Finally, I Love You

Finally, I Love You
Kecelakaan kecil



Setelah meeting lagi mereka akhirnya memutuskan untuk meninjau lokasi tempat proyek bermasalah itu berada.


Hayam menawari Gayatri untuk berangkat bersama menggunakan mobilnya namun langsung ditolak oleh gadis kecil itu.


Satu jam kemudian mereka tiba di lokasi. Debu dan udara panas langsung menyambut mereka begitu keluar dari mobil.


Masing-masing dari mereka diberikan helm keselamatan sebelum masuk area proyek.


Setelah semua siap rombongan itu berjalan menuju gedung yang sedang dibangun.


Hayam memperhatikan saat Candra menerangkan secara detail kendala proyek tersebut.


"Mereka melaporkan bahwa bahan yang datang tidak sesuai dengan yang tertulis di proposal rancangan Tuan." Candra melaporkan sebab ambruknya gedung yang sedang dibangun.


Dan itu memberi efek domino pada gedung sebelahnya yang akan dirobohkan.


"Lakukan kordinasi dengan divisi desain dan perencanaan serta arsitek mereka. Dan agendakan rapat antara Manajer Produksi dengan Projek Manajer beserta staffnya." perintah Hayam.


"Baik Tuan."


Candra memerintahkan staff sekertaris yang ikut meninjau untuk mengagendakan rapat itu. Lalu memberi instruksi apa saja yang harus dicatat dan diprioritaskan dalam peninjauan kali ini.


"Kita bisa membahas ini diruangan agar lebih nyaman Tuan. Bersama projek Manajer dan kordinator proyek." Candra menyarankan agar lebih leluasa membahas masalah ini.


*******


Gayatri mendengar dengan seksama dan mencatat poin-poin penting dan akan merundingkan dengan tim arsiteknya dan divisi desain.


Ada yang tidak beres disini karena sebelum ia menyerahkan proposal itu ke pak Hendra ia sudah memeriksanya berulang-ulang. Setelah yakin semuanya beres baru ia berikan pada pak Hendra.


"Bisakah anda ikut dengan kami meninjau proyek yang bermasalah itu Bu." tanya Andi takut-takut.


Dia merupakan salah satu kepala bagian struktur di proyek ini.


Jadi ia mengerti seluk beluk bahan bangunan yang dipakai.


Pasti ada yang salah dengan proyek ini pikir Gayatri dalam hati, lalu mengangguk menyetujui.


"Baiklah, tolong antar kami ke sana." jawab Gayatri.


"Tapi itu berbahaya Bu, kita belum mengetahui keadaan bangunan disana. " ucap Rika keberatan. Rika merupakan salah satu staf divisi yang dibawanya.


"Tenanglah. Aku sudah mencatat beberapa poin penting disini. Tinggal kordinasikan dengan tim arsitek kita dan divisi perencanaan. setelah itu kita bisa memberikan ini pada pak Hendra." Gayatri mencoba menenangkan stafnya.


"Tapi. . . " Rika hendak mengutarakan pendapatnya.


"Aku akan pergi dengan pak Andi dan timnya. Lagipula aku sudah mengenakan perlengkapan keselamatan." Kata Gayatri lagi.


Lalu membisikkan pelan ditelinga Rika, "Sepertinya ada sesuatu yang aneh disini dan mereka seperti sedang diawasi. Kurasa mereka takut jika berbicara disini."


Gayatri lalu menyuruh Rika segera pergi dari sana dengan isyarat dagunya.


Setelah Rika pergi Gayatri segera mengajak Andi pergi dari sana menuju lokasi yang bermasalah itu.


"Ini adalah proyek yang ambruk itu Bu. Saya memeriksa banyak kejanggalan disini. Contohnya pasir ini di draft kami pasir yang tertulis adalah pasir besi tapi yang datang ini pasir biasa." Andi menunjukkan contoh pasirnya.


Gayatri menginstruksikan untuk mengambil foto dan contoh pasirnya.


"Lalu semen ini yang datang juga tidak sama dengan draft yang kami terima."


