
Hari ini Nadya libur bekerja dan berniat menghabiskan waktu di rumah. Lalu ia teringat akan niatnya untuk menghubungi Kai dan Alexa untuk membicarakan pertunangan mereka. Nadya yang sedang bersantai di depan televisi bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Nadya mengobrak-abrik tempat tidurnya untuk mencari ponsel yang lupa ia letakan.
"Duh, tadi taro di mana sih? " gumamnya.
Drrrttt...
Terdengar ponselnya berdering. Nadya mencari sumber suara dan mendapati ponselnya di bawah tempat tidur. Ia pin membuka ponselnya dan mendapatkan tiga pesan dari Kai.
Lagi ngapain?
Sibuk?
Aku mau ketemu kamu. Sekarang!
Nadya tersenyum melihat isi pesan dari Kai. Ia tak habis pikir, sikap Kai sama sekali tidak berbeda entah di whatsapp ataupun bertemu langsung. Nadya hendak membalas pesan dari Kai ketika Aryo membuka pintu kamarnya.
"Nad, ada laki-laki yang cari kamu. " ujar Aryo.
"Siapa? " tanya Nadya.
Nadya bergegas menuju restoran tanpa menunggu jawaban Aryo. Rumah Nadya berada di belakang restoran sehingga jika ada tamu masuk kebanyakan dari mereka lebih memilih masuk ke dalam restoran alih-alih masuk ke dalam rumah. Nadya tampak terkejut ketika ia melihat Kai yang sedang berdiri menunggu Nadya. Bibirnya yang manis menyunggingkan senyuman ketika ia melihat Nadya menghampirinya.
"Kenapa ke sini? " tanya Nadya.
"Kenapa? Enggak boleh? " tanya Kai.
"Bukan begitu, aku kan cuma tanya. " ujar Nadya.
"Aku cuma mau ketemu kamu, sekalian aku belum pernah ketemu sama kakak kamu. " ujarnya.
"Mau ngapain? " tanya Nadya bingung.
"Ehem... " Aryo berdiri tak jauh dari mereka.
Nadya dan Kai pun menoleh ke arah Aryo. Aryo mempersilahkan Kai untuk duduk dan menyuguhi minuman yang telah ia siapkan. Kai tampak canggung. Ia lalu meminum minuman yang disediakan oleh Aryo. Aryo duduk di kursi depan Kai sedangkan Nadya berada di samping Kai. Nadya hampir tertawa melihat sikap Kai yang tegang dan kaku. Kai, pemilik hotel terbesar di kota Cirebon, tampak tegang dan canggung di depan Aryo yang hanya pemilik restoran kecil.
"Kamu yang namanya Kai? " tanya Aryo.
Kai mengangguk.
"Oh.. " ujar Aryo singkat.
Kai tampak semakin gugup dan tegang. Nadya menggenggam tangan Kai yang mulai dingin dan tersenyum padanya. Ia berusaha membuat Kai tenang tapi sepertinya tak berhasil. Kai masih tampak gugup.
"Nad, kakak lagi masak di dapur. Coba kamu lihat, udah matang apa belum. " ujar Aryo.
Nadya tahu kakaknya hanya berbasa-basi. Kakaknya pasti ingin berbicara empat mata pada Kai soal hubungannya dengan Nadya. Nadya pun melepaskan genggaman tangan Kai. Kai menoleh pada Nadya yang memintanya untuk tenang. Kai dan Aryo pun duduk berdua setelah Nadya meninggalkan mereka.
"Aku dengar kamu udah bertunangan? Kenapa kamu dekati Nadya? " tanya Aryo mengejutkan Kai.
"Aku sudah memutuskan pertunangan itu. " ujar Kai.
"Apa karena Nadya? " tanya Aryo
"Hmm... Salah satunya. Pertunangan ini memang berlandaskan bisnis jadi tidak ada pihak yang tersakiti. Aku pastikan itu. " ujar Kai.
"Oh, begitu. " ujar Aryo singkat.
Aryo terdiam sambil menatap Kai. Sikap Aryo membuat Kai semakin gugup dan canggung. Nadya yang mengintip mereka dari jauh tampak ikut gugup dan merasa kesal terhadap kakaknya.
Ayolah, Kak. Jangan bikin adikmu ini jadi perawan tua. Batinnya.
"Kayaknya kamu enggak begitu asing? Apa kita pernah ketemu sebelumnya? " tanya Aryo sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku rasa ini pertama kalinya. " ujar Kai sambil tersenyum canggung.
"Ada yang bilang kamu menderita penyakit aneh. Penyakit yang enggak bisa disentuh orang lain. Apa benar? " tanya Aryo
Dari mana kakak tahu? Ah, pasti si Sinta. Batin Nadya.
"Iya, tapi penyakit ini enggak menular dan bukan penyakit keturunan. Aku jamin itu. " jelas Kai.
"Apa aku juga enggak bisa sentuh kamu? " tanya Aryo.
