Finally, I Love You

Finally, I Love You
Membatalkan



Rey terdiam ditempatnya begitu mendapat telefon dari pihak kepolisian bahwa orang yang mengendarai mobilnya sedang ada di rumah sakit.


Sejak tiba di hotel tadi Rey merasa gelisah, tapi dia tidak tau apa penyebabnya. Ia tadi sempat terfikir untuk menelfon Hayam tapi ia urungkan.


Setelah mendengar kronologi singkat tentang kecelakaan itu ia segera menuju rumah sakit.


Rey mengendarai mobil Hayam gila-gilaan dan hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai di rumah sakit.


Dengan cepat dia menuju ruang perawatan Hayam. Tampak dari kejauhan ada dua orang petugas kepolisian sedang berjaga diluar ruangan.


Rey segera menghampiri petugas itu dan memberikan laporan secara singkat. Besok Rey diharuskan datang untuk membuat laporan resmi supaya kasus ini bisa ditangani secara hukum.


Rey kemudian masuk ke dalam ruangan perawatan Hayam.


"Sial! Apa kau tidak bisa membuatku tenang sedikit saja, beberapa hari ini kau sudah membuatku begitu banyak pekerjaan dude." Rey langsung menyemburkan kata-kata umpatan yang ia tahan sedari tadi.


Bukannya Rey tidak khawatir, tadi saja dia sempat ingin menemui orang yang menyerang Hayam sebelum kesini. Tapi otaknya masih bisa diajak berfikir waras jadi dia akan menempuh jalur hukum saja.


Dan dia akan membuat orang itu membusuk dipenjara sambil menghitung nyamuk di sana.


Hayam hanya terkekeh pelan mendengar kalimat sarkas Rey. karena jika ia terlalu banyak bergerak lukanya akan terasa sakit.


"Aku akan menaikkan gaji mu bulan ini." kata Hayam dengan entengnya menanggapi kemarahan Rey.


"Aku tidak butuh uangmu itu sialan! Apa yang akan aku kata kan pada Aunty Marisa nanti jika mendengar kabarmu, bodoh! " Rey memang tidak pandai menunjukkan perasaannya. Jadi dia melampiaskan semua dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.


"Kalau begitu jangan beritahu ibu." Hayam menanggapi kemarahan Rey dengan santai. Karena ia tahu Rey sebenarnya khawatir padanya.


Jadi dia tidak menganggap serius ucapan Rey.


"Lalu bagaimana jika Aunty Marisa tau dari orang lain, dia pasti langsung membunuhku! " Dengus Rey.


"Jangan sampai ibu tau dan itu tugasmu sebagai manajerku." Hayam benar-benar tidak ambil pusing dengan masalah itu.


"Kau benar-benar ingin membuatku mati muda Dude! " Rey sudah bisa mengontrol emosinya dan berbicara dengan nada biasanya.


"Nope. Aku ingin melihat mu menikah dan bahagia sampai tua." Hayam selalu mengembalikan kata-kata Rey dengan santai.


"Aku serius Hayam! " ingin rasanya Rey berteriak dan menjambak rambutnya. Tapi itu bisa menghancurkan imagenya dan juga merusak tatanan rambutnya yang menghabiskan banyak uang dan waktu. Ia tidak mau itu.


Jadi sebisa mungkin ia menahan dirinya untuk tidak melakukan hal itu atau menonjok wajah tampan Hayam. Karena itu juga aset berharga milik Hayam.


"Kau pikir aku bercanda. Kau memang sudah seharusnya menikah Rey." jawab Hayam dengan wajah lempengnya.


"Oke oke aku akan memblokir berita ini supaya tidak bisa sampai ke telinga Aunty marisa. " Rey akhirnya menyerah dan mengangkat ke dua tangannya tanda menyerah. "Tapi aku tidak akan membiarkan bajingan itu lolos.".


" Kalau itu terserah pada, tadi aku sudah membiarkan laporan disini jadi kau tinggal mengurus sisanya besok." jawab Hayam kali ini tidak mendebat dan satu pemikiran dengan Rey.


"Tapi aku tidak bisa menjamin bisa memblokir berita itu sekarang, dan pasti berita itu sudah sampai pada gadis itu." kata Rey tajam.


Kali ini Hayam terdiam, senyum yang tadi tersungging di bibirnya menghilang.


"Sekarang mungkin dia sudah mendengar berita penyerangan terhadap dirimu karena kulihat tadi beberapa wartawan sudah ada di luar rumah sakit. " lanjut Rey. Ia membalas Hayam dengan nama Gayatri.