Tanpa disuruh dia kali stafnya tadi mengambil contoh bahan dan foto.


Andi terlihat ragu-ragu hendak mengutarakan sesuatu.


"Katakan saja ada apa jangan takut jika kamu mempunyai bukti kuat." Gayatri berkata pada Andi dengan lembut karena ia yakin masih ada yang disembunyikan.


"Ada satu lagi yang ingin saya tanyakan tapi lokasi ini sedikit berbahaya Bu." kata Andi takut-takut.


"Tidak apa-apa kita akan berhati-hati. Dan juga kita sudah mengenakan perlengkapan keselamatan jadi tenang saja." Gayatri menenangkan Andi tapi masih terlihat ragu. "Aku yang akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu. Jadi jangan takut." Lanjutnya.


"Tapi . . . . " Andi masih ragu karena mereka dilarang mendekat ke lokasi oleh kepala lapangan.


"Apa perlu kubuat surat pernyataan bermaterai agar kalian yakin." Kata Gayatri sebal.


"Tidak Bu." jawab mereka serempak.


"Kalau begitu ayo cepat tunjukkan." kata Gayatri tegas.


Seperti robot mereka berjalan dengan patuh dan bersamaan.


Mereka melangkah dengan hati-hati karena masih ada sisa puing bangunan.


Andi menunjukkan sisa besi yang masih tertimbun.


"Ini adalah sisa besi yang masih ada. padahal di draft tertulis ukuran besi 24 tapi ini besi ukuran 22." Andi menjelaskan.


Gayatri mengangguk mengerti dan mulai bisa menarik benang merah dari kekusutan masalah ini. Ada yang ingin menyabotase dan bermain curang disini.


Setelah dirasa cukup dan mengumpulkan beberapa bukti mereka berencana kembali tapi tak disangka ada suara gemuruh lalu tiba-tiba udara disekitar menjadi pengap dan buram karena banyak debu beterbangan.


Dan suara keras seperti sesuatu yang runtuh terdengar di lokasi proyek.


*********


Hayam langsung berdiri dan berlari keluar yang ada dipikiran nya hanya Gayatri. Karena baru beberapa saat lalu salah satu stafnya memberikan catatan tentang kejanggalan proyeknya.


Hanya dalam beberapa menit saja ia sudah tiba di lokasi kejadian dan itu terlihat sangat buruk.


Ketika Hayam hendak mendekat ia sudah dicegah oleh beberapa petugas.


"Jangan mendekat Tuan. Terlalu berbahaya!" Kata petugas menahan Hayam yang ingin mendekat.


Hayam tidak bisa berpikir apa-apa lagi hanya keselamatan Gayatri yang ia khawatir kan.


"Tenang Tuan. Anda harus tenang supaya kita bisa mengambil langkah selanjutnya." Candra mencoba memberi pengertian padanya.


"Aku harus memeriksanya sendiri. Aya ada didalam sana Can bagaimana keadaannya. " Hayam masih kekeh dengan pendiriannya.


"Kita harus menunggu setidaknya sampai kepulan debu ini menghilang." Candra masih membujuk Hayam dan memeganginya, takut jika sewaktu-waktu Hayam menerobos masuk kedalam.


tiga puluh menit kemudian kepulan debu sudah mulai hilang dan tim damkar sudah tiba di lokasi, langsung bersiap menyelamatkan korban.


Mereka melakukan dengan cepat dan hati-hati karena bangunan masih rawan runtuh.


Satu persatu para korban dievakuasi dan langsung mengirim korban yang terluka parah ke rumah sakit terdekat.


Hayam kemudian melihat Gayatri, gadis kecilnya berjalan dipapah keluar dari reruntuhan. Ia langsung berlari dan menyambar tubuh kecil itu kedalam pelukannya.


Ia sudah tidak perduli dengan orang sekitar. Yang ia pikirkan hanya Gayatri, ia tidak memikirkan dampak dari tindakannya.


Banyak wartawan dan reporter yang ada di lokasi kejadian karena berita ini menyangkut artis papan atas negeri ini.


