Empire

Empire
Suatu Malam



Tink


"Selamat datang, selamat berbelanja," pemuda usia 20an tampak menyapa pelanggan yang baru saja masuk ke toko swalayan.


Gemuruh, gemuruh


"Jadi hari ini hujan? Hah... lagi-lagi disaat aku lupa membawa mantel."


Hujan turun deras sekali setelah suara gemuruh. Lelaki di depan kasir tampak lesu ketika melihat melalui jendela.


Lelaki ini adalah salah satu kasir toko swalayan di kota ini. Namanya adalah Fred, seorang pemuda bercita-cita tinggi yang sayangnya tak mampu mencapainya.


Dulunya ia bercita-cita untuk menjadi dokter spesialis. Sejak di sekolah dasar Fred selalu membangga-banggakan cita-citanya ini.


Tak sejenak ia lupa untuk belajar untuk mengejar cita-citanya, namun takdir berucap sebaliknya.


Kini ia hanya seorang kasir, yang merupakan pekerjaan biasa-biasa saja. Tidak ada aksi heroik untuk menyelamatkan nyawa orang lain layaknya orang orang berjas putih dengan stetoskop sebagai aksesoris mereka.


Sebaliknya, aksesoris Fred hanya sebatas topi biru yang tampak sedikit kusam karena sudah bersamanya sejak 3 tahun lamanya.


Jika mengingat-ingat 3 tahun yang lalu, ada banyak momen yang cukup memilukan.


Pertama, saat itu adalah waktu kelulusanku dari North 1 Highschool, salah satu sekolah menengah atas di kota ku, Loka City.


Aku sungguh bahagia bisa lulus dengan nilai 5 terbaik di sekolah ini.


Meski bukan yang terbaik, tapi aku yakin bahwa sekolah kedokteran pasti akan bisa kukejar dengan nilaiku saat ini.


Namun, kesialan pertamaku, yang sepertinya berlanjut ke tahun-tahun dan waktu berikutnya, tiba-tiba datang silih berganti.


Ketika aku hendak mengikuti ujian di perguruan tinggi yang aku inginkan, tak sengaja aku menabrak seorang pemuda.


Lantas pemuda itu marah dan mendorongku, dan karena kesombongannya itu aku pun memukul balik dia.


Entah mengapa, tampaknya pukulan ku di pipinya membuat si sombong itu menangis.


Dia pun berbalik dan lari, dan disitulah kesialanku dimulai.


Ternyata, anak si***n itu adalah anak salah satu dosen di perguruan tinggi itu. Tentunya kalian sudah tahu apa yang terjadi..


Yap benar, aku tidak diterima di perguruan tinggi ini.


Bahkan meski aku merasa mudah menjawab soal-soal uji itu, tetap saja hasilnya "TIDAK DITERIMA"


Awalnya aku tidak yakin bahwa penyebabnya kegagalan ini disebabkan bocah sombong sebelumnya.


Namun kemudian aku yakin bahwa dialah pelaku kegagalanku ini.


Sebab dia sendiri kamudian yang memberitahuku bahwa ayahnya adalah dosen disini, dan ia meminta ayahnya untuk membuatku tidak diterima.


Aku sungguh geram dan hendak memberi pelajaran dengan kepalan tanganku ini.


Namun kemudian seorang lelaki dewasa datang dari belakang kami.


"Hei nak, apa yang telah kamu lakukan pada anakku!" Lelaki dewasa yang baru datang tiba-tiba ikut campur.


'Siapa orang si***n ini? Apa dia ayahnya? Jadi dia dosen yang tidak menerimaku?' Pikir Fred.


"Jadi Anda dosen yang tidak menerimaku? Bukankah tes ku seharusnya bagus?" Tanya Fred dengan geram. Memang begitulah menurutku.


"Apa yang kamu bicarakan? Essai macam itu kamu bilang bagus? Kamu perlu belajar 100 tahun lagi! Dan juga mengapa kamu memukul anakku!?" Jelas dosen itu. Sungguh nampak bahwa itu adalah alasan yang di buatnya.


Melihat dua sombong ini kesabaranku semakin lama habis, hingga kemudian sebuah kepalan mendarat di pipi dosen sombong itu.


Kemudian kepalan kedua juga mendarat di pipi anaknya yang juga sombong.


Kemudian tendangan, kemudian pukulan, dan kemudian tendangan lagi.


Tak jauh, seorang *security* berteriak-teriak.


"Hey! Berhenti!" Teriak seorang keamanan.


Aku sedikit takut ketika mendengarnya sehingga aku lari dari tempat itu...


Yah.. begitulah kesialan pertama Fred 3 tahun yang lalu.


Dan sungguh tak terbayangkan bahwa kesialan itu terus berlanjut.


Fred lagi-lagi tidak diterima di perguruan tinggi lainnya.


Kemudian ayahnya di PHK dari tempat kerjanya dan karena frustasi, ia pun bunuh diri.


Sungguh orang yang bodoh memang.


Ingatlah bahwa bunuh diri bukanlah jalan penyelesaian.


Semenjak ayahku meninggal, tinggal aku dan ibuku saja yang mampu mencari uang, sehingga demi mendapat uang segera aku pun mendaftar sebagai kasir di toko swalayan.


