Empire

Empire
Mantra Terlarang



~Chapter Sebelumnya


“Hah.. terserah, ayo kita ke lorong yang bercahaya itu!”


Mereka berdua semakin dekat dengan cahaya, dan saat mereka sudah melewatinyaa…


“Astaga!”


~Now


“Nona, tutup matamu!” Teriak Kelvin tiba-tiba.


Tangan Kelvin secepat kilat menutupi kedua mata Julie.


“Kelvin, kamu terlambat, a-aku sudah melihat semuanya…” suara Julie berat, seakan tidak ingin menerima kenyataan.


“Julie, anggap sajalah semua ini tidak nyata, lupakan saja apa yang sudah kamu lihat” ucap Kelvin berusaha menenangkan Julie.


“Kelvin, aku memang merasa ngeri dengan pemandangan ini, namun bukan itu yang aku takutkan, aku tidak takut pada apa yang baru saja aku lihat. Aku hanya takut.. aku.. harus menyaksikan ini, selama sisa hidupku..” balas Julie.


Dengan sedikit kekuatan di tangannya, ia mencurahkan usahanya melepas tangan yang menutupi pandangan matanya.


Namun, dibalik tangan itu, mata Julie masih terpejam, tersisa sedikit kekhawatiran di hatinya.


“Nona Julie… bukankah—” Kelvin hendak menghentikan tindakan Julie.


Namun ketika Jukie mengangkat tangannya, Kelvin terpaksa berdiam diri.


Dia juga tahu bahwa apa yang ada di depannya ini memang bukanlah pemandangan yang baru baginya..


Kemudian,


Hummm.. (menarik nafas) Huff... (mengeluarkan dari mulut)


Julie berusaha sekuat tenaga menenangkan diri.


Meski matanya terpejam, pemandangan ini juga memberikan aroma khas..


Julie membuka matanya


Segera, ia merasa mual, dan..


“Bleeerrrgg” Julie muntah.


Dihadapannya tidak lain dan tidak bukan adalah pemandangan nyata.


Tidak ada efek CGI (animasi) ataupun halusinasi.


Ruangan sempit itu dicat dengan satu warna..


MERAH!!


Setiap sudut tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk warna lain.


Warna merah yang berasal dari noda darah, yang masih segar maupun sudah busuk, yang masih cerah maupun yang sudah pudar.


Namun tidak ada lagi selain warna MERAH!


Jika adapun ruang bagi warna lain, itu adalah warna putih dan coklat kehitaman.


Warna putih ini berasal dari TULANG manusia!


Sedangkan warna coklat adalah sisa-sisa daging manusia yang baru membusuk dimakan lalat, bakteri, maupun belatung menjijikan.


Darah bercampur tulang dan daging busuk.. jika kalian hanya mendengar atau lebih buruk lagi melihatnya dari balik layar kaca, hp atau monitor, mungkin bagi kalian ekspresi Julie terlalu berlebihan.


Namun, aroma dari semua hal ini benar-benar menghidupkan imajinasi terliar kalian!


Aromanya sangat menyengat, bahkan mungkin bisa berakibat buruk pada kesehatan orang biasa.


Lumrah bagi Julie yang baru saja melihat pemandangan mengerikan ini untuk muntah.


“N-Nona Julie, kamu tidak apa-apa?” Tanya Kelvin khawatir.


“Blerggh— Haha, aku, Blerggh— tidak apa-apa” ucapanya tersendat oleh muntah.


“Kita sebaiknya keluar dulu dari sini Nona” Kelvin berusaha membujuk Julie.


Julie tak ada tenaga lagi untuk menggerakkan tubuhnya.


Kelvin pun dengan emosi yang berkecambuk memapah Julie keluar dari ruangan ini.


“H-ha.. Kelvin, kamu sangat kuat ternyata..” Julie tertawa pasrah.


Tawanya tak mambawa perasaan senang ataupun kelucuan, itu adalah tawa pasrah.


“Ini bukan pertama kalinya bagiku.. kamu ingat ceritaku bukan” ucap Kelvin penuh kesedihan.


“Iya, aku minta maaf karena mengingatkanmu tentang kenangan buruk..” Julie baru saja ingat.


“Tidak apa-apa, meski perlu melihat sesuatu seperti ini, hal positifnya adalah kita semakin dekat dengan tujuan kita” jelas Kelvin.


“Lalu semua hal tadi…” Julie hendak berucap sesuatu tapi ragu sesaat.


“Itu adalah—” Kelvin berusaha memberi penjelasan.


“Tunggu, aku tahu” Julie menghentikan Kelvin.


“Biar aku tebak.. itu adalah ulah tuan Poque, dan dari beberapa sisa-sisa pakaian dan peralatan mereka.. apakah mereka para prajurit penjaga istana kota?” Tanya Julie memastikan.


“Kamu benar, namun itu tidak lengkap. Semua ‘hal itu’ adalah bahan untuk ritual mantra terlarang, darah manusia. Dan melihat kesegaran daging mereka, sepertinya mayat-mayat ini baru mati beberapa jam yang lalu. Dan mungkin kamu hampir 100% benar tentang anggapan bahwa Tuan Poque adalah dalangnya..” jawab Kelvin kecewa.


Di lain sisi, penggemar Poque, Kelvin, juga sudah putus asa untuk menyanggah perkataan Julie.