Ternyata nama gadis itu bisa menjadi senjata ampuh untuk membungkam mulut menyebalkan milik Hayam.


Hayam terlihat berfikir serius, dia melupakan kenyataan satu ini. Jika seperti ini masalahnya tadi harusnya dia mengikuti saran Rey agar membawa satu bodyguard.


Karena memang sebagai publik figur ia memang diharuskan Rey untuk membawa bodyguard paling tidak satu orang. Itu untuk mengantisipasi kejadian tidak terduga seperri ini.


Tapi nasi sudah menjadi bubur tak ada yang bisa diubah lagi. Kecuali jika dia menambahkan bumbu dan toping agar bubur tak enak.


***************


Gayatri sedang dalam perjalanan pulang dan melewati toko elektronik. Tepat pada saat itu sedang menyiarkan berita tentang penyerangan yang terjadi pada Hayam.


Seluruh televisi yang ada di sana menanyangkan berita yang sedang menimpa sang artis.


Gayatri merasa lututnya lemas dan hampir jatuh, untung ada orang yang menolong dan membatunya duduk di bangku pinggir jalan.


Dia tidak bisa berpikir jernih, kini pandangannya pada televisi terhalang orang-orang yang sudah berkerumun menonton.


Setelah dirasa tenaganya pulih Gayatri langsung lari dari sana, bukan menuju jalan pulang tapi kembali ke kantor. Dia berharap bisa bertemu Candra dan memastikan kebenaran berita itu.


Gayatri tiba di sana tepat ketika Candra keluar dari gedung dan hendak menaiki mobil.


"Tuan! Tunggu Tuan! " teriaknya dan berhasil membuat Candra menghentikan langkahnya.


Gayatri berhenti tepat si depan Candra dan mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.


Setelah berhasil mengatur nafasnya ia langsung bertanya pada Candra, "Apa berita itu benar Tuan?! ".


Candra menatap Gayatri dengan datar dan berkata dengan nada yang sama dengan wajahnya, " Nona bisa memastikannya sendiri jika ikut dengan saya. Itu pun jika Anda mau ikut."


Lalu langsung masuk dan duduk di jok belakang tanpa berkata apa-apa lagi Gayatri langsung melompat masuk dan duduk di samping Candra.


Tanpa disadari oleh gadis itu Candra tersenyum tipis dan melirik Gayatri yang duduk dengan tegang.


Jika boleh memilih Gayatri sebenarnya tidak ingin berbicara dengan balok kayu ini, tapi dia tau tidak ada yang bisa ia mintai tolong selain Candra. Jadi dia akan menahan dirinya untuk sekarang.


"Silakan pakai sabuk pengaman Nona. " ucap pak sopir mengingatkan dan Gayatri langsung memakainya tanpa banyak bicara.


Mereka melakukan perjalanan ini dengan saling diam. Candra yang pada dasarnya memang dengan dan pendiam tidak butuh bicara jika tidak penting.


Dan Gayatri yang terlalu takut untuk bicara, bahkan sekedar menanyakan kondisi Hayam saat ini.


Hampir setengah perjalanan di dalam mobil tanpa ada pembicaraan Gayatri memberanikan diri bertanya pada Candra.


Ia tidak suka suasana ini dan ia terlalu penasaran dengan kondisi Hayam. Dia bisa mati penasaran dan kebosanan disini.


"Apa Anda tau bagaimana kondisi Hayam saat ini. " tanyanya hati-hati.


"Tuan baik-baik saja itu yang di kata kan Tuan Rey." jawabnya tanpa menoleh pada Gayatri.


hening lagi.


"Apa Anda tau bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya lagi.


Lalu ia menjelaskan kronologi kejadiannya secara garis besarnya saja. Dan setelah mendengar pengakuan dari tersangka penyerangan yang sudah diinterogasi oleh polisi, selain dendam pribadi juga kecewa karena Hayam telah memiliki seorang kekasih.


Gayatri terkejut mendengar penjelasan Candra.


"Jadi aku secara tidak langsung menjadi penyebab penyerangan terhadap Hayam." kata Gayatri pelan dan merasa bersalah.


"Bisa ya, bisa tidak! " jawab Candra tidak pasti.


Andai ia tidak muncul di dengan Hayam maka tidak akan ada foto mereka berdua. Andai ia tidak keras kepala mencari bukti maka ia tidak akan semakin membuat heboh publik. Dan banyak kata Andai yang dipikirkan gadis itu.


"Jangan menyalahkan diri Anda sendiri Nona karena setelah saya selidiki pelaku ini masih ada hubungan kerabat dengan salah satu tersangka kasus penggelapan dan di perusahaan. Dan sekarang sedang dalam proses hukum. Jadi kemungkinan itu motif yang sebenarnya. " Tanpa di minta Candra menjelaskan pada gadis itu.


