Finally, I Love You

Finally, I Love You
permainan takdir



Seminggu berlalu sejak kejadian di Mall yang membuat Gayatri sedikit trauma dengan keramaian.


Sepanjang waktu ini ia berusaha melupakan kejadian itu dengan menyibukkan diri nonton drama Korea kesukaannya.


Dan itu berhasil karena sekarang dia sudah tidak memikirkannya lagi. Ia kembali menikmati hari-hari sibuknya bekerja.


"Aya apa bahan untuk meeting sudah siap." tanya pak Hendra selaku manager produksi.


"Siap Pak. saya sudah meminta arsitek di departemen desain menyiapkan rencana B ini jauh-jauh hari." jawab Gayatri.


"Bagus. Saya beruntung memiliki kamu di departemen desain. Kamu selalu menyiapkan rencana cadangan. Saya juga heran kenapa proyek sebesar itu bisa bocor." Pak Hendra malah curcol.


"Hal itu pasti akan ditangani pihak manajer konstruksi dan general manager Pak." Gayatri berusaha menenangkan atasannya.


"Sepertinya tidak akan sesederhana itu. Kudengar Direktur Utama juga akan turun tangan langsung." Kali ini suara pak Herman terdengar lesu.


"Kalau begitu ini tidak sesederhana yang kita duga pak. Tapi bapak tenang saja departemen kita masih aman kok pak." gadis itu berupaya menghibur atasannya.


"Gundulmu kui. Semua bakal kena ini mulai dari manajer IT sampai manajer keuangan gak ada yang bisa lolos." kalimat sakral pak Hendra akhirnya keluar dan itu juga dicontoh oleh anak buahnya ini.


"Hehehe saya kan cuma pengen menghibur bapak. Kalau begitu hanya satu kata buat bapak. Sabar ya Pak." Kata Gayatri sambil nadanya disamakan dengan tokoh animasi Indonesia.


"Woo Cah gemblung." Sungut pak Hendra lalu meninggalkan ruangan Gayatri.


Gayatri hanya tersenyum melihat kepergian pak Hendra. Ia hanya berusaha mencairkan ketegangan sebelum meeting. Karena ia tau pasti seperti apa suasana meeting siang nanti.


"Huuuffhhh semoga Direktur Utama sedang dalam suasana hati yang baik. Jadi jika marah paling tidak tidak akan sampai level awas cukup siaga 1 saja." Gayatri menyamakan kemarahan Direktur Utama dengan status level gunung api yang akan meletus.


*************


Hayam ada didalam mobil yang sedang menuju tempat meeting diadakan dan membaca laporan yang ia terima dari Candra. Ia terlihat sangat marah dan kesal bagaimana dana pembangunan bisa bocor sebanyak ini.


ia akan mengurus tuntas masalah ini, karena menyangkut banyak nyawa manusia. Karena masalah ini Hayam meminta Rey mengosongkan jadwalnya sampai ia selesai menangani proyek ini.


Meski harus membayar denda pinalti tak masalah baginya. Untungnya Rey selalu bisa diandalkan, dia belum mengambil jadwal apapun untuknya sampai bulan depan. Hanya beberapa acara kecil yang masih bisa dimundurkan jadwalnya.


"Aku ingin semua hadir dalam meeting nanti. Jangan biarkan ada celah sedikitpun yang bisa meloloskan siapapun yang bersalah dalam hal ini." perintah Hayam tegas pada asistennya.


"Baik Tuan." jawab Candra. Tanpa Hayam perintah pun dia pasti tidak akan melepaskan orang-orang ini.


"Kau sudah mengumpulkan bukti-bukti terkait kasus ini." tanya Hayam lagi.


"Sudah Tuan."


"Apa ada korban jiwa dalam masalah ini." Hayam ingin memastikan keselamatan orang-orang yang bekerja padanya.


"Tidak Tuan. Para pekerja itu sedang istirahat saat bangunan itu runtuh Tuan." Candra lalu menjelaskan secara detail tentang masalah yang mereka hadapi.


