Empire

Empire
Menetang Kematian



Sorak sorai bergemuruh.


Teriakan aneh yang datang dari monster Undead Queen beberapa saat lalu lenyap di dicerna keramaian para penduduk.


Kerutan di wajah mereka berkurang.


Ekspresi semua orang cerah.


Tidak ada lagi khawatir.


Semua demi perjuangan terakhir!


"Semua! Cepat bentuk kelompok 5-8 orang! Tiap grup harus memiliki setidaknya 3 orang petualang atau orang-orang yang berpengalaman. Ayo, cepat!" Tanpa menunggu jawaban para penduduk, Fred memerintah semua orang.


"Fred, bagaimana denganku? Apa yang harus aku lakukan?" Evelyn bertanya pada Fred.


"Sebelum itu, apakah kamu punya armor yang lebih baik? Aku rasa kamu sudah tidak memerlukan armor sempit itu lagi" Fred sedikit jail dalam ucapannya.


"Iya, tentu, aku punya beberapa armor lain di cincinku" jawab Evelyn.


"Em? Cincin? Bagaimana bisa ada armor di cincinmu?" Fred masih belum sepenuhnya menyatu dengan pemahaman dunia ini.


"Bukankah ini seharusnya pengetahuan umum? Ah, sudahlah, intinya cincin ini memiliki sihir ruang di dalamnya. Tidak begitu besar, namun pas untuk menyimpan satu armor.." tegas Evelyn.


"Oh, begitu. Baiklah, tugasmu adalah memimpin penduduk melawan para undead."


"Baik, aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh!" ucap Evelyn.


'Sepertinya cincin itu mirip dengan kekuatan penyimpanan barang yang diberikan System'


[Tentu tidak, aku memiliki penyimpanan tak terbatas, sedangkan barang imitasi itu, bahkan tidak seper miliyar dari milikku]


System tiba-tiba menyambar perkataan Fred.


'Hah.. aku sudah muak dengan kelakuanmu, datang tiba-tiba, pergi pun begitu juga' Fred menyerah untuk melawan.


[Hah.. Jangan salahkan aku, dari awal apakah kamu pernah memanggilku di luar saat-saat darurat? Lalu mengapa aku perlu aktif di waktu tidak penting lainnya? Novice, setelah semua ini selesai, mari tentukan arah pertumbuhan kita. Kamu ingin tumbuh dan memahami apa yang sebenarnya terjadi selama ini, begitu pun diriku. Jadi mari selesaikan masalah ini secepat mungkin]


'Oke, oke, lalu sebelum kamu pergi lagi, apakah kamu ada ide tentang strategi mengalahkan mahluk itu? Ayolah, Essence of Purity hanyalah sebotol kecil yang menurutku hanya mampu melawan antek-antek mahluk raksasa itu. Bagaimana bisa aku mengalahkannya? Kebohonganku pada para penduduk sudah melampaui batas, aku harap mereka tidak menggali kuburku saat aku mati.. huff (menghela nafas)' dengan sabar Fred berusaha berbincang dengan System.


[Kalau kamu sudah tahu sebanyak itu lalu mudah saja, kamu tidak perlu mengalahkannya, cukup kalahkan penyebab masalahnya. Bukankah kamu sudah mendengar cerita adikmu? Lalu tidakkah otakmu itu memproses sesuatu yang mencurigakan. Cobalah peras pikiranmu lebih kuat lagi, ini penting demi perkembanganmu, Novice]


'Hmm.. Karena kau menyinggungnya, sekarang aku semakin yakin, semua permasalahan ini, tidak lain disebabkan oleh satu orang, Poque si b4b1 busuk. Jadi.. orang itu sehebat ini..' Fred mendapat secercah anugrah, otaknya bekerja dengan baik lagi.


[Tentu saja tidak sehebat itu, bukankah adikmu mengatakan sesuatu tentang darah? Dan itulah bahan untuk memanggilnya, pengorbanan besar harus dilakukan]


'Lalu, jangan bilang kalau... Darah yang digunakan adalah darah para penjaga gerbang. Sangat keji!' Kata Fred.


"Kakak, ada apa?" Tanya Julie.


"Ah.. tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit takjub dengan orang-orang ini" Fred berucap acak.


"Iya, di saat seperti ini, bila itu di dunia kita, aku yakin mereka sudah akan kabur terbirit-birit, mungkin juga mereka akan mengorbankan orang lain demi keuntungan diri sendiri" jawab Julie.


"Sudahlah, kita harus bergegas, sebaiknya kamu pakai armor yang barusan di lepas Evelyn, aku rasa itu pas di kamu" pinta Fred.


Ekspresi Julie berubah sejenak, matanya menyipit dan mulutnya menyunyu seakan-akan dia ngambek mendengar ucapan Fred.


"E-eh? Ada apa?" Fred bingung.


"Hem!" Julie langsung melengos meninggalkan Fred.


Kemudian semua persiapan selesai.


Seluruh penduduk membentuk kelompok kelompok kecil sesuau perintah Fred.


Selain itu, sebagian besar penduduk sudah mengganti perlengkapan di tubuh mereka dengan peralatan yang digunakan pasukan sebelumnya.


Mereka ternyata benar-benar cerdik.


"Sekarang, semuanya sudah selesai ayo berangkat!" Teriak Fred.


Semuanya bergerak perlahan menuju istana kota.


Setiap orang mempertahankan fokus mereka.


