
"Ak..an ku...hajar k..au" Darren terbata-bata sulit bernapas.
"Lepaskan dia Al, tidak ada yang boleh mengacaukan tempat ini" Levi membuang puntung rokok.
Kirana hanya menghela napas melihat keributan. Al sudah ahli Muay Thai sejak kecil tidak mudah dikalahkan oleh orang senekat Darren.
"Aku akan mengirimmu ke rumah sakit" Al mengeratkan kuncian lehernya.
"Sepertinya aku harus ikut campur" Levi memotong kuncian Al dengan kekuatan tangannya.
"Boleh saja kamu membantu sahabatmu, Levi" Al bangkit memasang posisi bertarung. Membiarkan Darren terkulai lemas kekurangan oksigen.
"Tidak masalah bertarung denganmu" Levi maju perlahan.
Pukulan-pukulan kuat dilontarkan Levi dengan porsi lengan yang besar dibanding Al. Teknik bertahan Al tidak akan cukup lama bertahan menerima lebih banyak pukulan Levi.
"Kamu petarung yang hebat" Levi menghela napas panjang setelah melakukan puluhan pukulan bertenaga.
"Giliranku untuk menyerang" Al maju mengangkat tinggi kaki.
Sebuah gerakan tipuan Al menyerang Levi, tendangan kearah kepala hanyalah umpan membuka celah untuk menyerah pada tubuh Levi.
Bukk.. Bukk..
Dua tendangan langsung kearah perut menjadi titik balik Al mengembalikan keadaan dalam sekali serang. Levi terbanting kehilangan keseimbangan tidak menduga ada sebuah tendangan.
"Hentikan, Al" Kirana menahan gerakan Al untuk melancarkan serangan selanjutnya.
"Kamu lengah, Levi. Badan besarmu seharusnya bisa mengimbangiku" Al meregangkan ototnya bekas pukulan.
Rooftop berubah menjadi arena pertarungan, 2 orang K.O setelah berhasil dirubuhkan oleh Al.
"Kamu membuat masalah besar, Al" Kirana menepuk dahi.
"Aku mengerti, sebentar lagi para pelanggan dari pulau seberang itu akan ikut masuk ke dalam arena bukan?"
"Jika kamu paham akan hal itu, mengapa tetap melanjutkan pertarungan, payah"
"Aku masih bisa melanjutkan ini, Al. Seranganmu tadi membuatku terkejut" Levi bangkit.
"Kamu lebih baik pergi, pertemuan kita ditunda" Kirana mengintip tangga.
Sekumpulan orang mulai memperhatikan, kerabat yang sama kekarnya dengan Levi sudah setengah jalan mencapai rooftop.
"Baiklah, aku tidak bisa memukuli mereka satu persatu" Jawab Al enteng.
Diwaktu bersamaan, sekumpulan orang mencapai rooftop. Al terbiasa lompat dari ketinggian, rooftop tidak terlalu tinggi baginya untuk mendarat sempurna.
Sekarang diriku seperti buronan dalam pelarian, pikir Al.
Lolos pada gerombolan orang ke rooftop bukan berarti dapat merasa aman. Al masih harus keluar cafe, pelanggan diteras mempunyai massa lebih banyak dibanding sekumpulan orang ke rooftop.
Kupluk pada Hoodie Al sangat membantu menutup wajahnya. Al berjalan cepat menelusuri teras cafe melewati banyak pelanggan dan pelayan.
"Hati-hati, bang" Ucap salah satu pelayan memberi jalan.
"Maaf, saya buru-buru"
Sosok Rin muncul pada ujung keberhasilan pelariannya. Kehadiran Rin mungil dengan baju casual mini membuat Al heran. Tetapi tidak ada waktu untuk mengurus hal itu, masalah lebih besar akan hadir jika Al tidak lolos keluar cafe.
"Ke rumah sakit terdekat dari balai kota, semakin cepat sampai, semakin besar tipnya" Al masuk ke dalam taksi.
"Siap pak, Saya akan menggunakan rute tercepat" Sopir taksi menancap gas mobil.
Pikiran Al Masih tertuju pada keberadaan Rin di cafe. Analisa paling tepat menempatkan Rin merupakan saudara dari salah satu kumpulan rooftop. Tidak masalah posisi Rin menjadi adik Levi, Darren, ataupun Dina sekalipun, yang menjadi masalah jika informasi ciuman Rin tersebar. Siapapula yang mau terungkap aibnya.
"Bersiap untuk pegangan pak, jalan protokol macet total, kita akan mengambil jalan tikus" Sopir taksi membanting stir.
