
Putih. itu yang pertama kali dilihat olehnya. Gayatri mengerjapkan matanya menahan rasa pusing di kepalanya.
Setelah rasa pusing itu menghilang ia mencoba bangkit untuk duduk meskipun sedikit kesusahan. Dan meringis pelan ketika merasakan sengatan rasa perih dilengannya.
Ia hentikan sementara kegiatannya untuk mengambil nafas pelan agar rasa sakitnya sedikit berkurang.
Terdengar pintu terbuka lalu muncul sosok Hayam disana. Saat melihat Gayatri kesulitan untuk duduk ia bergegas menghampiri dan membantunya.
"Bisakah kau menunggu seseorang untuk datang menolongmu." kata Hayam ketus sambil membenarkan bantal di belakang Gayatri supaya gadis itu nyaman saat duduk.
"Aku baik-baik saja, jadi tidak perlu menunggu bantuan orang lain." jawab Gayatri pelan.
"Benarkah?! bagaimana kalau aku menekan lenganmu dan kita lihat apa kau merasa sakit atau tidak." Hayam mengatakan itu sambil meletakkan tangannya di lengan gadis itu.
Gayatri langsung menepis tangan Hayam. Kemarin dia mungkin sudah gila karena bisa memeluk Hayam.
"Maksudku, lukaku tidak separah anak lain yang tertimpa reruntuhan bangunan." Gayatri menjelaskan alasannya.
"Jadi lengan yang dijahit dan kaki yang hampir patah tidak terlalu parah. Oohh bagus sekali Aya!" sarkas Hayam. "Bahkan kau pingsan saat tau lenganmu berdarah." Cibirnya lagi.
Gayatri heran kenapa Hayam marah-marah padanya. Dia terluka karena kesalahannya sendiri jadi ia tidak akan menyalahkan Hayam.
Bahkan ada yang lebih parah dari dirinya, ya itu Andi yang mengorbankan diri untuk melindunginya dari reruntuhan itu. Mungkin ada bagian tubuhnya yang terluka parah.
"Aku pingsan karena aku phobia darah asal kau tau. Aku bahkan tidak merasakan sakit kemarin, jika aku tidak melihat darah aku tidak mungkin hanya pingsan karena luka kecil ini." protes gadis itu dengan kesal.
Entah bagaimana ceritanya Gayatri bisa phobia jika melihat darah yang banyak. Dia akan pusing mual serta bahkan terkadang sampai kesulitan bernafas dan badannya yang lemas.
Kemarin ia tidak apa-apa bahkan rasa sakit di kakinya juga tidak terlalu ia rasa. Tapi begitu Hayam menyebut darah dan ia melihat tangan laki-laki itu berlumuran darah ia langsung mual dan pusing.
"Ya ya ya kau yang benar. Sekarang makanlah bubur ini agar tenaga mu cepat pulih." Hayam mengalah saja daripada berdebat dengan orang yang sakit. Ia menyodorkan bubur pada gadis itu.
Gayatri langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar kata bubur. " Aku tidak suka bubur." kata ya.
Hayam memandangnya tajam dan Gayatri balas memandangnya tanpa takut.
"Kau tau bubur itu rasanya seperti kanebo jadi jangan paksa aku untuk memakannya." Gayatri memberi alasan yang sangat absurd.
"Memangnya kau pernah merasakan kanebo kering." kata Hayam lalu sibuk mengaduk buburnya.
Gayatri mengangguk lalu menceritakan bagaimana dia bisa merasakan kanebo kering.
Saat itu dia sedang menonton drama china favoritnya dan ada adegan yang membuatnya marah. Biasanya dia akan menggigit camilan yang jadi teman nontonnya saat melihat drama.
Entah bagaimana bisa kanebo yang kemarin dipakai untuk mengelap kaca jendela bisa ada di tangannya dan berakhir didalam mulutnya.
Sontak cerita itu membuat Hayam tertawa dengan keras mendengar ke absurd an tingkah gadis itu.
"Astaga, aku tidak menyangka kau akan segila itu Aya." kata Hayam yang masih tertawa.
"Makanya aku tak suka bubur karena rasanya seperti kanebo kering." Gayatri menatap Hayam jengkel karena masih saja menertawakannya. "Apa kau tidak bisa berhenti tertawa Hayam."
Hayam menghentikan tawanya bukan karena tatapan tajam Gayatri, melainkan gadis itu menyebutkan namanya langsung.
Ada rasa berbeda jika namanya diucapkan melalui bibir gadis itu. Dan itu membuatnya senang.
"Sebutkan namaku sekali lagi." pintanya pada Gayatri.
Gayatri yang sadar telah mengucapkan apa langsung menutup mulutnya dengan dua tangannya. Ia sangat malu saat menyadari kesalahannya.
Hayam senang melihat reaksi gadis itu, lalu tangannya melepaskan kedua tangan gadis itu yang masih menutup mulutnya.
