
~Chapter sebelumnya
FLAMING FIST !
Brrr (sfx: kobaran api)
Dari kehampaan, kobaran api muncul menyelimuti tangan pria mata satu!
"Rasakan ini!"
Bamm! (Sfx: suara tinju)
~
Kobaran api menerjang tempat Fred berdiri!
Dan ketika kobaran api mereda..
..bukan mayat Fred yang ada di sana.
Melainkan sepasang sepatu yang telah leleh.
Bagaimana dengan Fred?
Tanpa sepatunya, Fred berhasil menghindari dampak kobaran api si mata satu.
Jika ia masih bersikeras membawa sepatunya dalam penghindaran.. sudah dipastikan bahwa kedua kakinyalah yang akan meleleh.
Disamping itu, suara pukulan api, FLAMING FIST, cukup keras.
Beberapa orang yang penasaran mulai membentuk kerumunan.
Tontonan seperti ini bukan hal baru di negeri yang bergaya abad pertengahan.
Meski begitu, seiring meningkatnya kualitas keamanan di kota, pertarungan antar manusia semakin sedikit.
Apalagi setelah kedatangan Rod, pendekar nomor satu di Kota Jordan...
Serangan demi serangan di luncurkan oleh si mata satu.
Terkadang, kobaran api di tangannya sedikit menggosongkan pakaian yang dikenakan Fred.
'Kalau ini terus berlanjut, mungkin tidak hanya sepatuku saja yang akan jadi korban, jubah baruku ini mungkin tidak akan menyisakan abu. Baiklah, latihan bela diriku tidak akan sia-sia' Pikir Fred.
Kemudian..
"Hei mata satu! Bisakah kita berhenti di sini? Aku tidak ingin kehilangan pakaianku lagi" cakap Fred sedikit bersikap sombong.
"Apakah kamu takut?! Ayo kita selesaikan secara jantan hingga salah satu dari kita tidak bisa bertarung lagi!" Si mata satu semakin bersemangat.
"Hah... baiklah, kalau begitu izinkan aku melepas jubahku.." pinta Fred.
Kemudian, jubah yang telah dilepasnya, dilemparkan ke arah si mata satu.
Sejenak, mata satu kehilangan targetnya karena terhalang jubah itu.
Ia hendak maju, namun setelah di perhatikan..
Jubah yang akan jatuh ketanah akibat gaya gravitasi, membentuk sebuah kepalan tangan!
Bukk! (Sfx: suara tinju)
Kepalan yang terbentuk di jubah itu berasal dari tinju Fred!
Jadi, segera setelah pandangan mata satu terhalang, ia berlari ke depan secepat mungkin dan langsung melakukan tinju melalui jubah tepat ke arah muka mata satu.
Menerima serangan tinju ini, mata satu sedikit linglung, ia tersungkur ke tanah, bertumpu pada lututnya.
Kemudian serangan kedua datang dari siku Fred ke arah kepala Mata Satu!
Bukk! (sfx: suara pukulan)
Ternyaya, serangan beruntun ini belum cukup membuat Mata Satu menyerah.
Ia hendak berdiri, namun..
Buaak! (sfx: suara tendangan)
Sebuah tendangan menghantam tepat di pelipisnya.
Dan.. pertarungan berakhir dengan kemanangan Fred!
Semua orang di sekitar bersorak!
"Hebat! Dia bisa mengalahkan Brook si mata satu, bahkan tanpa senjata dan sihir apapun!" Kata salah seorang penonton.
"Iya benar, tapi.. aku belum pernah melihatnya, apakah ia pendekar dari kota lain?" Kata pria disebelahnya.
"Hmm.. sepertinya bukan, tapi aku juga tidak tahu, topeng macan yang menutup matanya membuat dia susah di identifikasi." Jawab pria lain.
"Dari gaya bajunya, tidak mungkin ia berasal dari keluarga bangsawan ataupun keluarga tentara. Dia pasti datang dari desa, namun aku sudah menemukan julukan yang bagus untuknya. Semuanya, Ikuti aku! TIGER MASK! TIGER MASK! TIGER MASK!" Seruan salah seorang penonton di ikuti oleh penonton lainnya.
Seruan "TIGER MASK" bergema di area itu, lalu...
Gubrak! (Sfx: Suara pintu dibuka kasar)
Suaranya sekeras auman singa, namun pelafalannya sejelas lolongan serigala!
Kerumunan yang ramai berhenti berteriak dan banyak orang menutup telinga mereka, begitu pula Fred.
"Siapa yang berani ribut-ribut di depan Serikat Petualang?! Aku akan mematahkan lehernya!" Wanita ini penuh emosi ketika mengancam.
Ia memang terdengar galak, namun kecantikannya tidak bisa membohongi orang di sekitar.
Parasnya tidak istimewa, namun tubuhnya yang elegan, yang menandakan kedewasaan seorang wanita, membentuk tiap inchi dirinya.
Bahkan baju yang di kenaknnya tidak berhasil menyembunyikan-'nya'.
Beberapa saat kemudian, Brook, si mata satu terbangun.
Meski masih sakit, ia bangun perlahan sambil memegangi kepaalanya.
"A-aduh, sakitnya.. eh? Bahaya! Harimau betina sedang marah!" Meski tampangnya sangar, Brook ternyata takut pada wanita yang berada di depan pintu Serikat Petualang.
"Hah? Jadi kamu Brook yang membuat masalah! Tidak bisakah sehari saja kamu tidak mengangguku!? Hah?" Wanita yang marah tadi mendekati Brook.
