
Mobil berhenti sesuai dengan arahan Nadya. Mereka berhenti di sebuah warung makan yang tampak agak sempit. Nadya dan Kai turun dari mobil. Kai melihat warung makan yang terletak di pinggir jalan raya. Warung itu seperti pada umumnya namun tidak memiliki pintu, hanya pilar-pilar tembok yang membatasi warung dengan jalan.
"Ini di mana? " tanya Kai.
"Kamu bilang kamu mau sarapan? Di sini makanannya enak. Ayo, masuk. " ajak Nadya.
Nadya berjalan memasuki warung itu begitu pula Kai. Dengan ragu-ragu ia masum ke dalam warung makan itu. Di dalam warung makan, hanya berjejer kursi kayu panjang yang memutar menghadap sajian makanan. Ditengah-tengah terdapat penjual yang siap meracik menu makanan yang dipesan.
"Sini, duduk di sini. " ujar Nadya menepuk-nepuk kursi kayu di sampingnya.
Kai menurut dan menghampiri Nadya. Ia menoleh ke arah Nadya.
"Ini makanan khas Cirebon. Namanya sega jamblang. Sega itu artinya nasi. Kamu mau lauk yang mana? " tanya Nadya.
"Terserah. " ujar Kai sambil menatap lauk makanan yang banyak di depannya.
"Kalau gitu biar aku yang pilihin. " ujar Nadya, lalu mengambil beberapa lauk di depannya.
Nadya mengambil beberapa lauk, seperti sate kentang, telor mata sapi, ikan asin, sambal goreng, dan hati ayam goreng. Ia pun mengambil lauk yang sama untuk Kai. Si penjual lalu memberikan dua piring rotan pada Nadya, lalu memberikan dua bungkus nasi yang dibungkus dengan daun jati.
"Nah, silahkan makan. Kebetulan aku juga belum sarapan. " ujar Nadya sambil tersenyum.
Kai hanya memandang makanan yang ada didepannya.
"Kenapa nasinya dibungkus daun? Ini enggak kotor? " tanya Kai.
"Enggak lah, daun jati justru bikin rasa nasinya berbeda. Sini aku bukain. " ujar Nadya.
Nadya membuka bungkus daun jati itu dan meletakkannya pada piring rotan Kai. Ia memberikan sendok pada Kai yang tampaknya tidak terbiasa makan dengan tangan telanjang. Nadya juga meletakkan lauk yang ia ambil ke dalam nasi milik Kai.
"Coba kamu cium aromanya? Enak kan? " ujar Nadya.
Kai menurut. Ia mencium aroma nasi yang dibungkus daun jati. Aromanya begitu sedap. Kai mencoba memakannya dengan sate kentang. Kai sangat menyukai rasanya. Nadya tersenyum melihat Kai yang tampak menikmati hidangannya. Kai bahkan meletakkan sendoknya dan mengikuti Nadya yang makan dengan tangan telanjang.
Nadya dan Kai keluar dari warung makan setelah menyantap sarapan mereka. Mereka berjalan menghampiri mobil yang terparkir.
"Gimana rasanya? Enak, kan? " tanya Nadya.
"Iya, lumayan. " ujar Kai gengsi.
Nadya tersenyum. Ia tahu Kai begitu menikmati hidangan tadi. Kai dan Nadya masuk ke dalam mobil.
"Apa ini cukup? Aku harus gimana lagi? " tanya Nadya.
"Belum cukup. Aku belum pernah jalan-jalan di kota ini, jadi kamu harus bawa aku berkeliling. " ujar Kai.
"Kenapa harus aku? Kan kamu bisa minta pak supir buat nganterin kamu?" tanya Nadya.
"Kamu harus bayar kerugian yang aku alami gara-gara insiden kemarin, inget? " ujar Kai.
Nadya hanya cemberut. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk kabur dari Kai.
"Kamu mau ke mana lagi? " tanya Nadya.
"Sepertinya beli oleh-oleh bagus juga. Ada tempat yang bagus? " tanya Kai.
"Ada. " ujar Nadya.
Nadya lalu meminta supir untuk memutar balik dan mengarahkan ke jalan yang ia pilih. Supir pun memutar balik dan meninggalkan warung makan yang mereka singgahi. Sekitar dua puluh menit, mereka sampai pada perempatan lampu merah. Nadya meminta supir untuk berbelok ke arah kiri jalan. Mobil pun berbelok dan masuk ke jalan yang tak begitu luas. Di setiap sisi jalan tampak pedagang-pedangang kecil berjejer. Mobil berjalan perlahan. Ketika Nadya melihat toko besar, ia meminta supir untuk masuk ke area pertokoan itu. Mobil pun terparkir sempurna di belakang toko. Kai dan Nadya keluar dari mobil dan berjalan ke arah toko. Toko itu tampak luas seperti toko-toko souvenir pada umumnya. Namun Kai mencium aroma menyengat dari sekitar toko.
