
~Chapter Sebelumnya
Teman-teman dan saudara senasibku, yang kehilangan hak mereka, yang dibuat semena mena, yang hidup dengan sengsara, sekarang adalah saatnya kita mengubah kebusukan kota ini! Semuanya, serangg!
Wwaaaaaa! Ooraaaa oraaaa!
~
“Hahahaha” Pria berotot yang pernah merangkul Fred menjadi gila di tengah pertempuran.
Suasana tenang di Kota Jordan telah hilang.
Digantikan ramainya teriakan, suara besi saling berdentang.
Jalanan yang terhias debu, mulai diwarnai bercak merah.
Semuanya tampak tak terkendali, namun di dalam hati semua rakyat yang berpartisipasi disini, tidak ada perasaan lain, selain lega.
Suami yang istrinya direbut, kakak yang kehilangan adiknya, dan ayah yang kehilangan putri-putrinya, bersatu di dalam satu panji..
“Bunuh B4B1 Poque!”
Perasaan benci yang mereka pendam, kini sudah tersulut oleh seorang manusia yang bahkan tidak pernah lahir dan besar di kota itu.
Namanya adalah Fred!
Ini adalah awal revolusi, permulaan dari kekuatan Fred yang sebenarnya.
Memimpin ribuan jiwa, menggerakkan ribuan hati.
“Fred, bagaimana menurutmu?” Suara seorang wanita terdengar dari belakang Fred.
“Em? Evelyn? Aku tak percaya bahwa banyak penduduk akan andil dalam penyerangan ini. Padahal aku hanya menyuruhmu membentuk bantuan cadangan dari orang-orang yang pernah ditindas, dan tak disangka-sangka cadangan ini malah menjadi penyerang utama sekarang” ucap Fred.
“Hahahaha, memang awalnya aku berniat melakukan itu, namun aku merasa bahwa sesuatu sekecil itu tidak akan cukup!” Balas Evelyn bersemangat.
“Kamu memang layaknya hyena dalam tubuh manusia, namun tidak apa-apa, selama itu masih bermanfaat bagiku, aku tidak masalah” ejek Fred.
“Baiklah, lalu apakah kamu hanya akan berdiri menunggu ribuan orang ini mati terhunus pedang? Bukankah kau berniat menyelamatkan adikmu?” Tanya Evelyn.
“Itu memang benar, namun dengan keributan seperti ini, jalan mana yang bisa kita lalui?” Fred menyindir.
“Y-yah, kalau begitu kita bisa tunggu sampai pertempuran mereda..” Evelyn yang bersemangat berubah malu-malu atas ucapan Fred.
“Haha, aku hanya bercanda.. aku punya rencana mengerikan, namun aku yakin kita akan berhasil setidaknya melewati pagar ini, dan akhirnya kita akan bergerak dengan leluasa di istana itu” jelas Fred.
“Rencana seperti apa? Apakah aku bisa menemanimu?”
“Terserah, hidupmu ada ditanganmu, aku sudah lelah memberhentikan orang lain ikut campur masalahku. Mereka selalu saja bersikeras membantu, jadi sekarang aku memilih menerimanya. Lagipula keadaan sudah berubah sejauh ini, sangat naif kalau aku menutup mata” kata Fred.
“Jadi rencana seperti apa?”
“Kita akan menjarah armor para penjaga, kemudian masuk melalui gerbang lain”
“Apa? Ternyata rencanamu dari awal hanya ingin menempatkan orang-orang itu sebagai umpan? Ternyata kamu lebih gila daripada aku? Dan sayangnya itu adalah hal yang aku suka— maksudku kagumi!” Evelyn tergagap di tengah-tengah.
‘Jadi.. apakah menggaet wanita memang semudah ini? Mungkinkah ini kekuatan dari system? Lagipula sejak pertarunganku dengan Brook, aku merasa aneh dengan diriku sendiri, meski aku pernah belajar bela diri, tapi gerakan tubuhku seperti reflek dan kelincahan tidaklah sehebat itu, jadi.. System, bisakah kamu menjelaskannya’ Fred menelaah situasi dalam benaknya.
