
Fian masuk ke dalam kamar Kai. Ia mendapati Kai tengah duduk seorang diri di atas tempat tidur sambil memegang ponselnua.
"Apa kau menghubungi Siska? " tanya Fian.
"Sudah. Tapi dia tidak menjawab. Mungkin sibuk. " ujar Kai.
"Aku rasa kau ada perubahan. Sebaiknya kau memberitahu kondisimu pada Siska. " jelas Fian.
"Oke. " ujar Kai, masih sibuk dengan ponselnya.
Fian hendak meninggalkan kamar ketika Kai memanggilnya.
"Bawa itu. " ujar Kai, tangannya menunjuk sebuah kantung belanja yang tergeletak di atas sofa begitu saja.
Fian menghampiri kantunh belanja itu lalu mengintipnya. Terdapat beberapa souvenir didalamnya.
"Ini untuk siapa? " tanya Fian.
"Ambil aja. " ujarnya tak acuh.
Kai berbaring di atas ranjangnya sambil menatapi ponselnya. Fian pun pergi meninggalkan Kai untuk beristirahat. Wajah Kai tersenyum tatkala menatap layar ponselnya yang terpajang foto Nadya.
***
"Sekarang kita mau ke mana? " tanya Nadya ketika bertemu dengan Kai di hotel.
"Terserah kamu, kan kamu tour guide -nya. " ujar Kai.
Kai yang sedang asyik memainkan ponselnya tampak tak acuh dengan keberadaan Nadya. Nadya membenci sikap Kai yang tampak dingin padanya. Tapi ia tak bisa mengalihkan pandangannya pada Kai. Kai yang memakai kemeja abu-abu yang dipadupadankan dengan celana bahan berwarna hitam tampak berbeda. Rambutnya yang hitam seakan mempertegas wajah Kai yang putih dengan hidung mancungnya. Entah apa yang membuatnya berbeda tapi hari ini Kai tampak sangat tampan. Nadya berkali-kali mengalihkan pandangannya dan meyakinkan dirinya agar tidak terpesona oleh ketampanan Kai. Ia selalu mengingatkan dirinya bahwa lelaki tampan yang di depannya sudah memiliki tunangan.
"Hei, kenapa melamun? " tanya Kai yang melihat Nadya hanya diam berdiri.
"Enggak apa-apa. Ayo kita pergi. " ucapnya mendadak sambil berlalu.
Nadya berjalan lebih dulu menghampiri mobil yang terparkir depan lobby hotel. Kai pun menyusul dan masuk ke dalam mobil. Nadya memberikan petunjuk pada supir untuk medatangi alamat yang ia berikan. Supir pun mengangguk dan menjalankan mobilnya. Mobil yang ditumpangi Nadya dan Kai disambut berderet kendaraan di jalan raya. Jalanan macet seperti biasanya padahal waktu masih menunjukkan pukul 10.00. Nadya bersyukur dirinya tidak terjebak macet di jalan apalagi di cuaca Cirebon yang cukup ekstrim, panas namun berangin. Sebenarnya ia lebih bersyukur Aryo tidak bertanya apa-apa meskipun ia melihat Nadya pergi meninggalkan rumah. Kakaknya terkadang seperti tidak peduli tapi sebenarnya Aryo sangat protektif pada adik satu-satunya itu.
Mobil berhenti di taman wisata bernama Taman Goa Sunyaragi. Nadya meminta Kai untuk menunggunya di mobil saat membeli tiket masuk.
"Aku udah dapet tiketnya. " ujar Nadya setelah kembali membeli tiket.
"Ayo masuk. " ujar Kai
"Eh, tunggu dulu. " Nadya memakaikan topi di kepala Kai.
Kai melepaskan topi berwarna putih itu dari kepalanya dan memperhatikannya.
"Jangan dilepas, cuacanya panas. " ujar Nadya yang mengambil topi dari tangan Kai dan memakaikannya kembali.