"jangan malu aku suka mendengar kau menyebut namaku dengan bibirmu ini." Hayam mengusap pelan bibir gadis itu.
Tatapan mereka bertemu dan seolah dunia berhenti berputar di sekeliling mereka. Jarak mereka semakin dekat lalu terdengar suara yang keluar dari perut Gayatri.
Sontak hal itu membuat keduanya menjauhkan tubuh masing-masing. keduanya memalingkan wajahnya ke sembarang arah agar tidak bersitatap.
Hayam berdehem pelan untuk membasahi kerongkongannya. Dan berusaha menetralkan degup jantungnya agar kembali normal.
"Sekarang buka mulutmu dan makanlah." kata Hayam pelan sambil menyodorkan sendok didepan mulut Gayatri.
Gadis itu dengan patuh membuka mulutnya tanpa berani memandang ke arah Hayam.
Saat sendok berisi bubur itu menyentuh mulutnya matanya membulat terkejut dan refleks memandang Hayam.
"Lezat bukan, ini bubur buatan Ibu. Tadi Ibu kemari saat kau masih pingsan dan meninggalkan bubur untukmu." Jelas Hayam tanpa diminta.
"Terimakasih." Kata Gayatri pelan. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Ibu Hayam akan sangat baik padanya.
Hayam hanya tersenyum menanggapi dan tangannya masih sibuk menyuapi bubur pada gadis itu
*************
Sore tadi setelah Gayatri siuman dokter langsung memeriksanya kembali dan menyatakan bahwa lukanya tidak terlalu serius.
Hanya luka luar dan tidak ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan. Besok pagi ia sudah bisa pulang dan melakukan rawat jalan.
Masalah Rawat jalan ini adalah permintaan Hayam. dirinya masih belum yakin seratus persen jika Gayatri baik-baik saja. Karena ia melihat sendiri betapa mengerikannya kejadian kemarin dan saat melihat kondisi gadis itu seakan jantungnya diremas dengan kuat. Hatinya seakan dihancurkan saat itu juga.
"Aku tidak perlu rawat jalan Hayam, kau berlebihan! " protes suara kecil yang membuyarkan lamunannya. Gayatri duduk di ranjang pasien menghadap Hayam yang berada di sofa tak jauh darinya.
"Aku melakukan ini demi kebaikanmu juga." jawab Hayam santai sambil membereskan berkas-berkas yang ada dihadapannya.
"Ada yang lebih buruk keadaannya jika dibandingkan denganku. Dan mereka yang lebih perlu mendapat perawatan." gadis ini benar-benar keras kepala batin Hayam.
Hayam bangkit dari sofa dan berjalan ke arah Gayatri. Gadis itu memasang wajah kesal dan menatap padanya dengan tajam.
Ia memandang wajahnya gadis dihadapannya dengan serius. Entah sejak kapan hatinya sudah terikat dengan gadis ini.
Mungkin sejak kejadian kemarin, atau bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Bahkan dulu ketika ibunya meminta menikah dengan gadis itu tidak ada penolakan darinya.
Dirinya sudah memikirkan ini matang-matang dan memberanikan diri melamar gadis kecil dihadapannya ini.
Dilihatnya gadis kecil itu membulatkan matanya terkejut dan hendak menarik kepalanya ke belakang. Namun dengan sigap Hayam menahan gerakan itu.
"Aku serius dengan ucapanku. Aku melamarmu. Ingin menikah denganmu. Membina sebuah keluarga kecil kita. Aku memintamu menjadi istriku Aya." Hayam berkata dengan lembut bernada persuasif.
Suasana mendadak jadi hening, namun bukan hening yang mencekam. Hening yang menenangkan dan membuat orang terlena.
Hayam memperhatikan wajah yang ada di depannya dan perhatiannya tertuju pada bibir mungil gadis itu. Seolah menggodanya untuk mencicipi rasanya.
Tadi dia hampir kelepasan mencium gadis itu dan sekarang dia melihat gadis itu pasrah di depannya. ini benar-benar godaan yang terlalu nikmat untuk dilewatkan.
Lalu dengan pelan dikecupnya bibir gadis itu. Sangat pelan sehingga hanya seperti sebuah sentuhan seringan bulu.
Tapi memberi efek yang sangat dahsyat pada keduannya. Membuat jantungnya berdegup lebih cepat dan seolah seluruh darah berjalan sangat cepat dinadinya. Menjadikan tubuhnya panas menjalar dari kaki sampai kepala.
Hayam menjauh sedikit dan menahan diri untuk melahap bibir mungil gadis itu. Tapi tetap menempelkan dahi mereka.
"Aku serius dengan permintaan ku tadi. Menikahlah denganku Gayatri Tanakaishi." Ucapnya lembut.
"Aku setuju." terdengar suara menjawab tapi tidak hanya satu melainkan dua suara.