[Kenapa? Bukankah itu hal bagus?]
‘ini memang hal bagus, tapi aku tidak ingin kehilangan kendali, aku harus mengenal diriku lebih baik daripada orang lain mengenalku, dan darimana saja kau? Mengapa kau tidak berbicara apa-apa sejak tadi?’ Fred agak geram.
[Hah… ini semua adalah ulahmu, bukan berarti hal buruk juga sih. Jadi mulai darimana kamu ingin mengetahuinya?]
‘Semuanya’
[Ya.. baiklah…
Pertama, tentang peningkatan kelincahan dan refleksmu, simpel saja, itu adalah bonus atribut dari topeng dan jubahmu, sebenarnya ada bonus atribut kelincahan lain, itu sepatumu, yah.. sayang sekali itu terbakar.
Kedua, berkat penilaian kemampuan yang pernah kamu lakukan di serikat petualang, sekarang kamu sudah membuka opsi ‘STATUS’, kamu bisa mengetahui kemampuan dirimu lebih baik dibanding dengan ini, dan sementara, statistik kemampuanmu seperti ini:
Kekuatan: Rendah 3-bintang
Kelincahan: Rendah 4-bintang
Sihir: Rendah 1-bintang
Yaa.. begitulah. Selama ini aku memproses penghitungan ini]
‘hmm, jadi seberapa kuat diriku?’
[Kamu harus cari tahu itu sendiri bocah manja, daadaa~]
‘Heii! Sial! Dia datang dan pergi seenaknya!’ Geram Fred.
“Hei Fred! Astaga! Mengapa kamu mengangguk-angguk tidak jelas? Aku hampir mengiramu kesurupan!” Teriak Evelyn.
“Ehh? Aku tidak apa-apa, barusan hanya memperhitungkan sesuatu. Baiklah mari kita menjarah mayat.”
Banyak mayat tergeletak di sekitar medan perang ini.
Beberapa armor yang digunakan penjaga penyok dan bahkan ada yang berlubang.
Fred memilah-milah beberapa armor, begitu pula Evelyn.
Setelah beberapa waktu menjarah, mereka berdua memakai armor para penjaga dan menjauh dari medan perang.
“Sial, armor ini begitu sempit, bahkan setelah mencoba semua armor mayat-mayat itu, tidak ada yang pas di tubuhku!” Evelyn kesal.
‘Yah.. itu bukan kesalahan armor ataupun para mayat, itu kesalahanmu sendiri, bagaimana bisa -milikmu- sebesar itu, hah…’ pikir Fred.
“Hei apa yang kamu pikirkan? Oh! Jadi kamu berpikir ini salahku! Gara-gara da—” belum sempat Evelyn mengucap kata terlarang, Fred menghentikannya.
“Ssst, aku melihat seorang penjaga, kita harus berakting layaknya prajurit” ucap Fred.
“Hah? Untuk apa? Tinggal bunuh saja dia, semua beres!” Evelyn hendak mengambil pedangnya.
Namun, dia baru ingat meminjamkannya pada Fred.
“B-baiklah!” Evelyn terpesona ketegasan Fred.
Mereka berdua kemudian berjalan ke arah penjaga yang sendirian di gerbang lain itu.
Tampaknya keributan di gerbang utara belum dikatahuinya.
“Berhenti! Untuk apa prajurit penjaga utara ke sisi timur?” Tanya prajurit yang berpatroli sendirian.
“Kami disini hendak melapor ada situasi buruk di utara, kami mohon untuk menyampaikan pesan pada atasan!” Tipu Fred.
“Apa?! Baiklah silahkan lewat, aku akan mengawal—”
Buaakk (sfx: suara tinjuan)
Prajurit penjaga tadi pun pingsan.
“Katamu—” Evelyn hendak menyela.
“Situasinya berubah, lagipula aku tidak membunuhnya, cepat ayo sembunyikan” perintah Fred.
Setelah menyembunyikan tubuh penjaga dengan seksama, mereka berdua memasuki gerbang timur.
Dibalik gerbang itu tampak seperti sebuah hutan, ada jalan setapak yang panjang dan lurus, sepertinya menuju ke pusat istana kota.
