
Gayatri cuti satu hari ini karena Hayam yang bersikeras agar dia cuti karena inside kemarin. Dia sedang duduk di sofa sambil makan bubur ayam yang dibawa Hayam.
"Aku baik-baik saja Hayam jadi tidak perlu cuti dari kantor segala, itu hal yang biasa." Disela-sela makan gadis itu masih sempat protes dengan keputusan Hayam.
"Tapi itu tidak biasa bagiku dan juga sebentar lagi kita menikah kau harus bisa menyesuaikan diri." jawab Hayam santai. Kalau tidak memaksakan kehendaknya bukan anak Marisa dia.
Gayatri diam dan masih terus menyuap bubur ke dalam mulutnya.
"Rencananya besok aku ingin mengajakmu bertemu keluargamu dan meminta secara langsung untuk izin menikahi mu." perkataan Hayam membuatnya tersedak dan terbatuk batuk. Hayam langsung mengambilkan air putih yang ada didekatnya.
Gayatri menerima dan meminumnya sampai habis lalu memandang Hayam dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa aku salah?! sebentar lagi kita menikah dan aku belum pernah bertemu dengan orang tua mu. Aku juga belum meminta mu secara resmi pada keluargamu." Hayam menjelaskan niatnya.
Gayatri ragu-ragu untuk menjawab tapi mereka akan menikah jadi harus saling terbuka kan?!
"Sebenarnya orang tua ku tidak tinggal di negara ini." kata Gayatri pelan.
"Kita bisa mengunjungi mereka bukan?! " jawab Hayam.
Gayatri menghela nafas pelan dan memandang Hayam, ia harus mengatakan apa adanya dirinya pada laki-laki itu.
Mereka memang sudah sepakat untuk menikah dan berkomitmen menjalani pernikahan dengan baik meski tidak ada cinta diantara mereka.
Mereka sudah sama-sama dewasa dan mengerti akan konsekuensi dari hubungan mereka. Ia akan menjalani pernikahan dengan baik karena ia nyaman bersama Hayam. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab dan itu susah cukup baginya. Ia tidak akan mengharapkan lebih dari itu, karena ia tidak berani bermimpi terlalu tinggi.
"Aku akan menceritakan tentang keluargaku sebelum kita menikah dan ini sudah ku rencanakan lama. Dan setelah itu kau bisa mengambil keputusan apapun bahkan jika membatalkan pernikahan itu. Tunggu jangan menyela ucapan ku dengarkan aku dulu." Gayatri menahan Hayam yang ingin menyela.
"Aku tau kita sudah sama-sama dewasa dan kita menikah itu adalah keputusan kita berdua meski tidak ada cinta diantara kita, dan tau akan konsekuensinya." Gayatri mengatakan itu sambil memandang Hayam dengan lekat. Laki-laki itu hendak mengatakan sesuatu tapi Gayatri masih belum membiarkannya bicara.
"Ayahku keturunan jepang dan ibu asli indonesia, mereka adalah teman saat kuliah disini dan bertemu lagi saat sama-sama bekerja di negeri orang. Karena merasa cocok dan sepaham mereka akhirnya memutuskan untuk menikah karena saling mencintai dan dari pernikahan mereka lahirlah aku. Ayah dan ibu ku memutuskan tinggal di sana setelah menikah karena pekerjaan ayah terfokus disana. Kami hidup bahagia dan menjadi keluarga harmonis sampai sebuah rahasia terkuak jika ayah mempunyai wanita lain diluar sana dan itu membuat ibu terpukul. Mereka akhir nya bercerai saat usiaku belum genap lima tahun.".
"Ibu tidak pulang kesini karena ia malu dengan keluarganya, jadi ibu memutuskan untuk bekerja di sana dan menghidupi kami berdua. Di sana kami dibantu paman Akihiko yang ternyata adalah rekan kerja ibu dan juga ayah. Dia orang yang baik karena selalu membantu kami dan mencoba memperbaiki hubungan ibu dan ayah. Tapi ibu ku terlalu keras kepala tidak mau menemui ayah, sampai kebenaran tentang wanita itu terkuak. Dia hanya menjebak ayah dan ingin agar ibu bercerai dengan ayah, semua ia lakukan agar ibu dan ayah berpisah karena ia sangat mencintai ayah dan tidak ingin ayah dimiliki wanita lain". Inilah yang membuat Gayatri tidak percaya akan cinta.
Dirinya takut karena cinta ibunya bahkan bisa sangat membenci ayahnya, ia tidak ingin seperti ibunya. Atau seperti wanita yang telah menghancurkan keluarganya, hanya karena cinta yang tak terbalas ia rela melakukan apa saja untuk memuaskan egonya.
Dan dirinya takut jika ia akan bernasib sama seperti mereka. Ia takut jika ia benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu maka ia tidak akan pernah bisa melepas Hayam dari hidupnya. Dan sepertinya ia sudah jatuh cinta pada Hayam, laki-laki yang selalu membuatnya nyaman dan aman.
Gayatri berhenti sebentar sebelum me lanjutkan cerita nya. Ia memandang Hayam lekat dan mencari kekuatan pada laki-laki itu. Hayam mengelus pelan tangan Gayatri seolah mengatakan semua akan baik-baik saja ada aku disini.