Mobil berguncang melewati jalan kecil yang tidak rata. Bahkan Al bisa mendengarkan suara berdecit pada ban mobil yang di gas dan rem secara spontan.
"Saya selalu mendapat complain pada pelanggan karena dianggap tidak bisa mengemudikan taksi, tapi anda justru membuat saya semangat memacu taksi"
"Cepatlah waktuku tidak banyak" Al melihat jam tangannya.
Jam besuk sudah separuh habis. Al tidak mau mempunyaI beban esok hari pada pertanyaan Dosen Bintari mengenai tugasnya menjenguk Diva.
Taksi meliuk melewati gang sempit yang efektif menghindari kemacetan.
"Rumah sakit sudah didepan, sepertinya anda harus menyiapkan banyak uang tip"
"Itu hal mudah, kinerjamu sangat bagus. Akan kusampaikan nanti kepada bosmu"
"Dimana ruangan pasien Atas nama Miriam Diva?"
"Lantai 3 nomor 27B, tuan" Suster mengecek buku pasien.
"Sisa berapa waktu jam besuk disini?"
"20 menit, tuan. Kami akan keluarkan paksa jika melanggar"
Al masuk kedalam lift dengan tujuan lantai 3. Sekeliling pengguna liftnya adalah penderita penyakit ringan Membuat Batuk dan bersin memenuhi suara lift.
"Bisa tunjukan kamar nomor 27B?" Al kepada suster dilantai 3.
"Tuan dapat berbelok kiri pada ujung lorong"
"Terimakasih"
Al berjalan lambat mengitung setiap pintu pada lorong. Lorong yang mengingatkannya pada ruangan dosen digedungnya. Ini dia 27B, pikir Al.
"Selamat malam" Al masuk tanpa mengetuk.
"Saat sedang menjengukpun sikapmu tidak berubah"
"Tidak ada perlakuan khusus disini"
Diva sedang disuapi bubur makan malam oleh seorang suster tua. Mukanya merah menandakan kondisi yang semakin membaik.
"Sudah cukup, sus. Anda bisa kembali" Diva menyelesaikan makan malamnya.
"Jangan berbesar kepala melihatku datang"
"Justru aku tidak menduga kamu akan datang"
"Atasanmu sangat rewel dengan absenmu di gedung tua"
"Bualanmu cukup lucu untuk menghibur seorang yang sakit" Diva menyeringai.
"Dimana keluargamu?"
"Sudah kembali kemarin malam, jika mereka tau ini akibat ulahmu mungkin apartemenmu sudah diteror"
"Terdengar seperti ancaman"
"Betul juga, kamu malah senang dengan keadaan itu"
Fasilitas kamar Diva terbilang lengkap, posisi ranjang yang bisa diubah dengan ruangan pribadi sehingga dapat nyaman tanpa gangguan pasien lain. Televisi dan alat pelengkap lainnya juga tidak kalah maju sebagai perawatan penyakit ringan.
"Aku akan membayar administrasi perawatanmu"
"Tidak perlu, tuan sok tajir"
"Ini tanggung jawabku"
"Biayaku gratis, tertulis pada perjanjian kontrakku dengan Guruh, jadi tidak perlu khawatir"
"Pantas saja orang tua itu sampai tidak bisa tidur, budget komunitas terpotong oleh biayamu" Al tergelak.
"Jasaku lebih penting dibandingkan dengan biaya rumah sakit" Diva sudah bisa memasang muka garang.
"Kamu harus sering kembali kesini jika lelah dengan kerewelan Guruh"
"kamu pun datang tidak membawa apapun, hanya penampilan berantakanmu"
"Kamu tidak akan percaya jika sebelum menjengukmu aku menjadi buronan sekumpulan orang Sumatera" Al menghela napas.
"Aku tidak percaya dengan wajahmu yang tidak meninggalkan goresan bogem mereka"
"Hei, Aku serius"
"Begitulah kau, jenius bermasalah"
Bel rumah sakit memenuhi ruangan Diva. Operator mengarahkan para tamu untuk meninggalkan ruangan pasien untuk beristirahat.
"Kamu harus pergi, aku mengusir"
"Aku baru sampai beberapa waktu lalu, izinkan aku rehat sementara" Al melotot.
"Kamu akan dipaksa keluar, Tuan jenius. Peraturan disini sangat ketat"
"Suster dibawah juga bilang begitu, coba saja lakukan itu kepadaku. Butuh 10 dokter untuk beradu pukul mengalahkanku"