
Setelah berlama-lama di lorong yang gelap, sinar matahari terasa sedikit terlalu terang bagi Fred.
Namun bukan berarti semangatnya menyusut hanya karena hal sepele semacam itu.
Meski tak menunjukannya, otaknya sudah memproses dengan cepat segala situasi, segala rencana, dan baik buruknya hasil yang mungkin ia dapatkan.
"Pertama, aku yakin bahwa tempat ini memiliki ukuran yang cukup luas, mungkin seukuran setengah hari jalan kaki jika berjalan dari ujung ke ujung. Dengan begitu, akan membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan jika aku bergerak kesana-sini tanpa tujuan" begitulah pemikiran awal yang akan cukup mudah diketahui siapa saja.
Namun jika pemikiran Fred hanya sesempit ini, sudah lama ia menyerah menghadapi cobaan dari dewi kesialan.
"Jadi, system, apakah kamu bisa menemukan adikku?"
[Haa.. kamu adalah 'novice' jadi begitu pula diriku, aku bisa dianggap system dengan spesifikasi yang cukup rendah, jadi kemampuan seperti radar hanya bisa menjangkau jarak 10m, selebihnya akan susah. Selain itu berpikirlah realistis, jika aku harus mencari adikmu, apa yang bisa menjadi acuanku? Memangnya dia memiliki pemancar sinyal di tubuhnya? Aku memang sehebat itu bisa menyimpan barang dalam ruang dimensi, lalu bisa membawa 'roh' mu melintasi dunia lain, lalu apa? Apakah sekarang kamu berharap aku bisa melakukan segalanya? aku hanya bisa memastikan ia ditransfer di kota ini juga, Kota Jordan, Kerajaan Opal]
"Hah, ayolah, tidak perlu marah, sangat jarang melihatmu mengoceh terlalu banyak. Baiklah, lalu jawab pertanyaanku selanjutnya, apakah senjata yang kamu berikan padaku bernilai ekonomis?"
[Hei, ayolah, meski itu barang tingkat terendah berwarna putih, tapi dengan tingkat model senjata dari systemku, senjata itu akan bernilai jual cukup bagus. Tunggu tunggu, apakah kamu ingin menjualnya!?]
"Hehe, ternyata system sepertimu tidak sebodoh itu, tentu saja, aku punya rencana. Lalu, pertanyaan terakhir, bagaimana aku bisa mengambil senjataku dari ruang dimensi, dan... dimana aku bisa menemui sebuah serikat pekerja, atau mungkin... oh iya! Serikat petualang!"
[Kamu tinggal memikirkan bentuk/namanya lalu dimana itu akan muncul, ingat itu hanya bisa muncul di radius 2 meter darimu, kemuduan itu akan muncul. Dan untuk serikat petualang, kamu bisa mencari informasi di alun-alun, ada peta umum di sana]
"Benarkah? Apakah alun-alun yang kamu maksud adalah yang ada air mancurnya itu? Dan ada peta di tengah kota? Sangat lucu, seperti taman hiburan saja.."
[Kamu benar tentang alun-alun, dan untuk peta, kamu akan tahu setelah melihatnya.. hehehe]
"Dasar, awas saja kalau ada yang aneh-aneh"
[Hei! Itu lebih baik daripada tidak!]
"Baiklah, terakhir, bagaimana agar aku tidak bertemu prajurit Rod itu lagi? Ah! Aku menemukannya."
Sebuah kios yang tampak agak sepi menjual barang yang di cari-cari Fred.
Sebuah topeng.
"Permisi, apakah aku bisa membeli topeng setengah wajah ini? Berapa harganya?" Tanya Fred dengan sopan.
Em? Pria ini kelihatan seperti gelandangan, memangnya dia punya uang?
"Itu harganya 10 tembaga"
Aduh, hampir lupa, aku tidak tahu mata uang disini.
"System, berapa nilai mata uang disini?" Tanya Fred bisik-bisik.
[10 tembaga cukup untuk membeli sebungkus rokok di duniamu, dan juga... kamu bisa berbicara denganku lewat pikiran, lihat, kamu membuat penjual itu curiga]
Oh, bilang dong!
"Baiklah, jadi sepuluh tembaga ya.."
Fred yang tidak memiliki uang, berpura merogoh saku celananya, kamudian mengepalkan tangan dan berpose seakan, akan memberi uang.
"Ini uangnya"
Dan.. ketika penjual itu menjulurkan tangannya..
Gubrak! (sfx: terbentur sesuatu)
Fred menarik lengan si penjual dengan tangan kanannya, kemudian melingkarkan tangan kirinya di kepalanya dan menutupi mulut penjual.
Kekuatan Fred cukup untuk menahan berontakan dari si penjual, dan untuk lebih memastikannya lagi, ia mengeluarkan pisau dan menodongkannya ke perut si pedagang.
"Ingat, jangan memberontak, jangan berteriak, dengarkan aku dan aku tidak akan menancapkan pisau ini ke perutmu sehingga melewati ususmu. Kamu lebih tahu rasa sakit sebuah pisau kan" dengan nada mengancam, Fred memperingati si pedagang.
Pedagang topeng itu hanya bisa mengangguk tak berkutik di depan kekuatan Fred, matanya melebar melihat pisau unik Fred, sedikit harapan untuk memiliki pisau itu terbesit di benaknya, namun dia tahu bahwa itu bunuh diri.
Sayangnya dia tidak tahu bahwa Fred mengetahui pemikiran pedagang topi itu.
