Fall in Love with You

Fall in Love with You
De Javu



Mina duduk di ruang tamu sambil menatap Nadya yang duduk di depannya. Aryo berjalan mondar-mandir, tampak gelisah. Beberapa kali Alexa menenangkannya tapi Aryo tak berhenti gelisah.


"Kamu bilang ibu kamu kabur dari rumah sakit jiwa? " tanya Aryo.


Mina mengangguk sambil menundukan wajahnya. Ada rasa tidak enak hati ketika ia memutuskan untuk menemui Nadya dan Aryo.


"Kak, apa Tante Sora masih inget aku, ya? " tanya Nadya dengan nada ketakutan.


"Sayangnya, iya, dia pikir kamu yang buat dia kehilangan anaknya. Semenjak kejadian itu, tak henti-hentinya dia sebut-sebut nama kamu. Pengobatan rumah sakit tak mengubah apapun padanya. Maka dari itu, aku datang ke sini cari kamu. " ujar Mina.


"Oh, tidak. Mati aku. " rengek Nadya.


"Kamu ini ngomong apa? Ada Kakak. Sekarang, Kakak bisa lindungi kamu. " ujar Aryo lalu memeluk Nadya.


Alexa bingung dengan pembicaraan Nadya dan Aryo dengan gadis bernama Mina.


"Sebenarnya ada masalah apa, sih? " tanya Alexa.


"Nanti aku jelasin. " jelas Aryo pada Alexa.


Mina dan Alexa pamit pulang. Alexa meminta pada Aryo untuk menghubunginya dan menjelaskan permasalahan yang Nadya alami. Selepas mereka pergi, Aryo menemani Nadya yang duduk seorang diri di ruang tamu sambil melamun.


"Nad, kamu enggak apa-apa? " tanya Aryo.


"Iya, Kak. Dulu aku berani banget, sejak kapan aku jadi penakut kayak sekarang. Aku takut, Kak. " rengek Nadya.


"Kenapa kamu harus takut? Kalau dipikir-pikir lagi, enggak mungkin Tante Sora tahu kamu. Secara udah 18 tahun berlalu, dia pasti enggak kenal dengan wajah kamu yang udah makin tua. " ejek Aryo menghibur.


"Ah, apaan sih, Kak. Tapi omongan Kakak ada benernya juga. Kalau gitu aku istirahat dulu, Kak. Besok aku harus kerja. " ujar Nadya kembali ceria.


Nadya berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia sebenarnya takut dan khawatir tapi Nadya tak ingin kakaknya ikut khawatir seperti saat ini. Sama halnya dengan Aryo, ia tidak ingin Nadya takut. Aryo berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Bagaimana pun juga, ia tidak ingin kejadian dulu terulang kembali.


***


Nadya termenung di belakang meja kasir, memikirkan bagaimana nasibnya jika ia bertemu dengan Tante Sora. Kejadian di masa lalu membuatnya kembali berpikir bagaimana bisa dia berani menghadapi Tante Sora dulu. Ia berharap keberaniannya yang dulu muncul dkembali.


Brakk...


Nadya hampir terlonjak ketika Didit menggebrak meja kasir. Didit tertawa terbahak-bahak melihat Nadya yang sangat terkejut.


"Ih, apaan sih? Ngagetin aja tau gak?" ujar Nadya kesal.


"Lagian, waktunya kerja malah ngelamun. Ngelamunin apaan sih? " tanya Didit.


"Ada deh, Kepo! " ujar Nadya sambil cemberut.


"Yaelah, punya karyawan galak amat, sih. Harusnya kan aku yang marah-marah. " gumam Didit sambil berlalu.


Pelanggan toko tak begitu banyak. Cuaca hari ini cukup mendung dan angin dingin masuk ke dalam ketika pintu terbuka. Nadya mulai merasa bosan dan mengantuk. Dilihatnya pukul masih menunjukkan 09.00, waktu istirahat masih lama tapi Nadya memutuskan untuk membeli kopi di minimarket sebelah. Setelah membeli kopi, Nadya meminta Didit untuk menggantikannya sebentar di meja kasir. Nadya duduk di depan toko sambil meminum kopi kaleng yang ia beli tadi. Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Nadya membuka ponselnya dan mendapati tiga pesan dari Aryo.


Kamu baik?


Kenapa susah dihubungi? Bales.


Kabarin kakak.


Nadya tahu Aryo sangat mengkhawatirkannya jadi ia langsung membalas pesan Aryo.


"Kenapa diluar? Bukannya belum istirahat, ya? " ujar Kai yang berjalan menghampirinya.


