Finally, I Love You

Finally, I Love You
Dalam masalah



Dunia seakan berhenti berputar saat pandangan Hayam dan Gayatri bertemu. Entah bagaimana ceritanya kini Hayam sudah ada didepan Gayatri dengan senyum menawannya.


Gayatri menatap Hayam dengan perasaan campur aduk. Terkejut karena Hayam benar-benar seorang yang terkenal, serta takut karena banyaknya penggemar yang mengerubunginya.


ini benar-benar diluar imajinasinya bahwa ia akan terlibat dalam situasi ini.


"Kita bertemu lagi gadis kecil, sekarang sudah tau siapa saya?" Tanya Hayam dengan suara pelan.


Suara Hayam menyadarkan lamunan Gayatri. Ia tersenyum namun terkesan dipaksakan. Lalu menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa ini kekasih Hayam yang disembunyikan?" terdengar suara seseorang dari belakangnya.


"Astaga jadi benar Hayam sudah punya kekasih." timpal yang lain.


"Aku tadi melihatnya berbelanja bersama kukira dia adiknya."


"Tidak mungkin. Dia pasti kekasihnya. Oh Hayam ku sudah memiliki kekasih."


Banyak suara-suara di sekeliling mereka yang berbicara tanpa tau faktanya.


Mereka berlomba-lomba mengabadikan momen ini menggunakan kamera ponsel.


Gayatri yang tidak pernah ada diposisi ini terkejut dan wajahnya pucat pasi.


Hayam melihat wajah gadis kecilnya pucat segera menutupi wajah Gayatri dengan tubuhnya.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku." Bisik Hayam sambil menunduk. Dan itu tak luput dari penggemarnya.


Mereka berpikir itu sangat romantis dan sangat gentle sekali. Dan itu malah membenarkan tebakan mereka.


Lalu Hayam memberi perintah pada Rey untuk membawa gadis kecilnya pergi dari sana.


"Bawa pergi gadis ini aku akan mengurus sisanya disini." perintah Hayam.


Tanpa banyak kata tiga orang bodyguard segera memisahkan diri melindungi Gayatri dari jepretan ataupun rekaman kamera setelah mendengar instruksi Rey.


Dan dengan cepat Rey mengambil alis suasana dan menggiring penggemar tadi menuju tempat diadakannya meet and great.


Di acara itu Hayam banyak di desak pertanyaan tentang sosok gadis itu. Kenapa ia sampai melindunginya. Benarkah ia adalah kekasih Hayam yang selama ini disembunyikan.


Dan pasti ini menjadi santapan hangat para pencari berita yang hadir di sana. Jiwa penasaran mereka meronta-ronta keluar.


Dengan profesional dan lugas Hayam menjawab semua pertanyaan mereka semua dan dengan perlahan perhatian dialihkan ke beberapa pertanyaan yang tidak menjurus hal pribadi.


********


Gayatri duduk termenung di sofa ruang tunggu yang disediakan panitia acara. Tempat dimana Hayam dan tim nya berada.


Apa yang terjadi. Seharusnya aku pergi dari sana sebelum ada yang menyadarinya. Gayatri galau dengan pikirannya sendiri.


Bagaimana tadi ia bisa diam di tempat begitu bertemu dengan laki-laki itu.


Kau terpesona dengannya Gayatri bisik hati kecilnya , ia lalu memukul kepalanya pelan dan berulang-ulang.


Dasar bodoh kau Gayatri, apa yang kau pikirkan. Bodoh bodoh bodoh. Ia merutuki kebodohan otaknya yang tak secerdas biasanya.


Tapi siapa yang tidak terpesona dengan Hayam jika dia sangat mempesona tadi. Bahkan dia tidak menyadari itu padahal mereka pernah berdebat dua kali.


Gayatri masih sibuk merutuki kebodohannya bahkan saat ada orang yang masuk pun dia tidak menyadarinya.


"Jangan memukul kepalamu terlalu sering gadis kecil. Kau akan bertambah bodoh nanti." Suara Hayam menyadarkan dirinya bahwa ada orang lain disini.


