Fall in Love with You

Fall in Love with You
Pertemuan Kedua



Kai duduk terdiam menghadap jendela yang mengarah ke pemandangan kota Cirebon. Saat ini ia memutuskan untuk menginap di hotelnya untuk beberapa hari. Awalnya ia berencana untuk segera pulang ke Jakarta setelah urusan bisnis selesai tapi ada sesuatu yang harus ia pastikan. Kai menggapai ponselnya yang ia letakan di meja. Ia menekan panggilan cepat dan menelepon sekretarisnya.


"Besok suruh pegawai yang tadi pagi untuk menghadapku. " ujarnya singkat lalu menutup telepon.


Kai kembali melamun. Pikirannya jauh melayang, mengingat kejadian memalukan sekaligus kejadian yang luar biasa untuknya.


***


"Nad, aku denger soal kejadian kemarin. Lagian kamu ada-ada aja sih, kok bisa gitu loh. " ujar Sinta sambil mengenakan seragam kerja.


"Enggak tau ah, pusing aku Sin. Gimana nasibku sekarang. " rengek Nadya.


"Lagian sih, tangan sama otak enggak sejalan. Heran deh aku sama kamu, teledornya minta ampun. Udah gitu sial mulu. " ujar Sinta.


"Enak aja, aku enggak sesial itu juga kali. " ujar Nadya sambil merungut.


"Kayaknya kamu harus mandi air sunan gunung jati deh. Nanti libur kita ke sana, buat buang sial. " ajak Sinta.


"Apaan sih, Sin? Siapa juga yang sial? " ujar Nadya kesal.


Bu Wina masuk dengan tergesa-gesa menghampiri Sinta dan Nadya yang masih sibuk mengobrol di depan loker. Nadya merasa dirinya akan tertimpa kesialan sekali lagi karena kecerobohannya tempo lalu.


"Nad, Pak Haris minta kamu ke ruangannya. " ujar Bu Wina.


Pak Haris adalah manajer hotel. Jika ia memanggil Nadya artinya sudah tidak ada jalan keluar dari kesialannya ini. Dengan langkah lesu, Nadya berjalan mengikuti Bu Wina.


"Bu, saya enggak bisa dikasih kesempatan lagi, ya? Saya kan udah minta maaf. " ujar Nadya ketika berjalan mengikuti Bu Wina.


"Kalau saya yang memutuskan, kamu masih bisa saya kasih kesempatan. Tapi ini bukan wewenang saya. Lagian kesalahan kamu itu fatal. Lah wong kamu nyiram pemilik hotel. " jelas Bu Wina dengan nada agak jengkel.


Nadya menghela nafas. Pikirannya sangat kacau saat ini. Bu Wina mengetuk pintu ketika mereka tiba di sebuah ruangan di bagian belakang hotel. Sebuah suara menyahut dari dalam ruangan dan mempersilahkan mereka masuk. Nadya yang berdiri di belakang Bu Wina berharap dirinya dapat bersembunyi tanpa dilihat Pak Haris. Pak Haris menatapnya dari balik kacamata tua dengan tatapan tajam. Lalu ia meminta Bu Wina untuk meninggalkan Nadya sendirian diruangannya. Dengan berat hati, Bu Wina menuruti perintah Pak Haris. Bu Wina memang galak namun ia merasa kasihan dan ikut bertanggung jawab dengan kesalahan pegawainya. Bu Wina pun meninggalkan ruangan, membuat Nadya semakin gugup.


"Siapa nama kamu? " ujar Pak Haris.


"Nadya, Pak. " jawab Nadya.


Pak Haris bangkit dari kursinya, "Ayo ikut saya. "


"Ke mana, Pak? " tanya Nadya sambil ikut berdiri.


"Pak Kai mau bertemu denganmu. Kamu dipecat atau enggak, dia bilang dia yang memutuskan. " ujar Pak Haris.


