
Pagi hari di kediaman Clarisa begitu ramai karena kedua orang tua Zayn masih berada di rumahnya, begitu juga para kerabat dan sepupu dari keluarga Clarisa.
Mereka semua sedang menyantap serapan pagi, tapi tidak dengan pengantin baru, karena mereka belum turun untuk bergabung. Namun tiba-tiba sorakan langsung terdengar dari para sepupu Clarisa saat melihat Clarisa dan Zayn turun bersama untuk serapan pagi.
" Waaah pengantin kecil uda segar aja tuh?" ledek sepupu Clarisa dengan tawa.
Wajah Clarisa langsung memerah saat di bilang seperti itu, berbeda dengan Zayn yang tidak ada perubahan sama sekali.
"Ayo sayang serapan bareng,kenapa kalian lama sekali turunnya?" ucap mama Zayn .
"Ya ampun Tan, kenapa harus di tanya lagi sih, jelas mereka kesianganlah, kan tadi malam begadang, iya gak Cla" kembali ledekan meyerbu pasangan pengantin baru.
"Hussss, sudah-sudah sebaiknya kalian lanjutkan serapannya, takutnya kalian nanti ketinggalan pesawat" tegur Ayah Clarisa.
Clarisa langsung mengambil piring dan mengambilkan Zayn serapan. Clarisa dengan telaten mengambilkan serapan untuk suaminya. dan hal itudi sambut senang oleh kedua orang tua mereka.
Namun dari salah satu sepupu Clarisa,merasa tidak suka dengan kebahagian yang Clarisa dapat. Ia memandang Clarisa dan Zayn secara bergantian, entah kenapa dia begitu terpesona dengan ketampanan suami dari sepupunya itu, hingga ia juga ingin merasa memliki raga Zayn.
Sadar di perhatikan, Zayn langsung menarik Clarisa untuk segera duduk di sampingnya dan memeluk pinggang Clarisa dengan erat.
"Apaan sih? main peluk-peluk aja?" berontak Clarisa tidak terima.
"Jangan galak gitu dong, aku mau serapan sepiring berdua dengan kamu, boleh ya?" pinta Zayn dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
Deg
Clarisa mendadak terkena serangan jantung saat melihat senyum manis Zayn, dia malah bengong menatap Zayn yang berada tepat di hadapannya.
"Kamu yang suapin aku ya" kembali Zayn bersuara dan mengagetkan Clarisa.
"Loe kan punya tangan sendiri, kayak anak kecil aja Loe" sahut Clarisa yang tidak mengerti maksud dari Zayn.
karena di tolak, Zayn pun langsung beranjak dari kursi dan naik ke atas menuju kamarnya.
"Ya ngambek" ucap Clarisa.
"Kamu sih, tinggal sulang aja sok jual mahal. yauda sana susul suami kamu, sekalian bawa serapan buat kalian" ucap sang Bunda.
Clarisa menatap ke atas sesaat, melihat Zayn yang bertingkah seperti anak kecil, mendadak telinga dan kepala Clarisa langsung terasa panas. mungkin kalau ada yang bisa melihat dengan kasat mata, sudah keluar asap tebal dari setiap lubang yang ada di kepala Clarisa.
Dengan malas Clarisa mengambil serapan serta teh dan buah untuk di bawa ke kemarnya, sebelum melangkah lagi-lagi Clarisa dibuat malu dengan ucapan para sepupunya.
"Cieee makan satu piring satu sendok, siap itu gak pekek sendok itu" canda mereka dengan tawa meledek Clarisa.
" Apaan sih?" ucap Clarisa langsung naik membawa serapan kedalam kamarnya.
Saat berjalan menuju kamarnya pun, Clarisa masih mendengar kalau para sepupunya masih saja meledek dirinya, sedangkan para orang ta hanya bisa menggelengkan kepalanya karena lucu melihat anak-anaknya di buat malu.
Ceklek
Melihat Zayn yang duduk santai di sofa sambil memainkan hpnya,Clarisa kembali kesal melhat Zayn yang menurutnya menyusahkan saja.
"Bantuin dong, loe gak lihat tangan gue cuma dua, susah ini," ucap Clarisa yang langsung mmebuat Zayn beranjak dari sofanya.
Namun bukannya menolong Clarisa untuk mengambil nampan yang ada di tangan Clarisa, Zayn malah lebih memilih untuk menutup pintu saja dari pada membantu Clarisa.
Clarisa yang tidak di tolong pun langsung melanjutkan langkahnya membawa serapan dimana sofa berada.
"Gak nyangka gue, ketos galak wajah datar kayak tembok plus dinginnya kayak es batangan bisa juga kayak anak kecil minta di sulangi segala" sindir Clarisa setelah meletakkan serapan di atas meja.
"Berisik loe, gue uda lapar tau gak, tapi gue gak nyaman sama tatapan sepupu loe yang di bawah udah kayak mau makan gue aja, loe pasti gak nyadar kan" sahut Zayn sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Hahk siapa? perasaan mereka dari tadi ngoceh mulu ledekin kita" tanya Clarisa yang belum menyentuh nasi goreng di piring yang sama dengan Zayn.
"Yang pakai baju biru, dia liatin gue serem banget, makanya tadi gue bertingkah seperti tadi, loe kira gue beneran manja seperti yang loe pikir? itu bukan gue banget" jawab Zayn.
Clarisa tidak menyahut ucapan Zayn lagi, tapi dia malah berfikir dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Zayn. entah kenapa ada rasa gak nyaman saat mendengar penuturan dari mulut Zayn barusan.
Setau aku yang pakek baju biru tadi cuma Riana, tapi apa mungkin Riana suka sama Zayn? memang sih setiap apa yang aku punya dia selalu ingin memilikinya juga, tapi gak mungkinkan dia juga mau ambil suami Gu? gak..gak..ini gak bisa di diami, kalau barang gak masalah gue ngalah, kalau suami gak boleh, Zayn suami gue, dan Zayn cuma milik Gue.ย batin Clarisa sambil geleng-geleng kepala, dan itu di lihat oleh Zayn.
"Kenapa Loe? Ayan loe kambuh?" tanya Zayn yang masih dengan lahapnya makan nasi goreng.
"Sembarangan loe" bantah Clarisa yang ingin makan serapannya juga, namun matanya melotot saat melihat nasi goreng yang ada di atas piring sudah tandas di habiskan oleh Zayn.
"Zayn kok di habiskan, gue belum makan" teriak Clarisa yang sukses membuat sendok yang ada di tangan Zayn terjatuh kelantai.
"Cla suara loe kenceng banget sih? kuping gue sampek pengang dengarnya?" ucap Zayn sambil mengusap-usap telinganya.
"Loe sih serakah banget,ini itu jatah kita berdua tau" kesal Clarisa.
"Ya mana gue tau, loe gak bilang" sahut Zayn tanpa dosa dan langsung ingin meminum susu yang ada di atas meja.
Plak
"Ini jatah aku" ucap Clarisa kemudian langsung meminum susu yang tadi dibawanya.
"Terus jatah aku mana?" tanya Zayn yang langsung mengalihkan matanya tepat di dada Clarisa.
Merasa di lihatin, Clarisa dengan spontan langsung menutup dadanya dengan satu tangannya.
"KETOOOOS MESUUUUM" teriak Clarisa dengan sekuat-kuatnya.
Praaaaaaang
Bersambung.