"Lah, kok kamu ada di sini? Ngapain? " tanya Nadya.


"Mau ketemu kamu. " Kai duduk di samping Nadya.


"Oh.. " ujar Nadya singkat sambil membalas pesan Aryo.


"Hmm... Sibuk banget sama ponselnya. " protes Kai.


"Sorry, ini dari Kak Aryo. Harus cepet bales. " ujar Nadya.


"Oh, kirain. Aku beli minum dulu. Kamu mau? " tanya Kai.


Nadya mengangguk,matanya masih menatap layar ponselnya. Nadya menoleh ke arah pintu mini market yang berada di samping toko buku. Tampaknya Kai harus mengantre sehingga ia belum keluar juga. Nadya merasa cukup lega Kai menghampirinya di saat-saat seperti ini. Tanpa sengaja mata Nadya menangkap sosok wanita tua dengan menggunakan pakaian tidur berwarna biru dari kejauhan. Nadya memicingkan matanya, berusaha melihat wajah wanita tua itu lebih jelas. Wanita tua itu berjalan ke arahnya. Nadya tak tahu pasti ke mana arah wanita tua itu berjalan tapi perasaannya saat ini sangat gugup. Wanita tua itu semakin mendekat, semakin mendekat. Nadya bangkit dari kursinya ketika ia menyadari wanita tua yang menghampirinya adalah orang yang ia kenal.


"Tante Sora." ujar Nadya pelan.


Tante Sora berjalan ke arah Nadya lalu berhenti tak jauh dari tempat Nadya berdiri. Tante Sora hanya memandangi wajah Nadya yang hanya terdiam, seolah-olah meyakinkan dirinya bahwa Nadya adalah yang ia cari. Nadya sudah siap mengambil langkah kaki seribu ketika tiba-tiba Kai mengejutkannya. Kai memberikannya sebuah minuman tapi Nadya hanya terdiam menatap Kai lalu mengalihkan pandangannya lagi ke Tante Sora. Nadya terus-menerus mengawasi Tante Sora apabila melakukan gerakan tiba-tiba tetapi Tante Sora tak bergeming sama sekali. Kai menyadari bahwa Nadya tampak waspada.  Kai pun menoleh ke arah sesuatu yang dipandangi Nadya. Kai sangat terkejut melihat sosok Tante Sora yang tampak berantakan dengan tatapan tajam pada Nadya. Nadya menarik tangan Kai perlahan agar mendekat ke arahnya.


"Kai, pelan-pelan kita masuk ke toko. Ayo!" bisik Nadya


Kai hanya terdiam. Beberapa kali Nadya menarik-narik tangan Kai tapi Kai tak bergeming sama sekali. Pandangannya tertuju pada Tante Sora. Nadya memanggil-manggil nama Kai tapi Kai tetap terdiam. Tangan Kai terasa dingin. Nadya khawatir penyakit Kai justru kambuh pada situasi seperti ini. Nadya takut tak bisa melindungi Kai karena dia sendiri membutuhkan perlindungan. Akhirnya Nadya menarik tangan Kai dan berusaha membawanya masuk ke dalam toko. Kai tersadar ketika tubuhnya terseret beberapa senti setelah ditarik oleh Nadya.


"Ayo, masuk!" bisik Nadya.


"Kamu!Kamu!" teriak Tante Sora.


Tante Sora menoleh ke segala arah dan mencari sesuatu di tanah. Lalu diambilnya sebongkah batu berukuran kepalan tangan orang dewasa. Melihat Tante Sora mengambil batu, Nadya bergegas membuka pintu toko dan mendorong Kai ke dalam toko. Nadya hendak masuk ke dalam toko ketika ia melihat pantulan Tante Sora di kaca toko yang sedang menghampirinya. Nadya berhasil menghindar dan menjauh dari Tante Sora.


"Kamu! Kamu sudah membawa anakku. Mana anakku? Mana Rio?" teriak Tante Sora sambil terisak.


"Tante, aku enggak bawa Rio. Bukan aku yang bawa Rio." ujar Nadya.


Tante Sora jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu sambil meneriakkan nama Rio, anaknya. Nadya merogoh ke dalam kantung celananya dan menemukan ponselnya. Nadya memutuskan untuk menelepon Mina untuk memberitahukan keadaannya saat ini. Tante Sora masih terduduk sambil menangis. Nadya berusaha menjauh dari Tante Sora secara perlahan. Terdengar suara Mina menyahut panggilan teleponnya.


