Finally, I Love You

Finally, I Love You
# 16 -



Hayam dan Gayatri sekarang sudah di bandara tiga jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Mereka sekarang sudah check-in dan mendaftarkan bagasi. Selama proses dari awal sampai masuk gate menunggu panggilan petugas, Hayam tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Gayatri.


Ia tahu gadis itu mempunyai ketakutan naik pesawat karena kecelakaan yang menimpa ayahnya. Tangannya terasa dingin di genggaman Hayam, Ia lalu menenangkan gadis itu sambil mengusap punggungnya pelan.


"Semua akan baik-baik saja, tidak akan ada yang terjadi. Kau bisa terus memegang tanganku."


Gayatri menganggukkan kepalanya pelan ada Hayam disampingnya, laki-laki itu pasti akan menjaganya.


Tak lama mereka mendengar petugas mengumumkan pesawat dengan nomor penerbangan yang tertera pada boarding pass mereka.


"Ayo kita masuk." ajak Hayam menarik tangan Gayatri agar berdiri dan melangkah masuk.


Gayatri berjalan di samping Hayam dan menggenggam lebih erat tangannya serta mencengkeram lengan atas laki-laki itu.


Kurang lebih tujuh jam tiga puluh menit pesawat akhirnya tiba di Tokyo Narita International airport.


Di Sana mereka sudah dijemput oleh orang suruhan keluarga paman Akihiko Ito dan langsung dibawa ke kediamannya.


Dari bandara menuju kediaman paman Akihiko memakan waktu satu jam dengan mobil.


Di sana mereka disambut dengan tangan terbuka dan hangat Gayatri sudah memberitahu ibunya jika dia akan berkunjung bersama Hayam. Ibunya senang mendengar berita itu begitupun dengan ayah sambungnya. Dia senang jika Gayatri mau berkunjung ke sana.


Setelah makan malam mereka berbincang diruang keluarga sambil menikmati teh dan camilan, Hayam pun tanpa berlama-lama lagi mengatakan niatnya untuk menikahi Gayatri.


"Tujuan saya kemari selain berkunjung kepada paman dan bibi adalah untuk meminta izin menikahi Gayatri." Hayam mengatakan itu dengan tegas.


"Bukankah itu kabar yang sangat baik benarkan shujin." kata ibu Gayatri sambil memandang suaminya penuh binar bahagia.


"Ya kau benar Tsuma. itu kabar yang sangat baik, kau memberikan kegembiraan dan kebahagiaan pada kami nak. " paman Akihiko menimpali ucapan ibu Gayatri.


"Ibu akhirnya bisa melihatmu menikah sayang, kau harus bahagia dengan kehidupanmu sendiri. Sekarang ibu sudah bahagia hidup dengan paman Akihiko, jangan terjebak dengan masa lalu sayang. Oke!" pesannya pada Gayatri. Ibu Gayatri masih memanggil Akihiko paman karena menyesuaikan panggilan Gayatri. Gadis itu tidak terbiasa memanggil Akihiko dengan sebutan ayah. Dan Akihiko tidak mempermasalahkan itu asalkan Gayatri nyaman.


"Aku juga bahagia jika ibu bahagia. Ibu jangan khawatir aku sangat beruntung bertemu dengan Hayam, dia sangat menjagaku ibu." kata Gayatri dengan yakin.


"Ibu tenang saja, aku akan membuat putri ibu menjadi wanita paling bahagia saat bersamaku." janji Hayam pasti.


"Jadi kapan kalian akan menikah? " tanya Akihiko.


"Minggu depan paman, jadi kami harap kedatangan paman sekeluarga untuk menghadirinya." jawab Hayam.


"Ya. Kami akan datang ke pernikahan kalian. Kami akan mengajak Kenji juga." kata Akihiko menyanggupi kedatangannya di pesta pernikahan mereka berdua.


"Ya benar, bukankah itu bertepatan dengan libur musim panas." timpal ibu Gayatri.