"Bagus. Aku tidak mau proyek yang sedang kita kerjakan mendapat kendala di masa depan. Apalagi ini adalah Rumah Sakit jadi bangunannya harus benar-benar kokoh." kata Hayam penuh penekanan.


"Baik Tuan." Candra selalu mengambil langkah dua arah. Jika dia tidak bisa mengambil langkah maju maka ia akan mengambil langkah lainnya. yaitu mundur selangkah lalu melompat.


Jadi dia tidak akan hanya diam ditempat sambil memikirkan cara lainnya karena dia sudah punya rencana lain jika rencana utama gagal.


Hayam beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang kompeten dibidangnya.


Candra selalu berpikir taktis dan cepat dalam masalah pekerjaan. Selain cerdas dia juga cepat tanggap dan tidak takut untuk menyalahkan orang jika memang salah.


Jika Hayam sibuk dengan dunia keartisan nya maka Candra lah orang yang akan memegang kendali perusahaannya.


Dia bisa mengambil keputusan yang tepat dan menguntungkan untuk perusahaan tanpa harus mengganggu Hayam.


Dan Rey selalu bisa diandalkan dalam keadaan darurat. Misalnya jika harus menghindar dari rencana kencan buta ibunya.


Sekarang Rey tengah menikmati masa liburannya karena Hayam akan fokus sementara di perusahaannya sampai keadaan memungkinkan untuk ia tinggalkan lagi.


tiga puluh menit kemudian mereka sampai ditempat meeting. Hayam keluar dari mobil dan merapikan penampilannya.


Penampilan Hayam sangat berbeda dari biasanya. Jika sudah masuk kantor dia akan menanggalkan status artisnya dan terlihat sangat berbeda.


Dia akan sangat serius di perusahaan bukan karena jaga image tapi ia memang selalu serius jika di kantor. Dia tidak main-main dengan pekerjaannya ini.


Semua sudah berjejer rapi menyambut kedatangannya dan menunduk dengan hormat.


"Kami akan mengantar anda Tuan. Mari sebelah sini." Salah seorang maju sebagai penunjuk jalan menuntun rombongan besar itu ke sebuah ruangan.


Dia memasuki ruangan yang sudah penuh dengan orang. Saat dirinya masuk suasana mendadak hening. Semua orang duduk dengan rapi dan tenang.


Hayam lalu duduk di kursi kebesarannya dan memandang berkeliling mengamati keadaan. Lalu dia sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya tapi bisa menguasai dirinya hingga tidak ada yang tahu.


"Rapat bisa dimulai. Silakan." Suara Candra memecah keheningan dalam ruangan.


**********


Gayatri hampir tidak bisa fokus dalam meeting kali ini. Dikarenakan dirinya terlalu syok dengan kenyataan yang ada.


Sepertinya Tuhan terlalu menyayanginya hingga membuat lelucon dihidupnya seperti ini.


Orang yang selama seminggu ini berusaha dilupakannya malah di sodorkan oleh Tuhan plus bonus juga.


Bonusnya adalah kenyataan bahwa Hayam adalah Direktur Utama di perusahaan tempatnya bekerja. sungguh kejutan yang wow sekali.


Gayatri berusaha memfokuskan dirinya dalam meeting kali ini. Ia harus bisa profesional dalam bekerja.


"Dia sangat berbeda daripada yang kemarin. Dia terlihat lebih tampan dan berkharisma jika memakai pakaian itu. Apalagi wajah seriusnya, aduuuhhh mama dia ganteng banget." Gayatri hanya mengucapkan pelan agar ia tidak heboh sendiri.


Ia lebih menyukai Hayam yang seperti ini. Menurutnya ini sangat perfect. Apa yang sedang aku pikirkan? bisa-bisanya aku terpesona dan memujinya tampan. bodoh bodoh bodoh.


Gayatri komat-kamit sendiri sambil memukul kepalanya pelan dan itu tidak luput dari perhatian sepasang mata tajam seseorang.


Meeting berjalan sangat alot dan panas membuat Gayatri fokus kembali dengan pekerjaannya. Ia mencatat jika itu penting dan merangkum poin-poun penting yang menjadi masalah.


