Finally, I Love You

Finally, I Love You
Backstreet??!



Hayam kembali memeriksa dokumen rapat tadi. Banyak kerugian yang ditanggung oleh perusahaan tetapi Hayam masih bersyukur karena tidak menelan korban jiwa.


Dia sudah dapat memisahkan orang-orang yang terlibat dalam insiden proyek di sebelah barat kota itu.


"Kalian ingin bermain-main denganku. Baiklah akan ku layani permainan kalian. Aku ingin tau sejauh mana kalian bisa bertahan." Hayam tersenyum miring. Ia sudah mengantongi nama-nama orang yang bermain curang di perusahaannya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu menjeblak terbuka dengan keras. Dan itu akibat dari dorongan wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Hayam.


"Ibu. Kenapa ibu kesini?" Hayam langsung bangkit dari duduknya menghampiri sang ibu.


"Apa begitu caramu menyambut kedatangan ibumu?!" Marisa langsung mengomeli putranya.


"Bukan begitu ibu, jika ibu memberitahu akan kesini aku bisa menyuruh seseorang untuk menjemput ibu." kata Hayam lembut.


"Dan kau akan pergi begitu ibu memberitahu akan kesini." tebak Marisa tepat sasaran. Dan Hayam hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.


Memang seperti itu kan biasanya tapi kali ini Hayam tidak akan kabur karena masalah perusahaan yang cukup berat


"Itu hanya perasaan ibu saja, jika seperti itu berarti sedang bentrok dengan jadwal ku ibu." Hayam masih mencoba mencari alasan.


Ibunya hanya mendengus sebal, "kau sangat pandai mencari alasan Hayam".


Hayam hanya tertawa menanggapi kekesalan ibunya. Ia lalu memencet interkom dan meminta dibawakan minuman dan makanan ringan ke ruangannya.


Lalu ia kembali duduk di tempatnya tadi dan memeriksa berkas yang berserakan di meja. Terlihat sangat berantakan.


"Apa ada masalah di kantor? " tanya Marisa penuh perhatian.


Meski sering mengomel dan memarahi Hayam ia tetap perhatian dan sayang pada putranya itu. Ia tidak akan tega melihat putranya dalam masalah.


"Tidak ibu, hanya maslah biasa saja" Hayam menjawab pertanyaan ibunya dengan lembut disertai senyum manisnya.


"Apa kau yakin sayang?" Marisa hanya ingin memastikan keadaannya.


"Tentu saja ibu" jawab Hayam yakin lalu menutup dokumen yang dibacanya lalu melanjutkan perkataannya, "Ngomong-ngomong ibu ada perlu apa kemari".


Marisa lalu tersenyum menawan dan ini membuat Hayam langsung waspada. Pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh ibunya.


" Tidak ada. ibu hanya ingin mengajakmu makan siang, tapi sepertinya kau sedang sibuk." Marisa masih mempertahankan senyumannya.


"Really". Hayam tidak percaya begitu saja. Lalu ia menatap ibunya sampai Marisa jengah dan mengakui alasannya kemari.


" Oke oke ibu mengaku. Ibu kesini ingin menagih janji yang kau berikan minggu lalu" akhirnya Marisa mengakui niat baiknya.


Janji apa? Hayam masih bingung dengan pernyataan ibunnya lalu meminta penjelasan lewat tatapan matanya.


."Kau akan mengenalkan calon istrimu pada ibu" kata Marisa langsung.


Jederrr!!!! Hayam bagai disambar petir siang hari. Ia bahkan sudah melupakan hal ini. Astaga ini bencana bahkan lebih berat dari yang sedang dihadapi perusahaan nya.


Hayam menelan ludah susah payah sebelum menjawab ibunya.


"Sekarang aku benar-benar sangat sibuk ibu, bisakah kita membahas ini nanti saja" Hayam mencoba negosiasi dengan ibunya.


"Kau bilang tadi tidak sibuk. Baiklah ibu akan mempermudah bagimu. Bagaimana jika kau menikah dengan wanita akan yang melewati pintu itu saja". kata Marisa enteng.


What the ****!!! apa-apan ibunya ini. Bisa-bisanya berfikir seperti itu. Astagaaaa Hayam bisa gila jika melewati ini lebih lama lagi.


Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar lalu terbuka. Seorang OB masuk mengantarkan cemilan dan meletakkannya dimeja lalu langsung keluar karena merasa suasana yang mencekam didalam ruangan itu.