Perasaan dan pemikirannya tidak lagi sinkron, semua tidak lain karena ‘hal’ yang baru saja dipandangnya.


“Jika bahannya sudah sebanyak ini, entah sihir sekuat apa yang akan keluar. Entah bahaya apa yang akan datang. Aku yakin itu bukan hal kecil.. sepertinya kita akan lebih aman untuk bersembunyi disini, apakah kamu masih ingin keluar dari sini?” Tanya Kelvin.


“Aku masih akan keluar darisini!” Jawab Julie tegas.


“Baiklah, sepertinya satu-satunya jalan ada di ujung lorong mengerikan ini, tadi aku sempat melihat beberapa anak tangga diujung ruangan, kamu masih berani?”


“Iya, ayo lakukan sekarang!” Julie menguatkan diri.


Dengan bercampur aduk perasaan, Julie dan Kelvin masuk kembali ke dalam ruangan.


Benar saja, ternyata memang ada sebuah tangga di ujung ruangan.


Pemandangan menjijikan itu mengambil semua perhatian sehingga Julie lupa untuk memperhatikan sekeliling, dan tangga pun terhindar dari pandangannya.


“Jadi, karena tangga itu ada di sana, berarti kita harus melewati semua… genangan dan mayat ini?” Tanya Julie.


“Ya begitulah, masih berani?” Kelvin menggoda Julie.


“Tentu, tidak usah mengkhawatirkan aku. Ayo!” Ajak Julie.


“Baiklah”


Genangan darah itu layaknya lem.


Ketika melangkah diatasnya, kaki akan akan menempel pada darah itu sebentar sebelum bisa mengambil langkah lainnya.


Kemudian, ditambah dengan aroma busuknya, aku yakin beberapa orang tidak akan kuat mempertahankan kesadarannya lagi.


Julie terbilang cukup kuat, terlebih dia adalah seorang wanita.


Keberaniannya ini, nyatanya menyentuh hati Kelvin yang sudah tertutup untuk waktu yang lama.


Perlahan Kelvin juga merelakan bahwa pahlawannya bukanlah sosok yang ia damba-dambakan lagi.


Ia harus bangkit menjalani hidupnya sendiri, dengan keinginannya sendiri.


Begitulah yang ia dapatkan dari sedikit waktu bersama Julie.


Jadi.. tak heran bahwa pemuda di masa puber ini menyimpan rasa terhadap Julie.


Sayangnya, saingannya terlalu berat baginya.. Fred yang kuat dan Prince of Opal, Fernando…


Sepanjang perjalanan itu senyap dan hening.


Dan lagi-lagi, kepustusasaan menghantui Julie.


Sebab, di balik tangga yang baru saja mereka naiki, bukan jalan keluar atau sinat matahari yang mereka temukan.


Melainkan sebuah labirin lainnya.


“Tenang Nona Julie, mulai dari jalan ini aku ingat sebagian besar jalannya” kata Kelvin pada Julie.


“Sungguh? Kamu tidak berniat sekadar menghiburku kan? Kamu benar-benar tahu kan? Iya kan?..” berbagai pertanyaan dilontarkan Julie.


“Iya, aku serius, mari ikuti aku” Kelvin nampak percaya diri.


Kemudian mereka bergerak ke kiri, kadang belok ke kanan, dan di beberapa tempat ada tangga lagi.


Lalu..


“Nona, di percabangan jalur ini, sepertinya kita harus berpisah” ucap Kelvin.


“Em? Memangnya kenapa?” Tanya Julie bingung.


“Jalan di sebelah kanan adalah pintu keluar, dan di sebelah kiri.. aku yakin berdasarkan perkiraanku, letaknya tepat diatas ruangan berdarah sebelumnya, jadi disana pasti tempat Tuan Poque menyiapkan mantra terlarang. Aku tidak mau kamu terluka nona, jadi biar aku saja yang menghentikannya” Kelvin meminta Julie tidak mengikutinya.


“Hmm.. baiklah, kalau begitu aku akan segera pergi mencari bantuan saja, jadi ulur waktu jika sesuatu yang berbahaya terjadi” Julie memperingatkan Kelvin.


“Hah, sudah lama sekali sejak orang lain mengkhawatirkanku.. Aku tidak butuh bantuan, aku hanya ingin jasadku disemayamkan di samping pahlawanku, meski aku harus mengikutinya dipendam dalam tanah kematian. Jadi bisakah aku percaya padamu Julie?”


“Itu..” Julie agak ragu.


“Sudahlah, kamu terlalu banyak berpikir Nona Julie, jawab sajalah iya supaya aku bisa lega” Kelvin sedikit memaksa.


“Baiklah, semoga berhasil” ucap Julie sebelum berpisah dari Kelvin.


Julie pun bergerak ke arah lorong kanan, dimana jalan keluar berada.


Sosok Kelvin dengan kacamata dan rambut panjangnya yang diikat semakin memudar di kejauhan.


Lalu, sosoknya pun hilang ditelan kegelapan.


Di sisi yang lain, ada cahaya yang muncul, membawa harapan bagi Julie.


Dan benar saja..


“Akhirnya aku bisa merasakan teriknya matahari lagi. Kakak, apakah aku bisa menemukanmu?” Julie masih memegang harapan untuk bertemu kakaknya.


Meski harapan itu tak pasti…


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semuanya support terus ya! Nantikan, bakalan ada kejutan buat kalian besok!


13 Maret 2020