Candra tidak tega melihat wajah tertekan dan bersalah pada gadis itu. Dan itu akan berpengaruh pada suasana hati Hayam.


Suasana kembali hening bahkan sampai mereka tiba di tempat tujuan pun tidak ada pembicaraan lagi.


Gayatri berjalan di belakang Candra tanpa berkata apapun, bahkan ketika sampai di ruangan tempat Hayam dirawat pun ia tidak mengatakan apa-apa.


"Sialakan masuk Nona, Saya maris perlu mengurus beberapa berkas terkait kasus ini." Candra membukakan pintu dan menyuruh gadis itu masuk.


Setelah Gayatri masuk Candra menutup pintu dan tersenyum miring. Tuan Anda harus memberiku bonus yang banyak, karena aku membawa kan obat paling mujarab untuk Anda.


Begitu gayatri memasuki ruangan itu ia melihat Hayam yang terbaring di ranjang pasien. Laki-laki itu terlihat seperti yang dikatakan Candra bahwa ia baik-baik saja meski terlihat sedikit pucat.


ingin rasanya gayatri berlari dan memeluk Hayam saat ini juga tapi dia tidak punya keberanian untuk melakukannya.


***********


Hayam yang berbaring dengan posisi setengah duduk menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Lalu matanya melihat gadis kecilnya yang selalu ia rindukan.


Ia melihat gayatri masuk dan berjalan ragu-ragu kearahnya.Jika saja dia bisa berdiri sekarang ia akan berlari menjemput gadis itu dan memeluknya erat.


Tanpa sadar sekarang gayatri sudah ada di samping ranjang Hayam.


Setelah dekat Hayam baru bisa melihat jika mata gadis itu berkaca-kaca menahan tangis.


"Bersama siapa kau kesini? " tanya Hayam mengalihkan perhatian gayatri agar tidak menangis.


"Candra." jawabnya singkat dengan suara tecekat di tenggorokan.


"Apa kau tidak membawa kan sesuatu untukku." tanya Hayam lagi.


Dan gadis itu menggeleng sebagai jawaban. Dan setelah itu ia diam sambil menundukkan kepalannya.


"Hei kenapa kau diam saja, katakanlah sesuatu agar aku bisa mendengar suara mu. " kata Hayam lembut. Dan itu malah membuat bibir gayatri bergetar menahan tangis.


ia memang sengaja tidak banyak bicara karena jika ia berbicara maka ia tidak bisa menahan tangisan yang akan keluar seperti sekarang ini.


"Aku baik-baik saja asal kau tau. Lihat aku sekarang. bahkan aku bisa memelukmu jika kau mau." kata Hayam mencoba menggoda gayatri.


Dan perkataannya sukses membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapnya tajam seolah berkata, "Dasar bodoh! jika kau baik-baik saja tak mungkin kau berbaring disini memakai pakaian rumah sakit dengan tangan diinfus. dasar bodoh!!! ".


Hayam melihat gayatri yang sudah mengeluarkan air mata dari sudut matanya hatinya terasa sakit dan jantungnya seperti diremas.


" Jangan menangis." kata itu meluncur dari mulutnya begitu saja. Pada hal dari tadi dia mencoba untuk menahan kalimat itu.


Mendengar itu gayatri yang tadi mencoba menahan tangisannya langsung memeluk Hayam dan menangis keras di pelukkan laki-laki itu.


'Jangan menangis' itu adalah kata yang pantang dikatakan jika seseorang sedang menahan tangisannya, jika dilanggar maka ia akan menangis seperti air bah yang menenggelamkan semua. Seperti yang terjadi pada Gayatri.


"Sekarang aku tau jawaban atas pertanyaanku waktu itu." kata Hayam sambil mengecup pelan puncak kepala Gayatri.


Gayatri menumpahkan semua beban di hatinya dengan tangisan di pelukan Hayam. Rasa bersalah, khawatir, dan takut sejak tadi menggerogoti hatinya.


Apalagi melihat Hayam terbaring tak berdaya disini membuat benteng pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh tak bersisa.


Dia tidak ingin melihat Hayam terluka, dia tidak ingin melihat Hayam sakit.


Dia sudah membulatkan tekad untuk mengatakan ini pada Hayam. Ia sudah memikirkan ini matang-matang. Bahwa ia akan mengakhiri hubungan ini sebelum berlanjut ke tahap yang lebih serius.


"Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini." kata Gayatri bagai petir yang menyambar disiang bolong.


**************