Empire

Empire
Undead Queen



***


“Fred, kemana sekarang kita akan pergi? Haruskah kita langsung masuk ke istana kota?” Tanya wanita dengan rambut coklat yang bersana Fred sejak tadi.


“Evelyn, aku merasakan firasat yang tidak mengenakan. Selain itu, sejak tadi bukankah kita belum menemukan satu pun penjaga? Apakah ini jebakan?” Fred tampak khawatir.


“Hah.. Fred, seharusnya kau bersyukur. Bukankah kita akan lebih mudah dengan tidak adanya penjaga?” Evelyn berpikir terlalu positif.


“Bukan begitu, jika kita mengetahui kemampuan diri dan musuh, kita akan memenangkan 1000 pertempuran, Begitulah peribahasa yang pernah aku dengar. Namun, bahkan 1 musuh pun belum terlihat sejak kita memasuk gerbang, ini terlalu—” Fred berhenti di tengah ucapannya.


Kresek kresek (sfx: suara semak-semak)


“Aku mendengar sesuatu, mari bersembunyi” perintah Fred.


Dalam sekejap, kedua orang dengan ‘zirah curian’ ini menghilang.


Lalu, tak lama, dari asal suara yang didengar Fred, sebuah sosok keluar.


“Eh? Seorang wanita? Apakah dia musuh?” Tanya Evelyn.


Sayangnya pertanyaan itu diabaikan oleh Fred.


“Julie!” Teriak Fred.


“Em? Kakak! Kakak! Akhirnya aku menemukanmu!” Julie kegirangan melihat sosok yang dicari-carinya selama ini.


“Haha, apakah kita sudah berpisah terlalu lama?” Goda Fred.


“Iya, aku merasa seperti sudah bertahun-tahun” Julie bercanda.


“Hahahaha!” Fred tertawa lepas.


Lalu ditengah reuni mereka..


“Ehem (suara batuk dibuat-buat), apakah reuni kalian masih lama” Evelyn merasa ditinggalkan.


“Eh? Oh iya aku hampir lupa. Julie, dia adalah wakil ketua serikat petualangan kota Jordan, singkatnya dia adalah Evelyn” Fred memperkenalkan Evelyn secara acuh.


Sejenak, ekspresi Julie berubah.


Matanya berubah serius, kemudian dengan berat hati ia mengulurkan tangannya menuju Evelyn.


Namun tak disangka-sangka, tanggapan Evelyn mengejutkan, ia mengeluarkan pedang dari sarungnya.


“Eh?” Julie dan Fred bingung.


Namun sedetik kemudian mereka tersadar.


“Julie, ini adalag dunia yang berbeda, jadi budaya disini berbeda, tidak ada jabat tangan disini” Jelas Fred.


“Ah, iya! Aku juga baru ingat itu” kata Julie.


“Jadi kamu sudah tahu? Lalu itu lebih mudah. Dan Evelyn.. bisakah kamu menyarungkan pedang itu lagi, ini hanya salah paham” perintah Fred.


“Eh? D-dunia yang berbeda? Maksudmu—” Evelyn terkejut.


“M-maksudku, kita tidak berada di kerajaan kita dahulu, jadi dunia disini berbeda dengan gaya kerajaan kita dulu..” Fred memotong kata-kata Evelyn di tengah.


“O-oh, begitu. Baiklah” Evelyn agak ragu.


Di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba—


Boooom! (sfx: ledakan)


Sebuah ledakan yang cukup keras terdengar dari pusat kawasan istana kota.


Kemudian tanah bergetar hebat.


Beberapa pohon tumbang dan sebagian yang lain layu secara tiba-tiba.


Beberapa burung yang berlalu-lalang di sekitar daerah istana kota ini mendadak berhenti berkeliaran.


Mereka berhenti bergerak dan jatuh seketika.


Beberapa mahluk hidup mendapati dirinya mati secara tiba-tiba.


Kemudian, gempa yang baru saja terjadi terhenti, namun sesuatu yang lain menggantikan kengerian yang dihasilkan gempa itu.


Sebuah sosok menjulang tinggi menutupi cahaya matahari.


Sosok itu memiliki tubuh yang hitam lekat, bentuk tubuhnya layaknya hantu-hantu di film “Casp*r”, hanya lonjong dan tidak memiliki apa apa di tubuh mereka selain dua buah mata.


Namun berbeda dari film lawas itu, mahluk yang satu ini memiliki mata merah, sangat merah dan menyeramkan seakan menyimpan semua kengerian yang ada di dunia ini.


Sosok ini memang tidak memiliki tangan atau sesuatu yang mirip, namun dari berbagai bagian ditubuhnya mahluk ini bisa menyemburkan cairan yang kemudian akan membentuk sebuah tentakel.


Selain itu, beberapa semburan itu menyiprat ke arah berbagai mahluk hidup yang baru saja mati beberapa waktu yang lalu.


Dan tak disangka-sangka, semua mahluk hidup itu, yang tergeletak diam beberapa saat lalu, tiba-tiba bergerak.


Burung-burung segera mengepakan sayap, beberapa pohon juga tiba-tiba berdiri tegak kembali.


Namun penampilan mereka tidak lagi sama dengan yang sebelumnya.


Mereka semua di warnai hitam.