"Oh, bisa. Aku cuma enggak bisa disentuh oleh perempuan. Itu buatku panik, gelisah, dan bahkan sampai pingsan. Tapi aku rajin dalam pengobatan dan berharap ini bisa segera sembuh. " ujar Kai.
"Kalau boleh tau, apa penyebabnya? " tanya Aryo.
Nadya cukup terkejut mendengar pertanyaan Aryo. Tapi ia tampak senang karena tidak harus bertanya langsung pada Kai. Nadya bersiap untuk mendengarkan jawaban Kai ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya Sinta melakukan panggilan suara padanya. Awalnya Nadya mengabaikannya tapi Sinta berulangkali menelepon dan akhirnya Nadya masuk ke dalam rumah dan mengangkat telepon dari Sinta.
"Aku pernah diculik oleh pengasuhku saat usiaku sekitar 10 atau 11 tahun. Awalnya aku pikir tidak akan apa-apa karena aku yakin dia enggak akan menyakiti aku. Tapi lama-lama sikapnya mulai berubah dan menakutkan. Terkadang ia memeluk dan menyayangiku tapi sewaktu-waktu sikapnya berubah kasar padaku. Aku dicambuk dan disiksa olehnya. Aku juga dikurung selama satu bulan. Maka dari itu, aku trauma berat. Aku enggak nyangka, orang yang aku percaya dan aku anggap seperti ibu aku sendiri, melakukan hal itu padaku. " cerita Kai.
Aryo termenung mendengar penjelasan dari Kai.
"Terus, gimana caranya kamu bisa lolos? " tanya Aryo serius.
"Aku enggak begitu inget. Samar-samar aku liat ada anak kecil selain aku di ruangan itu, lalu waktu aku bangun aku udah ada di rumah sakit. " ujar Kai.
Aryo bersandar pada kursi. Ditatapnya Aryo yang sepertinya memang tak mengingat kejadian masa lalunya. Setelah mengangkat telepon tidak penting dari Sinta, Nadya kembali untuk menguping. Tapi dia terlambat, Aryo dan Kai sudah tidak saling bicara lagi sehingga Nadya memutuskan untuk bergabung dengan mereka sambil membawa minuman sebagai alibi.
"Nih, aku bawain minuman. " ujar Nadya yang meletakkan tiga botol minuman dingin di atas meja.
"Ngapain kamu bawa minuman? Kakak kan udah kasih dia minum. " ujar Aryo.
"Kalian ngobrol soal apa tadi? " tanya Nadya pada Kai.
"Mau tahu aja. " sela Aryo.
Pintu restoran terbuka ketika Nadya yang terus-menerus bertanya pada Kai tentang pembicaraannya dengan Aryo. Mereka bertiga pun menoleh ke arah pintu. Nadya tampak terkejut ketika melihat Alexa masuk ke dalam restoran, begitu pula Alexa. Alexa dan Nadya saling lirik, tampak jelas di wajah Alexa rasa khawatir dan ketakutan.
"Alexa, kenapa kamu ke sini? Kamu ikutin aku ke sini? " tanya Kai.
"Kai, kamu kenal Alexa juga, ya? " tanya Aryo.
"Oh, iya. Dia itu mantan tunangan aku. " ujar Kai.
"Apa? Mantan tunangan? " ujar Aryo terkejut.
Aryo meminta Alexa untuk duduk di samping Ka. Nadya yang duduk di samping Aryo tampak tegang. Ia tidak pernah melihat wajah kakaknya yang tampak sangat serius seperti saat ini. Alexa melirik pada Nadya, berharap Nadya menjelaskan Aryo. Nadya pun mengangguk dan berusaha untuk berbicara pada kakaknya. Usahanya gagal, Aryo mengangkat tangannya ke arah Nadya sebagai tanda Nadya tidak boleh bicara apa pun padanya saat ini. Mata Aryo menatap tajam pada kedua orang yang duduk di hadapannya. Selama lima menit, Aryo tak mengatakan apapun. Ia hanya menghela nafas lalu menatap Alexa dan Kai, lalu menghela nafas kembali. Aryo tampak bingung sekaligus kesal dengan apa yang ia dengar.
"Jadi, kalian bertunangan? " tanya Aryo.
"Iya, tapi itu dulu. Sekarang kami udah memutuskan untuk pisah. Iya kan, Kai? " ujar Alexa sambil menyikut Kai.
"Iya, kami sudah memutuskan pertunangan. " ujar Kai tenang.
"Apa karena kami? " tanya Aryo sambil menunjuk pada Nadya dan dirinya.
"Bukan begitu. Aku dan Kai, kami berdua emang tidak saling cinta. Kami bertunangan karena bisnis. Iya kan, Kai? " ujar Alexa kembali menyikut Kai.
"Kamu itu kenapa sih? " gumam Kai kesal pada Alexa.