Ya, Tuhan. Apalagi ini. Batin Nadya.


Mereka berjalan melewati koridor perkantoran dan menuju gedung kamar hotel. Hotel memiliki gedung terpisah antara kantor staf dan karyawan dengan bagian utama hotel. Keduanya terhubung melalui sebuah jalan yang menyerupai koridor rumah sakit namun di setiap sisinya terdapat taman yang cukup indah. Pak Haris dan Nadya lalu masuk ke dalam lift. Nadya yang berdiri di belakang melihat Pak Haris menekan tombol lantai 10. Nadya hendak bertanya ingin dibawa ke mana dia. Lalu ia mengurungkan niatnya dan hanya membuntuti pak Haris. Tak lama, pintu lift terbuka. Nadya cukup terkejut melihat bagian dalam hotel yang belum ia lihat. Ketika lift terbuka, mereka di sambut jendela besar yang mengarah ke taman hotel. Nadya tahu bahwa hotel ini termasuk hotel paling besar di kota Cirebon tapi ia baru mengetahui hotel ini memiliki kolam renang yang berada di tengah-tengah gedung hotel.


Pak Haris meminta Nadya untuk berjalan lebih cepat. Setelah melewati beberapa pintu kamar, mereka berhenti di depan pintu kamar 1012. Sepertinya bukan hanya Nadya yang gugup, Pak Haris pun merasakan hal yang sama. Ia menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu kamar. Pintu kamar pun diketuk. Terdengar suara sepatu dari dalam kamar menghampiri pintu. Nadya melihat seorang lelaki menggunakan jas berwarna navy membuka pintu kamar. Lelaki itu tampak tak asing di mata Nadya, membuatnya berpikir di mana ia pernah bertemu lelaki itu. Akhirnya Nadya ingat, ia bertemu dengan lelaki itu pada saat insiden memalukan kemarin. Lelaki itu memiliki perawakan tinggi dengan postur tubuh yang agak kurus. Wajahnya cukup tampan dengan senyumannya yang ramah menghiasi wajahnya.


"Masuklah. Pak Kai ingin bertemu kalian. " ujarnya sambil tersenyum.


Nadya dan Pak Haris mengikuti lelaki itu memasuki kamar. Kamar hotel itu cukup besar dengan design interior yang sederhana namun terkesan mewah. Temboknya berwarna coklat muda yang memberi kesan sejuk pada kamar. Nadya melihat seorang lelaki yang duduk di ruang tamu kamar hotel. Lelaki itu adalah Kai Morgan, pemilik hotel yang disiram air oleh Nadya. Nadya tampak gugup ketika melihatnya, entah apa yang akan ia lakukan terhadap Nadya. Pak Haris dan Nadya berhenti dan berdiri tak jauh dari Kai. Kai yang sedang sibuk dengan ponselnya melirik ke arah Pak Haris dan Nadya.


"Pak Haris, kamu boleh pergi. " ujar Kai.


"Baik, Pak. " ujar Pak Haris, lalu berjalan meninggalkan Nadya.


Kai menatap Nadya yang menunduk karena rasa gugup dan rasa bersalah sekaligus.


"Siapa nama kamu? " tanya Kai.


"Nadya, Pak. " jawab Nadya dengan suara rendah.


"Sini. Duduk. " perintah Kai sambil menunjuk ke kursi di depannya.


Nadya menuruti perintah Kai tanpa berani menatap Kai sedetikpun. Nadya duduk dengan wajah masih menunduk. Ia sadar, Kai tengah menatapnya. Nadya menunggu Kai berbicara tapi Kai hanya terdiam sambil menatapnya. Ini membuat Nadya semakin gugup dan canggung. Lelaki yang berdiri tak jauh dari Kai pun hanya terdiam. Sesekali Nadya melirik ke arah lelaki itu tapi lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya seolah berkata bahwa dirinya pun tak tahu apa yang terjadi.