"Semua kebenaran terungkap juga karena bantuan paman Akihiko, karena dia tidak percaya bahwa ayah akan melakukan hal seperti itu. Tapi semua terlambat saat semua kebenaran terkuak. Ayah mengalami kecelakaan pesawat saat ia hendak menemui ibu. Dan dia tidak selamat." Gayatri mengakhiri cerita nya dengan air mata berderai. Hayam memeluk gadis itu dan mengusap punggungnya sambil menepuknya pelan.
"Aku tidak berharap kau akan menerima ku sepenuh hati di pernikahan kita, karena aku tau kita tidak saling mencintai. Jika kau berubah pikiran dan ingin kita sudahi sampai disini aku tidak masalah. Kau bisa menemukan wanita lain yang lebih baik dari ku dan kalian bisa hidup bahagia dan saling mencintai." kata Gayatri dengan getir.
Hayam langsung membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang panjang. Hatinya sakit saat mengetahui bahwa gadis itu tidak mencintainya. Tapi apapun yang terjadi nanti ia akan membuat gadis kecil itu jatuh cinta padanya.
Setelah puas mencium gadis itu dan menyalurkan rasa kesal, marah dan tidak terima dengan perkataan gadis itu Hayam melepas ciumannya dan menangkup wajah gadis itu.
"Aku memang tidak pandai berkata manis dan aku lebih senang dengan menunjukkan perasaanku lewat perbuatan. Apa selama ini kau tidak mengerti perasaanku, kau tidak bisa melihat keseriusanku padamu." Hayam berkata pelan.
Dan Gayatri tau bahwa perasaan laki-laki itu padanya sangat dalam, untuk sekarang itu sudah cukup.
"Kau gadis ku yang kuat, aku tau kau pasti sangat terpukul dan berat melewati itu semua tapi kau kuat. Dengan adanya dirimu disini itu menandakan kau hebat. Jadi mulai sekarang kau harus bahagia bersamaku. Janji." Hayam menautkan jari kelingking mereka.
Hayam mengacak pelan rambut gadis itu lalu menatap wajah nya dalam-dalam dan serius.
"Aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu, bahwa aku sangat mencintai mu. Sejak pandangan pertama aku sudah jatuh cinta padamu." Akhir nya Hayam mengungkapkan perasaannya.
Gayatri terkejut mendengar pernyataan cinta dari Hayam, ia sangat bahagia karena ia tahu bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku tidak akan meminta mu membalas perasaanku, aku tidak peduli bagaimana masa lalumu. Karena kau tidak bisa mengubah masa lalu, karena dengan adanya masa lalu kita akan mempunyai masa depan yang lebih baik dan kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Jadi kau harus percaya pada dirimu sendiri jika kau bisa bahagia." Hayam meyakinkan Gayatri bahwa tidak semua orang sama dan mempunyai cerita yang berbeda.
Gayatri memasang senyum manisnya dan mengangguk membenarkan, "Kau tau Hayam entah sejak kapan dimulainya aku sudah jatuh cinta padamu. mungkin karena sikap manis dan perhatian mu yang membuat ku luluh. atau karena sikap menyebalkan dan pemaksamu itu. Tapi kau harus tau bahwa aku sangat mencintai mu. Terimakasih karena sudah mau menerima ku apa adanya."
"Jadi apa kau siap bertemu dengan keluargamu?! " tanya Hayam.
"Ya. Aku harus memberitahu ibu tentang rencana pernikahan kita." jawab gadis itu ragu-ragu dan melanjutkan kalimatnya pelan, "tapi aku takut jika harus naik pesawat.".
" Tenang saja, ada aku jangan takut. Jika kau takut, kau bisa memeluk ku seperti ini." jawab Hayam sambil merengkuhnya ke dalam pelukan.
Gayatri hanya bergumam tidak jelas dan mengangguk.
"Aku sudah menyiapkan tiket pesawatnya dan jadwal keberangkatannya besok siang, jadi kau harus siap besok pagi." otomatis gadis itu mendongakkan kepalanya menatap Hayam.
"Apa kau sudah merencanakan semua ini?!" tanya Gayatri penuh selidik. Ia curiga jika Hayam sudah mengatur semua ini hanya tinggal menunggunya mengangguk kan kepalanya saja.
"Aku selalu merencanakan semuanya dengan matang Aya." jawab Hayam dengan senyum tanpa dosanya.
"Jadi kau juga sudah tau semuanya?!" tanyanya lagi.
"May be yes may be no." Hayam mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum, " Aku hanya ingin mendengar semuanya dari bibirmu sendiri Aya."
"Kau!!!!" teriak Gayatri lalu mulai menyerang pinggang Hayam dengan tangannya.
Hayam mengelak sambil membalas gadis itu dan suasana yang tadi terasa sesak dan kini menjadi penuh tawa dari bibir Gayatri.
Hayam senang melihat gadis itu sudah kembali tersenyum dan melupakan kesedihannya.
***************
Hai hai hai kita bertemu lagi!!!!!
Terimakasih buat semua yang sudah mau mampir di karya pertama saya ini. Itu merupakan sebuah dukungan bagi saya untuk tetap menulis.
Saya menerima kritik saran dan masukannya pada karya saya ini. Di tunggu ya man teman. terimakasih!!!!!!!!!
sarangheyo 🥰🥰🥰🥰