Dan tak lama, mereka pun sampai di kawasan yang penuh undead.


"Semuanya! Bertarunglah demi hidupmu! Serang!" kemudian teriakan dari Fred memulai perang.


Selama beberapa waktu terlewati semenjak kemuncul Undead Queen, ternyata pasukan undead di sini sudah bertambah cukup banyak.


Meski begitu, semua ini tidak menyurutkan semangat juang para penduduk.


Mereka terus menggerakkan tangan, kaki, dan tubuh mereka demi sesuatu yang tak pasti di esok hari.


Jalan-jalan dari batu dan emas yang menghiasi seluruh istana kota, kini diwarnai pemandangan mengerikan.


Darah merah dari penduduk, bercampur dengan darah-darah hitam dari undead.


Beberapa petualang menggila lagi ketika dihadapkan dengan musuh bebuyutan mereka.


Bagi mereka, perang melawan undead adalah makanan sehari-hari.


Bukan maksud melebih-lebihkan, memang begitulah kehidupan para petualang.


Mereka selalu hidup di seutas tali, setiap hari tanpa takut kata mati.


Oleh karena itu, petualang-petualang mengeluarkan semua kekuatan mereka yang tersisa.


Kilatan sihir warna-warni menambah warna dalam pertarungan ini.


WATER NEEDLE!


EARTH HAND!


WIND SPEAR!


Mantra-mantra yang sederhana di dunia ini tampak menakjubkan di mata Fred.


Di benaknya, ia berharap, suatu hari entah kapan, Fred ingin mampu menggunakan sihir-sihir itu.


Namun, itu target di lain waktu, sekarang...


"Julie, ayo kita bergegas menuju jalan tersembunyi yang kamu ceritakan"


"Ya, ikuti aku" ucap Julie.


Julie dan Fred segera menghilang dari kawasan perang.


Melewati pohon-pohon besar, mereka berdua berusaha mencari jalan tersembunyi yang diceritakan Julie.


"Kak! Aku sudah melihatnya ayo cepat!" Julie kehilangan ketenangannya dan berjalan terburu-buru.


Tiba-tiba..


"Julie! Awaass!"


Tink! (Sfx: dua buah pedang bertentangan)


Julie jatuh di pantatnya.


Bukk!


Fred memanfaatkan tendangan untuk menjauhkan musuh yang baru saja menyerang.


"Kamu tidak apa-apa Julie?" Fred tampak khawatir.


"I-iya, aku hanya terjatuh, daripada itu, aku kenal orang ini" Julie teringat sesuatu.


"Siapa dia? Mengapa seorang manusia malah menyerang kita? Tidak, tidak, mungkinkah dia juga terinfeksi oleh virus Undead?" Fred penasaran.


"Aku rasa kamu benar kak, sebab dia adalah orang aneh penggemar Poque yang tadi aku ceritakan, Kelvin" Julie memasukan emosi kasihan pada nada bicaranya.


"Jadi begitu, sepertinya ia tidak berhasil melawan Poque dan malah menjadi undead. Sepertinya situasi nanti akan berbahaya, kamu sebaiknya tidak ikut aku ke dalam Julie" pinta Fred.


"Baik, kak. Tapi, bisakah kakak memberi Kelvin kematian yang singkat, aku kasihan dengannya." Julie memohon.


"Tentu, orang baik sepertinya pantas untuk kebaikanku"


Di akhir obrolan Fred dan Julie, Sosok Undead Kelvin bangkit.


Baginya tendangan Fred tidak berasa apa-apa.


Undead tidak bisa merasakan sakit, mereka juga tidak memiliki pikiran dan tidak bisa berbicara sebab hanya tersisa naluri yang ada di pikiran mereka.


Namun, undead yang satu ini...


"Tuuuu annnn tooo looongg bunuhh akuu, akuuu tidaaakk inggin meeennjaddiii undeeeaad" Undead Kelvin berbicara dengan sisa kesadarannya.


"Dia bisa bicara? Lalu, semoga pedang ini bisa mengakhiri penderitaanmu, Kelvin" Fred tulus mengatakannya.


Pedang yang digunakan Fred tidaklah istimewa.


Namun di tangannya, itu tampak hebat.


Lalu, dengan kuda-kuda anggar, yakni memegang pedang dengan kedua tangan di depan badan, Fred memfokuskan pikirannya.


Di lain sisi, undead Kelvin semakin dekat dengan Fred.


Kemudian, dengan ayunan minimal..


Sress (sfx: mengiris)


...Pedang Fred mengiris bersih leher Kelvin.


Tubuh tanpa kepala itu jatuh tergeletak di tanah, tak berdaya.


"K-kakak, b-bagaimana kamu bisa sehebat ini?" Ujar Julie.


"Tidak ada, hanya saja, tiba-tiba pedang dan tubuhku terasa selaras sehingga mudah bagiku melakukan serangan tadi" jelas Fred.


"Kakak sungguh keren! Aku mencin—" Julie terhenti di tengah-tengah.


Wajahnya kemudian memerah, ia baru sadar bahwa ucapan di benaknya telah keluar dari mulutnya.


"Ehem, ayo kita lanjutkan Julie" ucap Fred memecah suasana.


"B-baik kak" Julie tergagap.


Akhirnya, mereka pun menemukan jalan keluar tersembunyi yang di ceritakan Julie


Dan disinilah, akar masalah dari semua kejahatan bersemayam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf yaa updatenya lama, support terus!


15 Maret 2020