
~Chapter sebelumnya..
Kreeet (sfx: membuka pintu)
"Baiklah.. tenangkan diri, bersikap senormal mungkin" Julie mencoba menenangkan diri sendiri.
Tak lama, ia akhirnya kurang beberapa langkah lagi menuju ruang tamu, kemudian menuju pintu, dan akhirnya bebas...
Namun-
"Hei! Tunggu!"
~
'OMG! Bagaimana ini! Apakah aku ketahuan?' Teriak Julie dalam hati.
'Baiklah, aku harus tetap tenang.. ha huff ha huff...' perlahan, Julie mulai kembali tenang.
"Iya? Maaf? Ada apa?"
"Eh?" Seseorang yang memanggil Julie balik terkejut setelah melihat kecantikan Julie.
'Apakah ada pembantu secantik dirinya?... ah sudahlah, daripada aku di tendang keluar dari sini, lebih baik aku memikirkan pekerjaanku saja' hampir saja Julie tertangkap basah oleh mata waspada wanita yang tampaknya pelayan di istana ini.
"Kamu, cepat antar selimut-selimut itu ke kamar eksklusif di lantai 2, ada tamu penting yang akan menginap hari ini" perintah sang pelayan yang memanggil Julie.
'Dari kesannya yang suka merintah-merintah, tampaknya wanita ini adalah kepala pelayan.. bisa bahaya kalau aku sampai ketahuan. Emmm... bagaimana seharusnya kebiasaan orang-orang disini? Oh ya aku tahu!' pikir Julie.
"Baik, dengan segala hormat, terima kasih. Saya akan melakukannya segera, terima kasih atas himbauannya" jawab Julie formal lalu merendahkan punggungnya sedikit.
'E.. eh? Apakah pelayan ini adalah seorang bangsawan yang sedang menyamar? Mustahil! Aku pasti akan kehilangan pekerjaan kalau begini! Aku harus menarik perintahku' pikir si kepala pelayan.
"Maaf sebelumnya, setelah saya pikir-pikir, sepertinya Sonia sudah membereskannya, jadi kam- maksud saya Anda tidak perlu lagi melakukannya, silahkan lakukan sesuai keinginanmu. Saya mohon undur diri!" Kepala pelayan itu merendahkan punggung hingga membentuk sudut 90°.
Kemudian, bagaikan memiliki banyak kaki, kepala pelayan itu pergi secepat kilat.
Awalnya Julie tampak bingung, namun setelah dipikir-pikir..
"Opps, kesalahanku.. itu adalah gaya seorang putri, pasti dia salah mengiraku sebagai seorang putri atau bangsawan. Hehe, tidak apalah.. yang penting aku bisa lolos."
Perjalanan pergi dari istana itu pun berlanjut...
***
Di lain sisi..
"A.. aduh. Kenapa kepala dan leherku sakit sekali?" Di kegelapan, di ruangan yang tampak mengerikan dan menjijikan ini, ada sebuah tubuh yang jelas bukan mayat ataupun hantu.
Itu adalah Fred.
Setelah ia berhasil tidur dengan jurus pamungkas "Sleepy Queen" kemudian sampailah dia di dunia SLUMBERLAND.
Namun, keadaannya saat ini terlihat kurang baik.
Kain yang menutup tubuhnya hanya menyembunyikan bagian pentingnya saja.
Terlebih.. kedua tangan dan kakinya di rantai kuat.
Dia tampak seperti tahanan kelas kakap di zaman Eropa abad pertengahan.
"Di mana ini? Baunya sangat mengerikan! Bahkan tahu basi yang pernah aku makan waktu itu masih lebih baik.."
Tiba-tiba sebuah suara menjawabnya.
"Hahaha, kamu sudah bangun?! Dasar kau tukang tidur! Bahkan setelah aku menyiksamu dengan berbagai cara, kamu masih belum bangun juga? Tapi sekarang, entah apa yang terjadi.. kamu tiba-tiba terbangun? Bwahahahaha.. kamu memang sesuatu yang unik, bwahahahaha.. aku harus meneliti-" suara itu serak dan sepertinya dimiliki oleh seorang pria yang terlampau tua.
Namun dia dihentikan oleh suara lain.
Dari suaranya, tampaknya orang lain ini adalah wanita muda yang lucu dan menggemaskan.
"Kakek! kamu menakutiku lagi, berhenti tertawa seperti itu. Juga, karena dia sekarang sudah bangun, cepat lepaskan dia, kamu sudah berjanji!" Perintah seorang gadis mungil yang datang entah dari mana.
Tanpa kenal takut, ia berani memerintah seseorang yang bahkan tak berperikemanusian?
Mungkinkah bocah ini sudah bosan hidup?
Namun, kenyataan berkata lain..
"E, eh?! I, iya, maafkan kakek, kakek akan menepati janji... Hei pria aneh! Jangan senang dulu kau, ini semua berkat cucuku yang manis kamu bisa selamat. Lain kali-"
"Kakek, cepat!"
"I, iya cucuku yang manis, kakek akan segera melepaskannya.."
Pria tua tak berperikemanusiaan itu tak bisa berkutik di depan gadis cilik?
Mungkinkah dunia ini memiliki moral terbalik?
