
Hayam tentu saja terkejut mendengar perkataan Gayatri.
Ia langsung melepas pelukannya dan menatap gadis itu.
"Jadi kau sudah mengakui hubungan kita? " tanya Hayam sambil tersenyum.
Apa?!!! kenapa fokusnya malah kesitu??!! harusnya dia tidak menanyakan itu dan langsung menyetujui permintaannya membatalkan niat untuk menikah.
"Apa itu ada hubungannya?! " tanya Gayatri dengan suara seraknya. Dan itu terdengar seksi di telinga Hayam.
Hayam menahan dirinya untuk tidak mencium gadis di hadapannya dengan kasar dan lama.
"Tentu saja." jawab Hayam pasti.
Dia lalu menatap Gayatri dengan tatapan lembut dan dalam. Ia tidak akan melepas gadis ini jika Gayatri benar-benar mengakui hubungan mereka.
"Tapi aku tidak melihat ada kaitannya." kata Gayatri.
Lalu ia melanjutkan kalimatnya, "Saat mendengar mu terluka aku tidak bisa berpikir apa-apa. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dan setelah mendengar penjelasan asisten dingin mu itu
bahwa salah satu motifnya karena ia kecewa padamu karena sudah memiliki kekasih. Jadi aku merasa jadi penyebab semua ini. Akan lebih baik jika kita tidak memiliki hubungan." jelas Gayatri panjang lebar.
"Jadi kau mengakui kalau kita sebagai sepasang kekasih." kata Hayam menarik kesimpulan sendiri dari perkataan panjang gadis itu.
Gayatri membelalakkan matanya, kenapa dari sekian banyak yang ia kata kan Hayam malah menarik kesimpulan aneh seperti itu. Bukan itu intinya!!!
"Hayam, aku serius. Aku takut jika nanti kita meneruskan hubungan ini akan ada masalah lagi kedepannya. Sesuatu yang akan membuatmu kerepotan.Atau bahkan sesuatu yang lebih buruk dari ini." kata Gayatri yang pikirannya sudah melenceng jauuuhh ke depan.
"Misalnya? berikan aku satu contoh." kata Hayam sambil menyelipkan anak rambut gadis itu kebelakang telinga.
"Hmmm itu, yaa bisa apa saja." Gayatri bingung menjawab.
"Baiklah kalau begitu aku akan memberikan satu contoh padamu." kata Hayam kemudian meletakkan tangan di dagunya terlihat berpikir. Lalu berkata sambil tersenyum miring, " Aku akan sangat senang direpotkan oleh mu apalagi jika ditambah beberapa anak-anak kita nanti."
"Kau gila!" Gayatri benar-benar takjub dengan cara berpikir Hayam.
"Kau yang berpikir terlalu jauh. Memang apa yang sudah Candra kata kan padamu. Kau pasti tidak asal bicara saja jika tidak ada alasannya. Karena saat pertemuan terakhir kita, semua baik-baik saja." kata Hayam menyelidiki.
Gayatri diam sebentar menimang apakah harua bercerita atau tidak.
"Jika kau tidak mau berbicara tidak apa-apa, aku bisa menanyakan hal ini pada Candra. Dan aku yakin dia pasti akan mengatakan semuanya." Hayam meraih ponsel dimeja samping ranjangnya.
"Tunggu. Baiklah akan aku kata kan kenapa aku ingin membatalkan rencana pernikahan kita." kata gayatri akhirnya. Ia tidak mau jika sampai Candra yang bercerita maka akan lain lagi ceritanya. Dan mungkin acara dirinya yang berlari-lari seperti orang gila kemarin juga akan diceritakan.
Gayatri lalu menjelaskan pembicaraannya dengan Candra tadi. Apa motif yang mendasari perbuatan pelaku sehingga berani melukai Hayam. Hayam diam mendengarkan dan sesekali terlihat mengangguk.
"Dia anak dari salah satu manajer yang terlibat kasus di perusahaan dan sekarang sedang menjalani sidang tahap akhir." Hayam menanggapi perkataan gayatri.
"Benarkah tapi Asisten mu bilang salah satu kerabatnya." tanya gayatri.
"Bukankah sama saja, anak juga kerabat bukan?" Hayam balik bertanya.
Tangan hayam bergerak mencoba mengambil buah yang ada di nakas.
"Biar aku ambilkan. Mau buah apa?! " tawar Gayatri.
"Jeruk saja." jawab Hayam.
Gayatri dengan sigap mulai mengupas kulit jeruk itu, Hayam citrus langsung menguar ke udara.
"Dan dia juga salah satu penggemarmu itu katanya." kata gayatri dengan tangan masih sibuk mengupas jeruk.