Begitu pula pohon-pohon itu, dari bagian tubuh mereka tumbuh percabangan yang tampak seperti kaki dan tangan.


Dan di tengah tubuh mereka terdapat sebuah lubang besar bergerigi, membentuk sebuah wajah.


Dan benar saja, dari lubang itu muncul sebuah sinar merah yang mirip dengan mata si raksasa.


Lubang yang tampak bergerigi juga membuka mulutnya lebar-lebar seakan-akan mengamuk.


“U-undead! Terlebih.. U-undead Q-queen?! Apakah ini akhir dunia? Bagaimana mungkin pimpinan para Undead yang sudah lama tidak terlihat muncul entah darimana di sebuah kerajaan biasa seperti Kerajaan Opal ini?! Apakah sudah waktunya kiamat? Apakah hari ini aku akan mati? Apakah—” Evelyn kehilangan ketenangannya.


“Hey! Hey! Evelyn! Sadarlah! Woii!” Fred berusaha menyadarkan Evelyn.


Fred berusaha menggunakan segala cara.


Mengguncang-guncang tubuhnya, menepuk-nepuk tangannya di depan muka Evelyn, berteriak di depan mukanya.


Lalu, cara terakhir pun digunakan.


Fred menyatukan jari tengah dan jempol sehingga membentuk huruf ‘O’.


Kemudian, dengan sedikit suntikan kekuatan, Fred mengeluarkan jurusnya.


Tess! (sfx: suara sentilan)


Fred menyentil dahi Evelyn dengan sedikit kekuatannya.


“Aww! Sakit! Apa yang—” Evelyn akhirnya tersadar.


“Hei budeg! Kita harus lari! Cepat pergi ke gerbang utara, kita harus berkumpul dengan yang lain!” Fred berteriak kepada Evelyn.


Evelyn masih menggosok dahinya yang baru saja mengeluarkan asap berkat sentilan yang di luncurkan Fred.


Untungnya, sosok yang besar dan hitam lekat itu tidak melakukan serangan apapun, ia hanya berteriak tidak jelas seakan memanggil-manggil sesuatu.


Entah darimana datangnya suara yang dibuatnya itu, tanpa mulut.


Di tengah jalan, mereka bertemu kelompok lain.


“Eh? Nona Julie?! Bukankah Anda di ruang peristirahatan? Mengapa kamu bisa disini? Dan kalian berdua? Siapa kalian?!” Teriak Prince Fernando.


“Eh? Prince Fernando? Maaf pangeran, aku tidak betah berdiam diri disana, jadi aku keluar melalui jalan lain. Dan mereka adalah kakakku dan temannya. Lalu, daripada kita berbincang di situasi yang tidak tepat ini, bagaimana kalau kita pikirkan cara kabur dari sini” Julie sangat cemas dengan perubahan suasana yang tiba-tiba ini.


Beberapa ksatria yang mendampingi Prince Fernando sudah mengangkat senjata, mengarahkannya pada Fred dan Evelyn.


“Aku tidak bisa menerima ini, pasti kedua orang ini mendapatkan zirah itu dari menjarah para prajurit yang mereka bunuh, aku tidak akan membiarkan kalian berdua kabur meski kalian memiliki hubungan dengan Julie” Prince Fernando memulai sosok arogannya, berusaha tampil lebih baik sejak mendengar bahwa kakak Julie adalah pemuda yang tampan di depannya.


Ia tidak senang pada Fred dan muncul keirihatian dalam dirinya, dan beginilah jadinya.


“Apa? Ayolah pangeran, sekarang bukan waktu yang tepat!” Teriak Julie.


“Nona Julie, aku tidak ada masalah denganmu, namun perbuatan mereka berdua tidak dapat diterima, aku harus menghukum mereka” kata Prince Fernando.


“Pangeran, tidak bisakah kau lihat situasi saat ini, ada serangan dari mahluk yang lebih berbahaya, kita harus mendahulukannya” balas Julie.


“Aku tahu, namun masalah yang dekat harus diselesaikan lebih dulu daripada memengaruhi masalah lain” jawab pangeran.


“T-tapi—” Julie dihentikan oleh Fred dengan sentuhan di pundak.


“Julie, sebaiknya kamu mundur, menghentikan bocah manja sepertinya tidak bisa dengan kata-kata saja. Mundurlah serahkan padaku" ucap Fred pada Julie.


“Baiklah kakak, aku akan memercayaimu” Julie kemudian mundur.


‘Ughh, kakak sungguh keren!’ pikir Julie


“Jadi? Siapa tadi Anda, pangeran?” Tanya Fred mengejek.


“Beraninya kamu mengatakan aku pangeran manja, aku—”


Belum selesai Prince Fernando mengoceh, tiba-tiba..


Buaakkk! (Sfx: suara tinju)


Sebuah pukulan mendarat di muka sang pangeran.


Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak para ksatria di belakangnya.


Kemudian, jalan pun terbuka.


‘K-kakak?! Ternyata ia tidak bohong tentang menjadi manusia terkuat di dunia.. umm, aku semakin mencintainyaaa!’ Julie di mabuk cinta.


“Ayo lanjutkan pelarian kita!” Fred berteriak.


Mereka semua meninggalkan pangeran yang kehilangan muka tampannya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Support terus!


13 Maret 2020