"Mina, dengar baik-baik. Aku ada di toko bukunya Didit, kamu inget kan? Ibu kamu sekarang ada di sini. Kamu cepet ke sini. Cepetan!" ujar Nadya.


Nadya mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Mina. Ia memasukan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Nadya melihat jaraknya tak terlalu jauh dari toko buku. Ia bisa berlari dengan cepat dan masuk ke dalam toko. Nadya yakin Tante Sora tak akan bisa mengejarnya karena kondisinya saat ini yanh sudah cukup menua. Nadya pun mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tante Sora mengusap air matanya dan menggenggam erat batu yang ia bawa. Nadya sadar kini Tante Sora mulai bersiap untuk menyerangnya lagi. Nadya melihat celah ketika Tante Sora berusaha untuk berdiri. Pada saat yang sama, Nadya pun lari dengan cepat ke arah toko. Nadya sangat yakin Tante Sora tak akan bisa mengejarnya. Tapi keyakinan Nadya hilang ketika ia menoleh ke belakang, Tante Sora saat ini berlari ke arahnya dengan cepat sambil mengangkat batu yang ia bawa. Nadya sudah berada di toko dan hampir berhasil menggapai pintu ketika Tante Sora sudah berdiri di belakang Nadya. Nadya berbalik dan menatap Tante Sora. Tante Sora menyeringai dan mengayunkan tanggannya yang membawa batu ke arah Nadya.


Oh, tidak. Mati aku. Batin Nadya.


Nadya memejamkan mata sambil melindungi kepala dengan kedua tangannya. Beberapa detik kemudian Nadya sadar tidak terjadi apa-apa padanya. Nadya merasa seseorang kini tengah memeluknya. Dengan perlahan, Nadya membuka kedua matanya dan melihat Kai tengah memeluknya. Nadya menatap Kai yang meringis kesakitan.


"Semua...baik-baik...saja, Nad." ujar Kai


Kai pun pingsan setelah berbicara pada Nadya. Nadya yang tidak tahu apa yang terjadi hanya menatap Kai yang tersungkur di tanah. Terdengar suara Didit yang panik sambil berteriak. Nadya mengalihkan pandangannya pada Tante Sora yang masih memegang batu di tangannya. Tante Sora kembali mengayunkan batu ke arah Nadya. Beruntungnya Aryo datang dan menahan serangan Tante Sora pada Nadya. Aryo menarik tangan Tante Sora ke belakang dan menahannya. Tante Sora berteriak histeris dan memaki-maki pada Nadya. Nadya menatap kembali Kai yang masih tak sadarkan diri. Air matanya mengalir ketika Kai tak kunjung bangun ketika Nadya memanggil-manggil namanya.


"Kai! Kai! Kak, gimana Kai? Kenapa dia enggak bangun juga?" ujar Nadya sambil terisak.


Aryo hanya diam. Nadya tak berani mengangkat tubuh Kai dan hanya menangis di atas tubuh Kai.


***


Nadya duduk termenung seorang diri, menunggu dokter dan perawat keluar dari ruang IGD. Terdengar langkah kaki menghampirinya. Nadya menoleh dan melihat Aryo duduk di sampingnya saat ini. Nadya masih menangis lalu menyandarkan kepalanya di pundak Aryo. Aryo tak bisa berkata apa-apa dan hanya mengusap kepala adiknya. Tak berselang lama, dokter dan para perawat keluar dari ruang IGD. Aryo dan Nadya pun menghampiri mereka dan mendapatkan kabar bahwa Kai baik-baik saja. Nadya tampak lega meskipun dirinya merasa bersalah. Ia merasa kejadian ini seharusnya tidak terjadi pada Kai. Para perawat pun membawa Kai untuk dipindahkan ke ruangan pasien. Nadya dan Aryo pun mengikutinya.


Nadya menatap Kai yang tengah tertidur pulas. Kai mengalami luka cukup parah dibagian kepala akibat perbuatan Tabte Sora. Aryo mengatakan padanya bahwa saat ini Tante Sora sudah kembali dirawat di rumah sakit jiwa. Nadya tak khawatir tentang Tante Sora. Saat ini yang paling penting baginya adalah Kai. Sudah beberapa jam berlalu sejak Kai ditangani oleh dokter namun tak kunjung sadar. Nadya bersandar di tepi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Kai, berharap Kai sadar bahwa dirinya selalu disisinya. Mata Nadya terasa berat setelah semua peristiwa yang terjadi. Nadya memejamkan matanya dan melepaskan lelahnya.