Sebenarnya masih ada 1 orang lagi, dia adalah Dessy, adikku. Tapi dia baru kelas 1 di sekolah menengah atas, aku tak tega menyibuki dirinya dengan pekerjaan yang memang seharusnya itu tugasku sebagai satu-satunya lelaki disini.


Yah.. begitulah


Fred berakhir di toko swalayan ini hingga 3 tahun berikutnya.


Penghasilannya memang tak banyak, namun cukuplah untuk makan dan lain-lain.


Dan juga cukup untuk memuaskan hobby membacaku, meski sebagian besar buku yang aku baca dibeki di toko kelontong dan buku loak, ya.. yang penting masih bisa dibaca.


... jam kerja akhirnya usai.


Cuaca masih hujan saat itu, jaket pun menjadi pengganti jas hujan baginya.


Jalan yang ia tuju bukanlah arah menuju rumah, namun ini masih jalan yang familiar baginya.


Arah itu adalah jalur menuju kawasan pasar loak.


Fred nampaknya ingin membeli beberapa buku dari sana.


Setelah melihat-lihat di beberapa penjual, sepertinya tidak ada buku yang menarik.


Fred pun hendak pulang, karena hujan diluar juga sudah cukup mereda.


Namun sebuah suara menghentikannya


"Nak! Sini! Belilah bukuku ini, aku sedang membuka diskon, semua buku ini cukup 250 ribu saja, bagaimana?" Tawar seorang pria lusuh yang datang enrah darimana.


'250 ribu untuk buku sebanyak ini? Ada berapa ini? Satu.. dua.. ada 10 buku, dan bahkan satu buku memiliki banyak halaman, hampir 600 halaman. Buku ini? Cerita fantasi? Judulnya empire? Kelihatannya agak klasik. Memang murah sih untuk buku sebanyak ini hanya 250 ribu tapi sayangnya aku hanya membawa 180 ribu. Hah...' Fred merasa sedikit kehilangan karena kesempatan ini.


"Kenapa nak? Apakah kamu tidak suka buku ku?" Tanya pria lusuh yang menawari Fred.


"Bukan pak, hanya saja aku hanya membawa 180 ribu." Jawab Fred.


"Hahaha, tapi kamu memang ada niatan ingin membeli kan?" Pria itu tertawa bersemangat.


"Tentu saja, bukumu menarik dan harganya sangat terjangkau. Tapi sayang sekali..." Fred mulai berpikir bahwa rantai kesialan mulai mengikatnya lagi.


"Hehe, tidak apa-apa, kamu bisa ambil buku ini semuanya gratis, tapi suatu hari aku akan menagih hal lain bagaimana. Dan supaya aku tidak lupa dan kamu mengingatku, aku ada surat kontrak ini, aku hanya perlu tanda terima mu."


"Sungguh? Baik baik, aku akan mengambil pena dahulu."


"Pena? Tidak perlu, sini berikan tanganmu, masih ada 'tinta' yang lebih mengikat."


Meski sedikit ragu-ragu, Fred menyodorkan tangannya.


Pria lusuh itu mencengkram tangannya, cengkramannya sangat kuat dan aku tidak bisa menarik tangannya.


Ia sedikir curiga, apakah ini modus penipuan baru?


Dan seakan menjawab keraguannya, pria lusuh mengeluarkan sebuah pisau dari tangannya.


Kemudian pisau itu menebas jari jempol Fred.


Perasaan teriris membuat Fred mengatupkan bibir dan menutup matanya.


"Hei pria tua apa yang-"


Pria lusuh itu hilang.


Fred menelan kata-katanya bersama liur dan perasaan merinding.


Apakah aku baru saja berbicara dengan salah satu *Urban Legend* di pasar ini?


Tapi bukankah kata orang-orang dia seorang perempuan? Apakah ini hantu baru?


Tapi, tunggu... luka sayatan tadi sudah mengering? Dan membentuk sebuah garis '-'? buku-buku yang tadi juga masih ada?


Apakah aku harus membawa buku ini? Bukannya aku bakal dihantui?


Sudahlah, buku gratis adalah buku gratis.~


Fred mengemasi buku itu kedalam sebuah karung goni.


Meski agak berat, Fres masih cukup kuat membawa semua buku ini.


Di jalan ia *mesem-mesem* sendiri ketika mengingat bahwa dia mendapat banyak buku gratis.


Yah meski ada beberapa insiden, tapi sepertinya keberuntungannya sedikit kembali.


Dia tertawa sendiri ketika berjalan sambil membawa karung goni yang tampaknya berat.


Tawa itu terus berlanjut dan baru terhenti ketika ia tersadar bahwa orang lain menatap aneh kepadanya.


Fred segera mempercepat kakinya menuju rumah.


...


Dirumah tampak sepi.


Jelas saja, saat itu sudah tengah malam, ibu dan adiknya pasti sedang tertidur pulas di lautan kapuk mereka.


Tak perlu menghiraukan mereka sekarang buku buku ini lebih penting.


Setelah menaiki tangga reyot, Fred memasuki kamarnya, kemudian ia mengeluarkan semua buku.


Kemudian dia mengurutkan buku itu yang berjudul "Empire" dari cover yang bertuliskan 1 hingga 10.


Dan ia pun membuka buku nomor 1 dan mulai membacanya.


Tak lama sesuatu terjadi-


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah membaca, maaf bila ada kesalahan. Mohon terus dukung saya untuk chapter-chapter selanjutnya.


28 Feb 2020