"Meeting akan kita lanjutkan setelah makan siang." Putus Hayam sementara karena ia akan mengolah semua yang dipersoalkan dalam meeting.


Hayam menghela nafas panjang mengingat meeting tadi.


"Anda tenang saja Tuan, saya akan melakukan yang terbaik." Candra menenangkan Bosnya. Ia akan melakukan apapun untuk membuat bosnya tenang.


Hayam hanya mengangguk menyetujui karena akan percuma jika ia mendebat Candra.


"Anda ingin makan siang apa Tuan." tanya Candra karena ia yakin Hayam akan tetap disini sampai meeting selesai.


"Nanti saja sekarang pesanan kan saja kopi untukku. Aku butuh gula sekarang." jawab Hayam.


Candra hanya mengangguk patuh dan melangkah pergi. Tapi belum sampai pintu Hayam memberi instruksi lagi.


"Panggilkan aku karyawati yang bernama Gayatri setelah makan siang nanti sebelum meeting dimulai." Hayam memberi perintah pada Candra meski bingung dia tetap menjalankannya.


Apapun untuk bosnya karena itu prioritasnya dalam bekerja di perusahaan ini.


***********


Gayatri sedang duduk santai menikmati kopi sendirian di ruang istirahat. Ia lebih suka suasana tenang seperti ini karena bisa memikirkan beberapa hal dengan tenang.


"Ini hari apa aku akan mengingat dan mencatantany. Jika aku melewati hati ini lagi aku akan mandi kembang tujuh rupa untuk membentengi diri." Gayatri sibuk bermonolog sendiri.


"Apa dia orang yang sama dengan yang kutemui seminggu lalu? kenapa berbeda sekali?!" dia masih melanjutkan keasikan nya bermonolog ria.


"Apanya yang sama?" tanya seseorang yang tiba-tiba ada dibelakangnya.


Gayatri menoleh dan mendapati Rena anak divisi penjualan sudah ada dibelakangnya.


"Eh ada mbak Rena, nggak ada apa-apa kok mbak. Mbak Rena udah makan siang?" tanya Gayatri sambil menyesap kopinya.


"Udah tadi barengan anak-anak keuangan. Kamu nggak makan?" jawabnya lalu duduk di samping Gayatri.


"Nggak mbak lagi gak selera makan aku tuh." Gayatri meletakkan kepalanya dimeja.


"Masih kepikiran meeting tadi?" tanya Rena dan Gayatri hanya mengangguk menanggapi.


"Kamu tenang aja, masalah ini akan beres karena pak Dirut gak akan tinggal diam. Beliau akan menemukan solusinya dan menarik dalang dari ini semua." kata Rena yakin.


"Mbak kok yakin gitu sih." Gayatri masih belum yakin dengan perkataan Rena.


"Hei mbak bergabung disini gak setahun dua tahun. Dari perusahaan ini masih dirintis mbak udah ada disini. Mejadi saksi bagaimana perusahaan ini jatuh bangun. Kamunya aja mungkin masih ngupil." Rena terkekeh dengan perumpamaan nya.


"Nggak ngupil juga kali mbak. aku udah sekolah tau." Gayatri protes tidak terima.


"Ya ya ya intinya kamu itu harus percaya dengan pak Dirut. Beliau pasti bisa mengatasi ini apalagi didampingi asisten pribadinya itu. Kombinasi yang sip! " Rena muji sang Direktur Utama sambil mengacungkan dua jari jempolnya.


"Tapi dia kan. . . . " Gayatri tidak meneruskan ucapannya karena merasa tidak enak.


"Artis maksud kamu." potong Rena cepat dan diangguki oleh Gayatri. Rena tersenyum menanggapi karena tidak hanya Gayatri saja tapi banyak yang meragukan kemampuan Hayam.


"Sini mbak kasih tau sama kamu. Pak Dirut memang artis karena dulu itu mang profesinya. Tapi beliau juga punya mimpi yaitu bisa membangun perusahaannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Bahkan pak Dirut sudah menyelesaikan S3 dua tahun lalu. He is very genius man isn't He." jelas Rena panjang tapi belum kali lebar.