Entah berapa lama Nadya tertidur. Ketika terbangun, dirinya sudah berada di atas tempat tidur. Nadya menoleh ke segala arah, melihat di mana dirinya berada. Ruangan itu begitu bersih dan cukup besar. Ada sofa yang tak jauh dari tempat tidur yang ditempati Nadya. Nadya melihat beberapa peralatan medis di sisi kanan dan kiri tempat tidur. Nadya hendak turun dari tempat tidur ketika melihat Kai berjalan ke arahnya dengan menyeret troli infusan.


"Kai, kamu udah sadar?" tanya Nadya terkejut.


"Iya." ujar Kai yang kini duduk di tepi ranjang.


"Kita di mana? Di hotel?" tanya Nadya.


"Bukan. Kita masih di rumah sakit. Untungnya ibuku datang dan memindahkan aku ke ruangan ini." terang Kai.


"Ini rumah sakit? Wah, ruangan ini lebih besar dari kamar aku. Kalau digabungin sama kamar mandi di rumah juga masih enggak cukup." Nadya menoleh ke segala arah ruangan.


"Ini ruangan VIP. Bagaimana bisa aku ditempatkan di ruangan biasa? " ujar Kai sombong.


"Aku enggak punya uang buat bayar VIP. Ngomong-ngomong gimana keadaan kamu? Parah?" tanya Nadya khawatir.


"Lumayan." ujar Kai singkat.


Nadya merasa canggung berada di tempat tidur dengan Kai di sisinya. Nadya pun turun dan duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang. Kai tersenyum lalu ikut duduk di sofa. Wajah Kai berubah serius ketika menatap luka kecil di tangan Nadya.


"Kamu terluka." ujar Kai.


"Ah, ini. Cuma luka kecil, enggak masalah. Sepertinya waktu aku berusaha kabur dari Tante Sora. " ujar Nadya.


"Kamu kenal perempuan itu?" tanya Kai serius.


"Iya, dia itu ibunya Mina, sahabat aku waktu SD dulu. Dia jadi gila gara-gara anak lelakinya, Rio, diculik dan dibunuh orang. Sejak saat itu tiap dia lihat ada anak lelaki, dia pikir itu Rio. Kasihan juga sih Tante Sora." jelas Nadya.


Jantung Kai berdebar. Kai semakin mendekat ke arah Nadya dan menarik tubuh Nadya ke arahnya. Nadya terkejut dan mendorong tubuh Kai dengan pelan.


"Kai, kamu mau ngapain?" tanya Nadya bingung.


"Nad, aku mau lihat punggung kamu sebentar. Boleh?" tanya Kai.


"Buat apa?" tanya Nadya tampak bingung.


Kai tak menjawab. Ia memutar tubuh Nadya dan membuka sedikit baju Nadya dan melihat punggung Nadya. Ada bekas jahitan di punggung Nadya yang Kai kenali.


"Luka ini kamu dapat dari mana?" tanya Kai.


"Oh, ini. Ini luka yang dibuat Tante Sora. Dia tusuk aku pakai pecahan kaca waktu aku nolong anak lelaki yang dia sekap di rumahnya. Kenapa?" tanya Nadya.


"Nad, anak lelaki yang kamu selamatkan itu adalah aku." ujar Kai.


Nadya menatap Kai dengan bingung. Otaknya seakan mencerna ucapan Kai. Ia hanya diam dan mendengarkan cerita Kai.


"Aku anak lelaki yang diculik oleh wanita itu. Dulu dia adalah pengasuhku. Entah bagaimana ceritanya sikapnya berubah padaku. Dia menyekapku dan terkadang menyiksaku. Aku ingat bahwa aku diselamatkan oleh gadis kecil yang menyusup masuk ke dalam rumah. Dia terluka karena menolongku. Sejak saat itu aku berjanji suatu hari nanti aku akan menemukan gadis kecil itu dan meminta maaf padanya. Dan juga akan berjanji padanya untuk melindunginya. Tapi setelah sekian lama, aku bahkan tidak bisa melindungimu. " Ujar Kai.


Nadya tersenyum. Tangannya mengusap pelan pipi Kai.


"Ternyata itu benar kau. Kau masih sama seperti dulu. Kali ini bukan aku yang melindungimu, tapi kamu yang melindungi aku. Janjimu udah kamu tepati, Kai." ujar Nadya sambil tersenyum.


Kai menatap Nadya lalu memeluknya. Kejadian di masa lalunya membuat dia trauma dan meninggalkan luka yang cukup dalam. Tetapi Kai bersyukur, masa lalunya juga membawanya bertemu dengan Nadya. Seseorang yang telah ditakdirkan untuknya melalui masa lalu yang pedih.


Tamat