"He em, penggemar garis keras lebih tepatnya." Hayam mengatakan itu dengan santai. Ia menerima jeruk yang sudah dikupas bersih oleh gayatri lalu memakannya.
"Benarkah?! " Gayatri terkejut dengan fakta baru ini.
"Ya. Bahkan Rey selalu mengingatkan ku untuk hati-hati karena biasannya mereka agak cenderung sedikit aneh dari penggemar biasanya." Hayam mengatakan sambil lalu apa yang dulu pernah ia dan Rey bicara kan.
Gayatri terdiam mendengar penjelasan Hayam. Ia baru menyadari jika resiko pekerjaan Hayam yang satu ini begitu serius.
ia tidak bisa membayangkan jika jadi Hayam, mungkin ia sudah menyembunyikan dirinya saat tau ada penggemar yang seperti itu. Ia bergidik ngeri.
Hayam melihat gadis itu diam dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Ia mengambil jeruk dari tangan gadis itu dan meletakkan sembarangan di sisiku ranjang. Laku digenggamnya tangan gadis itu dan menatapnya lembut.
"Aku tidak tau ada bahaya apa kedepannya nanti, tapi satu yang pasti. Aku tidak akan pernah melepaskan mu dalam keadaan apapun. Itu janjiku." Hayam mengatakan itu sambil mengusap lembut tangan Gayatri.
"Setiap pekerjaan memiliki resikonya masing-masing. Aku tau apa yang menjadi resiko dari pekerjaanku ini, dulu aku tidak terlalu berpikir jauh hanya tau bekerja dan terus bekerja." jeda sesaat sebelum ia melanjutkan kembali, "Tapi begitu aku mengenalmu, kini aku mulai memikirkan semuanya. Apa yang akan kau hadapi jika aku mengambil langkah ini, apa kau akan baik-baik saja jika aku melangkah ke sana. aku selalu memikirkan itu dan itu membuatku takut.
Gayatri diam mendengarkan Hayam berbicara, ia seakan dihipnotis dengan setiap kata yang diucapkan laki-laki itu.
" Dan kecelakaan itu membuatku memikirkan apa aku egois jika mengikatmu di sisiku dan menjadikanmu milikku. Aku takut jika kau meninggalkanku. Tapi begitu melihat mu tersenyum dan kau baik-baik saja aku merasa lega. Aku merasa bisa melalui apapun asalkan aku bersamamu."
"Aku. . " Hayam memberi isyarat agar Gayatri diam dan mendengar perkataannya.
"Mungkin jalan yang kita lalui tidak mulus dan selalu lancar. Asal kita selalu bersama pasti bisa kita lewati dengan mudah. Jadi ayo kita jalani ini bersama-sama, Oke." Hayam mengakhiri perkataannya dengan senyum optimis.
Setelah mendengar penjelasan Hayam yang panjang dan tidak semuanya bisa dipahami oleh otaknya. Tapi satu hal yang ditangkapnya dari semua perkataan Hayam, bahwa laki-laki itu serius dengan ucapannya.
Hayam tidak akan mengecewakan dirinya. Hatinya telah memilih Hayam dan sebelum otaknya sempat berpikir, bibirnya sudah mengatakan hal itu.
*************
Sekarang dia sangat malu dan rasanya ingin menghilang saja. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu pada Hayam.
Astaga, aku pasti sudah gila karena mengatakan itu!! pikir gayatri setelah ia bisa kembali berpikir.
"Jadi kapan kita akan menikah, Sayang." kata Hayam dan penuh penekanan dikata terakhir.
Gayatri gelagapan mendapat serangan pertanyaan dari Hayam.
Gadis itu berdehem pelan sebelum menjawab, "Itu kita pikirkan nanti setelah kau sembuh.".
" Baiklah, sesuai keinginanmu Sayang". kata Hayam sambil tersenyum melihat Gayatri yang salah tingkah.
Suasana menjadi hening setelah percakapan mereka. Gayatri menjadi canggung untuk berbicara atau sekedar menatap Hayam.
Gayatri pura-pura menyibukkan diri, membereskan sisa makanan tadi. membuang kulit jeruk ke tempat sampah.
Ia lalu merapikan meja di samping ranjang meski terlihat masih sangat rapi, ia melihat sebuah paper bag yang sudah koyak dan rusak.
Ia berencana membuang bungkusan itu tapi suara Hayam mencegahnya, "Berikan itu padaku."
Gayatri heran tapi tetap menyerahkannya pada Hayam.
"Duduklah disini." perintah Hayam sambil menepuk sisi ranjang tempatnya berbaring.
Setelah memastikan gadis itu duduklah dengan nyaman disampingnya,Hayam mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag itu.