"Sepertinya ada yang aku lewatkan disini, siapa Kenji?! " tanya Hayam langsung.


"Dia adik laki-laki ku." jawab Gayatri dan Hayam langsung menoleh padanya.


"Really?! ". tanyanya memastikan.


Gayatri mengangguk itu membuat sebuah senyum bahagia terbit di wajah paman Akihiko dan Ibunya. Mereka bahagia karena hubungan Gayatri dan Kenji tidak se kaku hubungan diantara mereka berdua dan Gayatri.


" Ya. Dia adalah anak bungsu kami sekarang sedang sibuk kuliah. Tapi dia pasti akan ikut dalam perayaan pernikahan kalian karena lusa sudah mulai liburan musim panas." jelas paman Akihiko pada Hayam.


"Aku senang mendengarnya paman. Jadi aku akan mempunyai saudara laki-laki lagi." kata Hayam sungguh-sungguh.


"Ya, aku harap juga begitu." timpal paman Akihiko.


Mereka melanjutkan obrolan sampai menjelang tengah malam dan saat ini sudah waktu nya mereka untuk istirahat.


"Ini sudah malam sebaiknya kalian istirahat. Kamar kalian sudah disiapkan dan barang-barang kalian juga sudah ditaruh didalam." ibu Gayatri menjelaskan letak kamar mereka.


Gayatri dan Hayam diletakkan di kamar terpisah mengingat mereka belum menikah.


Hayam dan Gayatri hanya dua hari berada di sana karena mereka harus mempersiapkan pernikahan mereka.


Meski tidak rela karena kebersamaan bersama putrinya terbilang singkat tapi ia menyadari jika banyak persiapan yang harus dilakukan oleh Gayatri dan Hayam.


Jika ada waktu lagi mereka berjanji akan sering berkunjung kemari.


.


.


"Bagaimana perasaanmu?! " tanya Hayam saat mereka sudah ada di pesawat.


Ia merasa lega dan perasaannya ringan setelah bertemu ibunya, dan ibunya juga terlihat bahagia. Paman Akihiko juga terlihat sangat mencintai ibunya, jika dilihat dari interaksi mereka berdua selama ia ada di Sana.


Mungkin selama mereka menikah baik ibunya maupun paman Akihiko memang terlihat saling mencintai, tapi ia memilih menutup mata dan mengabaikan itu karena bayang-bayang masa lalu.


"Kau juga akan bahagia bersamaku Aya, kita akan memiliki kebahagiaan kita sendiri." janjinya pada gadis itu.


"Ya. Aku percaya padamu Hayam. Kita akan menciptakan kebahagiaan kita sendiri." kata Gayatri sambil tersenyum manis.


*****************


Setelah kepulangan Hayam dan Gayatri dari jepang sudah hampir seminggu mereka tidak saling bertemu. Selain sibuk karena pekerjaan mereka ini juga merupakan rencana dari Ibu Hayam, Marisa.


Ia memang sengaja tidak memperbolehkan Hayam menemui Gayatri sebelum hari pernikahan mereka, Bahkan bersua lewat ponsel pun dilarang.


"Ibu, ini sudah keterlaluan jika lewat ponsel saja aku tidak boleh bertemu dengan Aya!" protes Hayam kesal pada ibunya.


"Memang harus seperti itu Hayam! biar gak ada mata jahat yang mengintai pengantin." jawab ibu Hayam santai.


"Tapi ini sudah hampir satu minggu ibu dan besok kami akan menikah." Hayam masih tidak terima dengan alasan konyol ibunya.


"Nah itu, kau sudah melewati masa pingit selama enam hari tinggal tunggu satu hari saja apa susahnya sih." Marisa berkata ringan seringan bantal yang ia tata di kamar Hayam.


"Bu sekarang sudah jaman modern kenapa masih harus dipingit segala. Dan kenapa ponsel Aya tidak bisa dihubungi, pasti ini rencana ibu kan?" tanya Hayam penuh selidik.


