Elite Class

Elite Class
BAB V



Ting......


Lift terbuka dilantai 9 dengan mengeluarkan sejumlah orang didalamnya. Banyak tamu apartemen yang sibuk mondar-mandir pada jam makan malam.yang membuat seisi apartemen penuh sehingga dirinya sampai memutuskan pelayannya untuk tidak mengantar sampai kamar.


Ruangan lift berlapis kaca memantulkan perawakannya, entah karena penampilannya yang rusak akibat menyambut batu dari Kirana atau ada yang mempunyai masalah dengannya, banyak mata yang memerhatikannya dan selalu banting arah ketika Al memastikannya. wanita memanglah sosok menyebalkan, ucapnya dalam hati.


Situasinya tidak membaik setelah dirinya keluar lift dilantai 14. Didepannya justru berdiri seorang pria payah yang sedang menunggu sesuatu seperti sales motor dipinggir jalan.


"Bung, hebat sekali kau mendapatkan wanita, Kakap Besar" Herman memukul lengan Al layaknya pria sejati.


"Aku tidak melakukan apapun, bodoh!" Hardik Al yang merasa tertuduh.


"Lalu untuk apa seorang wanita dengan mudahnya masuk ke dalam apartemenmu? dijadikan pajangan pajangan seksi dalam pengantar tidurmu? dasar sastrawan hidup belang"


"Tidak seorangpun mendapat akses pada apartemenku"


Al mengecek tombol pintu ruangannya, aksesnya terbuka beberapa waktu lalu, ada yang sengaja masuk kedalam apartemennya. Sistem keamanan yang tinggi dengan kartu elektronik, apartemen ini masih dapat dijebol.


"Wanita membawa koper dan sempat berbincang denganku, logatnya kental dan lekuk badannya hampir sempurna. Dia menyebut nama Opang, nama cukup kuno di Jakarta" Herman menyibakkan rambutnya.


"Ternyata wanita tua itu" Al mengelus kepalanya tidak menyangka dia datang.


"Hei, sepertinya dia masih belia" Herman protes dengan pernyataan Al.


"Jangan tertipu oleh tante itu, dasar bodoh!"


Al menyingkirkan Herman dan masuk ke dalam apartemen. Seperti dugaannya, seorang wanita terbaring diranjangnya.


Kakaknya seorang penerus bisnis keluarga yang berpotensi, tetapi sikapnya lebih cocok disejajarkan dengan wanita yang baru masuk tahap pubertas. Dapat dilihat wanita itu tanpa izin masuk apartemen seenaknya dan tidur dengan pakaian mini diranjang khusus dirinya.


"Akhirnya kau datang juga bocah, apa-apaan kau menyebutku tante dan wanita tua didepan" Serena bangkit melemparkan bantal kecil.


"Sudah kubilang aku sibuk, kau nekat datang seperti pencuri masuk ke ruangan dengan kunci manual itu. Harusnya tetap kunyalakan alarm pintu didepan dan kau akan tidur di hotel prodeo" Al mendengus kesal.


Al tidak menannggapi omong kosong Serena, matanya melotot melihat banyak sampah berserakan di karpet. Bukan hanya mengotori, Stok camilannya kosong di lemari pendingin.


"Sudah kubilang sejak siang aku menunggu, aksesku hanya dapat sampai ruanganmu dan akan menyulitkan jika mencari makanan keluar dengan sepotong kunci manual. Aku mengisi perut hanya dengan snack itu Al, bisa kau bayangkan perut ini keroncongan" Serena membela diri.


"Pergilah, pesan hotel untukmu"


"Kakakmu ini juga sedang menjengukmu, apa salahnya beberapa hari tinggal bersama selagi aku menyelesaikan tugasku, atau kau mau menyelesaikan tugasku yang seharusnya menjadi tugasmu?" Serena mengeluarkan senjata pamungkasnya yang membuat Al tidak berkutik. Jelas keputusan Al meninggalkan perusahaan papa sudah bulat dan Serena bersedia menggantikannya.


"Baiklah, ranjangmu disebelah pigura. Cepat selesaikan tugasmu dan pergi"


"Wah, kata-katamu cukup manis bagi seorang tampan yang dingin" Serena beranjak sesuai peraturan darurat yang dibuat Al.


"Ada satu lagi, cepatlah menikah agar kau tidak menganggu hidupku, dasar perawan tua"


Filsafat dan dogma adalah dua unsur yang berbeda. Dogma bersifat absolut yang harus mengikuti semua ketetapan, berbeda dengan Filsafat yang relatif mengutamakan kebenaran baru. Tetapi keduanya saling beriringan, filsafat tanpa dogma akan menjadi sebuah kecacatan berfikir dan sebaliknya dogma tanpa filsafat akan membuat kekeliruan” Suara tegas Mr. Pieter menggema di kelas.


“Pak, jika memperkecil fokus dengan filsafat bahasa, linguistik, dan dogma bukankah kita sudah dapat memperinci setiap pedoman tertulis itu? Sebut saja tuhan menuliskan sesuatu dengan tujuan sesuatu juga” Seseorang berkacamat mengacungkan tangan.


Al sudah tidak kuat menahan kantuk. Buku yang dipinjam 2 hari lalu diperpustakaan nasional hanya dijadikan alas dagunya. Jika saja materi berubah menjadi Sastra Eropa ataupun pembicaraan politik, sudah dipastikan tangannya stand by diatas meminta waktu berpendapat.


“Filsafat tidak sepraktis itu Kevin, Filsafat bagaikan akar pohon yang menyebar. Semakin banyak arah, semakin banyak cabang yang dibentuk. Arisoteles berpendapat bahwa bahasa digunakan pada tujuan yang dibangun, seperti alat tajam didapur yang digunakan untuk memotong dinamakan pisau. Tetapi adalagi cabang baru, sebuah pisau tajam maupun karat bahkan tidak dapat memotong lagi tetaplah pisau. Pisau tetaplah pisau bukan?” Dosen tua itu membayangkan sebuah spidol sebagai pisau dihadapan mahasiswa.


Kelas lengang digantikan gemercik hujan diluar, beberapa alis mahasiswa terangkat setelah mendengarkan perbandingan teori tersebut melambangkan ketidakpahaman. Muka lesu di meja belakang sudah menggambarkan materi yang lumer keluar dari kepala seperti botol penuh yang terus diisi air.


“Baiklah, saya analogikan lebih mudah. Semudah bagi seorang yang tidak memiliki agama”  Mr. Pieter mengerti situasi dikelasnya.


“Jika seorang Islam berbicara tentang kematian kepada seorang Buddha, maka yang dipikirkannya ialah sebuah Reinkarnasi. Padahal tujuan kedua bahasa tersebut selaras seperti yang diajarkan Arisoteles. Tetapi, sistem bahasa keduanya yang membatasi seseorang untuk berfilsafat. Tidak ada manusia yang bisa membuktikan pengalamannya pada kematian atau bereinkernasi bukan?” Lanjut Mr. Pieter.


“Bagaimana dengan penyebutan mati suri ataupun seseorang yang lahir menyerupai tokoh dimasa lalu?” Si kacamata itu tidak mau kalah berpendapat.