"A a anda disini Tuan." Gayatri tergagap berbicara karena gugup.


"Bisakah kau berbicara santai denganku, jangan terlalu formal padaku." Hayam melipat tangan didepan dada sambil memperhatikan Gayatri.


Gayatri langsung menggeleng, "Saya pikir itu kurang sopan Tuan. Kita hanya orang asing."


"Kita sudah pernah bertemu dua kali jika kau lupa." Hayam mencoba mengingatkan.


Gayatri menggigit bibirnya lalu menunduk. apa itu bisa disebut alasan? lagipula itu hanyalah perdebatan kecil. Menyebalkan!


"Meski itu hanya perdebatan kecil tapi kita sudah pernah bertemu gadis kecil. Jadi jangan membuat-buat alasan." Hayam menebak dengan benar isi pikiran Gayatri.


apa dia bisa membaca pikiranku. Gayatri memandang Hayam ingin tau.


"Aku tidak bisa membaca pikiranmu gadis kecil tapi itu semua terlihat jelas di wajahmu." Hayam menebak lagi dengan benar.


"Tapi saya merasa tidak nyaman Tuan. Kita tidak saling mengenal." Gayatri masih mencoba beralasan logis.


"Kalau begitu mari kita berkenalan. Aku Hayam." Kata Hayam sembari mengulurkan tangannya.


Gayatri masih ragu tapi dengan pelan ia mengulurkan tangannya ke depan, menyambut tangan Hayam.


"Gayatri." Ia mengenalkan namanya dengan singkat padat dan jelas.


Hal ini membuat Hayam menarik bibirnya membentuk seulas senyum.


Tangan yang lembut dan terasa sangat kecil di genggamannya. Hayam takut jika ia menggenggamnya lebih erat tangan itu akan hancur.


Gayatri lalu menarik tangannya dengan cepat dan menggenggamnya dengan erat membuat Hayam ingin tertawa.


" Aku minta maaf untuk insiden tadi." Ucap Hayam tulus. "Harusnya aku tidak menghampirimu tadi." Hayam benar-benar menyesal karena itu membuat Gayatri dalam masalah.


"Tidak apa-apa Tuan. Itu hanya masalah kecil yang tidak terduga." Gayatri menjawab begitu agar Hayam tidak merasa bersalah.


"Benarkah?!".Tanya Hayam karena tak yakin dengan jawaban Gayatri.


Ia melihat dengan jelas bahwa gadis itu terguncang dengan kejadian tadi dan berusaha menutupinya. Gadis ini benar-benar.


"Benar Tuan. Dan terimakasih atas bantuannya tadi." Gayatri sedikit menundukkan kepalanya tanda ia berterimakasih dan menghormati Hayam.


"Jika benar begitu sebagai ucapan terimakasihmu bagaimana kalau kita makan malam bersama sekarang." Hayam mencoba menggoda gadis didepannya.


Apa? Laki-laki ini apa masih waras. Apa dia tidak berfikir jika diluar sana masih banyak penggemar yang menunggunya. Jika mereka keluar bersama apa jadinya nanti. helllllooooo situ waras???!!! Gayatri sibuk memaki dalam hati.


"Terimakasih atas tawarannya Tuan. Tapi saya sibuk sekali beberapa hari ini." Gayatri mencoba menolak dengan halus.


Dia memang sibuk setiap malam. Sibuk streaming film atau menonton drama kesukaannya. Jadi dia tidak berbohong soal itu.


"Apa kau sibuk kuliah?" tanya Hayam tanpa sempat dipikirnya. Ia pikir Gayatri masih kuliah melihat postur dan gaya berpakaiannya.


Gayatri mendengus pelan dan mengumpat dalam hati. Apa mata orang ini bermasalah. Apa dia tidak bisa membedakan anak kuliahan dan wanita karier!.


"Saya sudah bekerja Tuan." Jawab Gayatri singkat.