Marisa yang sejak tadi sibuk menghias dan merapikan kamar Hayam langsung berhenti, melihat itu Hayam menyadari bahwa dugaannya benar.


"Aya kehabisan pulsa." jawabnya asal.


What?!!! apa ibunya tidak bisa mencari alasan yang lebih masuk akal lagi?! bagaimana mungkin gadis itu kehabisan pulsa?!!


Saat Hayam hendak memprotes Ibunya ponselnya berdering, dengan cepat Hayam melihat siapa yang meneleponnya. Tubuhnya lemas saat melihat nama Rey yang tertera di layar ponselnya.


"Ya, ada apa?! " Hayam mengangkat ponselnya dengan sedikit ketus lalu berjalan keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Saat menutup pintu ingin rasanya ia membanting pintu ruang kerjanya dengan keras.


"Kenapa kau ketus sekali menjawab telepon dari ku! " kata si penelepon dari ujung sana.


Hayam menghentikan langkahnya dan menatap ponsel yang digenggamnya. Apakah ia berhalusinasi sampai-sampai suara Rey berubah menjadi suara Gayatri.


"Baiklah, jika kau tidak mengatakan apa pun kumatikan saja." suara Gayatri terdengar dari seberang dan panggilan telepon pun langsung terputus.


Sedetik kemudian dia tersadar bahwa itu memang benar-benar Gayatri, gadis yang selama hampir satu minggu ini ia rindukan. Tanpa banyak berfikir lagi ia melakukan panggilan video, lama tidak diangkat ia mengulanginya lagi.


Baru dipercobaan ke tiga panggilannya diangkat dan yang muncul bukan Gayatri melainkan Rey dengan wajah menyebalkannya.


"Dimana Gayatri! " tanya Hayam langsung tanpa salam dan ia baru menyadari kalau Rey bisa bertemu Gayatri sedangkan dirinya tidak.


"Dia sedang sibuk." jawab Rey santai penuh kebohongan.


"Bagaimana bisa kau ada di sana?!" tanya Hayam tajam penuh selidik.


"Itu adalah kelebihanku dude." jawab Rey dengan senyum penuh percaya diri.


"Kau... " Hayam ingin mengumpati laki-laki itu tapi terpotong dengan ucapan dari Rey.


"Apa kau tidak merindukannya?!" Rey mengarahkan kamera ponselnya pada Gayatri dan hanya terlihat punggung gadis itu. Meski hanya terlihat punggungnya tapi Hayam tau bahwa itu adalah gadisnya.


Rey lalu melanjutkan ucapannya, "Tidak penting bagaimana aku bisa disini, tapi sekarang aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu." jeda sesaat sebelum Rey melanjutkan, "Aku akan memberikan ponsel ini pada gadis itu jika penawaranmu bagus dude.".


"Dasar teman kam**** bisa-bisanya disaat seperti ini meminta imbalan! " umpat Hayam kesal.


"Aku hanya menerima tawaran baik dude, bukan umpatan dari mulut manis mu itu. jika kau tidak bersedia aku akan menutup panggilan ini." Rey benar-benar sangat menyebalkan.


"Mobil. Aku akan memberimu mobil baru yang kau inginkan itu." jawab Hayam cepat.


"Oke. Deal! " Jawab Rey cepat lalu berjalan setengah berlari kearah Gayatri. Hanya melihat punggung gadis itu saja rasanya ia susah ingin berlari memeluknya. Terdengar Rey memanggil gadis itu dan tepat saat menoleh sambungan panggilan video terputus.


Hayam masih menunggu mungkin sebentar lagi akan tersambung lagi. Bukan panggilan video yang ia terima melainkan sebuah pesan dari Rey.


......Maaf dude baterai ponsel ku habis dan ternyata aku tidak bisa mengelabui Aunty Marisa. Kau harus bisa menahan sebentar lagi dude, hanya sampai besok saja. Oke!!!! ......


"Apa??!!! dasar Rey brengsek!!!!!!!" umpat Hayam kesal.


******************