"B-bukan aku, d-dia yang memukulku dulu, Evelyn! Aku dibuat pingsan oleh pukulannya, b-bukan salahku!" Brook menunjuk pada Fred.
"Hah?!" Evelyn yang emosinya memuncak terheran-heran pada lelaki yang ditunjuk Brook.
Di dalam benaknya, Evelyn berfikir, *'Apakah Brook benar-benar dikalahkan oleh dia? Sangat jarang Brook dikalahkan oleh pendekar atau petualang lain, bahkan tak ada yang pernah membuatnya pingsan! Serikat Petualang Jordan akan mendapatkan Jackpot jika bisa merekrutnya.'*
"Ehem.. laki-laki harus berani menghadapi konsekuensi atas tindakannya. Jadi silahkan menghadap kepala serikat untuk mendapatkan hukumanmu" Evelyn mengurangi sifat 'barbar'nya dan berusaha bertindak anggun.
Dan bagi Fred yang baru saja menonton kejadian itu..
'Apakah kesetaraan gender di dunia ini sudah terbalik? Bagaimana bisa salam sehari aku melihat fenomena seperti ini? Laki-laki takut pada wanita? Lelucon bodoh!' Cibir Fred dalam benaknya.
"Jadi kamu yang barusan bertarung?" Tanya Evelyn setelah menghampiri Fred.
"Iya, lalu kenapa? Lagipula bukan salahku juga ini terjadi. Percaya atau tidak, dia dululah yang menyerangku. Kepentinganku disini bukan untuk mencari masalah" ungkap Fred sedikit tidak senang karena disalahkan.
'Yah tentu saja ini bukan salahku, pasti ini ulah dewi kesialan lagi! Mengapa aku harus mendapat kesialan lain! Sepatuku...' sesal Fred dalam hati.
Evelyn terkejut mendengar jawaban sopan namun tegas dari Fred.
"Bukan seperti itu maksudku, hanya saja.. beberapa orang yang pernah menghadapi Brook tidak berakhir dengan baik. Sedangkan kamu.. tidak ada luka di tubuhmu dan hanya kehilangan sebuah sepatu. Jelas Evelyn.
"Yah.. aku hanya beruntung (beruntung ndasmu!) bisa menghadapinya. Dan.. boleh kan aku menuntut kompensasi atas rusaknya sepatuku?" Tanya Fred tak ingin rugi.
"Tentu saja, Anda akan mendapat kompensasi atas sepatu Anda, bahkan Anda juga akan mendapat sedikit biasa tambahan, dam semua itu akan diambil dari deposit penyelesaian misi yang dilakulan Brook." Jawab Evelyn secara jelas.
"Hei! A-apa? Aku juga korban disini, bukannya kita impas?" Brook menginterupsi.
"Tidak ada sanggahan, ucapanku mewakili kepala serikat dan serikat ini. Ini juga agar kamu jera dengan kebodohanmu.." jawab Evelyn.
'Sekarang bagaimana cara merekrut lelaki perkasa ini? Hmm.. aku ada ide!' pribadi liciknya keluar.
"Ehem.. maaf sebelumnya, aku memang menawarimu kompensasi tapi.. kamu perlu membuat 'akun petualang' dahulu sebelum bisa menerima deposit jadi, maukah kamu bergabung menjadi anggota Serikat Petualang Jordan.." tawar Evelyn berusaha berbicara formal.
"Apakah ada syarat khusus untuk menjadi seorang anggota petualang? Kebetulan kepentinganku tampaknya akan berkaintan dengan serikat petualang ini" tanya Fred.
"Tidak banyak, kamu hanya perlu membayar 10 tembaga untuk mendaftar tapi itu akan di bebankan pada aku Brook, dan kemudian kamu akan melaksanakan pemeriksaan identitas dan kemampuan untuk mengetahui sejauh mana kamu bisa mengambil misi. Tergantung dari kemampuan dan pengalaman, kamu bisa mendapat misi khusus. Emm.. sebaiknya kita berbicara lebih lanjut di dalam" Evelyn sangat senang ketika ia berbicara hingga lupa masih berada di luar.
"Mari kita tunda perkenalan ini, aku ingin langsung mendaftar saja. Kemudian ada yang ingin aku bicarakan kepadamu mungkin sebagai perwakilan serikat petualan disini" Fred tampak tergesa-gesa.
"Baiklah.. silahkan masuk"
Setelah melalui proses identifikasi, akhirnya Fred memiliki sebuah identis resmi sebagai warga Kota Jordan.
Dengan ke-'anonym'-anya selama ini, ia akan di cap sebagai penjahat.
Untungnya serikat petualang sudah berpengalaman menghadapi orang-orang layaknya Fred yang mirip halnya seorang imigran gelap.
Apalagi ketika ia memiliki koneksi dengan Evelyn yang ternyata adalah Wakil Kepala Serikat Petualang Jordan.
Semuanya lebih mudah.
Dan sekarang..
"Baiklah.. Fred! Apa hal penting yang ingin kamu bicarakan?" Sikap Evelyn berubah serius ketika ia dan Fred memasuki ruangan yang digunakan untuk menyambut tamu.
'Hah.. semoga saja ini berhasil!' Fred berdoa dalam hati.
"Apakah aku bisa mengajukan misi?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semuanya yang sudah mendukung, aku ucapkan..
TERIMA KASIH !
Aku tidak menyangka bisa menaikan popularitas hingga sebanyak ini:')
TERIMA KASIH LAGI!
8 Maret 2020