Namun ada sesuatu yang aneh,
“Dimana semua penjaga?” Ucap Fred.
“Entah, tapi ini membuat semuanya semakin mudah” jawab Evelyn.
Jalan setapak yang berbatukan kerikil-kerikil kuning memberi suasana berlarian di ladang emas.
Detail-detail seperti tiang-tiang yang menghiasi jalan pun diberikan sentuhan-sentuhan seni yang elegan.
Tidak heran kalau rakyat amat sengsara.
Bahkah, selain c4bul, bangsawan kota ini juga korup..
Sangat disayangkan.
***
“Nona, cepat, lewat sini, kita harus segera menghentikan Tuan Poque.” Terdengar suara dari lorong yang jarang cahaya ini.
Di lorong yang gelap, dua orang, pria dan wanita, sedang tergesa-gesa menyusuri ruangan yang pengap ini.
“Hmm.. Tuan Kelvin? Apakah jalannya tidak salah? Bukankah daritadi kita tidak menemukan akhir dari lorong ini? Apakah kamu benar-benar tahu jalannya?” Tanya seorang wanita yang bersama Kelvin.
“Nona Julie, aku memang agak samar-samar tentang lorong ini, sebab terakhitr kali aku kesini sudah 3 tahun yang lalu… tapi! Jangan khawatir kita pasti akan menemukannya!” Jawab Kelvin percaya diri.
Yap.. kedua orang yang bergerak tidak terarah itu adalah Kelvin, ‘penggemar’ Poque, dan Julie, adik -tiri- Fred.
Keduanya sudah lumayan lama menyusuri lorong gelap ini.
Mereka mencari tempat persembunyian Poque, yang menurut pengetahuan Kelvin tersembunyi di labirin ini..
..namun, bahkan setelah lama mencari, mereka berdua..
“Nona! Ada obor! Ayo kita kesana, aku yakin kita sudah dekat!” Kelvin penuh percaya diri.
“Benarkah? Aku rasa kamu sudah mengucapkan itu beberapa kali, huff.. huff.. (nafas berat)” Julie sudah putus asa.
“Ayolah nona, bukankah kamu ingin segera keluar dari sini? Kamu harus semangat!” Kelvin berusaha menyemangati.
“Baiklah.. bagaimana kalau kita membawa obor ini bersama kita? Bukankah akan lebih mudah melihat melalui lorong-lorong gelap disekitar sini?” Julie menawarkan sebuah ide.
“Ide bagus, kalau begitu…” Kelvin melepas obor dari tempat singgahnya.
Tiba-tiba terjadi getaran..
Frrrr (sfx: getaran tanah)
“A-apa yang terjadi? Apakah kita memicu jebakan?” Kelvin agak ketakutan.
“Mana aku tahu? Bukannya kamu pernah kesini?” Julie kesal mendengarnya.
“Y-ya.. itu sudah kenangan lama, tidak perlu diungkit-ungkit, hehe..” Kelvin menghindari topik.
“Sebentar, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda, sepertinya dari arah sana ada.. ada udara segar dari arah sana, berbeda dari udara pengap sebelumnya!” Julie mengendus-ngendus di kehampaan.
“Benarkah? Aku tidak mencium apa-apa?” Kelvin kebingungan.
“Sekarang giliran aku memimpin, ikutilah aku!” Keputusasaan di raut wajahnya menghilang digantikan percaya diri.
Kelvin mengikuti Julie dari belakang.
Dan tak lama sebuah cahaya muncul dalam radius pandangan mereka.
“Akhirnya! Jalan keluar!” Julie berteriak kegirangan.
“Hehe, benarkan kataku, ada jalan keluar di lorong ini!” Kelvin tak tahu diri.
“Hah.. terserah, ayo kita ke lorong yang bercahaya itu!”
Mereka berdua semakin dekat dengan cahaya, dan saat mereka sudah melewatinyaa…
“Astaga!”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih yaaa semua buat supportnya!
Terima kasih juga yang sudah kasih like buat karyaku ini! Aku bakalan mampir juga kok! Makasihhh
11 Maret 2020