Finally, I Love You

Finally, I Love You
# 17 -



"Sudah lebih dari dua minggu aku pulang ke negara ini, tapi dia sama sekali tidak menghubungiku." kata Rachel sembari memainkan ponselnya.


"Bukankah harusnya kau yang menghubunginya." jawab wanita berambut pendek ya duduk dihadapannya.


"Shut up Din! " bentaknya pada manajernya.


"Hei, aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Siapa yang dulu meninggalkannya tanpa kabar?!" jawab wanita berambut pendek yang bernama Dina.


"Itu juga karena kau yang menerima tawaran menjadi model di negara lain." jawab Rachel menyalahkan Dina.


"Itu juga demi karier mu sebagai model Sayang, dan juga dulu kau bilang ingin bisa berjalan dengan kepala tegak disisi kekasihmu dulu. So aku membantu mu dengan mencarikan mu pekerjaan yang bagus." balas Dina tak mau disalahkan begitu saja.


Dulu Rachel lah yang memohon-mohon padanya untuk dicarikan pekerjaan yang bagus dan bisa mendongkrak karier modelnya.


Bahkan dulu dia tidak mau ambil pusing memikirkan kekasihnya yang ditinggalkan tanpa kabar darinya.


"Oke oke aku yang salah disini dan kau selalu benar. Aku hanya ingin tau saja bagaimana kabarnya." Rachel mengalah saja karena ia yakin tidak akan mampu melawan Dina.


"Jika kau ingin tau kabarnya kenapa tidak kau hubungi saja dirinya? jika nomor ponselnya masih sama seperri yang dulu mungkin dia masih menunggumu." Dina berkata sambil mengangkat bahunya acuh lalu meminum kopi lattenya.


Rachel hanya diam menanggapi perkataan Dina apakah memang benar Hayam masih menunggunya. Dia duduk sambil mengaduk kopinya tanpa selera. Rencananya ia ingin menghabiskan waktu siang ini dengan duduk santai di kafe setelah acara pemotretan pagi tadi. Tapi sekarang dia jadi kepikiran tentang kekasih masa lalunya itu.


"Mungkinkah dia masih menungguku? bagaimana jika dia sudah melupakanku?" kata Rachel lesu.


"Tidak ada salahnya dicoba kan? jika dia melupakanmu tinggal kau ingatkan saja dia tentang kisah manis kalian dulu." Dina memberi saran.


"Bagaimana jika dia sudah memiliki kekasih?" tanya Rachel lagi.


"Kau tidak akan tahu sebelum mencobanya kan?! " Dina mengedipkan matanya sebelah dan meminum kembali lattenya.


hmmm ya tidak ada salahnya dicoba bukan?! Lebih baik mencoba dan tau hasilnya dari pada penasaran sampai akhir. Dengan ragu-ragu ia mencoba menghubungi nomor Hayam dan Ternyata terhubung. Tapi tidak diangkat sampai nada sambungnya habis, mungkin dia sibuk pikir Rachel.


"Tidak diangkat! " Rachel memandangi ponselnya yang melakukan panggilan ulang secara otomatis.


"Mungkin dia sibuk" jawab Dina acuh.


"Ya, dia menjadi orang sukses sekarang. Bahkan dia mempunyai perusahaan sendiri seperti impiannya dulu."jawab Rachel dengan pandangan menerawang jauh ke masa lalu.


Ia mengingat masa-masa saat dulu masih bersama dengan Hayam, bagaimana dulu laki-laki itu sangat memanjakannya. Ia menjadi prioritas Hayam saat itu apa pun pasti akan Hayam lakukan selama ia masih mampu.


Mereka mengawali karier sebagai model cadangan di beberapa event, dengan hasilnya yang cukup menjanjikan. Postur tubuh yang proposional dan wajah tampannya membuat Hayam mulai dilirik beberapa investor dan banyak desainer menjadikannya model mereka. Tak butuh waktu lama ia menjadi model kelas atas dan mulai merambah dunia akting.


Hayam memilih berkarier di dunia akting karena ia ingin mengenal dan mencoba hal baru, tapi ia lebih memilih menekuni karier model nya. Disini lah ia mulai mengenal kehidupan high class dari seorang model. Dia menginginkan lebih dari seorang model biasa dan itu membuatnya tega meninggalkan Hayam tanpa sepatah kata pun.


***************


Upacara pernikahan sudah dilaksanakan pagi tadi dan dilanjutkan pesta dengan tema intimate wedding yang hanya mengundang tidak lebih dari dua ratus orang.


Hanya keluarga inti dan teman dekat saja yang hadir, ini sesuai permintaan Gayatri yang tidak ingin terlalu diekspose. Mengingat pekerjaan yang dijalani Hayam sebagai publik figur pasti akan banyak yang ingin datang mengekspose pernikahan Hayam.


Hayam menyetujui permintaan Gayatri dan menunda pengenalan Gayatri ke publik. Dia akan mengadakan pesta pernikahan khusus untuk kalangan selebritas jika Gayatri sudah siap pikirnya.


"Aku sangat merindukanmu Aya. I am damn in love with you." kata Hayam saat mereka sudah bisa duduk berdampingan setelah acara yang melelahkan tadi.