Kai menatap Nadya yang bersusah payah memakaikannya topi. Wajar saja, jarak tinggi badan mereka lumayan jauh. Nadya memiliki tinggi 147 cm dan Kai memiliki tinggi badan 175 cm. Kai tersenyum dan mulai berjongkok sedikit ke arah Nadya. Nadya tampak terkejut begitu wajahnya berpapasan dengan wajah Kai. Kai menatapnya tanpa berkedip. Nadya yang mulai gugup bergegas memakaikan topi di kepala Kai dan mundur beberapa langkah menghindari tatapan Kai.
"Ehem... Ayo kita masuk. " ujar Nadya grogi.
Kai mengikutinya dari belakang. Nadya berjalan tanpa berkata apa-apa. Hatinya masih berdegup kencang saat Kai menatapnya.
Ya, Tuhan. Jangan biarkan aku jatuh cinta pada tunangan orang. Batinnya.
Mereka pun masuk ke dalam Taman Goa Sunyaragi. Untungnya tak banyak orang yang berkunjung karena hari kerja. Berbeda dengan akhir pekan, taman wisata ini penuh sesak dengan wisatawan baik lokal maunpun luar kota. Taman yang dibangun oleh cicit Sunan Gunung Jati ini memiliki dua belas gua yang memiliki namanya sendiri-sendiri. Nadya beberapa kali pergi ke taman ini bersama Sinta dan mengetahui sedikit beberapa informasi sejarah tempat ini. Nadya pun menyampaikan informasi sejarah tempat ini pada Kai dan Kai mendengarkannya dengan seksama. Tak lama setelah mereka berkeliling, tiba-tiba kerumunan orang mulai berdatangan. Nadya dan Kai berusaha untuk menghindar dari keramaian tapi mereka malah terjebak. Nadya yang memiliki postur tubuh yang kecil tersenggol-senggol oleh beberapa wisatawan. Tubuhnya mulai tidak seimbang. Kai menarik tangan Nadya yang hampir terjatuh dan melindungi Nadya dengan tubuhnya. Keramaian mulai mereda beberapa menit kemudian. Nadya tersadar dirinya berada dalam dekapan Kai. Mereka berdua saling menatap tanpa berbicara. Keadaan canggung itu tak berlangsung lama ketika Kai melepaskan dekapannya dan Nadya pun mundur memberi jarak dari tubuh Kai. Nadya lalu merasakan tubuhnya membentur sesuatu. Ia pun menoleh ke arah benda yang membenturnya.
"Arghhh.... " teriaknya.
"Apa? Kenapa? Ada yang luka? " tanya Kai panik.
"Gimana ini? Aku enggak sengaja pegang patung itu. Ayo, cepet, kita harus ke gue kelanggengan. " ujar Nadya sambil menarik tangan Kai dengan berlari.
Kai yang bingung ikut berlari karena Nadya menarik tangannya. Begitu tiba di sebuah goa yang bertuliskan "Goa Kelanggengan", Nadya bergegas masuk ke dalam goa itu lalu menghela nafas lega.
"Ada apa sih? " tanya Kai.
"Aku tadi enggak sengaja pegang patung tadi. Patung itu namanya patung Perawan Sunti. Konon yang pegang patung itu bakalan susah dapet jodoh. " jelas Nadya.
"Heh.. Aku pikir kamu kenapa tadi. Kamu percaya dengan hal-hal begitu? " tanya Kai dingin.
"Emangnya kenapa? Kalau itu beneran terjadi gimana? Aku kan enggak mau jomblo seumur hidup. " ujar Nadya sambil merengut.
"Terus kenapa kita masuk ke goa ini? " tanya Kai.
"Aku enggak percaya kamu masih percaya dengan mitos-mitos seperti itu. Kamu ini kan wanita modern. " ujar Kai sinis.
"Kenapa emangnya? Aku ini enggak pernah becus kalau bekerja, ada aja sialnya. Setidaknya aku mau beruntung dalam hubungan, yaitu menikah dan jadi ibu rumah tangga yang baik. " ujarnya.
