
“Bantuan untuk memenangkan lomba? Tahun lalu pun aku mengundurkan diri dari lomba rendahan itu” Protes Al
“Aku mengerti, lomba dengan penuh kepentingan. Tetapi hasil Turnamen akan mempengaruhi kekuasaan kampus”
“Sudah jelas bukan?”
“Aku punya alasan rasional untuk memenangkannya. Pertama, dia tidak memiliki latar belakang pejabat untuk bertahan di kampus, hanya beasiswa yang menjanjikan dirinya aman dari segala biaya. Kedua, kampus ini erat akan hierarki yang kuat, kau dan kelas elit sastra duduk pucuk kasta kampus, berbeda dengan kami yang kasta menengah dan jalur beasiswa merupakan kasta terendah yang selalu diremehkan, begitu juga dengannya. Dan ketiga, keunggulannya berpikir membuat banyak pihak yang memojokannya, bahkan sampai memboikot untuk mengikuti Turnamen” Kirana berbicara tegas lebih serius dari sikap biasanya.
“Sekarang kau justru meniru dia” Al munjuk Dosen Bintari yang selalu membuat poin pernyataan dalam kalimatnya.
“Hehehe, itu memang pernyataan Dosen Bintari pada pertemuan sebelumnya”
“Jika begitu, hanya dengan aku dipihaknya sudah cukup membuat pihak musuh mundur bukan?” Al menganalisis setiap kemungkinan.
“Kuakui kamu jenius dapat berpikir langsung sejauh itu, bahkan butuh beberapa waktu untuk aku dan Dosen Bintari menemukan solusi berdua” Balas Kirana.
Pertemuan menjadi tempat perbincangan serius, hanya Dosen Bintari yang sudah tertidur lelap dibangku setelah lama memperhatikan Al dan Kirana bertukar pikiran.
“Masalah selesai bukan? Dan untuk apa pengikutsertaannya dalam Turnamen? Cihh, Persetan jika hanya ingin mencari uang” Al menatap sebal Kirana
“Masalah sesungguhnya ada disana, musuh bukanlah lagi perbedaan antar kasta, tetapi juga keterlibatan pihak pejabat kampus, resikonya adalah pengeluarannya secara tidak hormat dari kampus. Kau mungkin tidak perlu kujelaskan mengenai itu, sudah pasti kau lebih paham” Kirana meremas jarinya kesal.
“Maka dengan menjuarai kontes itu dia bersinar mendapatkan kekuasaan baru, pihak pemenang yang membuat posisinya aman?”
“Sudah kubilang tidak perlu kujelaskan”
“Sepertinya Kau sudah gila merencanakan hal ini” Al tertawa.
“Itulah penawaran terbaik dariku, hanya sedikit bantuanmu” Kirana mendengus sebal.
“Rencana ini bahkan mempertaruhkan reputasiku dikampus. Tentu aku menolaknya sama halnya aku menolak tawaranmu dikantin bukan?” Al menjawab enteng.
“Kau harus menerima tawarannya Al” Dosen Bintari mengusap mukanya yang setengah tidur mendengarkan perbincangan.
“Dosen Bintari benar Al, aku sudah mengikuti aturan mainmu dengan mengakuimu sebagai Al,. Lagipula Kami berdua juga sudah sepakat” Kirana membusungkan badan melihat penolakan Al.
“Hanya kesepakatan kalian berdua, tidak ada kaitannya denganku, itu adalah faktanya Ibu Dosen” Al kokoh menolak.
Meja pertemuan cukup panas pada ruangan yang dipenuhi AC. Dosen Bintari masih termenung setengah sadar, nyawanya belum kembali pulih dari bangun tidurnya.
“Selalu ada cara mengalahkan orang jenius” Kirana tersenyum ketus mengeluarkan kalimat jurus sarkasnya.
“Betul sekali, tetapi Dosenmu mempunyai satu senjata ampuh”
“Aku dipihaknya Al, sistem kampus semakin menyebalkan jika kekuasaan berada ditangan yang salah” Kesadaran Dosen Bintari telah kembali.
“Aku tidak peduli akan hal itu, bahkan jika penguasa selanjutnya menerapkan otoriter kampus” Al menyilangkan tangan.
“Baiklah kalau kau ingin menggunakan pemaksaan disini”
Dosen Bintari bangkit dari sofa meja tamu berjalan ke meja kerjanya memilah beberapa berkasnya.
“Pertama, sudah kuucapkan diawal bahwa tamu ini menjadi tanggungjawabmu. Kedua, Turnamen Cinema Kampus menjadi hal mudah untukmu. Tahun lalu pun kontenmu berpotensi menjadi juara, sebelum pada akhirnya kau mengundurkan diri. Ketiga, jika kau tidak bersedia, aku tidak akan menandatangani surat rekomendasi lulus cepatmu” Dosen Bintari membanting sejumlah berkas di meja.
“Senjata sangat ampuh bukan?” Senyum sinis Kirana tetap bertahan.
Situasi ini serupa ketika Al terdesak dengan pernyataan kakaknya semalam yang berhasil mendapat izin untuk tinggal di apartemen.
“Kalian membuat jebakan yang sangat sempurna, cihh” Al memicingkan matanya.
“Kau yang membuatku menggunakan jalur pemaksaan!!”
“Sebagai ahli politik kau sangat kuat merancang pengaruh" Mata Al tertuju kepada Dosen itu.
“Apakah kamu butuh waktu untuk menjawab tawaran menarik dari teman wanitamu?” Suaranya kini dingin seperti amarah yang memuncak melihat kelas tidak kondusif.
“Sebanyak apapun waktu berpikir yang kuminta, tetap saja posisiku kalah jauh disini. Kalian menggiringku untuk diposisikan pada pilihan bersedia dan menutup pilihan lain” Pria itu menghembuskan napas.
“Dapat disimpulkan kita sepakat?” Kirana mengulurkan tangan.
“Wanita memang selalu menyebalkan” Al terpaksa menjabat tangan Kirana sebagai tanda sepakat.
“Huaaaaahhh, akhirnya tugasku selesai” Dosen Bintari menguap, seharusnya dia dapat pulang lebih cepat karena jam perkuliahan hari ini telah selesai 30 menit lalu.
Dengan gesit Kirana Izin keluar ruangan, terdengar sedikit percakapan diluar diiringi teriakan histeris layaknya wanita yang mendapat keburuntungan. Sepertinya mereka mengetahui ruangan ini kedap suara, tetapi tidak tau ruangan ini juga dapat mendengar suara diluar. Pikir Al.
Setelah 5 menit membahas hal tidak jelas diluar, Kirana kembali masuk ruangan bersama seorang wanita. Kepalanya tertunduk, rambutnya dikuncir cukup panjang untuk dikibaskan seperti iklan shampoo di majalah. Tingginya sejajar dengan Kirana yang hanya sepundak Al.
Dengan sikap pemalu, berbeda saat kejadian diluar yang dapat berteriak histeris.