"Bukan kah kemarin ada yang tidak mau menerima panggilan dariku." goda Gayatri pada Hayam.


"Rey yang tidak memberikan ponselnya padamu." jawab Hayam ketus.


"Lalu dimana ponselmu?! Aku tidak bisa menghubungi nomormu dan itu membuat ku hampir gila!" tanya Hayam serius, jangan bilang kalau ia juga dikerjai disini.


"Ibu yang meminta ponselku. Katanya ia juga meminta ponselmu karena itu rencana dari WOnya agar tidak menganggu pengantin yang akan menikah." lagi-lagi jawaban Gayatri membuatnya syok. Apa yang harus kulakukan padamu Ibu!!!!!


Hayam menghela nafas sedikit keras ia merasa sudah dikhianati oleh dirinya sendiri, betapa bodohnya dia sampai bisa dipermainkan oleh dua orang itu.


Gayatri tersenyum melihat wajah lesu Hayam, ia menangkup ke dua pipi Hayam agar melihat kearahnya sambil berkata, "Yang terpenting sekarang aku sudah menjadi istrimu, aku sepenuhnya milikmu Hayam.". suara Gayatri seakan menghipnotisnya, ia merasa dunia disekitarnya berhenti berputar dan hanya terfokus pada gadis itu.


" Kau sangat cantik Sayang". pujian itu keluar begitu saja dari bibir Hayam. Jika dia tidak ingat tempat pasti ia sudah menyerang Gayatri dari tadi.


Sejak awal kehadiran gadis itu masuki tempat pernikahan untuk menandatangani buku nikah ia sudah terfokus pada Gayatri. Kecantikan memancar dari tubuh gadis itu, rasa rindunya selama satu minggu tidak bertemu dengan gadis itu terobati sudah.


Menggunakan gaun kombinasi kebaya moderen berwarna putih semakin menambah aura yang dipancarkan gadis itu.


"Aku ingin segera memiliki mu Sayang." bisik Hayam pelan di telinga Gayatri, hal itu membuat gadis itu meremang. Perkataan ambigu Hayam membuat alarm di kepalanya langsung berbunyi membuat pipinya memanas dan memerah.


"Bisakah kita membahas ini nanti." kata Gayatri pelan mencoba menahan degup jantungnya.


"Tidak. Kerena aku sudah menunggu ini terlalu lama." jawaban Hayam malah membuat wajah gadis itu memucat.


"Bisakah 'itu' kita lakukan jika aku sudah siap?!" tawar Gayatri dengan wajah memelas. Hal itu membuat Hayam gemas dan ingin menciumnya.


" Itu apa?! " Hayam malah semakin menggoda gadis itu. Ternyata menggoda seorang gadis yang sudah menjadi miliknya akan menjadi seseru ini.


Gayatri diam bingung harus menjawab bagaimana karena ia masih merasa malu untuk menyebutkannya. Hayam menahan tawanya saat melihat ekspresi gadis itu, tapi lama kelamaan dia tidak tega juga.


"Aku hanya ingin makan Aya, sudah lama aku menahannya dan sekarang aku sangat kelaparan." kata Hayam polos tanpa dosa. Gayatri yang sudah menyusun kata untuk menjawab pertanyaan Hayam tadi langsung buyar seketika.


"Apa?! kau. . kau mau makan?! akan ku ambilkan." Gayatri bangkit hendak menuju tempat beraneka hidangan berada.


"Kau tunggu disini saja aku akan menyuruh orang untuk mengaturnya." cegah Hayam lalu memanggil salah satu crew WO.


Crew WO itu langsung mendekat lalu menerima beberapa arahan dari Hayam kemudian pergi meninggalkan mereka, tak lama ia kembali dan mengatakan sesuatu pada Hayam.


"Ayo pergi semua sudah disiapkan." kata Hayam beranjak dari kursi dan membantu Gayatri bangun.


"Kemana?! " tanya Gayatri bingung.


"Makan. Apa kau ingin yang lain?! Aku lebih suka memakan mu dari pada makan makanan itu." kata Hayam ambigu lagi.


"Baiklah ayo kita makan! aku lapar." Gayatri bergegas mendahului Hayam.


Hayam hanya menahan senyum melihat tingkah Gayatri tapi dengan cepat tangannya meraih pinggang gadis itu.


"Kau harus pergi bersama suamimu, apa kata orang nanti jika melihatmu meninggalkanku disini sendiri!" Hayam tersenyum tipis.


Mendengar kata 'suamimu' membuat pipi Gayatri merona, sekarang setatusnya di KTP sudah berubah. Dari yang semula belum kawin menjadi kawin, jadi dia bisa pamer pada para jomblo-jomblo diluar sana supaya cepat mencari pasangan. Semoga disegerakan dan disemogakan ya.


******************


Akhirnya saya bisa menulis sampai bab ini dan itu butuh perjuangan yang sangat besar untuk bisa menulis. Dan itu tidak mudah man teman 😭😭😭. saya memberi apresiasi dengan banyak jempol buat para author yang sudah menerbitkan banyak karya 👏👏👏👏👏👏 kalian memang hebat!!!!!


tetap semangat berkarya dan berjuang semuanya!!!!!