"Memangnya kamu mau menikah dalam waktu dekat? Kamu udah punya pacar? " tanya Kai.
"Sayangnya belum. Justru kamu yang udah mau nikah. " ujar Nadya pelan.
Nadya menunduk memandang kedua kakinya sambil merengut. Kai memperhatikan tingkah Nadya yang kekanak-kanakan. Kai berjalan keluar goa itu dan meninggalkan Nadya. Nadya pun bergegas mengikuti Kai dari belakang. Mereka keluar dari tempat wisata dan masuk ke dalam mobil. Karena waktu sudah menunjukkan waktu makan siang, Nadya pun mengajak Kai untuk mampir ke tempat makan sekitar. Nadya meminta supir untuk mengantarkan mereka ke alun-alun Kejaksan. Setibanya di sana, Nadya dan Kai berjalan tak jauh dari tempat parkir. Alun-alun itu cukup luas dan terdapat masjid besar bernama masjid At-taqwa. Di depan masijd itu berderet pedagang makanan. Nadya menghampiri salah satu pedagang yang menjual empal gentong. Nadya memesan satu mangkuk empal gentong dan satu empal asem.
"Apa ini? " tanya Kai ketika disuguhi semangkuk empal berkuah kental.
"Itu namanya empal gentong. Rasanya enak. Cobain deh. " bujuk Nadya.
Kai pun mencicipi makanan berkuah kental itu. Kai menyeruput kuahnya terlebih dahulu dan ia sangat menyukai rasanya. Kai pun memakan irisan daging sapi bersama kuah yang telah ditambahkan bubuk cabai kering sedikit. Nadya tersenyum melihat Kai yang menyantap makanannya dengan lahap. Nadya sendiri lebih menyukai empal asem yang memiliki rasa asam segar berasal dari belimbing wuluh. Kuahnya pun tampak berbeda dengan empal gendong yang memiliki tekstur kental, empal asem lebih bening. Mereka berdua sangat menikmati hidangan meskipun matahari begitu terik. Setelah selesai menyantap hidangan, Nadya dan Kai memutuskan untuk beristirahat sebentar dan duduk di teras masjid.
"Kai, boleh aku tanya sesuatu? " tanya Nadya.
"Apa? " ujar Kai.
"Hotel itu beneran milik kamu, bukan milik orang tua kamu? " tanya Nadya.
"Iya, itu punya aku. Aku mengumpulkan modal dari beberapa saham di jakarta dan membangun hotel di kota ini. Kota ini mulai berkembang menjadi kota bisnis jadi aku berpikir membangun hotel adalah pilihan yang tepat. Dan aku benar soal itu. " ujar Kai.
"Wah, kamu hebat. Aku dengar dari Sinta kalau kamu itu cerdas dan berbakat di dunia bisnis. Hidupmu bener-bener sempurna. " puji Nadya.
Kai tersenyum.
"Hidupku tidak sesempurna yang kamu lihat, Nad. " ujar Kai.
"Kenapa enggak? Kamu kaya raya, punya hotel besar, punya kendaraan mewah. Wah, beruntungnya pasangan kamu nanti. " ujar Nadya.
"Apa kebahagiaan cuma dilihat dari harta? " tanya Kai.
"Enggak juga sih, tapi kehidupan kamu itu paket komplit. Lagian, kamu juga kan udah punya tunangan. Dia yang akan bahagiakan kamu nanti. " ujar Nadya sambil tersenyum.
Kai hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya. Nadya merasa Kai tersinggung dengan ucapannya atau mungkin Kai berpikir bahwa dirinya hanya menyukai kemewahan. Meskipun Nadya memang ingin menjadi kaya raya, tapi Nadya tidak ada rencana untuk mendapatkan Kai yang sudah memiliki tunangan. Tanpa itu pun Nadya juga tidak berharap Kai akan menyukainya karena status sosial mereka yang sangat jauh.