"Ibu ingin aku menikah dengannya!" tanya Hayam yang tentu saja membuat ibunya murka.Hayam memang sengaja menanyakan hal itu untuk menggoda ibunya.


"Sembarangan!! ibu tadi kan bilang wanita! wanita Hayam! apa orientasi seksualmu sudah belok hah!!!" murka ibunya lalu memukul punggungnya berkali-kali.


Hayam tertawa juga menahan sakit di punggungnya. "Ampun ibu, aku hanya bercanda. Aku masih menyukai wanita cantik. Oke."


Marisa menghentikan gerakan tangannya yang memukul punggung Hayam.


"Bercandamu sangat asin Hayam!" kata ibunya dengan nada yang terdengar masih kesal.


Hayam memegang tangan ibunya sambil mengusapnya pelan lalu berkata dengan lembut, "Aku akan mengenalkan seseorang nanti jika waktunya sudah tepat Bu. Aku janji. Oke".


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan terbuka perlahan dan muncullah Candra. Candra masuk dengan raut wajah heran.


Karena ia melihat dua orang beda gender dan umur menatapnya dengan cara berbeda


Hayam dengan wajah leganya dan Ibu Marisa dengan wajah kecewanya.


" Kenapa malah kau yang muncul", sembur Marisa pada Candra langsung tanpa tedeng aling-aling.


Candra memandang Hayam bingung bagaimana harus menyikapi pertanyaan Marisa, karena ia tidak tau permasalahannya.


"Kau membuat harapanku sirna Candra" sambung Marisa lagi.


Candra semakin heran. Disini dia yang bodoh atau ibu Marisa yang terlalu pintar hingga ia tidak bisa menangkap maksud perkataannya.


"Ada apa" tanya Hayam akhirnya.


"Nona Gayatri ada di luar Tuan" jawab Candra cepat.


"Cepat bawa dia masuk" terdengar nada memerintah tapi bukan suara Hayam.


Hayam dan Candra langsung menoleh kearah sumber suara berasal dan bersamaan memandang Marisa heran.


"Dia wanita kan. Cepat suruh calon menantuku masuk" titahnya lagi dan tidak menerima penolakan.


Hayam menghela nafas pelan lalu memandang Candra dan mengangguk menyetujui perkataan ibunya.


Candra memandang Hayam dengan tatapan penuh dukungan seolah mengatakan "yang Sabar ya Bos!!".


Lalu dia pamit undur diri keluar dari ruangan itu dan berpikir bagaimana reaksi gadis diluar itu. Semoga saja dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


Ia melangkah keluar sambil tersenyum misterius cenderung aneh.


Akan sangat merepotkan jika sakit disaat perusahaan dalam masa genting ini. Akan ada biaya yang keluar lagi. Dan waktu yang terbuang sia-sia.


Astaga pikiran Candra hanya pada perusahaan dan keuntungan perusahaan. Dia tidak mengenal kata rugi dalam kamusnya.


****************


Kini Gayatri sudah duduk dengan tegang didepan Marisa dan disampingnya Hayam terlihat santai.


Ini lebih menegangkan dari sidang skripsi yang pernah ia lakoni dulu.


"Siapa namamu. " tanya ibu Hayam.


"Gayatri Nyonya." jawabnya pelan sambil menunduk.


"Kau bekerja disini." tanyanya lagi.


"Benar Nyonya." Gayatri menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


"Sudah berapa lama bekerja disini." cecarnya lagi.


"Sudah tiga tahun Nyonya." Jawabnya lagi.


"Betah kerja disini?" tanyanya Marisa.Lagi.


Gayatri tersenyum dan mengangguk dan berkata pelan, "Betah Nyonya.".


Kapan sesi tanya jawab ini akan berakhir pikir Gayatri. Dan pertanyaan Marisa semakin lama semakin absurd.


"Berapa usiamu. sudah punya pacar atau suami? Rencana menikah usia berapa? seperti apa pasangan idealmu bagaimana pendapatmu tentang Hayam?" tanya Marisa acak dan banyak sekaligus, sampai Gayatri bingung harus menjawab apa.


"Bu sudahlah. Ibu membuatnya takut." Akhirnya Hayam buka suara juga karena pertanyaan ibunya semakin aneh.


