
“Itu mudah dijelaskan dalam ilmu pengetahuan bukan? Tanpa bukti orang yang mati suri pun, penelitian sudah menjawabnya. Sama halnya dengan reinkranasi, bukankah dalam penelitian mendapati bahwa setidaknya ada 7 orang yang menyerupai kita?” Dosen menjawab enteng pertanyaan Kevin.
Kelas hampir dipenghujung waktu, sudah menjadi tradisi Mr. Pieter menutup materi dengan sebuah pandangan konspirasi yang hanya didasarkan sebuah spekulasi pribadi. Pengalaman pendidikan timur-barat membuat asumsinya tidak mudah dipatahkan meskipun bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
“Baiklah anak-anak, jika seseorang yang membuktikan pernah didalam kematian, mungkin kita akan mengetaui berapa suhu di neraka nanti ataupun dirinya sudah berdiskusi dengan tuhan tentang solusi masalah yang sedang dialami didunia. Sebaliknya, jika seorang Reinkarnasi dapat bersaksi didepan umum, mungkin kesaksiannya memuat ketidakadilan tuhan terhadap dirinya sebagai manusia sebelumnya”
“Hari ini materi dicukupkan. Semoga kalian tetap mempunyai agama, Selamat Siang,” Mr Pieter tertawa meninggalkan kelas.
Kelas sudah dipenuhi penyakit menguap. Hanya Al yang setengah tertidur dengan menyembunyikan dirinya dibelakang tubuh mahasiswa lain, trik terbaru yang saat ini menjadi tren bagi kalangan mahasiswa.
Matanya merah disertai baju lusuh sangat membedakan penampilannya sebagai masa lalunya kemarin siang dengan jas diiringi sisiran rapi. Al hanya merapikan rambutnya dengan sela-sela jari.
“Ayo semua bergegas, ruangan ini harus disterilisasi untuk dipakai kelas lain” Suara Kevin dari speaker.
Segerombolan massa mulai meninggalkan kelas, ruangan yang lebih cocok disebut studio mewah dijadikan tempat perkuliahan oleh pihak kampus yang menjadikan fasilitas nomor wahid di Jakarta. Setiap kelas dihubungkan lorong panjang semacam lorong bioskop dengan bilik ruangan dikanan-kirinya. Lorong panjang tersebut mengarah pada lobby, titik central gedung Fakultas Sastra.
“Terimakasih telah bertansaksi, Tuan Al” Mesin minuman otomatis mengeluarkan sekaleng Soft Coffee setelah Al menempelkan sebuah kartu mahasiswa.
Banyak teknologi yang ditawarkan, bahkan mesin standar uji coba sudah dapat beroperasi di kampus. Alat canggih yang mungkin 10-15 tahun baru dapat beredar dimasyarakat, sudah tersedia untuk melayani mahasiswa. Banyak rahasia kampus yang jarang diungkapkan publik.
“Orang-orang disini sangat apatis rupanya” Seseorang mengikuti langkah Al yang menuju sofa dipojok lobby.
“Ya, bahkan mereka saling tidak mengenal” Al duduk memandang segerombolan anak kelasnya meninggalkan lobby menyisakan Al dengan orang aneh ini dan resepsionis gedung yang tetap tersenyum meskipun lobby telah kosong.
Pemandangan diluar gedung sudah menjadi kebiasaan seusai kelas. Mobil jemputan memasuki pelataran lobby seperti showroom mobil mewah.
“Sepertinya kau berbeda, lumayan juga”
“Apa kau disini hanya untuk ditemani curhat?” Al bersikap meneyebalkan.
“Itu hal bagus, taukah kau seorang kacamata tadi yang berpendapat di kelas? Ya dia mendapat posisi ketua kelas hanya karena keluarganya pimpinan partai, dominasinya di kelas cukup efektif untuk menyaingi kejeniusanmu” Lelaki itu membicarakan Kevin.
“Aku tidak peduli padanya meskipun wajahnya terpasang dibaliho jalan sebagai generasi emas sastrawan” Al menyeruput soft coffeenya, pemandangan anak kelas terakhir pergi bersama BMW.
Langit mendung menyisakan mereka berdua, angin kencang diluar jendela menandakan musim hujan sudah datang.
“Sepertinya aku tertarik kepadamu, Al”
“Dan sepertinya kau mempunyai banyak informasi sebelum menjadi mahasiswa pindahan kampus ini” Al menyela pengaruhnya.
