminumnya, setelah itu Sabrina hendak kembali ke kelas namun tiba-tiba darah merah mengalir dari hidungnya dan membuat Sabrina tak sadarkan diri. Untungnya ada yang melihat Sabrina sehingga ia bisa langsung ditangani di ruang kesehatan.
" JES...! HALO, JESICA! "
" apaan sih Erwin teriak-teriak di telepon! HP mu gak ada sinyal ya? " tanya Jesica
" ngeledek kamu! itu, si Sabrina pingsan hidungnya berdarah... " kata Erwin panik
" HAH! terus sekarang dia dimana? "
" ruang kesehatan " Jawab Erwin
" on the way...!! " ujar Jesica
Jesica pun berlari ke arah ruang kesehatan, kebetulan di tengah perjalanan ia bertemu Johan dan ia pun mengatakan kalau Sabrina pingsan dan di bawa ke ruang kesehatan. Sesampainya di sana sudah ada Erwin dan petugas kesehatan yang menangani Sabrina.
" Gimana keadaan teman kami, kak? " tanya Jesica
" teman kamu introvert ya? "
" engga juga sih, dia emang periang banget. Tapi kalau curhat dia jarang banget sih curhat soal masalahnya dia, memangnya kenapa kak? " tanya Jesica penasaran
" sepertinya teman mu sedang depresi berat, dan dia sering meminum obat penenang ya? soalnya yang bawa Sabrina kemari juga membawa botol obat ini, setahu aku ini obat penenang. " jawab petugas kesehatan
" kita gak tau apa-apa kak mengenai hal ini, kita juga malah baru tahu. Dan katanya tadi Sabrina mimisan juga ya? apa perlu di bawa ke rumah sakit supaya bisa mendapat perawatan yang lebih intens? "
Jesica merasa kasihan melihat Sabrina, tak lama Alex dan Johan datang ke ruang kesehatan. Alex terlihat sangat panik, tubuhnya gemetar ketika melihat Sabrina terbaring di ranjang dengan kondisi yang masih pingsan. Jesica menceritakan semua yang tadi ia bicarakan tentang kondisi Sabrina bersama petugas kesehatan, Alex semakin khawatir dengan kondisi Sabrina.
" sebenarnya waktu ia aku bawa ke RS kemarin, dokter juga mengatakan kalau Sabrina sering mengkonsumsi obat tidur. Kalau obat penenang aku baru denger ini dan lihat sendiri botol obatnya. Sebenarnya dia menderita separah apa sih sampai dia meminum obat penenang dan obat tidur. " kata Alex
Sabrina akhirnya sadar, perlahan ia membuka mata dan melihat ke sekelilingnya.
" aduh, pusing. Eh, kok aku bisa disini? perasaan tadi aku di asrama deh, " kata Sabrina
" Rina, akhirnya kamu sadar juga. Ya Tuhan, kamu pingsan 2jam tahu gak! bikin khawatir aja... " ujar Jesica sambil memeluk tubuh Sabrina
" loh, aku pingsan toh? pantesan aku gak ingat apa-apa kecuali abis keluar dari kamar. Tapi, kenapa ada kak Johan juga? "
Alex yang dari tadi cuma duduk kini bangkit dan memberikan botol obat milik Sabrina.
" bolehkah kita tahu semuanya tentang kamu? supaya kita gak terlalu khawatir sama kamu. " kata Alex
" eh, itu kan... kakak dapet dari mana? " tanya Sabrina kaget
" ini ditemukan sama orang yang bawa kamu ke sini, waktu kamu pingsan kamu masih menggenggam botol obat ini. Ini obat penenang, kamu kenapa? " tanya Alex
" aku gak papa, maaf udah buat kalian khawatir. mulai sekarang aku janji gak akan bikin kalian khawatir lagi, dan aku akan jaga jarak dari kalian. Sekali lagi maaf, aku permisi dulu. " kata Sabrina sambil turun dari tempat tidur
Tangan Sabrina ditahan oleh Alex, Sabrina hanya menunduk dan berusaha melepas genggaman tangan Alex.
" maksud ku gak kayak gini, Rin. Kita khawatir sama kamu karena kita sayang sama kamu, kita peduli dengan kamu. " kata Alex
" peduli? mulai sekarang jangan pedulikan aku, anggap saja aku teman biasa yang setiap hari kalian temui di sekolah. Jangan terlalu dekat dengan aku, aku gak mau merepotkan kalian lagi. " kata Sabrina
Sabrina pun pergi keluar dan berlari. Semua orang hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Sabrina, Jesica sempat merasa tersinggung namun Johan memberi pengertian kepadanya.
" mungkin saja Sabrina tidak bisa atau takut kalau nanti kita membully dia. Aku cuma bisa menebak kalau dia punya masalah yang rumit, kalaupun cerita belum tentu bisa menyelesaikan masalah dia kan. " kata Johan
" tapi setidaknya dia bisa lega dan gak terlalu terbebani, gitu loh. " kata Jesica
" kalau udah cerita terus masalahnya bisa langsung selesai gitu? tetep aja kan dia masih harus menghadapi masalah itu, kita juga belum tentu bisa memberi saran ke dia. Udah, biarin aja dulu, mungkin dia butuh ketenangan... " kata Erwin
Alex bergegas mengejar Sabrina, ia mencari Sabrina sampai ke kamarnya namun tak menemukan dia. Ia pun berlari ke arah atap gedung asrama, dan benar saja Sabrina sedang duduk di tepian gedung dengan kaki kebawah. Ia melihat Sabrina menangis sesenggukan sendirian di tengah teriknya panas matahari. Alex perlahan mendekat, tiba-tiba Sabrina bangkit dari duduknya dan merentangkan kedua tangannya, matanya tertutup.
" SABRINA...!!! " Teriak Alex
Alex langsung menyambar tubuh Sabrina dan menjatuhkan tubuh Sabrina menjauh ketengah. Mereka sempat berguling dan berhenti dengan posisi tubuh Sabrina menindih tubuh Alex. Sabrina segera bangkit dan duduk di samping Alex yang masih berbaring.
" jangan pernah lakuin hal berbahaya itu lagi. " kata Alex
" kenapa kamu narik aku? aku udah capek, aku hanya ingin istirahat. " kata Sabrina
" masalah apapun yang kamu hadapi saat ini jangan sampai membuat akal sehat kamu hilang. Jangan menyerah untuk hidup, yang mati saja ingin hidup lagi. "
" bicara saja enak, tapi aku yang mengalami hal ini sejak kecil. Aku lelah, lelah harus menjadi pengganti bahkan jadi pengganti saja masih tak dianggap. hah, capek kak! " kata Sabrina
Air mata Sabrina pun kembali mengalir, Sabrina pun menceritakan semua tentang apa yang telah ia lalui hingga akhirnya ia mempunyai obat penenang dan obat tidur dari psikiater. Alex tersentuh dengan cerita Sabrina, namun tetap saja Alex hanya mampu menjadi pendengar setia bagi Sabrina dan tidak bisa memberikan masukan apapun karena itu terlalu rumit. Alex memeluk tubuh Sabrina untuk menenangkannya.
Rupanya ada seorang yang sedang merekam percakapan mereka dari balik tembok, semua cerita Sabrina ia rekam dari awal sampai akhir.
Alex dan Sabrina pun turun, setelah Sabrina merasa dirinya kembali tenang. Ia pun kembali tersenyum seperti biasa meski hatinya masih sakit karena perkataan mamanya.