Finally, I Love You

Finally, I Love You
Gosip



Sudah bener apa hari berlalu sejak kejadian yang menghebohkan tanah air. Dan menjadi tajuk utama di beberapa laman berita.


Gayatri duduk termenung sambil mainkan poselnya dengan malas. Sekarang dimana-mana sedang menyoroti kejadian kecelakaan yang berkaitan dengan artis papan atas.


Setiap ada berita tentang artis pasti ada pro dan kontranya. Biasanya ia tidak akan ambil pusing dengan hal itu, tapi ini berbeda karena dirinya juga menjadi korban disini.


Media dengan seenaknya menulis sesuatu yang belum tentu kebenarannya.


"Apa mereka tidak kroscek fakta di lapangan dulu sebelum membuat berita. ini malah ditambah-tambahin." gerutu Gayatri pada ponselnya.


"Kalau gak ada bumbunya gak seru dong nanti." sahut Rena disampingnya.


"Iihhh mbak Rena ngagetin aja." kata Gayatri sambil mengelus dadanya pelan.


" yang dari tadi sibuk sendiri sama ponselnya siapa? aku dari tadi disini dianggurin." jawab Rena.


Gayatri hanya tersenyum lebar mendengar protes Rena. Sebenarnya mereka sedang JJS di Mall sehabis pulang kerja. Biasalah akhir pekan adalah hari kemerdekaan bagi karyawan seperti mereka.


"Katanya mau jalan-jalan terus nonton film, mau ngabisin malam minggu sambil cuci mata. ehh malah dianggurin aku tuh." cucol Rena.


"Iya mbak, maaf maaf. Habisnya berita ini kan gak bener mbak, gimana gak kesel coba." Gayatri masih kesal setelah membaca berita tadi.


Ini adalah kesepakatan bersama, jika di luar urusan pekerjaan semua karyawan diharuskan berbicara santai. Ini akan membangun rasa kekeluargaan lebih erat dan keseriusan saat bekerja.


"Udahlah gak usah dipikirin nanti makin makan hati, mending kita langsung ke bioskop aja yuk." ajak Rena.


"Oke mbak, yuk cuusss." Gayatri langsung menggandeng tangan Rena dan melangkah menuju Bioskop yang ada di Mall juga.


Mereka membagi tugas, Rena mendapat bagian mengantri snack dan minuman sedang gayatri bertugas membeli tiket. Jadi mereka tidak perlu mengantri panjang dua kali.


Setelah mendapat tiket gayatri menghampiri rena yang ternyata sudah selesai lebih dulu. mereka janjian di tempat duduk yang disediakan di luar studio.


"Udah nih, yuk masuk." ajak Rena setelah gayatri sampai ditempatnya.


Kemudian terdengar suara dering ponsel dan ternyata itu milik Rena. Rena lupa belum mematikan nada ponselnya dan tersenyum lebar.


"Bentar mama telfon nih." kata Rena setelah melihat dilayar ponsel kalau yang menelepon adalah mamanya..


Gayatri mengangguk menyetujui lalu berinisiatif mengambil makanan dan minuman dari tangan rena.


kemudian rena sedikit menjauh mencari tempat agak sepi untuk menerima telefon.


Terlihat rena cukup serius berbicara di ponsel dengan ibunya. sesekali dia mengurut keningnya dengan tangan dan menghela nafas.


Gayatri cukup heran kenapa rena memilih sendiri di usianya uang sudah cukup matang untuk menikah. Mungkin tidak beda jauh dengan Hayam tapi dia terlihat enggan untuk menikah.


hei kenapa juga aku memikirkan manusia menyebalkan itu. Aigoooo batin gayatri dalam hatinya.


setelah cukup lama berbicara dengan mamanya rena kembali menghampiri gayatri yang masih duduk di tempat ya tadi.


Dengan wajah terlihat keruh rena duduk di samping gadis itu.


"Kenapa mbak? " tanya Gayatri karena rena tak kunjung bicara setelah sekian lama duduk.


"Sorry, kayaknya mbak gak bisa nonton kali ini. mbak disuruh pulang sama ibu ratu." kata rena tanpa terlihat ingin menjelaskan lebih jauh.


Gayatri tersenyum menanggapi kemudian berkata, "it's oke mbak. udah mbak pulang aja siapa tau penting. udah gih sana pulang.".