"Bau apa ini? " tanya Kai.
"Ini bau tinta batik. Wilayah ini kan pusatnya batik jadi wajar aja kalau kamu cium bau tinta menyengat. " jelas Nadya.
Nadya memandu Kai untuk masuk ke dalam pertokoan. Sebelum masuk, Kai melihat dua orang wanita yang sedang membatik di dekat pintu masuk. Kai tampak kagum dengan hasil batik tangan yang dibuat oleh dua wanita itu. Nadya tidak menyadari Kai tertinggal dengannya. Ia pun berbalik dan menarik tangan Kai. Kai menatap tangan Nadya yang menyentuh tangannya.
"Ayo, masuk. " ajak Nadya sambil menarik tangan Kai.
Mereka pun masuk ke dalam toko. Begitu mereka masuk, mereka disambut oleh kain-kain batik dengan berbagai motif dipajang sedemikian rupa. Nadya tampak sumringah melihatnya. Dengan antusias, ia mengajak Kai berkeliling toko. Nadya tidak sadar tangannya terus menggenggam erat tangan Kai sedari tadi. Kai tersenyum melihat Nadya yang lebih atusias dibanding dirinya yang baru datang ke toko ini.
"Lihat, di sana banyak souvenir-souvenir lucu. Pas buat oleh-oleh. " ujar Nadya.
"Kelihatannya kamu yang lebih seneng dateng ke sini? " ujar Kai.
Nadya tersipu malu, sadar bahwa dirinya begitu bersemangat.
"Aku udah lama enggak ke sini jadi aku seneng waktu kamu bilang mau beli oleh-oleh. " ujarnya.
Nadya melirik ke arah tangannya yang menggenggam erat tangan Kai. Dengan cepat ia melepaskan genggaman tangannya dengan menghindari tatapan mata Kai. Kai hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Kai mengambil keranjang belanja dan memberikannya pada Nadya.
"Kamu yang bawa. " ujar Kai dingin.
Nadya cemberut. Ia pun membawa keranjang belanja. Kai mengambil beberapa souvenir dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ia bahkan mengambil beberapa kopi buatan warga lokal. Kai menghampiri Nadya yang sedang menatap baju di depannya.
"Kamu suka? " tanya Kai.
Nadya mengangguk, "tapi mahal. " ujarnya sambil tersenyum.
Nadya pun berjalan menuju kasir. Kai mengambil keranjang yang dijinjing Nadya.
"Sini, biar aku bayar sendiri. Kamu tunggu diluar. " ujarnya.
"Dia itu kenapa sih? Sama cewek kok kasar banget. " gumamnya.
Tak lama Kai pun keluar dari dalam toko. Kai meminta Nadya untuk kembali ke mobil. Nadya bertanya pada Kai apa yang dibelinya namun Kai tak menjawab. Mereka kembali mobil dan bergegas meninggalkan toko.
"Di mana rumah kamu? Aku mau balik ke hotel jadi aku anter kamu dulu. " ujar Kai.
"Rumahku lumayan jauh, di daerah pekiringan. " ujar Nadya.
Kai meminta supir untuk ke alamat Nadya dan mengantarkan pulang. Selama perjalanan, Kai sibuk dengan ponselnya. Nadya merasa canggung dengan kebisuan di dalam mobil. Nadya melongok ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 14.00. Perjalanan ke hotel tidak terlalu jauh namun mereka menemui kemacetan sehingga membutuhkan waktu satu jam sampai di rumah Nadya. Nadya meminta supir berhenti di depan rumah tua yang tampak tak berpenghuni.
"Ini rumah kamu? " tanya Kai.
"Bukan. Rumahku ada dibelakang resto itu. " ujar Nadya sambil menunjuk resto yang tak jauh dari rumah tua.
"Kenapa berhenti di sini? " tanya Kai.
"Aku enggak mau kakakku lihat aku pulang dengan lelaki yang dia enggak kenal. Bisa-bisa dia mulai tanya-tanya. Kalau gitu aku pamit, makasih udah dianterin. " ujar Nadya sambil berlalu.
"Eh, tunggu. " ujar Kai.
Nadya sontak menghentikan langkahnya. Dengan dingin, Kai memberi sebuah kantung belanja dari toko yang mereka datangi.
"Ini buat kamu. Besok aku mau kamu datang ke hotel. " ujar Kai sambil menutup pintu mobil.
Nadya mengintip dari tas belanja yang ia pegang. Sebuah baju yang ia lihat tadi kini menjadi miliknya. Belum sempat ia mengucapkan terima kasih, mobil yang dinaiki Kai melaju meninggalkan Nadya sendirian. Kai memang terkadang bersikap dingin padanya tapi dia adalah lelaki yang peka. Nadya pun mengendap-endap untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Rumahnya berdempetan dengan resto sehingga cukup sulit jika ia harus diam-diam masuk. Beruntungnya Nadya, Aryo tampaknya sedang sibuk memasak untuk para pelanggan. Nadya pun berlari ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya. Ia berlari ke arah cermin lemarinya dan mencoba melihat baju yang dibelikan Kai. Nadya begitu senang hari ini. Senyumnya langsung pudar tatkala ia sadar bahwa dirinya sudah dipecat. Rasa lelah tiba-tiba menjalar ke tubuhnya. Ia pun merebahkan diri di atas kasur sampai akhirnya Nadya pun tertidur.