"Saya minta maaf, Pak. Kalau bapak mau pecat saya, saya terima. Tapi tolong jangan tuntut saya." ucap Nadya memberanikan diri.


Kai masih terdiam, membuat Nadya semakin gelisah.


"Sini tanganmu. " ujar Kai.


"Apa? " tanya Nadya.


Kai mengulurkan tangan kanannya, meminta Nadya untuk mengikuti perintahnya. Dengan kebingungan, Nadya pun mengikuti perintah Kai dan mengulurkan tangannya.


"Sentuh tanganku. " ucap Kai.


Nadya pun mengangguk dan menyentuh tangan Kai dengan lembut. Ketika tangan Nadya dan Kai bersentuhan, Kai tampak terkejut dan menatap Nadya. Kai menggenggam tangan Nadya dengan erat. Nadya berusaha menarik tangannya namun genggaman Kai begitu kuat. Rasa gugup yang Nadya rasakan berubah menjadi rasa takut.


"Pak, saya minta lepasin tangan saya! " ujar Nadya sambil menarik tangannya.


Kai melepaskan genggamannya dan menatap tangannya sendiri. Lelaki yang berdiri di samping Kai pun kini duduk dan ikut menatap tangan Kai. Nadya merasa kedua lelaki yang dihadapannya ini adalah orang yang aneh. Nadya melirik ke arah vas bunga yang ada di depannya dan diam-diam mengambilnya. Nadya menggenggam vas itu dengan erat.


"Apa ini? Kenapa bisa? " ujar lelaki yang duduk di samping Kai.


"Aku enggak tahu. Apa aku harus telepon Siska? " ujar Kai dengan wajah sumringah.


"Ide bagus. " ujar lelaki itu.


"Ehem... Bisa saya pergi dari sini, Pak? " ujar Nadya.


"Tunggu.. Tunggu.. Tunggu.. Jangan pergi dulu. " ujar lelaki itu. Ia kemudia melirik vas bunga yang dipegang Nadya.


"Kenapa kamu pegang vas bunga? " ujarnya lagi.


Nadya menggenggam vas bunga itu semakin erat. Ia mulai mengarahkan vas bunga itu ke arah lelaki itu dan Kai.


"Ah, enggak diangkat. " ujar Kai lalu menoleh ke arah Nadya. "Mau apa kamu? "


"Kalian yang apa-apaan? Denger ya, aku tahu kalau aku salah soal insiden kemarin. Tapi bukan berarti kalian bisa melecehkan seorang wanita! " ujar Nadya marah.


"Melecehkan? Maksud kamu apa sih? " ujar Kai.


"Dia pikir, kamu pegang-pegang tangannya itu buat melecehkan dia. " bisik lelaki itu.


"Heh! Dengar, ya. Kamu kira aku ini lelaki kurang ajar? " balas Kai.


"Terus, apa maksudnya tadi? Pegang-pegang tangan aku segala? " ujar Nadya.


"Itu... " Kai tak melanjutkan ucapannya. "Pokoknya, kamu ke sini untuk bertanggung jawab soal insiden kemarin. "


"Aku kan udah minta maaf. Kalau itu belum cukup, kamu bisa pecat aku, kan? " ujar Nadya.


"Pecat? Enak saja. Kamu harus ganti rugi. " ujar Kai sambil bersandar di sofa.


"Kenapa? Aku lihat kamu enggak kenapa-kenapa? " ujar Nadya mulai sedikit khawatir.


"Aku emang enggak terluka. Tapi kamu udah bikin aku malu di depan klien dan pegawaiku, tahu? " jelas Kai dengan nada kesal.


Nadya pun terdiam. Kai mengatakan yang sebenarnya tapi Nadya tidak tahu harus berbuat apa untuk kesalahannya. Ia pun duduk kembali sambil menunduk.


"Terus, aku harus gimana? " ujar Nadya dengan nada lesu.