" Beneran gak papa nih?!" tanya rena memastikan.


"iya mbak. Nyantai aja sama aku." jawab gayatri pasti.


" Oke mbak pulang, tapi inget nanti habisnya nonton langsung pulang jangan kelayapan." pesannya pada gayatri.


"Siap bos!" jawab gayatri sambil tangannya memberi hormat.


"Mbak bener-bener minta maaf ya, lain kali mbak ganti deh tiket nontonnya." kata rena akhirnya, kemudian bangkit berdiri.


"Nggak usah mbak, nih mbak udah beliin ini juga kan. udah sana buruan pulang." kata gayatri sambil mengangkat tangan menyuruhnya pergi.


"Ya udah mbak pulang ya." akhirnya rena beneran pamit pulang.


Setelah kepergian rena gayatri masih duduk ditempatnya tadi, memperhatikan sekelilingnya yang mulai ramai.


Maklum ini malam minggu dan waktunya bagi pasangan muda mudi untuk kencan. Tapi bagi gayatri yang jomblo ini adalah sabtu malam karena ia tidak punya pasangan saat ini.


Memikirkan setatusnya sekarang ia jadi teringat akan lamaran Hayam beberapa waktunya lalu.


*Saat itu di ruangan ia di rawat dan dimana dirinya terkena jebakan permainan kata-kata ibunya Hayam. Secara tak sadar ia menerima lamaran laki-laki itu.


"Jadi kapan kami secara resmi bisa melamar ke rumahmu sayang? " tanya ibunya Hayam.


Belum sempat gayatri menjawab ibu Hayam malah melanjutkan kalimatnya, " bagaimana kalau minggu ini? Dan minggu depan kalian bisa langsung menikah.".


what the ****, sebenarnya apa yang ada dipikiran nyonya tua ini, segampang itu memutuskan hari pernikahan. Oh God!!!!


"Bu, jangan terlalu terburu-buru itu bisa membuatnya takut dan malah menghindar dariku." suara Hayam menyelamatkannya dari pertanyaan sulit ibunya Hayam.


"Hei jangan lama-lama nanti keburu di ambil orang. Lagipula ibu sebentar lagi akan menyusul ayahmu, ayahmu sudah meneror ibu kapan kembali ke sana." kata Marisa setengah merajuk pada putranya.


"Ibu dengarkan aku. Aya juga butuh waktu untuk membicarakan ini dengan keluarganya, kita tidak bisa langsung menyuruhnya siap menikah denganku minggu depan. Semua butuh proses Bu." Hayam memberi alasan yang masuk akal pada Marisa dan gayatri langsung mengangguk setuju.


"Lagipula Aya juga masih harus mempersiapkan ***** bengek pernikahan. meski aku tau ibu pasti akan memberi kan yang terbaik bagi Aya." kata Hayam


"Ibu bisa mempersiapkan itu semua dengan singkat, tinggal hilang mau nikah konsep apa di gedung mana, mau acara seperti apa. Nanti tinggal bilang di EO langganan ibu." Marisa masih kekeh dengan pendapatnya.


Gayatri cemas karena ternyata ibu Hayam adalah mahkluk keras kepala di samping sifat pemaksa dan semaunya.


"Bu, aku tau ibu pasti sangat bisa diandalkan dalam maslah ini karena ibu sangat hebat. Tapi ada satu hal yang ibu lupakan." Hayam memberi jeda kalimatnya sebelum melanjutkan. Ia memandang gayatri dalam lalu kembali melanjutkan kalimatnya, " Ibu jangan lupa yang paling penting di sini adalah kesiapan mental Aya. Karena dia akan melwpas status lajangnya dan menjadi seorang istri. Meninggalkan keluarganya untuk membina keluarga baru. Jadi Hayam mohon ibu mengerti perasaan Aya. Bagaimana Bu?" .


Hayam mengatakan itu dengan suara lembut, bukan dengan suara keras dan nada menantang atau menggurui ibunya.


Gayatri terpesona dengan Hayam karena laki-laki itu berani menyuarakan isi hatinya, sebab ia tidak mampu berkata apapun bahkan untuk sekedar berkata "Ya" dan "Tidak".


Hayam mampu berbicara atas namanya tanpa membuat ibunya merasa Hayam lebih membela gayatri daripada ibunya.


