Fall in Love with You

Fall in Love with You
Pernyataan



Seminggu sudah Nadya bekerja di toko buku milik sahabat lamanya, Didit. Ia merasa bersyukur karena tidak melakukan kecerobohan arau kebodohan yang biasanya tanpa sengaja ia lakukan. Nadya bekerja sebagai kasir sekaligus penjaga toko. Toko buku itu tak terlalu besar namun cukup ramai. Nadya sangat sibuk dengan pekerjaan barunya dan memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Kai. Beberapa hari yang lalu Kai mengirimkan pesan padanya tapi Nadya memutuskan untuk tak membalasnya. Nadya mendengar kabar bahwa Kai kembali ke Jakarta. Rasa sedih dan lega beradu di benak Nadya. Mungkin memang Nadya tidak ditakdirkan untuk bertemu dengan Kai lagi.


Lamunannya pecah ketika Didit mendekati meja kasir dan mengejutkannya. Lelaki kini yang bertubuh tambun itu menyeringai ketika melihat Nadya yang terkejut.


"Eh, Nad. Kamu belum punya pacar, kan? " tanya Didit sembari tersenyum.


"Iya, kenapa emangnya? " tanya Nadya.


"Kamu inget si Romi, enggak? Mantan kamu waktu SMP dulu. " ujar Didit.


"Inget, kenapa? " tanya Nadya lagi.


"Sekarang Romi udah jadi dosen, loh. Kenapa kamu enggak balikan lagi aja sama dia? Dia belum nikah, loh. " bujuk Didit.


"Enggak, ah. Malu, lah. Aku apa dia apa. Ibarat kata dia langit, aku selokan. " ujar Nadya.


"Jangan gitu. Kamu tuh cantik, Nad. Lagian kamu ini udah 25 tahun, harusnya kamu nikah. Kamu mau jadi perawan tua? " ujar Didit.


"Sembarangan! Aku tuh masih muda. Biar aja sih, Kak Aryo juga enggak bawel, kenapa kamu yang ribet? " ujar Nadya lalu bangkit dari kursinya.


Nadya memutuskan untuk membereskan buku-buku yang berada di etalase agar Didit tidak membicarakan soal pernikahan lagi. Sayangnya Didit terus-menerus mengikuti Nadya dan mengoceh tentang usia Nadya yang harus segera menikah. Bagi Nadya, pernikahan adalah soal yang sakral. Nadya ingin menikah dengan orang yang dia cintai, bukan karena desakan umur semata. Didit terus bertanya bagaimana kriteria lelaki yang menjadi idamannya namun Nadya tak menjawabnya. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Nadya terkejut ketika Kai berdiri di depannya.


"Kai? Kenapa kamu ada di sini? " tanya Nadya.


"Ke mana aja kamu? Kenapa enggak balas pesanku? " ujar Kai marah.


"Aku.. Aku... " Nadya tak mampu berkata apa-apa.


Kai menatap Nadya dengan tajam. Tanpa berkata apa-apa, Kai memeluk Nadya dengan erat. Nadya sangat terkejut sekaligus senang. Lalu Nadya ingat ucapan Aryo sehingga ia mendorong Kai dan melepaskan pelukannya.


"Kamu enggak kangen aku? "Tanya Kai.


Nadya sadar Didit masih ada di sampingnya, melongo melihat adegan Kai dan Nadya.


"Kita ngobrol di luar. " ujar Nadya sambil menarik Kai.


Nadya membawa Kai keluar toko dan menghampiri pohon besar yang berada tak jauh dari toko. Di bawah pohon itu terdapat kursi dan Nadya menarik tangan Kai ke kursi itu.


"Aku denger kamu balik ke Jakarta. Kenapa kamu ada di sini? " tanya Nadya.


"Aku emang balik ke Jakarta untuk urusan bisnis. Setelah beres, aku ke sini lagi buat ketemu kamu. " ujar Kai.


Kai masih menggenggam erat tangan Nadya. Nadya tersenyum melihatnya, lalu tiba-tiba ingat tentang penyakit yang diderita Kai. Nadya menatap Kai dengan bingung.


"Kai, kenapa kamu bisa sentuh aku? " tanya Nadya.


"Aku juga enggak tahu kenapa, tapi cuma kamu yang bisa aku sentuh. Ketika dekat kamu, aku ngerasa nyaman dan aman. Apa kita pernah ketemu sebelumnya? " tanya Kai.


"Enggak. Aku rasa kita enggak pernah ketemu." ujar Nadya.


"Ini aneh. Bahkan aku enggak bisa disentuh oleh ibuku sendiri. Termasuk Siska dan Alexa. " gumam Kai.


"Oh, Alexa. Aku baru inget kamu udah punya tunangan. " ujar Nadya sambil menunduk.