Kring (sfx: suara rantai)
"Haaa, akhirnya aku bisa menggerakkan tubuhku lagi.. aduh, tapi tetap saja, tubuhku sakit sekali.." akhirnya Fred bisa lega setelah semua rantai yang mengikatnya di lepas.
"Kakek! Sembuhkan dia, dia tampak kesakitan" pinta si gadis mungil.
"E, eh?"
"Kenapa? Kakek tidak bisa ya?" Seperti seekor rubah yang bermuka dua, gadis itu merubah ekspresinya menjadi murung.
"Bu, bukan begitu.. kakek bisa kok, kakekmu ini adalah 'Super Great Magician', mantra penyembuhan adalah hal sepele. Dan kamu pria busuk, awas ya kamu! Aku akan membalasmu! Huft... CURE!" Meski agak enggan, pria tua itu tetap saja memantrai Fred.
"E, Eh? Tubuhku serasa bugar! Aku seperti baru saja mandi di mata air pegunungan, rasanya enak dan menyejukkan. Hah.. sihir sangat serbaguna ternyata.."
Mantra yang dilantunkan pria tua menyembuhkan seluruh luka dalam dan luka luar Fred dalam sekejap mata.
Meski bekas luka masih sedikit terlihat, namun khasiat mantra sihir "CURE" benar benar hebat!.
"Halo kakak! Namaku Lilu, dan kakekku ini adalah Arnold van Greenhook, maafkan karena sudah berbuat ini, silahkan.. ini.. pakailah baju ini, dan mari kita keluar dari si-"
Gadis itu berhenti berkata-kata ketika tangan Fred, yang hendak mengambil pakaian di tangan Lilu, menyentuhnya sedikit.
Mukanya memerah dan ia menunduk malu.
'Ha? Apakah dia menyukaiku... yang benar saja, aku bukan lo***on busuk, tapi.. aku butuh bantuannya untuk mengendalikan pria tua kejam ini. Jadi.. mari berimprovisasi.'
Setelah memakai bajunya, Fred kemudian merendahkan lutuh kanannya, sehingga ia berpose seperti akan memohon.
Kedua tangannya memegangi tangan milik Lilu.
"Hei bocah si***n! Beraninya kamu memegang tangan cucuku!"
"Lilu, kakak ini sangat berterima kasih padamu, aku akan membalasmu suatu hari. Tapi maaf, saat ini aku tak bisa berlama-lama disini, sebab saudara perem- maaf maksudku temanku sedang dalam bahaya" Fred berekspresi setulus mungkin meski tergagap di tengah kata-katanya.
Tanpa menghiraukan kakek Lilu, Fred terus merayunya.
"I, iya, Lilu juga berterima kasih dan me, meminta maaf. Tapi, kata kakek di luar sangat berbahaya, kamu sebaiknya bersembunyi di sini dulu, nanti kita akan menyelamatkan te, temanmu bersama-sama." Jawab Lilu gagap.
"Terima kasih atas kebaikanmu Lilu, tapi aku tidak yakin bagaimana keadaan temanku sekarang ini, aku takut dia kenapa-napa. Jadi aku mohon undur diri, apakah kamu bisa menunjukan jalan keluarnya kepadaku"
"Hah? Kamu ingin pergi? Tidak semudah itu ferguso!" Ancam Arnold.
"Kakek! Lagi-lagi ya, jangan seperti itu, kita antar saja dia keluar, memang apa susahnya? Temannya sedang menghadapi bahaya, kita juga akan membantunya!" Pinta Lilu pada Arnold.
"Ta, tapi-" Arnold hendak menyangkal.
"Tidak ada tapi-tapian, kalau kakek tidak mau, biar Lilu saja yang pergi, hem! Ayo kak ikuti aku, oh ya.. na, nama k, kakak siapa?" Lilu agak malu menanyakannya.
"Oh ya, maaf, namaku Fredi, kamu bisa memanggilku Fred. Terima kasih atas bantuannya, tapi kamu tidak perlu membantuku terlalu jauh, cukup antar aku keluar saja."
"Tapi Lilu ingin membantu kakak" Lilu bersikeras membantu.
"Sudahlah Lilu, itu adalah kemauannya, lagipula ini juga demi keselamatanmu, lebih baik bersama kakek disini, di luar berbahaya." Arnold tampak realistis.
"Ya sudahlah, ayo kak, ikuti aku!"
Mereka semua kemudian memasuki beberapa lorong hingga sampai di tempat yang tampak familiar bagi Fred.
"Kakak, kita sudah sampai, ini pintu keluarnya."
"Terima kasih Lilu, kakak akan membalas budi dirimu. Ucap Fred.
"Iya kakak, tolonglah berhati-hati. Dan ini, silahkan ambil biji merah ini, mungkin bisa membantumu.." biji yang disodorkan pada Fred tampak misterius.
"A, apa?" Arnold tampak tidak terima.
"Sst, kakek diam saja, lagipula karena sudah diberikan padaku, terserahku mau aku apakan."
"Baiklah, terima kasih Lilu, selamat tinggal."
Fred segera keluar melalui pintu.
Tujuannya sekarang hanya satu! Menyelamatkan Julie!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih sudah membaca, untuk bab ini aku berikan khusus ending yang tidak menggantung.
7 Maret 2020