Tanpa terasa langit mulai senja. Nadya berencana membawa Kai pergi ke suatu tempat. Kai pun menyetujuinya dan berjalan menuju mobil. Tiba-tiba seorang wanita dengan baju compang-camping menghampiri mereka. Wanita itu sepertinya orang gila yang berkeliaran sehingga Nadya begutu terkejut ketika ia menghampiri mereka. Wanita gila itu terlihat memohon-mohon dan berbicara tidak karuan sambil menarik-narik tangan Kai. Kai hanya terdiam sambil menatap wanita gila itu. Nadya yang menyaksikan kejadian itu panik dan meminta tolong pada satpam yang tak jauh dari mereka. Wanita gila itu terus menarik-narik tangan Kai yang mulai berkeringat dingin. Tangannya mulai gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca dan alur nafasnya semakin cepat. Nadya bingung sekaligus panik melihat keadaan Kai. Nadya pun akhirnya menangkis tangan wanita gila itu dan menyuruhnya untuk pergi.
"Dia udah pergi. Kai, kamu enggak apa-apa? " tanya Nadya.
Kai masih berdiri terdiam sambil menatap tangannya. Tubuhnya terjatuh dan nafasnya mulai terasa sesak seakan tercekik.
"Kai.. Kai.. TOLONG! TOLONG! " teriak Nadya panik.
Nafas Kai semakin terasa sesak. Tangannya berusaha merogoh saku celananya. Nadya yang melihat bergegas merogoh saku celana Kai dan mendapati sebuah botol obat. Tanpa berpikir panjang, Nadya membuka botol obat itu dan menumpahkan beberapa butir pil obat ditangannya. Ia menyodorkan tangannya ke arah Kai agar Kai dengan mudah mengambilnya. Kai mengambil dua butir pil dan langsung menelannya. Beberapa orang yang lewat membantu Nadya untuk membawa Kai ke dalam mobil. Obat itu ternyata bereaksi dengan cepat, Kai pun dapat bernafas lega meskipun tubuhnya tampak lemah. Dengan cepat, supir mengantar mereka kembali ke hotel.
"Fian, apa Kai baik-baik saja? " tanya Nadya ketika Fian selesai merebahkan Kai di tempat tidur.
"Apa yang terjadi? " tanya Fian.
Nadya menjelaskan kejadian itu dan Fian bergegas mengambil ponselnya. Nadya berkali-kali bertanya tentang kondisi Kai namun Fian tampak sibuk menelepon seseorang. Nadya menatap Kai yang tengah tertidur dengan nafas yang terengah-engah. Tubuhnya tampak lemah dan wajahnya memucat. Nadya sangat khawatir tentang kondisi Kai saat ini namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Nadya hanya duduk di sofa sambil menatap Kai yang tengah tertidur. Fian masuk dan menghampiri Nadya setelah selesai menelepon.
"Nad, sebaiknya kamu pulang. Besok kamu bisa ke sini lagi. Aku sudah menelepon Siska untuk datang ke sini secepat dia bisa. Dia bilang kemungkinan bisa datang besok pagi. " jelas Fian.
"Siapa Siska? Tunangannya? " tanya Nadya.
"Bukan. Siska itu dokter pribadi yang menangani Kai. " ujar Fian.
"Kai sakit apa? Apa dia punya asma atau semacamnya? " tanyanya khawatir.
Fian menggeleng.
"Sepertinya Kai belum cerita padamu soal penyakitnya. Dia terkena sindrom yang bernama Haphephobia. " terang Fian.
"Haphe apa? " tanya Nadya.
"Haphephobia. Kamu bisa cari sendiri. Sekarang sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Besok kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau. " ujar Fian.
Nadya pun mengangguk. Ia berjalan menuju pintu keluar sambil mengingat-ingat nama penyakit yang diderita Kai. Nadya menoleh ke arah Kai sebelum ia pergi meninggalkan Kai. Hatinya terasa pedih melihat Kai tampak kesakitan tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tak terasa air matanya mengalir dan dengan cepat ia mengusapnya ketika ia berjalan keluar dari kamar hotel.