"Iya, tapi kami bertunangan karena perjanjian Ibuku dengan Ayahnya Alexa. Ini bukan kemauan kami. " ujar Kai.


"Apapun alasannya, aku enggak boleh mengambil sesuatu yang bukan milikku. " Nadya mengulang kata-kata Aryo sambil menarik tangannya.


Kai menghela nafasnya.


"Aku cinta sama kamu, terus apa yang harus aku lakukan buat dapetin kamu? " ujar Kai kesal.


Nadya terkejut mendengar ucapan Kai yang tiba-tiba. Lalu tersenyum melihat Kai yang kesal dan tanpa sengaja mengungkapkan perasaannya pada Nadya.


"Coba ulangi lagi. " bujuk Nadya sambil tersenyum.


"Aku... Aku cinta kamu. " ujar Kai sambil mengalihkan pandangannya.


Nadya tertawa. Kai sedikit kesal karena Nadya malah menertawakan dirinya. Lalu Nadya memeluknya. Mereka berdua hanya saling berpelukan. Tidak ada kata-kata yang ingin mereka ucapkan selain senyuman dan pelukan.


***


Beberapa hari ini Alexa sering mengunjungi restoran milik Aryo dengan alasan ingin bertemu dengan Nadya. Sebenarnya Alexa tahu Nadya tidak ada dan bertemu dengan Aryo ketika Nadya berangkat kerja. Hari ini pun Alexa datang dan mengunjungi Aryo namun restoran tampak penuh pengunjung. Beruntung baginya mendapatkan kursi kosong dekat pintu masuk. Aryo yang melihat kedatangan Alexa tersenyum dan melambaikan tangannya. Setelah menghidangkan pesanan, Aryo berjalan menghampiri Alexa.


"Kamu datang lagi hari ini. " ujar Aryo.


"Iya, aku datang. " ujar Alexa tanpa tahu harus berkata apa.


"Kamu sudah makan? " tanya Aryo.


"Belum. Aku mau makan masakan yang langsunh kamu buat. Bisa? " tanya Alexa sambil tersenyum.


"Tentu. Untuk kamu, aku akan buatkan langsung. " ujar Aryo, lalu ia berjalan menghampiri dapur.


"Kamu suka? " tanya Aryo.


Alexa mengangguk lalu tersenyum.


Aryo pamit pada Alexa untuk kembali ke dapur. Alexa mengangguk dan mengatakan pada Aryo untuk menunggunya hingga menutup resto. Dua jam kemudian Aryo pun menutup restonya lebih cepat demi menemani Alexa. Aryo meminta Alexa untuk mengobrol di rumahnya. Ia tahu Alexa tampak lelah menantinya bekerja. Alexa dan Aryo pun duduk di ruang tamu sambil menyeruput kopi hangat yang dibuat Aryo. Mereka asyik mengobrol segala hal apalagi usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Suara derap langkah kaki mendekat ke arah mereka. Aryo menoleh ke asal suara dan dilihatnya Nadya yang sedang meletakan sepatunya di rak sepatu.


"Aku pulang. " ujar Nadya terasa lelah.


Alexa yang mendengar suara Nadya bergegas menutupi wajahnya dengan rambutnya yang tergerai. Dirinya gugup ketika akan bertemu dengan Nadya.


"Tumben jam seginih udah pulang. " ujar Aryo.


"Iya, Kak. " ujarnya sambil lalu menuju kamarnya.


Alexa kini menutupi wajahnya dengan scraf yang ia bawa di dalam tasnya. Nadya melirik sebentar ke arah wanita yang duduk di samping kakaknya lalu masuk ke dalam kamarnya. Alexa merasa lega Nadya tidak menyadarinya. Tiba-tiba ia terkejut ketika Nadya membuka pintu kamar dan berlari ke arahnya. Tak sempat menutup wajahnya dengan scraf, Alexa dengan percaya diri menatap Nadya yang berdiri tak jauh darinya.


"Alexa, kamu kok ada di sini? " tanya Nadya bingung.


"Oh, iya. Kakak baru ingat, Alexa beberapa kali ke sini buat ketemu kamu. Tapi sayangnya kamu sering sibuk dan enggak pernah ketemu kamu sama sekali. Dia bilang dia mau bicara sama kamu. " ujar Aryo yang tak memeperhatikan wajah Alexa yang sedikit gugup.


"Kamu tahu alamat rumah ini dari siapa? Aku tahu, kamu ke sini buat ngobrolin soal Kai, kan? " tanya Nadya.


Aryo menoleh ke arah Alexa, " Kamu kenal Kai juga? " tanyanya.


"Kak, Alexa ini.. "


Alexa langsung berlari ke arah Nadya lalu membekap mulut Nadya. Nadya terkejut sekaligus bingung dengan tindakan Alexa, begitu pula Aryo. Alexa menarik Nadya dan membawany menjauh dari Aryo.