"Wooow daebak!!!!" Gayatri otomatis mengacungkan jari jempolnya.


"Beliau menjadi artis karena alasan pribadi tapi dengan itu pak Hayam mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit untuk membangun perusahaannya sendiri. Jadi bisa dibilang menjadi artis itu bukan yang utama tapi bisa membuatnya jadi yang utama. Minum dulu haus." Rena mengambil minum sebelum melanjutkan ceritanya.


"Jadi antara Pak Hayam sebagai artis dan Pak Hayam sebagai Direktur Utama perusahaan itu akan sangat jauh berbeda. Mulai dari penampilan dan wibawanya. Meskipun begitu beliau tetap humble kok. Jadi kamu tenang aja dan percaya sama Pak Dirut ya. Udah ah aku mau cari cemilan dulu laper lagi habis cerita sama kamu." Setelah mengatakan itu Rena langsung ngacir ke luar.


Gayatri merenung lagi memikirkan cerita Rena. Tapi memang benar sih Hayam terlihat sangat amat berbeda dari yang ia kenal dulu. Sekarang ini dia benar-benar seperti seorang pemimpin perusahan yang kompeten dan berpengalaman.


Terdengar suara ketukan di pintu membuat Gayatri menoleh dan menemukan sang asisten direktur utama di sana.


Dengan cepat Gayatri berdiri dengan tegap lalu menanyakan keperluannya kemari.


"Tuan Hayam mencari Anda sekarang." Singkat padat dan jelas. Candra tidak menanyakan apakah Gayatri sudah makan siang atau belum tapi ia berfikir jam makan siang sudah lewat tiga puluh menit dan itu berarti gadis ini sudah makan.


"Baik Pak." Gayatri menjawab dengan tegas singkat dan padat. Ia tidak menanyakan ada keperluan apa Hayam mencarinya. Karena melihat tatapan dari asisten Dirut saja sudah membuatnya hilang kata-kata.


Boro-boro mau bertanya Gayatri bahkan lupa untuk memberi senyum formalitas, dia hanya langsung patuh dan menuruti apapun yang dikatakan sang asisten.


Tanpa banyak bicara lagi Candra membalikkan badannya dan berjalan keluar menuju ruangan rapat tadi.


Gayatri dengan patuh mengikuti dibelakang, seolah sudah diprogram demikian.


woaahh daebak!!! hebat sekali pengaruh asisten ini di perusahaan. aku saja langsung mengikuti perintahnya tanpa protes gumam Gayatri dalam hati saja.


Setelah beberapa saat mereka sampai di ruangan tadi lalu Candra berhenti sejenak dan menoleh pada Gayatri.


"Tunggu disini." perintahnya dan kepala Gayatri secara refleks mengangguk.


Candra kemudian masuk ke dalam ruangan dan saat itu juga Gayatri mengambil nafas dalam-dalam dia bahkan menahan nafas dari tadi karena tegang.


"Kenapa aku mendadak jadi bodoh begini. Haishhh." Gayatri merutuki kebodohannya.


Tak lama pintu kembali terbuka dan Candra keluar dari ruangan itu dengan senyum misterius nya. Hal itu membuat bulu kuduk Gayatri meremang. Ada apa ini? ia ingin bertanya tapi mulutnya terkunci.


"Masuklah." perintah Candra seperti biasa.


Gayatri menelan ludah dengan susah payah dan menarik nafas dalam melalui hidup dan menghembuskan lewat mulut.


Ayo kamu pasti bisa Gayatri. Fighting!!!! ia menyemangati dirinya sendiri.


Dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk kedalam. Pasrah sudah dengan apa yang ada di dalam menantinya. mengingat senyum mengerikan sang asisten Gayatri berfikir itu pasti mengerikan.


Begitu memasuki ruangan itu Gayatri langsung speechless mendengar suara perempuan yang memanggilnya menantu.


"Naaahhh kalau ini beneran baru calon mantu ibu." Kata seorang wanita paruh baya terdengar sangat antusias.


Menantu dari hongkong!!!!! Mamaaaaaaa apalagi ini!!!!!!


************