
Posturnya tidak melambangkan adanya keunggulan, ketidakpercayaan dirinya terhadap orang baru cocok dicap ‘pengecut’ dalam Turnamen.
“Tidak perlu gugup, sekarang mereka dipihak kita” Kirana mencairkan suasana.
“Hei…. Jadi ini mahasiswa jalur beasiswa yang sudah banyak mengalahkan anak pejabat? Manis juga” Tanpa disuruh Dosen Bintari menyalami wanita itu yang masih berdiri canggung.
Dalam sekejap Dosen Bintari langsung akrab dengan keberadaan wanita itu, layaknya seorang anak sendiri ia merapikan pakaiannya yang berantakan akibat berlarian mencari ruangan ini.
“Dia akan menjadi rekanmu” Kirana menunjuk Al
“Aku sudah banyak mengetahuimu, kamu bisa memaminggilku Dina” Dina mengulurkan tangan setelah merapikan kacamatanya yang retak, mungkin teriakan ramai diluar membuatnya menabrakan diri ke pintu.
Sekiranya ada 3 wanita asing setiap harinya yang mengajak berkenalan dan bertukar kontak dan Al selalu menghiraukannya. Tetapi saat ini, setelah nasibnya bertanggungjawab atas Turnamen Cinema Kampus, diriya juga dipaksakan berkenalan dengan wanita.
“Al….” Jawabnya dingin, untuk pertama kalinya dirinya berjabat tangan lagi dengan wanita kenalannya.
“Sepertinya cukup perkenalannya. Kami harus kembali, terimakasih Ibu atas pertemuannya” Kirana merapikan barangnya di sofa.
Kirana dan Dina memberi salam hormat kepada Dosen Bintari.
“Selanjutnya aku akan menghubungimu lagi, Selamat bersenang-senang dengan masa lalumu” Bisik Kirana kepada Al sebelum keluar ruangan yang diiringi oleh Dina.
Al tidak menanggapi omong kosong Kirana. Langkah kaki kedua wanita itu sudah tertimbun oleh suasana lorong.
“Hari yang sangat dipenuhi kesialan” Al bergumam sendiri.
“Setidaknya kamu memiliki jaminanku dalam surat rekomendasi tanpa harus penelitian, Jurnal Internasional, dan prosedur kampus lainnya yang merepotkan, cukup adil bukan?”
“Tetap saja dengan mudahnya kamu mempermainkanku” Al mendengus sebal.
“Perumpamaan cukup baik dibanding menyebutku memperalat atau menjadikanmu budak” Dosen Bintari belum puas mengolok.
“Terserah kau, Dosen Bedebah!. Pertemuan sudah berakhir, aku harus pergi” Al mengemas tas kecil.
“Kamu masih dengan tekadmu bukan? Mahasiswa lain justru saling pamer mobil dan motor sportnya, hanya kamu yang berpergian dikampus megah ini dengan berjalan kaki, Bagaimana jika aku mengantarmu?” Dosen Bintari mengacungkan kunci mobil terbarunya, terlihat dari gerigi kunci yang masih berkilau.
“Lebih sehat berjalan kaki dan menggunakan angkutan, dasar tukang pamer” Al melambaikan tangan melangkah menuju pintu keluar tanpa mengeluarkan salam hormat.
Sebelum pintu terbuka penuh, Dosen itu dengan sigap mengunci pergelangan tangan Al, Tangannya sempurna menggandeng jemari.
“Heiii, Apa-apaan kamu ini” Protes Al.
“Anggap saja hadiah tambahan dari pertemuan tadi dan sepertinya kita berbicara banyak dalam perjalanan”
Dosen Bintari tetap menyeret Al keluar melewati lobby gedung yang hanya menyisakan resepsionis bertahan dengan senyumnya meskipun melihat seorang pria tampan diseret oleh Dosennya.
“Lihatlah, belum diproduksi massal. Mobil ini satu-satunya di Indonesia” Dosen Bintari menunjuk mobil di pojok parkir.
“Sudah kuduga tujuanmu pamer”
Sebuah mobil racing, Mitshubishi Lancer GTI sangat cocok untuk wanita itu yang suka kebut-kebutan di jalan raya.