"Iya, Kak. Alexa udah jelasin semuanya ke aku, kok. " ujar Nadya.
"Kamu juga tahu soal ini? Dan kamu enggak kasih tahu Kakak? " ujar Aryo dengan nada tinggi.
"Kak, aku enggak ada maksud kok." jelas Nadya yang sedikit panik dengan amarah kakaknya.
"Aryo, aku cuma enggak mau kamu jauhin aku. Aku tahu kamu enggak suka kalau dekat dengan perempuan yang sudah bertunangan, jadi aku minta sama Nadya supaya enggak bilang apa-apa soal ini sama kamu. " jelas Alexa
"Jelas aku enggak aku. Aku enggak mau rebut tunangan orang lain. Kamu tahu itu. " ujar Aryo.
"Aku tahu. Tapi pertunangan aku sama Kai enggak lebih dari pertunangan rekayasa. Semuanya hanya bisnis. Enggak ada cinta sama sekali. " jelas Alexa.
Aryo hanya terdiam sambil menundukan wajahnya. Ia tampak kesal karena merasa dibohongi oleh Alexa.
"Aryo. " panggil Alexa sambil menyentuh pipi Aryo untuk menatap matanya.
"Kamu harus denger ini dari aku sendiri. Aku cinta kamu. " ujar Alexa.
Aryo hanya menatap Alexa tanpa mengucapkan apa-apa. Dengan tiba-tiba, Alexa mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Aryo. Nadya dan Kai yang berada di antara mereka hanya terdiam. Kai hanya tersenyum melihat sikap Alexa yang berani. Sedangkan Nadya, ia tersenyum dan tampak antusias seperti melihat adegan dalam drama korea yang sering ia tonton. Adegan ciuman itu pun berakhir. Wajah Aryo tampak memerah ketika ia sadar Nadya duduk di sampingnya. Aryo menarik tangan Alexa untuk keluar dari restoran meninggalkan Nadya dan Kai.
"Wah, Alexa. Dia dari dulu emang berani. " ujar Kai.
Nadya yang masih senyum-senyum melihat kepergian kakaknya dengan Alexa dikejutkan oleh cubitan pipi Kai.
"Aduh.. Aduh... Sakit tau! " teriak Nadya.
"Kamu ini kenapa? Senyum-senyum gitu. " ujar Kai.
"Enggak. Aku cuma seneng akhirnya Kakak bisa menemukan jodohnya. Udah lama dia jomblo sampai-sampai aku pikir dia itu gay karena enggak mau deket sama cewek. " ujar Nadya.
"Aku pikir kamu mau dicium kayak tadi. " goda Kai.
"Ih, apaan sih? " ujar Nadya tersipu.
Kai lega akhirnya bisa bertemu dengan Aryo untuk memproklamirkan hubungannya dengan Nadya. Ia menghabiskan waktu berdua dengan Nadya menonton film, berjalan-jalan, layaknya orang yang sedang kasmaran. Kai senang ia bisa melakukan apapun dengan Nadya, termasuk menggenggam tangan Nadya. Hari pun semakin senja, Kai dan Nadya memutuskan untuk pulang ke rumah. Kai mengantarkan Nadya pulang dan melihat mobil Alexa yang masih terparkir di depan restoran.
"Alexa masih di sini? " tanya Kai.
"Oh, iya. " ujar Nadya singkat.
Kai pamit pulang pada Nadya. Nadya pun masuk ke dalam restoran ketika melihat mobil Kai berlalu.
"Nadya! "
Langkah Nadya terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Nadya pun menoleh mencari sumber suara. Lalu ia melihat seorang gadis seumuran dengannya yang setengah berlari ke arahnya. Gadis itu tampak anggun dengan rambut pendeknya yang bergelombang. Wajahnya tersenyum pada Nadya.
"Hai, Nad. Kamu inget aku? " tanya gadis itu yang berdiri di depan Nadya.
"Kamu siapa? " tanya Nadya bingung
"Aku Mina, temen SD kamu. Ingat? " ujar Mina.
"Mina? " ulang Nadya sambil mengingat-ingat.
"Ah, aku ingat. Mina. Kamu bukannya pindah ke Jakarta? " tanya Nadya.
"Iya, aku balik ke sini untuk urus sesuatu. Dan ada masalah juga di sini. Jadi aku cari kamu ke sini. " ujarnya dengan wajah serius.
"Kalau kamu ada masalah, kenapa kamu cari aku? " tanya Nadya.
"Ini soal ibuku. Dia kabur dari rumah sakit jiwa. " ujar Mina.
Nadya tampak sangat terkejut. Ia ingat betul bagaimana wajah ibunya Mina terakhir kali bertemu dengannya. Nadya merasa ketakutan dan menarik Mina untuk masuk ke dalam rumah untuk membicarakan ini dengan kakaknya. Entah kenapa Nadya merasa hal buruk akan terjadi padanya, seperti kejadian 18 tahun yang lalu.