Dan nada suara yang digunakan Hayam juga sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Bagaimana bisa ia tidak menyukai laki-laki ini nantinya.


Hayam benar-benar sudah masuk dalam hati gayatri sedikit demi sedikit tanpa gadis itu sadari.


Marisa nampak memikirkan perkataan Hayam dan memang ada benarnya juga. Ia tidak bisa memaksa keinginannya tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Apa lagi ini menyangkut pernikahan putranya.


" Satu bulan. Ibu memberi kalian waktu satu bulan untuk menikah. Lebih dari itu ibu akan turun tangan sendiri dan kalian tidak boleh ikut campur." putus marisa final tanpa ingin bantahan sedikitpun*.


Gayatri tersadar dari lamunannya saat terdengar suara petugas dari pengeras suara mengumumkan bahwa penonton sudah bisa masuki studio.


Jadi apa setatusnya sekarang ini. Dia jomblo atau tidak, tapi Hayam sudah melamarnya saat lalu.


Andai saja Hayam ada disini mungkin ia tidak akan menonton sendiri.


Ahhh kenapa aku malah memikirkan laki-laki itu sekarang. Gayatri bodoh, bodoh. ia memukul pelan kepalanya beberapa kali.


*********


Hayam memperhatikan gadis kecilnya dari kejauhan, gadis itu terlihat melamun setelah kepergian rena beberapa saat lalu.


Gadis itu melamun lumayan lama sampai ia terkejut karena suara petugas dari pengeras suara.


Dia terlihat lucu ketika terlojak kaget lalu terlihat menggerutu dan memukul kepalanya beberapa kali.


Astagaaaa gadis ini pikir Hayam, lalu ia melangkah kan kakinya menghampiri gayatri. Ia ingin mengejutkan gadis itu, bagaimana reaksinya nanti? pasti akan sangat lucu.


Dan benar saja gadis itu terlonjak dan memekik pelan hingga hampir menjatuhkan makanan yang dipegangnya..


Gayatri menundukkan kepalanya bebrapa kali sambil menggumamkan permintaan maaf karena telah membuat semua orang melihat kearahnya.


Sekarang disampingnya berdiri seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topi yang juga berwarna hitam.


Gayatri tidak mengenal sosok itu karena dia memakai masker untuk menutupi mulut dan hidungnya.


Tapi ketika laki-laki itu berbicara gadis itu langsung tau bahwa dia adalah Hayam.


"Apa aku mengejutkanmu." tanya Hayam tanpa dosa.


"Kau hampir membuat terkena serangan jantung. " kata gayatri tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.


Hayam mengulum senyum menikmati wajah kesal gadis dihadapannya ini.


"Maaf maaf aku hanya ingin menyapamu karena kebetulan aku melihatmu disini. Kau sendirian." tanyanya.


Gayatri menggeleng pelan. "Tidak, tadi aku kesini bersama mbak Rena tapi karena ada hal mendesak jadi dia pulang lebih dulu."


"Dan kau hanya diam disini seperti orang patah hati dan menatap semua pasangan itu satu persatu." pancing Hayam agar gadis itu marah.


"Kau!" Gayatri berdehem pelan karena suaranya mulai meninggi lagi lalu melanjutkan kalimatnya, "jangan bicara sembarangan, siapa juga yang patah hati. Dan juga aku tidak iri pada mereka.".


Hayam tersenyum karena berhasil menggoda gadis itu.


" Aaaa iya kau kan tidak patah hati dan kau tidak iri dengan mereka. Karena kau memiliki tunangan yang tampan, ya itu aku." kata Hayam percaya diri.


Mulut gayatri membuka tapi kemudian menutup lagi karena ia tidak tau mau mengatakan apa, hanya komat kamit tidak jelas.


"Sudahlah ayo cepat masuk filmnya sepertinya sudah akan dimulai." kata Hayam lalu mengambil tiket dari tangan gayatri kemudian meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.


mereka kemudian melangkah menuju studio, Hayam menyerahkan tiketnya pada petugas. Setelah itu dia mengambil bungkusan makanan dan minuman dari tangan gayatri yang satunya kemudian membawanya.


Lihat perlakuan manis ini, bagaimana aku tidak menyukaimu. Lama-lama aku bisa jatuh cinta padamu. jerit gayatri dalam hati sambil memandang Hayam.


************