"Kapan ibu membuatnya takut. Ibu hanya bertanya Hayam. Kalau dia mau menjawab ya syukur kalau tidak ya sudah." Elaknya tak mau kalah.


"Tidak apa-apa Pak." Gayatri mengaji perdebatan Ibu dan anak itu karena akan menambah kepalanya pusing.


"Kalau begitu kamu diam saja. Biar saya yang menjawab pertanyaan ibu." Hayam berusaha menenangkan Gayatri.


Hooo kalian ingin bermain dengan ibu anak nakal, baiklah sininmain sama ibu.


"Dia Gayatri ibu karyawan perusahaan Hayam. Usianya 26 tahun lulusan S2 arsitektur bekerja di divisi desain." Hakam benar-benar menjawab pertanyaan ibunya yang ditujukan pada Gayatri.


"Jadi ini yang diceritakan Rey kemarin, baguslah kalau memang dia. Kalian terlihat cocok." kata Marisa sambil manggut-manggut.


"Apa hubungannya dengan Rey Ibu?" tanya Hayam waspada.


"Rey mengatakan seminggu lalu di acara keartisanmu itu kau malah asik berkencan sampai lupa waktu. Membuatnya kalang kabut mencarimu" Marisa menjelaskan.


"Rey bilang seperti itu?" tanya Hayam tak percaya.


"Ya dia bilang seperti itu." jawab Marisa sambil mengingat-ingat.


"Dan ibu percaya?" Waahh Hayam benar-benar takjub dengan gosip buatan Rey.


"Tentu saja. Tapi ibu ingin membuktikannya secara langsung. Jadi jawab pertanyaan ibu dengan benar. Kalian berdua." kata Marisa sambil menunjuk ke arah Hayam dan Gayatri bergantian.


"Apa kalian bertemu di Mall kemarin."


"Ya."


"Apa kalian membeli baju yang sama."


"Ya."


"Dan juga sepatu!".


" Ya.".


"Kalian bahkan dihadang beberapa penggemar Hayam."


"Ya.".


" Dan Hayam membantu menghalau mereka."


"Ya."


" Jadi kalian pacaran. "


"Ya."


Marisa tersenyum penuh arti, kena kalian.


"Jadi kapan kalian menikah?".


" Ya?! "


Hening sesaat sebelum sebuah teriakan keluar dari mulut mereka berdua.


"APA!!!! "


"Kalian mengakui sudah berpacaran dan bukankah kemarin kalian berkencan. Jadi kapan kalian menikah jangan ditunda terlalu lama." kata Marisa penuh kemenangan.


Hayam dan Gayatri saling pandang mendengar perkataan Marisa.


*********


Hayam mendekatkan dirinya dan berbisik di Gayatri, "Serahkan semuanya padaku, Oke.".


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya entah dia paham atau tidak dengan maksud Hayam. Hayam memandang lekat wajah Gayatri.


"Bu dengar penjelasan Hayam dulu." Hayam mencoba membujuk ibunya. meski sulit ia akan mencobanya.


"Penjelasan apa lagi." tantang Marisa.


"Kami memang menjalin hubungan bu, tapi kami tidak ingin orang-orang mengetahui hubungan kami. " Hayam mengatakan itu sambil menatap lembut Gayatri. Gadis itu masih diam meski Hayam mengakui mereka memiliki hubungan.


"Benarkah? " tanya Marisa curiga.


"Ya minggu lalu seperti yang dikatakan Rey. Kami sedang kencan dan sedikit belanja tapi ada sedikit insiden kecil dan itu membuat Aya tidak nyaman." Hayam menjelaskan kronologi kejadian seminggu lalu.


Gayatri memandang Hayam penuh pertannyaan tapi dia bahkan tidak bisa mengatakannya.


"apa semua baik-baik saja Sayang, apa ada yang menyakitimu? " tanya Marisa penuh perhatian pada Gayatri. Mengalihkan fokus gadis itu pada Marisa.


"Semua baik-baik saja Nyonya. Tuan Hayam sudah membantu saya." Gayatri menjawab yang terlintas dipikirannya tanpa proses.


"Tuan?! kenapa Aya memanggilmu Tuan?!" Marisa bertanya pada Hayam.


"Aya masih marah padaku Bu, karena ia takut identitasnya akan terbongkar di sana dan akan berpengaruh pada hubungan kami. Benarkan Aya." jawab Hayam sambil tersenyum pada Gayatri.


