
Nadya bangun dari tidurnya ketika alarm diponselnya berbunyi. Bergegas ia masuk ke kamar mandi. Ini adalah hari pertamanya bekerja di hotel besar bernama Hotel Crystal. Karena itulah Nadya merasa gugup di hari pertamanya bekerja sehingga semalaman ia tidak bisa tidur.
Waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB. Nadya sudah bersiap untuk berangkat bekerja dengan sepeda motornya. Cuaca Cirebon pagi ini seperti biasanya, terasa hangat dan matahari begitu menyilaukan mata. Nadya yang tak sempat sarapan bergegas mengambil tas dan helmnya.
"Kak! Nadya berangkat dulu! " teriaknya pada Aryo, kakaknya, yang sedang sibuk untuk membuka restonya.
Aryo hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Nadya menyalakan mesin sepeda motornya dan melaju meninggalkan rumah.
***
"Nadya, aku pikir kamu bakal telat." ujar Sinta agak jengkel.
"Iya, sori..sori... Tahu sendiri Cirebon sekarang jadi macet. Udah yuk, masuk. " ujar Nadya sembari menarik tangan Sinta.
"Inget, ya. Kamu harus kerja yang bagus, soalnya aku yang rekomendasiin kamu. Oke? " jelas Sinta.
Nadya tersenyum sambil mengacungkan jempol.
Bu Wina, atasan Nadya dan Sinta, menerangkan perihal tentang tugas-tugas yang akan dilakukan Nadya sebagai cleaning service setelah Nadya berganti pakaian. Nadya yang mendengarkan penjelasan Bu Wina yang panjang hanya mengangguk, meskipun hanya beberapa hal yang dia ingat. Nadya sangat ceroboh sehingga ia meyakinkan dirinya sendiri agar tak melakukan kesalahan dipekerjaan yang ia dapat. Sudah ketiga kalinya Nadya berganti pekerjaan karena kecerobohannya dan ia memastikan akan bertahan dipekerjaan ini.
"Nah, sekarang ambil alat pel. Lalu kamu ikut saya. " perintah Bu Wina.
"Siap, bu. " ujar Nadya yang langsung berlari mengambil peralatan kebersihan dan kembali menghampiri Bu Wina.
Nadya berjalan mengekori Bu Wina yang akan menunjukkan "wilayah" untuknya. Hotel itu tampak luas dengan langit-langit yang cukup tinggi. Tampak lampu gantung berada di tengah yang terlihat begitu mewah. Nadya masih tak menyangka ia bisa masuk ke hotel sekelas bintang lima meskipun sebagai cleaning service. Bu Wina berhenti di tengah ruangan.
"Ini lobby utama dan ini wilayah kamu. Ada yang mau ditanyakan? " ujar Bu Wina.
Nadya menggeleng.
Tak lama seorang karyawati berlari menghampiri Bu Wina. Ia membisikan sesuatu yang membuat Bu Wina tampak panik.
"Nad, saya tinggal dulu. Saya harus kontrol yang lain karena ada pemilik hotel datang memantau. Kerja yang betul!" perintahnya sambil berlalu.
Nadya menuruti. Ia mulai melakukan tugasnya seperti yang diarahkan Bu Wina. Dari kejauhan tampak segerombolan pria dengan menggunakan setelan jas berjalan. Nadya pun menarik troli peralatan yang ia bawa agar tak menghalangi jalan.
"Ya ampun, aku lupa! " ujarnya panik begitu ia melihat lantai yang baru saja dibersihkan tak ada tanda "lantai licin". Nadya lupa meletakannya.
Nadya pun berlari sambil membawa tanda. Karena panik, ia bahkan lupa meletakkan ember berisi air ditangannya. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Seorang pria muda yang mengenakan setelan jas putih jatuh terpeleset di lantai yang masih basah. Semua orang tampak terkejut dan panik. Nadya yang sedang berlari tak cukup cepat untuk sampai tepat waktu. Namun lantai yang licin membuatnya tak berhenti bergerak. Tubuhnya tak terkendali dan terus bergerak sampai menabrak lelaki yang jatuh tadi.
"Aduh... " ujar Nadya.
"Oh ya ampun, saya minta maaf. Saya minta maaf. " ujar Nadya.
Lelaki itu tampak gusar sambil mengibas-kibas pakaiannya yang basah.
"Sini, biar saya bantu bangun, Pak. " ujar Nadya sambil menjulurkan kedua tangannya.
"Eh.. Jangan pegang-pegang! Saya bisa berdiri sendiri! " ujar lelaki itu.
"Udah, Pak, biar saya bantu. Ayo. " Nadya menarik tangan lelaki itu dan membantunya berdiri.
Lelaki itu awalnya menghindar namun Nadya menarik tangannya. Ia pun bangun sambil berkernyit memandang Nadya.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. " ucap Nadya menyesal.
Bu Wina berlari ke arah Nadya dengan tergesa-gesa.
"Wina, kamu urus pegawai ini! Cepat! " ujar pria tua yang berdiri di samping lelaki muda itu.
Bu Wina hanya mengangguk dan menarik Nadya. Ya Tuhan, jangan lagi. Batin Nadya. Ia tahu pasti dirinya akan dimarahi habis-habisan karena kecerobohannya. Bu Wina masih menarik tangan Nadya hingga masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipakai sebagai gudang.
"Ya ampun, Nadya. Kamu ini baru hari pertama kerja dan kamu udah bikin rusuh di sini? Keterlaluan kamu! " ujar Bu Wina marah.
"Maaf, Bu. Saya beneran enggak sengaja. " ujar Nadya memelas.
"Kamu tahu siapa yang kamu siram tadi? " tanya Bu Wina.
Nadya menggeleng.
"Namanya Kai Morgan Tarigan. Dia itu PEMILIK HOTEL! " jelas Bu Wina.
Nadya hampir terjatuh pingsan jika tak memegang tembok. Ia baru saja bekerja di sini dan sudah menyiram pemilik hotel. Kepalanya terasa pening setelah menerima kenyataan itu. Kalau dia dipecat, itu tak masalah baginya. Tapi bagaimana kalau ia harus diminta untuk ganti rugi atau semacamnya. Pikiran Nadya mulai kacau dan pandangannya kosong. Bu Wina yang terus mengomel tak mampu membuatnya tersadar.
"Bu, saya harus gimana? " ujar Nadya sambil terisak.
"Saya enggak tahu, kita lihat aja besok. Keputusan bukan ditangan saya. Sekarang, kamu kerja bersihin ruangan lain aja. " ujar Bu Wina.
Nadya mengangguk. Tentu saja Ia masih khawatir tentang nasib sial yang dialaminya.