Hayam diam sambil berfikir dan terlihat mengangguk-anggukkan kepalannya pelan.


"Kalau begitu saya permisi Tuan. Sekali lagi terimakasih." Gayatri pamit undur diri.


"Ada apa Tuan." Gayatri memandang pada Hayam sambil mendongakkan kepalanya. Dan dia baru menyadari bahwa dirinya sangat kecil didepan laki-laki itu. Pantas saja Hayam memanggilnya gadis kecil.


"Aku belum menyetujui penolakanmu gadis kecil." Hayam menampilkan senyum sejuta watt nya.


Lalu?! tanya Gayatri lewat tatapan matanya.


"Kau bisa menggantinya dengan mengubah cara bicaramu padaku dengan bahasa yang lebih santai." Hayam mengutarakan maksudnya.


"A apa?". ia tak paham dengan pertanyaannya.


" Maksudku kau bisa bicara denganku layaknya teman dan jangan menggunakan kata saya-anda, saya-kamu." Hayam menjelaskan seperti dia menjelaskan pada anak kecil bagaimana cara berhitung satu ditambah satu sama dengan dua.


"Bagaimana.Kau setuju kan!" Hayam bertanya sekali lagi karena Gayatri hanya diam, bukan bertanya lebih ke perintah.


Sebelum menjawab ia mengambil nafas dulu daan menghembuskan nya pelan. huft.


"Baiklah. Terserah. Saya permisi dulu." Akhirnya menjawab dengan pasrah.


Tapi langkahnya terhenti karena Hayam belum menurunkan tangan kanannya. Heiiiii Apalagi ini?.


Hayam menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. Lalu menunjuk dengan dagunya, "Kau masih menggunakan kata formal padaku.".


Astagaaaaa!!!!.. Baiklah yang sehat mengalah. Oke. Calm down girl.


" Baiklah aku pamit dulu. kamu sudah puas?" Tanya Gayatri penuh penekanan dan disambut senyum lebar Hayam.


"Not Bad. tapi nadanya lebih santai sedikit oke." Kata Hayam sambil menurunkan tangannya.


Gayatri mendengus pelan lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan itu.


"Hati-hati dijalan. Sampai jumpa." Teriak Hayam dari kejauhan dan Gayatri mengabaikan hal itu.


Sampai jumpa gundulmu kui.


***************


Hayam masih terdiam di tempat ia berdiri bersama gadis kecil tadi. Rasa penasaran perlahan menggerogoti hatinya. Benarkah gadis kecil itu sudah bekerja?! apa pekerjaannya?! bekerja dimana?! dimana dia tinggal?! ahh kenapa juga dia penasaran sampai seperti ini.


"Gadis kecil kenapa aku ingin tau lebih banyak tentang dirimu." ucap Hayam pelan.


Hayam menuju sofa dan merebahkan dirinya di sana. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sandaran sofa.


Dia teringat kejadian tadi sore saat melihat Gayatri dengan wajah pucat nya. Ingin rasanya Hayam menariknya dalam pelukan dan menghiburnya agar tidak bersedih.


ia tak ingin melihat wajah sedih gadis itu, ada rasa tidak terkatakan yang membuat hatinya resah.


Gadis itu bahkan mengatakan tidak apa-apa tapi tangannya gemetar menahan takut. Ia merasa jadi laki-laki tidak berguna.


Ia kesal dan rasanya ingin mengamuk atau membanting sesuatu untuk melepaskan rasa tidak enak di hatinya.


Terdengar suara pintu terbuka lalu terlihat Rey melangkah masuk.


"Kau ingin makan malam apa dude?" Tanya Rey sembari duduk di samping Hayam.


"Terserah." Jawab Hayam sekenanya.


"Ada restoran baru buka dengan konsep yang menarik. Apa kau mau mencobanya." Tawar Rey sambil memainkan ponselnya.


Hanya terdengar gumaman tidak jelas dari Hayam. Rey heran karena ini tidak seperti Hayam yang ia kenal.