Tangannya memegang sebuah koyak beludru berwarna biru tua dengan pita emas diatasnya. Lalu ia membuka penutup kotak itu, dan didalamnya ada sebuah cincin berlian yang sangat indah.
"Ini adalah alasan ku bisa berbaring disini. Aku membeli ini untuk melamar mu secara resmi tapi sepertinya itu tidak berjalan dengan baik." Hayam terkekeh pelan sambil mengambil cincin itu.
Gayatri menutup mulutnya karena terkejut dan terharu, ternyata Hayam melakukan semua ini untuk dirinya.
Sekarang Gayatri yakin dengan perkataannya tadi, yang mengajak Hayam untuk menikah.
"Jadi jaga ini dengan baik. Oke." kata Hayam sambil menyematkan cincin itu dijari manis Gayatri.
"Pasti! " jawabnya yakin. Gayatri langsung mengangguk dengan pasti dan senyum bahagia terpancar dari wajahnya.
Suasana romantis itu diinterupsi oleh suara pintu diketuk dari luar. kemudian pintu itu terbuka dan muncul Dokter diikuti dua orang perawat.
"Halo, bagaimana perasaan anda saat ini?" Sapa Dokter itu ramah.
"Saya sangat baik Dokter, berkata anda. Terimakasih." Jawab Hayam sopan.
"Kami akan memeriksa keadaan pasien dulu Nona. Jika tidak ada kepentingan anda bisa menunggu diluar." seorang perawat maju dan berbicara profesional hendak mengusir Gayatri. dari tatapan matanya Ia terlihat tidak senang pada Gayatri.
Ia berpikir Gayatri hanya seorang penggemar atau karyawan perusahaan Hayam. Karena ketika Hayam dibawa kemari tidak ada keluarga yang menemaninya.
Dan orang yang mengurus semua administrasi rumah sakit adalah manajernya. Jadi mungkin dia adalah orang yang tidak penting disini.
"Biarkan dia tetap disini." kata Hayam tegas dengan tatapan tajam. Gaya Direktur utama mode on.
Gayatri yang hendak melangkah pergi langsung menghentikan langkahnya.
"Tapi ini adalah prosedur dari rumah sakit, Tuan." perawat yang lain menimpali.
"Jika begitu silakan kalian keluar." kata Hayam langsung.
"Saya minta maaf Tuan, tapi selain keluarga pasien dilarang untuk menemani saat pemeriksaan. Ini adalah peraturan rumah sakit." perawat itu masih mencoba menjelaskan.
"Dia adalah tunangan ku, apa penjelasan ini sudah cukup! " Hayam langsung mengatakan status hubungan mereka.
Semua orang yang ada di sana langsung terkejut termasuk Gayatri. Ia tidak menyangka Hayam akan mengumumkan status mereka meski tidak secara resmi.
Dua orang perawat tadi langsung menunduk malu. mereka merasa bersalah karena meremehkan gadis yang terlihat biasa saja disamping Hayam.
Gayatri tau mood Hayam sedang dalam keadaan tidak baik. Itu karena momen romantisnya terganggu karena kedatangan mereka. Gayatri hanya tersenyum melihat sisi kekanakan Hayam yang baru diketahuinya.
Gayatri mendekat lagi ke arah Hayam, lalu menggenggam tangannya kemudian berkata lembut, "Kalau begini apa sudah mau diperiksa?".
Hayam tidak menjawab apapun, hanya berdehem pelan dan itu bisa disimpulkan bahwa ia setuju.
Suasana hatinya tiba-tiba langsung memburuk saat mendengar perawat itu meremehkan Gayatri. ia ingin memaki dan berteriak seandainya ia tidak menyadari keadaanya.
Gadis ini benar-benar mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perubahan suasana hatinya.
Lalu dokter mulai melakukan tugasnya dengan cepat dan rapi. Setelah selesai ia memberikan resep obat yang harus ditebus gayatri.
"Setelah lukanya mengering pasien sudah bisa pulang. Dalam dua hari ini akan kami lakukan observasi. Tidak ada pantangan dalam makanan yang penting sehat dan bernutrisi. Jangan lupa menebus resep dan meminum obat yang secara teratur". Pesan dokter itu sebelum pergi.
Gayatri menerima resep itu dan menyimpannya di nakas setelah dokter dan perawat itu keluar.
Gayatri masih mengulum senyum mengingat kejadian tadi. Ia menatap Hayam yang masih dalam suasana hati yang buruk.
Dengan tiba-tiba Gayatri mendekatkan bibirnya ke pipi Hayam dan mengecup pelan lalu berkata, "Ini adalah hadiah untuk mu karena sudah menjadi anak yang patuh dan manis".
**************