***
Nadya terbangun begitu Aryo membangunkannya. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Rasa lelah yang ia rasakan sudah hilang dan tubuhnya terasa segar. Nadya pun beranjak mandi dan mengganti pakaiannya.
"Tumben udah ada di rumah, pulang jam berapa? " tanya Aryo ketika Nadya keluar dari mandi.
"Dari tadi. " ujar Nadya singkat.
"Kok sebentar banget? Kamu dipecat lagi? " tuduh Aryo.
"Enak aja, enggak kok. " sahut Nadya berbohong.
"Hai... Hai.. Aku masuk, ya. " Sinta masuk menghampiri Nadya dan Aryo yang sedang duduk santai di ruang tv.
"Ngapain ke sini? " tanya Nadya.
"Emangnya kenapa? Aku mau nginep ya. " ujar Sinta tak acuh.
Sinta meminum segelas air putih yang berada di depan Nadya. Sinta tampak santai di rumah Nadya seperti rumah sendiri. Ini bukan pertama kalinya ia datang dan menginap di rumah Nadya. Mereka berteman sejak SMA sehingga Nadya dan Sinta tak pernah canggung satu sama lain.
"Oh iya, aku denger kamu dipecat ya? " tanya Sinta.
Nadya menyikut keras lengan Sinta hingga Sinta merintih. Aryo yang duduk tak jauh dari Nadya melirik sambil tersenyum.
"Kan udah kakak bilang, lebih baik kamu bantu kakak di resto. " ujar Aryo.
"Aku enggak mau, kak. " tolak Nadya.
"Kenapa lagi kamu bisa dipecat? " tanya Aryo.
"Dia nyiram pemilik hotel pakai air kotor, Kak. " terang Sinta sambil tertawa. Aryo pun ikut tertawa mendengar cerita Sinta.
"Puas kalian? Sial aku tuh enggak sampe situ. Kalian tahu enggak aku harus ganti rugi karena udah bikin kotor jas pemilik hotel itu. " ujar Nadya kesal.
"Ganti rugi? Berapa? " tanya Sinta.
"Tiga puluh lima juta. " ujar Nadya dengan suara rendah.
"Apa? " ujar Sinta dan Aryo bersamaan.
"Terus gimana? Kamu kan enggak punya uang sebanyak itu. " ujar Sinta mulai khawatir.
"Untungnya Kai cuma minta aku jadi tour guide- nya selama di Cirebon. Meskipun akhirnya aku harus dipecat juga. " jelas Nadya.
"Wah, syukur deh. Kata orang jawa, segala sesuatunya masih ada untungnya. Untung kamu masih ada keberuntungan. " ujar Sinta.
"Aneh banget kalau kamu harus jadi tour guide -nya untuk gantiin jas seharga 35 juta. Dia enggak macem-macem sama kamu kan, Nad? " tanya Aryo serius.
"Enggak, kak. Kai enggak gitu kok. " ujar Nadya, mengingat Kai tampak acuh tak acuh padanya.
"Wah, kelihatannya kalian akrab udah mulai panggil nama. " ujar Sinta sambil cengingisan.
"Enggak juga, dia yang minta. Tapi dia hebat, ya. Masih muda udah jadi pemilik hotel besar. Pewaris tunggal, ya? " tanya Nadya penasaran.
"Yang aku denger, dia emang pewaris tunggal. Tapi hotel itu adalah usaha dan hasil kerja kerasnya sendiri. Aku pernah denger kalau Kai Morgan itu jenius. Dia bahkan udah dapet gelar sarjana sewaktu usia 22 tahun. Keren, kan? " jelas Sinta.
Nadya terkejut mendengar cerita Sinta tentang Kai. Ia tidak menyangka Kai yang memilikk sikap dingin seperti itu ternyata memiliki kecerdasan yang hebat. Kai adalah salah satu contoh lelaki sempurna. Wajah tampan, pewaris tunggal, dan usahawan muda. Meskipun sikapnya terkadang menyebalkan dan aneh untuk Nadya. Tapi dibalim sikap dinginnya, Nadya merasa Kai lelaki yang lembut dan perhatian. Tanpa terasa senyuman Nadya mengembanhmg di wajahnya ketika teringat soal Kai.
"Hei.. Hei... Jangan mimpi buat dapetin Kai Morgan. Dia itu udah punya tunangan. " jelas Sinta.
Senyum di wajah Nadya seketika menghilang. Sepertinya keberuntungan Nadya sudah habis saat ia menerima pemberian baju dari Kai.