"Kamarmu di mana? " bisik Alexa pada Nadya.


Nadya menunjuk ke sebuah kamar yang dekat dengan dapur. Alexa pun menarik Nadya masuk ke dalam kamar dengan tangannya yang masih membekap mulut Nadya.


"Aduh, apa-apaan sih kamu? " ujar Nadya kesal setelah Alexa melepaskan tangannya.


"Jangan bilang ke Aryo kalau aku tunangannya Kai! " perintah Alexa.


"Kenapa? " tanya Nadya.


Alexa tak menjawab dan hanya menatap Nadya.


"Hah? Jangan-jangan, kamu suka sama kakak aku, ya? " ujar Nadya terkejut.


Alexa tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Nadya terkejut dan tak bisa mengatakan apa-apa. Seorang Alexa, wanita cantik, kaya raya, dan seorang model (Nadya tahu setelah bergosip dengan Sinta), menyukai kakaknya yang hanya pemilik resto sederhana. Rasa terkejutnya kini berganti dengan rasa kesal pada Alexa. Nadya menarik tangan Alexa dan memintanya untuk duduk.


"Kamu gila, Alexa? Kenapa kamu bisa suka sama kakak aku? Bukannya kamu udah tunangan sama Kai? " tanya Nadya.


"Kenapa emangnya? Lagipula aku tahu kok kamu dan Kai saling suka, iya kan? " tuduh Alexa.


"Iya, sih. Aku minta maaf soal itu. " ujar Nadya menyesal.


"Ah, santai. Aku udah kenal Kai dari dulu. Tatapan matanya berbeda saat dia menatap kamu. " ujar Alexa.


"Kamu tahu? Aku ngerasa bersalah karena udah jatuh cinta pada lelaki yang sudah memiliki tunangan. Tapi kamu sendiri malah jatuh cinta sama kakak aku. " ujar Nadya yang duduk di sebelah Alexa.


"Enggak usah merasa bersalah. Aku udah cape dengan sikap Kai. Dia selalu dingin padaku. Aku pikir perasaannya akan berubah lambat laun, tapi sepertinya waktu yang cukup lama tidak bisa mengubah perasaan Kai padaku. Jadi, aku memutuskan untuk menyerah. " ujar Alexa.


Nadya semakin merasa bersalah pada Alexa. Alexa hanya tersenyum lalu menepuk pundak Nadya seakan meredakan rasa bersalah Nadya.


"Ngomong-ngomong, apa kakak aku tahu kamu tunangan Kai? " tanya Nadya pada Alexa.


Alexa menggeleng, "aku harap kamu bisa rahasiakan ini, ya. "


"Aku enggak tahu gimana reaksi kakak kalau tahu kamu udah tunangan. Dia paling anti banget ngerebut pacar orang, apalagi udah tunangan. " ujar Nadya sambil merenung.


"Yah, itu juga yang aku khawatirkan. " ujar Alexa ikut termenung.


Tiba-tiba terlintas dibenak Nadya untuk bertanya soal penyakit Kai. Nadya berpikir Alexa pasti banyak tahu soal Kai karena Alexa adalah tunangan Kai.


"Ehm, Alexa. Boleh aku tanya sesuatu? " tanya Nadya.


"Boleh. Tanya soal apa? " ujar Alexa


"Kamu tahu enggak penyebab penyakit Kai? Kenapa Kai enggak bisa disentuh sama perempuan? " tanya Nadya.


"Oh, soal itu. Aku enggak tahu pastinya gimana, tapi yang aku dengar dulu Kai pernah diculik. Penculiknya itu perempuan dan entah apa yang dilakukannya sampai-sampai Kai jadi trauma, yang berujung Kai punya penyakit Haphefobia. " jelas Alexa


"Oh, gitu ya. " ujar Nadya.


"Lebih baik kamu tanya langsung sama Kai. Dia pasti mau cerita kalau kamu yang tanya. " ujar Alexa.


Terdengar suara pintu kamar diketuk. Nadya membuka pintu dan Aryo tampak berada di depan kamar. Alexa menghampiri Aryo yang tersenyum padanya. Aryo pamit pada Nadya untuk pergi bersama Alexa dengan alasan mengajak Alexa berkeliling kota. Nadya hanya mengangguk sambil tersenyum. Aryo dan Alexa pun meninggalkan Nadya seorang diri. Nadya menatap Aryo dan Alexa yang berlalu meninggalkannya. Ia tidak pernah melihat kakaknya bahagia seperti sekarang. Ada rasa senang dan rasa bersalah pada Aryo karena telah menutupi kenyataan bahwa Alexa sudah memiliki tunangan. Nadya pun menutup pintu kamar dan memutuskan untuk membicarakan soal ini pada Kai esok hari.