Gayatri benar-benar tidak bisa berbicara apapun, bahkan sekedar mengangguk atau menggeleng.


"Jadi seperti itu. tenang saja sayang ibu akan membantumu jika ada masalah. Oke." Marisa mengatakan itu sambil mengelus lembut tangan Gayatri.


Gayatri berdehem pelan sebelum menjawab, " Baik Nyonya.".


Marisa mengerutkan dahinya tidak senang mendengar panggilan Gayatri padanya.


"Nyonya? apa aku majikanmu? mulai sekarang kau harus memanggilku ibu sama dengan Hayam. Bukannya kalian akan menikah. Jadi bagaimanapun juga nanti kau akan jadi istri Hayam artinya jadi anakku juga." kata Marisa tegas.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. Hayam melihat itu merasa kasihan tapi juga senang.


Dia akan memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk mendapatkan Gayatri. Karena bagi pengusaha peluang sekecil apapun jika dimanfaatkan dengan baik akan menghasilkan keuntungan yang memuaskan.


"Dan juga kau harus merubah panggilanmu pada Hayam.Kau bisa langsung memanggil namanya jika mau." Sarannya pada Gayatri.


"Itu sangat tidak sopan jika langsung memanggil namanya Nyo. . . eh I ibu.". Gayatri gelahapan menjawab karena hampir salah mengucapkan Nyonya. Dan tatapan tajam Marisa menyadarkannya.


Hayam menahan tawa agar tidak menyembur keluar melihat ekspresi takut Gayatri. Ia saja takut menghadapi ibunya jika sedang dalam mode serius. apalagi gadis ini pikir Hayam.


"kau bisa memanggilnya apapun, terserah mau kau panggil bagaimana. Yang terpenting jangan Tuan, Pak, Anda." Gayatri membolakan matanya mendengar penuturan Marisa. Apanya yang terserah kalau begini caranya.


"Bu sudahlah itu bisa dibicarakan nanti. Sebentar lagi kami akan melanjutkan rapat dan meninjau lokasi proyek. Lebih baik ibu pulang saja." Hayam melirik jam tangannya.


"Baiklah tapi ingat ibu akan tetap menagih janji tentang rencana pernikahan kalian." putusnya final tanpa bisa di ganggu gugat. Lalu bangkit berdiri dan menghampiri Gayatri.


"Baiklah sayang ibu pamit dulu dan bicarakan baik-baik dengan Hayam bagaimana konsep pernikahan yang kalian inginkan nanti. Ibu pergi dulu. Oke." Pamit Marisa lalu mengecup pelan kedua pipi Gayatri.


Setelah itu Marisa melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.


Begitu pintu tertutup Gayatri langsung menoleh pada Hayam yang duduk disampingnya.


Gayatri tadi langsung blank ketika mendengar kata menikah. ia benar-benar tidak bisa berfikir. Dan sekarang setelah menguasai dirinya ia baru bisa berfikir.


"Sekarang apa bisa Anda jelaskan pada saya apa yang terjadi tadi." sembur Gayatri langsung ketika Marisa sudah keluar.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu jika kau tidak berbicara normal denganku." putus Hayam sambil melipat tangan didepan dada.


Gayatri mendengus pelan mendengar jawaban Hayam.


"Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi tadi, kenapa sekarang menjadi serumit ini." Akhirnya Gayatri mengalah dan menggunakan bahasa non formal.


"Bukannya tadi kau juga mendengar sendiri apa yang dikatakan ibuku." Hayam menjawab dengan santai.


"Harusnya tadi kau menyangkalnya bukan malah mengatakan kalau kita ada hubungan." protes Gayatri.


"Kenapa kau tidak menyangkalnya tadi, harusnya kau lakukan itu. Tapi apa yang kukatakan tadi benarkan kalau kita sedang belanja bersama." Hayam malah melempar kesalahan pada Gayatri.


"Aku tidak. . . entahlah." Gayatri benar-benar tidak bisa bicara.


" kita bahas ini nanti setelah pulang dari lokasi proyek yang akan kita kunjungi, bagaimana?" tawar Hayam.


"Hmmm baiklah." jawab Gayatri pasrah.


"Bagus! ". Hayam lalu mengacak lembut kepala gadis kecil itu.


Tidak ada gunanya melawan takdir jadi ikuti saja bagaimana arus ini akan membawanya.


***************