Elite Class

Elite Class
BAB XIX



"Justru dia aneh bagiku, sikapnya sangat over pada setiap kejadian"


"Kamu hanya melihat sisi luarnya, dia mahasiswa beasiswa yang masuk dengan hasil kecerdasannya. Aku sangat memahaminya"


"Tidak ada istimewanya bagiku"


"Kamu dapat lebih mengenalnya saat menjadi rekan tim" Ejek Rin.


Setelah Rin menyelesaikan membenahi meja makan dari sisa makanan, sudah tidak ada lagi halangan untuk segera kembali ke Cafe.


"Pukul 2 siang, dimana matahari berada pada puncak teriknya. Apa kamu yakin ingin segera berangkat?"


"Itukah alasan ketakutanmu untuk memperlambat kita ke cafe?"


"Tidak juga, aku hanya tidak mau menjadi daging presto di mobil klasikmu"


"Aku benar-benar menjadi tumbal kalian" Al melipat tangan saat menerima penjelasan rencana Dina.


"Itu menjadi bagian terbaiknya, Al. Konsep Dina akan menjadi bentuk kontinunitas kontenmu" Kirana mendukung.


"Pertaruhan ini bukan lagi tentang kelulusanku, tetapi posisiku sebagai kelas elite"


Meja rooftop Cafe Pojok Sumatera memulai diskusi hangat. Dina mengajukan konsep kontroversial bagi pejabat kampus. Menyuarakan kekuatan sastrawan dan budayawan sejajar dipuncak rantai nasional bersaing dengan kekuasaan militer.


"Hari ini kamu boleh cuti, Dina. Rin menggantikan posisi kerjamu, gunakan waktu dengan sebaik mungkin" Guruh datang menuangkan Coffee hangat lalu kembali meninggalkan meja.


"Konsep itu sudah bulat akan aku bawakan ke dalam kejuaraan, sisa kita mengolahnya dengan baik" Dina mengucap malu.


"Alasan lain kami mengambilmu ialah kamu menjadi icon Sastrawan muda saat ini, konten modern command milikmu menjadi pemantik berbagai gerakan. Sebuah keberlanjutan konten akan membuat meletusnya banyak kekuataan pendukung"


Tidak mudah dipercayai, Dina mengambil konsep yang sama dengan rancangan konten yang beberapa waktu lalu diajukannya kepada Guruh. Bahkan Guruh memperingatkan konten itu.


"Oke, kamu ketua timnya" Al memyetujui konsep Dina.


"Jika begitu, pertama, base pertemuan kita ada disini dengan konsep yang diberikan tadi, kedua, poster pendukunganmu akan beredar, besok akan menjadi perbincagan hangat, ketiga, segala prosedur menjadi tanggung jawabku dengan Dina dan tanggung jawab kekuatan pendukung berada pada Al" Kirana menyimpulkan.


"Kamu sekarang sudah mirip dengan dosen itu" Celoteh Al.


"Pantas saja sikapnya semakin menyebalkan" Levi ikut menimbrung membawakan makanam ringan.


Seisi meja dipenuhi tawa. Dina yang pemalu pun tidak bisa menahan tawanya melihat Kirana terpojok oleh Al.


"Hei Al, maaf juga tentang kemarin, perkenalan kita menjadi buruk" Levi menjabat Al.


"Semalam cukup mendebarkan, kabur dari sekumpulan otot-otot Sumatera"


"Darren ada dibawah menemani Rin, dia segan melihatmu"


"Mungkin saat ini dia berkeringat dingin membayangkan pukulan semalam" Al menyeringai.


"Lihatlah Dina, akhirnya dia mengembalikan model rambutnya setelah mendapat kacamata baru" Levi menunjuk.


"Cukup elegan dipakai wanita sehebatmu"


"Rin memilihkan pada saat di optik, aku kira tidak cocok" Dina salah tingkah saat semua mata tertuju padanya.


Al menepuk dahi melihat orang yang bisa memikirkan konsep untuk kejuaraan, malu hanya karena takut kacamatanya dianggap tidak cocok.


"Aku bergurau tentang penambahan sikapmu" Levi ikut mengejar Kirana.


"Selera Levi juga tertuju pada kekuatan wanita, Kirana menjadj pilihan masuk akal"


Al dengan mudah menyimpulkan dari gestur Levi yang berbeda terhadap Kirana. Meja tersisa Dina dan Al ditemani segelas minuman beserta makanan ringan yang hampir habis.


"Kamu jangan asal menyimpulkan" Dina menimpali tanggapan Al.


"Abaikan saja, aku ingin sedikit bertanya"


"Tentang konsep?"


"Tentang dirimu" Al menunjuk lurus wajah Dina.


"Tidak perlu seserius itu" Dina mengalihkan pandangan.


"Bagaimana kamu bisa berpikir sejauh konsepmu dengan sikap malumu?"


"Aku hanya malu pada beberapa waktu, Al"


"Kamu akan berbicara pada kejuaraan nanti, bagaimana bisa dengan sikapmu?"


"Hanya ada sesuatu yang harus kuselesaikan"


Al diam dengan ucapan ngelantur Dina. Tidak ada kecerdasan pada setiap kata-katanya. Pertemuan menghabiskan waktu hingga sore hari, rooftop menjadi tempat cocok memandang matahari.


"Aku suka matahari tenggelam" Dina beralih memandang langit.


"Mengapa begitu?"


"Entahlah, ayahku juga penggemar matahari tenggelam, dia mengajarkan banyak hal" 


"Jarang melihat orang yang satu pandangan melihat senja"


"Dina benar-benar lupa dengan sikap malunya ketika melihat matahari terbenam" Kirana datang tanpa diketahui.


"Kawan menyebalkan baru kita juga sepertinya sudah bisa menerima kumpulan ini" Levi juga datang menepuk bahu Al.


Pembicaraan mereja berdua menjadi tontonan Kirana, Levi, dan Rin yang berada pada pinggir tangga.


"Kamu bisa lebih dekat lagi dengan Dina, Al. Tapi aku selalu nomor 1 untukmu" Rin mengacak rambut Al.


"Kamu yang selalu bisa dekat dengannya, Rin" Jawab Dina.


"Oh jadi inilah pria penyebab mengapa pembayaran saldo kartu kreditku membuncit"


"Abang bisa potong pada uang bulananku" Rin menjulurkan lidah.


"Benar-benar kekanakan" Levi menepuk dahi.


"Sudah lama sekali tidak melihatmu kembali seperti ini Al atau bisa kupanggil..." Kirana membisikan sebuah nama pada telinga Al.


"Jangan salah, Al tetaplah Al. Itu bukan hanya identitas palsu, tapi diriku yang sekarang" Al membela diri.