
Orang-orang langsung berkerubunan mengerubungi Clarisa, Claria sendiri yang tidak apa-apa langsung duduk, namun ia merasa kakinya sedikit nyeri dibagian dengkulnya, saat ia melihat ternyata dungkulnya sudah berdarah luka terkena apal jalanan.
Clarisa hanya bisa menarik nafanya dengan pelan, bukannya mendapat tumpangan dari Zayn, yang ada dia apes sampai kecelakaan begini.
"adek tidak apa-apa?" tanya seorang ibu yang berada disana membantu Clarisa berdiri.
Clarisa tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya ibu yang sudah membantunya berdiri, "Terima kasih bu sudah mau menolong saya, tapi saya tidak apa-apa" jawab Clarisa.
"Tapi lutut kamu berdarah nak, ayo ibu obati dulu, kebetulan rumah ibu dekat dari sini" ucap Ibu tersebut.
"Saya tidak ap"
"Cla Loe gak apa-apakan?" tanya Zayn yang membuat ucapan Clarisa terhenti.
"Zayn" panggil Cla dengan wajah bodohnya.
"Loe gak apa-apakan? apa yang sakit, oe ceroboh sekali sih, kalau loe sampai kenapa-napa aku bisa di marahi papa Cla" ucap Zayn.
Senyuman Clarisa yang tadi cerah seketika langsung redup saat mendengar ucapan Zayn.
"Ternayata dia hanya takut dimarahi oleh papanya saja, kukira dia beneran khawatir padaku" batin Clarisa.
"Gue gak apa-apa! mendingan sekarang loe kambli ke mobil loe, takutnya loe telat kesekolah" ucap Clarisa yang langsung tersenyum pada ibu-ibu yang suda menolongnya dan mengucapkan terimakasih, setelah itu Clarisa langsung berjalan sedikit tertatih karena rasa perih di dungkulnya.
"Cla loe mau kemana? buruan naik mobil, kaki loe biar segera di obati" teriak Zayn mengejar Clarisa.
"Loe pergi sendiri aja, gue mau nungu ojek" jawab Clarisa dengan kesal.
Zayn yang sudah merasa habis kesabarannya langsung menarik menggendong Clarisa dengan paksa dan membuat Clarisa terkejut dan berteriak seketika.
"Aaaaakk:, Zayn loe apa-apaan sih? turunin Gue" teriak Clarisa.
Begitu sampai di mobil, Zayn dengan telaten memasangkan sabuk pengaman Clarisa, dengan jarak speerti itu Clarisa menahan nafas sesaat, apa lagi mencium aroma parfum Zayn yang begitu lembut di penciuman Clarisa.
Sesaat mata mereka saling bersitatap, namun dengan cepat Clarisa langsung mengalihkannya dan Clarisa merasa pipinya sdikit panas, sama halnya dengan Zayn, yang ternyata jantungnya sudah berdetak begitu cepat saat wajahnya dan wajah Clarisa begitu dekat.
Mobil Zayn terparkir di tempat khusus parkir, Clarisa begitu malu untuk turun, ia takut dilihat anak-anak sekolah yang lain kalau dirinya satu mobil dengan ketua osis tampan di sekolah mereka.
"Loe gak turun?" tanya Zayn.
"Gue takut di serbu sama penggemar loe, Loe gak lihat begitu banya fans-fans loe di sana" tunjuk Clarisa.
"Emang apa hubungannya dengan loe kalau turun dari mobil gue?" tanya Zayn.
"Ck, Loe gak tahu kalau mulut mereka itu pedas banget, ibarat netizen mulutnya pedas mirip bon cabe" jawab Clarisa yang diam-diam membuat Zayn tersenyum kecil namun tanpa dilihat oleh Clarisa.
"Jadi loe mau sampai kapan disini? sampai magrib?" tanya Zyan yang mebuat Clarisa menatapnya tak suka.
"Sampai bel masuklah Zayn, kan gak bakalan ada murid yang berkeliaran" jawab Clarisa kesal,
"Tapi luka loe harus diobati Cla" ucap Zayn.
Belum sempat Clarisa menjawab, terdengar ketukan kaca mobil Zayn dari luar.
Tok
Tok
Tok