“Kau cukup hebat untuk menilai seseorang Al, mungkin hanya kau yang menyadari kehadiranku sebagai mahasiswa mutasi. Semua orang disini tidak peduli akan keberadaan orang lain walaupun hanya pembicaraan bertukar nama, mereka berpandangan rendahnya martabat jika memulai obrolan. Inilah kasta tertinggi kampus, kelas Sastra dengan gengsi tinggi”
“Di jerman tidak terlalu menarik, keadilan cukup merata dan sangat sedikit masalah yang timbul. Sangat berbeda dibanding Indonesia bukan?”
“Itu alasan terbodoh yang pernah kudengar” Al bersandar lelah terlihat pada kantung matanya yang mengatup.
“Tidak usah menahan diri kawan, Sastrawan dan Budayawan mempunyai kekuasaan besar saat ini, posisi kita bahkan dapat mempengaruhi perpolitikan negara. Kelas elit Sastra dipersiapkan sebagai bentuk rotasi penguasaan negara, bagaimana asumsiku, jenius?” Pria itu meletakkan jemarinya didagu.
Hari-hari biasanya, Al hanya dapat tertahan oleh wanita yang sudah mengumpulkan tekad berkenalan untuk mendapatkan sebuah kontak. Tetapi kali ini, suatu keanehan Al tertahan oleh seorang pria yang merasa mengetahui segalanya.
“Aku sibuk, sudah saatnya untuk pergi” Al memastikan jam tangannya yang menunjukan pukul 2 Siang.
“Baiklah, Calon Sastrawan memang super sibuk” Pria itu merogoh kantong.
Al berdiri tanpa mengucapkan salam, melewati pria itu tanpa peduli. langkah kakinya tertahan ketika kepalan tangan nyaris menghantam wajahnya.
“Kau juga hebat dalam pertarungan bukan ?” Pria itu masi mengepal tangannya.
“Tinjumu sengaja meleset hanya untuk membuatku waspada”
“Tidak salah aku tertarik padamu, mungkin kau akan menjadi rekanku nanti” Pria itu menyodorkan kartu nama didalam kepalan tangannya.
“Hanz, nama samaran yang unik” Al mengeja nama dalam kartu.
“Sudah jelas bukan ? kelas elit menggunakan samaran agar identitasnya bersih di kampus dan ketika lulus namanya bersinar tanpa catatan keburukan untuk ditampilkan publik”
“Selain banyak informasi, ternyata kau juga cerewet”
“Dan ternyata kau salah dalam menilaiku. Dalam hitungan kalender perkuliahan aku 2 tahun diatasmu dan sudah 2 tahun juga aku cut perkuliahan dengan mengambil kelas bisnis di Jerman. Aku kembali kesini karena mendengar kabar bahwa ada seorang jenius dikelasku. Mungkin itu momen cukup baik untuk kembali”
Hanz berdiri disisinya. Al hanya bisa mengerutkan dahinya.
“Bahkan aku paham Reinkarnasi yang disebutkan Mr. Pieter. Reinkarnasi pada seseorang jatuh sakit dan tidak tertolong apakah menjadi ketidakadilan tuhan?” Hanz mengangkat bahu meninggalkan Al lebih dulu.
Terbesit kenangan bersama Amel Zeline dengan penyakit langka. Tidak mungkin Hanz mengetahui informasi sejauh itu, pikirnya.
Al memasukan kartu pemberian Hanz ke dalam kantong. Langkahnya melewati resepsionis yang tetap tersenyum meskipun tidak ada pengunjung. Bagian Utara gedung menjadi lokasi terluas, lorong menyambungkan ruangan Aula besar kelas elit sastra.
Al tidak sedang ingin mengikuti seminar ataupun perlombaan di Aula. Jalan bercabang memutus arah ke ruang Aula, jalan menampilkan belasan pintu disisi lorong. Papan-papan berisikan nama dosen di gedung Sastra terhampar pada setiap pintu ruangan. Lorong sepi dengan udara menusuk cukup membuat mahasiswa keringat dingin. Tetapi hal ini tidak berlaku kepadanya, tanpa mengetuk dan izin masuk Al terbiasa menerobos di pintu terakhir pada papan bertuliskan Bintari S.S., M.SI.