Fred pun tersenyum.
"Jadi kamu menginginkan pisau ini?"
Pedangang mengangguk.
"Baik, lalu kamu bisa memberiku topeng itu dan 10000 koin tembaga"
Meski agak terkejut pria itu mengangguk.
Fred kemudian mengendurkan tangannya.
"M-maafkan saya pak sebelumnya, s-saya tidak bisa memberikan tembaga sebanyak itu.."
Ekspresi Fred berubah mengancam.
"T-tapi jika 100 perak aku bisa.."
hmm, apa yang dia maksud? System! Apa maksudnya?
[Nilai 100 tembaga sama halnya dengan 1 perak, dan 100 perak sama dengan 1 emas. Tapi hei! Apakah kamu bodoh! Pisau itu bisa bernilai lebih, 100 perak? Itu bodoh!]
Setelah pertukaran selesai, Fred menambahkan untuk mengambil sebuah selimut hitam yang akan digunakannya sebagai jubah.
Sekarang ia sedikit mirip dengan film superhero yang cukup terkenal, "batman".
Sayangnya, topeng itu, yang bercorak harimau, agak lucu ketika dipakainya.
Segera, Fred bergegas menuju alun-alun untuk mencari serikat petualang.
***
Di lorong istana walikota Kota Jordan.
Wanita berambut merah, dengan seragam maidnya, menarik perhatian semua orang ketika ia lewat.
Kecantikannya yang 'berbeda' dari pelayan lainnya cukup untuk mengambil semua perhatian.
Baik perempuan maupun laki-laki, tidak bisa berkata-kata ketika ia lewat.
Kecantikan bergaya asia memang cukup jarang ditemui di dunia bergaya kerajaan abad pertengahan seperti ini.
Beberapa orang bahkan menyebut-nyebutnya sebagai 'Elf', ras yang dikatakan cukup misterius.
Tapi, tanpa memerhatikan semua itu, Julie tetap berjalan penuh percaya diri, dan sekali-sekali memberi anggukan dan senyum kepada orang yang lewat.
Dan seakan-akan tersihir, orang-orang yang terserang senyumnya akan menyentuh dada mereka karena terkejut dan membalas senyum Julie, kemudian menundukan kepala memberi hormat.
Mereka semua menghormati Julie seperti hal itu adalah perilaku yang lumrah, yang diberikan oleh seorang pelayan terhadap seorang putri mahkota.
Di lain sisi, salah seorang prajurit dengan armornya yang berkilauan memberanikan diri untuk menyapa dan berbicara dengan Julie.
"H-halo.. apakah kamu baru bekerja disini? Kamu tampak agak kurang familiar, bolehkah saya berkenalan denganmu?" Tanya pria berbaju zirah itu sok keren.
Julie agak terkejut di dalam hati, namun dengan senyum halus kemudian ia menjawab pertanyaannya.
"Anda benar, saya memang pelayan baru. Sebelumnya perkenalkan, nama saya adalah Julie, terima kasih sudah meluangkan waktu menyapa saya."
Julie kemudian menawarkan jabat tangan.
Dia tidak tahu bahwa tidak ada budaya jabat tangan disini.
Pria yang menyapa Julie terkejut dengan kesopanannya, dan dia tertunduk melihat tangan putih yang disodorkan padanya.
Meski pria ini mengingat sebuah insiden yang agak familiar baru-baru ini, ia pasrah.
Yap, pria di hadapan Julie adalah Rod, prajurit yang kejar-kejaran dengan Fred beberapa waktu lalu.
Dia tahu akan bahaya ketika orang menodongkan (menawarkan) tangannya ke orang lain.
Namun bak dibius oleh kecantikan Julie, ia berdiri kaku di hadapannya.
Julie kemudian teringat bahwa ia sedang berada di tempat yang memiliki kebudayaan berbeda dengan tempat tinggalnya.
Jadi ia mengambil tangan Rod dan menjabatnya.
"Apakah Anda tidak pernah berjabat tangan? Tidakkah itu budaya perkenalan yang umum?" Tanya Julie.
Merasakan hangatnya tangan Julie, muka Rod kemerahan dan ia tidak berani menatap langsung pada Julie.
"Ada apa?" Tanya Julie setelah melepas jabat tangannya.
"Ee.. e.. i-ini.. biasanya jabat t-tangan hanya dilakukan ketika melakukan kesepakatan. Dan ketika orang tak dikenal mengarahkan tangannya kepada orang lain, itu bisa dianggap sebuah upaya serangan sihir. A-aku kira kamu akan menyerangku. Maafkan prasangkaku!" Rod merendahkan punggungnya.
"Ops, maafkan aku juga, aku tidak tahu" jawab Julie sambil menutup mulut dengan tangannya.
"T-tidak apa-apa, aku juga mohon maaf sudah menggangu, silahkan lanjutkan pekerjaanmu" ucap Rod masih dalam pose 'hormat' nya.
"Baik, terima kasih atas percakapan singkat yang berharga ini."
Dan.. tak terduga..
Ditengah salam selamat tinggal Julie pada Rod, sebuah suara menggelegar.
"Ada apa ini?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Untuk beberapa alasan, aku sekarang lebih suka menggunakan 'italic' untuk monolog tokoh.
Dan juga, aku ingin memberi tahu bahwa....
Aku menyiapkan sebuah kejutan untuk pembacaku!
Jadi...
Jangan lupa like, comment, and share yaa!
7 Maret 2020