“Niat bersantaiku di taman kali ini batal karena pertemuan payahmu”
“Selamat Sore Tuan Al, bagaimana aktivitas Tuan hari ini?” Baskoro bergegas menyambut hormat kedatangan Al di lobby.
“Sore Pak Bas, bagaimana kondisi tamuku? Kamu melayaninya dengan baik?” Al mengingat sikap Kak Serena yang susah diatur.
Wajahnya menyerupai kepiting rebus ketika turun dari mobil Dosen Bintari. Pembicaraan di mobil sungguh menyebalkan, setidaknya ada 2 hal. Dirinya tidak terima Dosen itu menerima tawaran bantuan hanya untuk sebuah voucher salon gratis seumur hidup. Setiap hari aku dapat mengganti model rambutku, ucapannnya masih terngiang. Terakhir, Al disodori buku dasar turnamen campus yang isinya hanya persyaratan dan peraturan turnamen.
Lobby besar lengang pada sore hari. Lukisan-lukisan serasi menghias bangunan yang serba putih itu dengan kilauan indah pada kerangka lampu besar ditengah ruangan.
“Saya melayaninya dengan sepenuh hati, sebuah kehormatan dapat melayani tamu Tuan” Baskoro kembali menunduk hormat.
Pelayan Pribadi menjadi keunggulan fasilitas Apartemen Stourton, mereka bisa memilih menilai dan mengganti pelayanan sesuai kemauan. Al sendiri sudah berulang kali mengganti pelayan selama 2 tahun menempati Apartemen, entah alasan karena dia seorang wanita ataupun pelayan pria dengan senyum terpaksa. Tepat setelah pria berumur separuh abad itu menjadi pelayannya 6 Bulan lalu, Baskoro tetap bertahan.
“Biarkan Saya membawakan barang Tuan” Baskoro mengulurkan tangan.
“Tidak perlu memaksakan diri, pak” Al tetap mengaitkan tas kecil dipunggungnya.
“Baiklah, sekiranya Saya bisa mengantar Tuan sampai kamar”
Baskoro berjalan bersampingan dengan Al. dia mengizinkannya karena tradisi penghormatan di Apartemen yang membuat pelayan berjalan selangkah dibelakang majikan cukup menganggu, baginya seperti seorang penguntit.
“Untuk sekian kalinya Saya berterimakasih karena tetap mempertahankan Saya sebagai pelayan Tuan. Tidak banyak majikan yang mau menerima pelayan lelaki tua, rata-rata pelayan disini berusia muda dan seorang wanita ” Baskoro menekan tombol 14 pada lift.
“Sebagai pelayan kamu apa adanya, tidak perlu senyum palsu atau sambutan kedatangan lebay dan terakhir kamu seorang pria” Al melipat tangannya didada.
“Sejak Tuan memilih Saya sebagai pelayan, krisis keuangan keluarga kami seketika menghilang sehingga cucu Saya bisa melanjutkan sekolahnya, Saya selalu menceritakan kebaikan Tuan”
“Sudah menjadi tanggung jawab memakmurkan pelayanku”
Hanya dalam beberapa langkahnya keluar dari lift suara pria Philogynik terdengar jelas.
“Al kemarilah” Herman memanggil kembali.
Wajahnya tambah kecut ketika melihat lambaian tangan Kak Serena dengan satu wanita lain yang tidak dikenalinya duduk bersama di ruang bersantai.
“Ternyata Opang kecilku sudah kembali dari kesibukannya di kampus” Herman memonyongkan bibir ketika Al menghampirinya.
Kali ini Al mematung mendengar nama masa kecilnya. Kak Serena sudah pasti menjadi dalang semua ini, dengan mudah menceritakan apapun.
“Hei, aku tau peraturannya. Opang bukanlah identitas aslimu Al, lagipula kamu sendiri yang menyuruhku untuk tidak kemana-mana setelah kembali dari urusan bisnis Papa” Kak Serena merasa tidak bersalah.
“Aku lelah bisakah kita kembali” Al ikut duduk disela tawa Hermman yang puas meledeknya.
Hanya Pelayan Bas yang tetap gagah berdiri menunggu perintah.
“Kamu tidak bisa kembali, Bung” Balas Herman.