"Ada apa denganmu dude. Apa ada masalah?" Tanya Rey yang selalu peka dengan masalah disekitarnya. Dua jempol untuk Rey kalau masalah ini.


"Bukan apa-apa." Balasnya cuek lalu mengambil ponselnya dan memainkannya.


"Berarti memang ada apa-apa. Tapi itu terserah padamu jika kau tak ingin menceritakannya padaku." Sahut Rey lalu sibuk dengan ponselnya mencari restoran yang ia katakan tadi.


Rey mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan ada yang janggal. Lalu ia teringan tentang gadis yang Hayam suruh membawanya ke sini.


"Dimana gadis kecil tadi aku tidak melihatnya." Tanya Rey melihat Hayam yang tiduran.


Mendengar Rey memanggil Gayatri dengan gadis kecil membuatnya tidak senang lalu menatap tajam pada Rey.


"Apa? Aku kan hanya bertanya tentang gadis kec . . . " Belum sempat ia meneruskan kalimatnya sudah dipotong oleh Hayam.


"Namanya Gayatri!" Potong Hayam cepat. Dan jangan memanggilnya gadis kecil. Hanya aku yang boleh memanggilnya begitu! lanjutnya dalam hati.


"Wah nama yang cantik seperti orangnya." Rey malah menggoda Hayam dengan perkataannya.


Sontak ucapan Rey membuat Hayam menatapnya tajam. Ia tak suka dengan kalimat Rey.


"Hei tenang dude. Aku tidak akan merebutnya darimu jika kau tertarik dengan gadis ke. . . maksudku this girl, gayatri." Rey langsung meralat kalimat yang akan diucapkannya saat Hayam menatapnya tajam.


"Shut up." kata Hayam penuh penekanan.


Rey langsung meledakkan tawanya menanggapi umpatan yang keluar dari mulut Rey.


"Calm down dude. Sudahlah tidak usah dibahas ayo keluar aku lapar." Rey berhenti menggoda Hayam lalu beranjak dari sofa mengambil kunci mobil di meja.


Hayam masih terlihat malas-malasan di sofa. Dia merasa malas melakukan apapun.


Rey yang sudah diambang pintu menoleh kembali ke sofa dan melihat artis dewasa itu berubah seperti anak kecil.


"Aku sudah menyetujui permintaanmu mencarikan jadwal minggu depan, kita akan membahasnya sambil makan. So let's Go. " Ucapan terkahir Rey mampu menarik perhatian Hayam.


Terlihat laki-laki itu bangkit dari posisi rebahan nya merenggangkan ototnya sebentar lalu menyusul Rey.


"Kau yang bilang Rey. Jadi jika ibuku memarahiku karena jadwalku yang padat kau orang pertama yang harus pasang badan untukku." Kata Hayam seenaknya.


"What??!!! Kau menjebak ku dude. Kau licik." sungut Rey tak percaya ia masuk jebakan batman.


"Hey aku hanya memberitahu konsekuensi dari membuat jadwalku padat. Kau yang bilang Rey, kau yang bila." Hayam masih kekeh dengan pendapat seenaknya sendiri.


"Oke oke kau bosnya disini! Puas!" Rey mengalah sambil mengangkat kedua tangannya keatas.


Sekarang dia tau sifat keras kepala dan semaunya sendiri itu diturunkan oleh Aunty Marisa pada Hayam.


Dalam hati Rey berharap Gadis kecil ups, Gayatri bisa membuat hari Rey lebih berwarna. Entah kenapa feeling Rey sangat kuat jika mereka berdua akan bertemu lagi.


Tadi Rey sempat berbincang dengan Gayatri dan dia ternyata lulusan arsitektur yang sangat berbakat. Dilihat dari cara ia menjelaskan dengan detail tentang bangunan yang ditanyakan Rey.


Pasti perusahaan Hayam akan sangat beruntung jika memiliki karyawan seperti Gayatri ini pikir Rey saat itu.


Rey memandang Hayam yang bejalan di depannya. Semoga kau segera menemukan cinta mu dude.


************