Hayam dan Gayatri menoleh ke arah suara itu berasal. Dan di depan pintu yang sudah terbuka berdiri tiga orang.
Rey, Candra dan Ibu Hayam tengah berdiri di sana memperhatikan ke arah mereka berdua.
"Sejak kapan kalian ada di sana?" tanya Hayam langsung. Dan Gayatri terlalu malu untuk menampakkan wajahnya. Dan dia tidak sadar malah bersembunyi di belakang tubuh Hayam.
"Sejak kau melamar Gayatri. Dan itu sangat menakjubkan dude. you'r so georgeous!" Rey mengacungkan dua jari jempolnya.
"Jadi kalian menyaksikan semuanya?" kali ini pertanyaannya ia tujukan pada Candra. karena ia tahu hanya Candra yang masih waras dan jujur diantara mereka.
"Benar Tuan. Bahkan saya merekamnya." jawab Candra jujur dan pengakuan itu membuat Hayam syok.
Gayatri yang mendengar itu langsung ingin menggali lubang dan menyembunyikan dirinya. Ia sungguh malu, benar-benar sangat malu.
"Nyonya Marisa yang menyuruh saya Tuan." lapor Candra jujur dan langsung mendapat tabokan dipunggungnya.
"Sudah-sudah jangan dibahas lagi, lihat Aya sampai menyembunyikan dirinya terlalu dalam di punggungmu." Marisa mendekat ke arah ranjang dan menarik Gayatri agar gadis itu tidak bersembunyi lagi.
"Tenanglah sayang, jangan malu. Jika Hayam sudah mengatakan itu berarti dia benar-benar serius denganmu." Marisa berusaha menenangkan gadis itu dan mengelus punggungnya pelan.
*************
Gayatri masih diam dan menundukkan kepalanya karena terlalu malu, bahkan asisten Hayam merekamnya. Berarti saat Hayam menciumnya itu juga direkam. Mengingat kejadian itu membuat wajahnya kembali memanas.
Ia duduk di sofa bersama Hayam disampingnya. Rey dan Marisa duduk di hadapannya sedangkan Candra berdiri diam di samping Hayam.
"Jadi apa kau sudah benar-benar yakin ingin menikah dengan Gayatri?" tanya marisa pada Hayam.
"Benar Ibu!" jawab Hayam yakin.
"Dan kau sayang, apa kau menerima lamaran Hayam?!" kali ini marisa ganti menanyai Gayatri.
"Aku. . . " Gayatri bingung menjawab apa.
"Apa kau masih ragu dengan Hayam?! tenang saja nanti kami akan melamarmu pada keluargamu secara resmi jika itu yang membuatmu ragu sayang. " Marisa berkata sambil tersenyum dan Hayam merasa ia pernah melihat senyum itu sebelumnya.
"Tidak, maksudku bukan begitu ibu." kata Gayatri pelan.
"Jadi kau ingin ada pesta untuk melamarmu? " tanya marisa lagi.
"Tidak ibu." jawab Gayatri cepat.
"Jadi kau tidak suka pesta? Sama seperti ibu sayang, ibu tidak suka pesta karena ramai dan itu sedikit tidak nyaman. Benar kan?" tanya marisa.
Sebenarnya Hayam ingin protes karena sejak tadi ibunya hanya memutar-mutar saja pertanyaannya. Tapi ia langsung menghentikan niatnya karena mendapat tatapan tajam dari ibunya.
"Benar ibu." Gayatri mengangguk membenarkan., karena memang seperti itu.
"Jadi kau tidak suka pergi ke pesta yang ramai?". marisa memastikan jawaban gayatri.
" Ya ibu."
"Jadi sebenarnya kau tidak mempermasalahkan lamaran Hayam yang sederhana tadi." kata marisa cepat.
"Ya ibu." Jawab Gayatri yang belum menyadari pertanyaan yang sudah dilontarkan Marisa.
"Jadi kau menerima lamaran Hayam." sambar Marisa cepat.
"Ya ibu." jawab Gayatri pelan lalu diam. Oh tidak! dia baru menyadari sesuatu.
Dia yang sadar akan pertanyaan Marisa dan jawabannya sendiri langsung menatap horor ke arah Marisa. Ia terkena jebakan batman. Lagi?!!.
Lalu menoleh pelan ke arah Hayam dan laki-laki itu hanya tersenyum lebar.
"Kau yang menjawab Aya, kau yang menjawab." kata Hayam pelan penuh dengan kemenangan.
Dan Rey langsung menertawakannya dengan keras kebodohannya sendiri.
Candra menanggapi itu dengan senyum prihatin dan tatapan mengejek. Seolah berkata kau bodoh sekali Nona.
Apa ada yang bisa menjelaskan ini semua. Gayatri benar-benar ingin menarik rambutnya dan berteriak sekencang-kencangnya.
Keluarga gilaaaaaa!!!!.
**************