"Aku udah minta Pak Haris buat memecat kamu. Tapi kamu harus bayar ganti rugi untuk jas aku yang udah kamu siram pake air kotor. Apa kamu tahu? Nodanya tidak mau hilang. " ujar Kai.


"Kalau begitu aku harus ganti rugi berapa? " ujar Nadya.


"Sepertinya kamu enggak akan sanggup bayar. " ujar lelaki disamping Kai.


"Kenapa? " tanya Nadya bingung.


Lelaki itu memberi kode angka tiga dan lima pada Nadya.


"Harganya? " ujar Nadya.


Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.


"Ya, Tuhan. " ujar Nadya setengah memekik. Ia melirik ke arah Kai yang tersenyum licik padanya.


"Ehem... Pak Kai. Saya bukan orang yang mampu, jadi saya mohon maafkan saya, Pak. " ujar Nadya mengubah nada suaranya.


"Heh... Sekarang kamu panggil aku dengan sebutan Pak dan berbicara formal. " ujar Kai kesal.


Nadya menunduk dan merasa bersalah. Sepertinya ini akan menjadi hari tersial baginya.


"Kamu bisa ganti rugi dengan jasa kamu. " ujar Kai.


"Jasa? Jasa apa? " ujar Nadya.


"Aku belum sarapan, kamu harus cari tempat makan yang enak. " ujar Kai yang bangkit dari duduknya.


"Saya, Pak? " ujar Nadya


"Iya. Kamu. Dan tolong jangan panggil aku 'Pak'. Panggil aku Kai. Sana tunggu diluar! "Ujar Kai.


Lelaki itu mengajak Nadya untuk keluar dari kamar dan menunggu Kai di depan kamar.


"Perkenalkan, namaku Fian. Aku sekretaris Kai. " ujar Fian.


"Hai, salam kenal. Aku baru lihat bos punya sekretaris lelaki. " ujar Nadya.


"Kai berbeda. " ujar Fian singkat.


Kai keluar dari kamarnya. Tampaknya ia mengganti jasnya dan berjalan menghampiri Nadya dan Fian.


"Kamu bisa nyetir mobil? " tanya Kai.


Nadya menggeleng.


"Kalau gitu panggilkan supir untuk kami, Fian. " ujar Kai.


Fian pun mengangguk dan menelepon seseorang.


"Kita mau ke mana? " tanya Nadya.


"Kenapa tanya aku? Kamu yang harus nentuin tempatnya. Aku mau sarapan. " ujar Kai.


"Bukannya hotel punya restoran, ya? " tanya Nadya.


"Aku enggak mau. Jangan malas, ayo berpikir! " ujar Kai.


Nadya benci harus melakukan ini, terutama untuk orang seperti Kai yang tidak bisa berbicara lembut. Tapi ia tak bisa menolak jadi Nadya memirkan tempat makan.


"Supir udah ada di bawah, kalian bisa langsung pergi. " ujar Fian.


"Kalau begitu, ayo pergi. " ujar Kai sambil berlalu.


Nadya yang sedari tadi cemberut, mengikuti Kai dari belakang. Mereka masuk ke dalam lift. Nadya memencet tombol lantai satu. Suasana lift tampak hening, Nadya bahkan tidak ingin berbicara pada Kai saat ini yang memperlakukannya dengan kasar. Pintu lift akhirnya terbuka di lantai satu. Kai berjalan mendahului Nadya dan menghampiri mobil yang sudah terparkir di luar gedung. Supir pun membukakan pintu untuk Kai masuk lalu menutupnya kembali. Nadya pun duduk di kursi depan dekat supir.


"Kenapa kamu duduk di situ? Sini. " perintah Kai.


Nadya menurut dan berpindah duduk di samping Kai. Ia tak begitu nyaman berdampingan dengan Kai tapi Nadya tak punya pilihan lain. Supir menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan hotel.