
"Aku akan kembali ke Surabaya esok lusa" Kak Serena menghabiskan sereal dimangkuknya.
"Bisnis Papa sudah berkembang pesat, dunia bisnis menyebalkan bukan?' Al mengaduk-aduk sereal sarapannya.
"Betul, mereka hanya orang berdasi yang rakus dengan keuntungan terbesar"
"Sedikitpun aku tidak tertarik pada bisnis, akibatnya beban itu berada padamu"
"Tidak juga, lagipula aku suka berkeliling negara-negara importir daripada mengurusi pria yang ingin serius padaku" Kak Serena mengutip ejekan Al untuk menikah.
"Baiklah, setelah membersihkan peralatan kotor, kamu boleh berangkat" Al bangkit mengaitkan tas kecil di kaos oblongnya.
Lari pagi menjadi alternatif latihan fisiknya selama keberadaan kak Serena. Al dipastikan tidak akan berkonsentrasi jika melakukannya di apartemen. Badannya terbentuk pada Kaos oblong dan celana pendek hitam digunakannya berlari.
Udara pagi Jakarta yang masih sejuk ditambah dengan sisa awan mendung yang mengguyur hujan semalaman membuatnya mempercepat intensitas kecepatan larinya untuk mengeluarkan keringat extra.
Rutenya melewati blok-blok hingga tujuannya sudah didepannya, taman bersebrangan dengan Mega supermarket yang beberapa hari lalu dikunjunginya bersama Rin dalam acara makan makan.
"Hari-hariku semakin payah" Al berbicara sendirian.
Al berolahraga menggunakan fasilitas taman yang menyediakan alat bermain fitnes. Posturnya yang besar tidak terlalu cocok pada alat fitnes yang disediakan, bahkan saat pull up kakinya bisa menapak pada bagian tanah.
Dia mengakhiri olahraga tanpa meninggalkan rasa lelah. Taman menjadi pilihan favoritnya untuk bersantai dan selalu duduk pada bangku bagian tengah taman dengan hamparan Bunga Lily.
Posisinya ditengah taman membuat sekelilingnya ramai orang-orang berlalu lalang berolahraga. Tidak heran juga beberapa wanita yang tertarik menyempatkan berhenti pada bangkunya. Al cuek menolak semua permintaan kenalan.
Waktu bersantainya cukup nyaman digunakan menulis kegiatan penting yang akhir-akhir ini dilewatinya. Prinsipnya adalah semuanya bergantung pada pola, Al selalu menuliskan kejadian kecil pada bukunya yang membentuk suatu pola pada tujuan seseorang. Herman-pun sebelumnya pernah dibentuk pola saat awal perkenalannya, pada akhirnya Al berhenti membentuk polanya karena dia memang pria payah tanpa tujuan.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan, tentang pertemuan selanjutnya bersama tim lomba kampus, wanita misterius Zeline di supermarket, dan ciuman kejutan dari Rin.
Sudah 3 hari tidak ada kabar masuk dari kesepakatan Kirana. Mungkin mereka sudah mengerti dengan keadaannya dan memutuskan untuk melarikan diri, pikir Al dengan seringainya.
Masalah ciuman kejutan dari Rin bisa dikesampingkan untuk wanita misterius Zeline. Sangat jarang terjadi wanita lokal memiliki bola mata coklat muda dan hanya keluarga Zeline yang memiliki kemungkinan mata itu.
Satu lagi masalah muncul ketika Al memasukan kembali buku diarynya, tangannya berhenti pada sebuah kartu di tas kecilnya. Kartu nama Hanz yang disimpannya tanpa alasan apapun. Hanz menjadi pria aneh yang muncul secara tiba tiba, mengakui dirinya lebih senior 2 tahun dibanding Al. Apa untungnya seorang guide campus menghabiskan waktu dengan omong kosong seperti itu.
Al langsung bergegas keluar taman. Ingatannya bersambutan ketika memikirkan pak tua itu, Guruh bisa menjadi jalan keluar dalam perkembangan polanya.
Angkutan umum tidak menjadi permasalahan bagi Al yang biasa dikelilingi kemewahan, baginya sama seperti naik mobil NSX-nya ataupun mobil klasik Rin. Permasalahan sebenarnya terjadi pada penumpang-penumpang wanita disisinya. Mata mereka tidak berhenti menatap Al, seperti pencuri yang tertangkap basah. Meskipun ruas jalan kosong di pagi hari, 20 menit berlangsung lama jika berada bersama wanita-wanita di angkutan umum untuk sampai ditengah kota sejarah Batavia.
"Ambil saja kembaliannya" Al melihat muka bingung sopir angkutan umum ketika tidak ada recehan kembalian pada pecahan uang besarnya.
"Terimakasih mas" Sopir angkut semangat menginjak pedal gasnya pergi bersama tatapan-tatapan menyebalkan.
Masih terbesit diingatannya di angkutan umum, bisikan-bisikan diantara penumpang dengan tatapan menuju kearahnya. Bahkan ada wanita seketika menjadi pembicara tegas saat menjawab obrolan dari rekannya, beruntung tipe Al tidak kembali menemukan tipe wanita seperti Rin.
Gedung Komunitas Sastra Modern terpancar sinar matahari pagi memperlihatkan sisi rapuh pada beberapa bagian sisi gedung tua. Di lobby hanya ada beberapa orang asing yang tidak dikenalnya sedang menyelesaikan konten, meja penerima tamu yang biasa diisi oleh Diva terbengkalai menyisakan debu.
Sebenarnya tujuan Al bukan hanya diskusi menemukan pola motif orang-orang yang muncul, tetapi juga untuk membuktikan ucapan Dosen Bintar pada kebiasaannya melebih-lebihkan sesuatu, termasuk mengenai Diva yang dirawat inap.
Pada ujung gedung terlihat ruangan kreasi yang kosong, Guruh terbiasa bermalam di ruangan itu menghabiskan sisa malam. Akhirnya Al memutuskan langsung menuju ke ruang kerja Guruh. Tanpa ketukan pintu dan salam Al memasuki ruangan, sudah menjadi tabiatnya menjadi Al bersikap begitu, sama seperti yang dilakukannya masuk pada ruang Dosen Bintari.
Terlihat sosok tua itu terkapar pada meja kerjanya. Baru beberapa langkah mendekat, terdengar suara berdeham.
"Tidak bisakah kamu mengganggu hari libur?" Matanya merah kekurangan tidur.
"Siapapun bisa datang ke tempat ini bahkan hari Sabtu sekalipun"
"Kedatanganmu tanpa izin masuk mirip seperti pencuri rendahan" Guruh bangkit dari bangku.
"Tidak ada seseorang dapat tidur dengan nyenyak tanpa mengunci pintunya, instingmu sangat tajam dalam posisi setengah tidur dapat menyadari seseorang yang masuk" Al duduk di sofa memakan camilan yang tersedia untuk tamu.
"Jangan habiskan stok makanan ringan persediaan tamuku"
"Aku-pun dapat disebut tamu, aku butuh energi tambahan setelah berolahraga" Al mengangkat pundak.
Pemandangan keluar pada sofa penerima tamu menampilkan lapangan beralaskan batu halus. Di pagi hari banyak masyarakat lokal dan Bule berlari pagi dengan badan bersimbah keringat.