Mereka tiba sangat cepat setelah mendapat kabar kecelakaan dari pimpinan mereka masing-masing.


Hayam hanya memeluk Gayatri dalam diam, melepaskan semua rasa gundah dan gelisah yang ia tahan sejak tadi.


"Bisakah kau lepas pelukanmu, aku baik-baik saja." suara Gayatri tidak begitu jelas karena teredam di dada bidangnya.


Hayam menggeleng pelan lalu berkata pelan, "Aku sungguh khawatir padamu. Jangan bilang kau baik-baik saja. Lihat berapa buruknya kejadian ini.".


Hayam lalu melepas pelukannya tapi tidak memberi jarak pada gadis kecilnya.


Lalu ia menangkup kedua pipi Gayatri dengan kedua tangannya. Mengamati dengan seksama wajah gadis itu yang sekarang terlihat kotor dan kusam terkena debu dan pasir tadi.


Dengan pelan dan hati-hati dihapusnya debu dan pasir yang melekat diwajah Gayatri. Ia takut jika terlalu kasar mengusap maka itu akan membuat sakit gadis itu.


Perlakuan manis ini tak luput dari jepretan kamera wartawan. Ini bisa menjadi berita terpanas selama lebih dari seminggu.


"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku akan menyalahkan diriku jika itu benar-benar terjadi padamu. Aku bisa gila Aya." kata Hayam pelan dengan sorot mata yang susah diartikan oleh Gayatri.


"Tapi aku baik-baik saja Hayam." Gayatri protes dan tanpa sadar malah memanggil Hayam hanya dengan namanya tanpa embel-embel apapun.


"Tapi kau keluar dengan dipapah petugas, dan aku melihat itu." Kata Hayam keras kepala.


"Aku tidak terluka parah, malah Andi yang terluka sangat parah karena melindungiku." jelas Gayatri.


"Siapa Andi?! ahh lupakan sekarang kita harus mengecek kondisimu. kau tadi bahkan dipapah petugas jadi pasti kakimu bermasalah." Hayam hilang fokus sesaat ketika Gayatri menyebut nama Andi.


Terjadi perdebatan kecil setiap mereka berbicara berdua. Dan itu bisa menjadi bumbu untuk bahan gosip artis pujaan mereka


Gayatri hendak memprotes lagi tapi seorang petugas medis sudah mendekatinya dan menyuruhnya melakukan pemeriksaan ringan saja.


"Anda hanya akan diperiksa ringan saja Bu, jika ada cedera dalam atau serius baru akan kami rujuk ke rumah sakit."


"Baiklah." Jawab Gayatri pasrah.


Kemudian Hayam memapahnya dengan cara meletakkan tangan Gayatri dibahunya, lalu ia merangkul pundaknya agar bisa menopang tubuh gadis itu.


Gadis itu sedikit meringis saat Hayam memegang lengannya.


Hayam menghentikan langkahnya dan menatap Gayatri yang sedikit kesakitan.


Ia merasakan tangannya basah lalu mengangkatnya untuk melihat, ternyata tangannya berlumuran darah.


Hayam terkejut lalu berteriak, " Kau berdarah! ".


"Apa?!" tanya Gayatri pelan entah kenapa dia mulai lemas setelah berbicara dengan Hayam tadi.


"Kau berdarah, lihat ini!" Hayam menunjukkan tangannya yang berdarah pada Gayatri dengan wajah panik.


Gayatri yang melihat begitu banyak darah ditangan laki-laki yang sedang memeluknya otomatis terkejut. Dan pandangannya langsung gelap.


Yang ia tau adalah saat Hayam menariknya ke pelukan laki-laki itu dan meneriakkan namanya yang terdengar samar di telinganya.


Hayam yang melihat gadis itu terkulai lemas langsung menahan badannya agar tidak jatuh kebawah, serta memanggil nama gadis itu berulang-ulang.


Dengan gerakan cepat namun sangat lambat bagi Hayam, ia segera mengangkat tubuhnya dan berlari menuju ambulan.


Ia berharap gadis itu baik-baik saja.


**********