
Susu, pasta, aneka selai, dan makanan beku lainnya sudah masuk ke dalam toteback. Mata al menjelajah setiap sudut rak lemari pendingin, sari buah favoritnya baru terlihat ditengah minuman alkohol.
Baru setengah jalan menuju lemari pendingin, langkahnya terhenti saat berpapasan pada seorang wanita. Bola matanya membesar tidak percaya melihat wanita dengan mata coklat muda dengan tahi lalat di alis, senyuman indah yang tidak pernah dilihatnya selama 2 tahun terakhir. Rambut poninya menutup sebagian wajah. Kejadian berlangsung begitu cepat, wanita itu sudah terlanjur memunggungi Al. Aku harus memastikan semua ini, Pikirnya.
Belum sempat Al berbalik untuk mengejar, rangkulan Rin dari belakang membuatnya tidak bisa bergerak. Berontak hanya akan membuatnya terluka dan urusan semakin menyebalkan.
“Jangan meninggalkan wanita sendirian, jahat” Rin cemberut dengan mata yang berkaca-kaca.
“Lepaskan aku, Rin, kamu seperti anak kecil” Al mendengus sebal gagal mengejar.
“Aku takut, Al”
“Apa yang perlu ditakuti” Al melotot.
“Aku tidak tau arah untuk kembali ke apartemen dan lupa letak parkir mobilku, menyebalkan jika tersesat di dalam supermarket ini”
“Kamu memang benar-benar kekanakan, umurmu hanya setahun dibawahku, payah”
“Ya, semua orang juga menyebutku begitu” Rahang Rin mengeras menahan kesal.
“Baiklah, sekarang lepaskan aku”
“Sekali lagi, jangan meninggalkan wanita sendirian” Tangan Rin berpindah menggandeng pada jemari Al.
“Aku sepakat jika kata menyebalkanmu diasumsikan pada semua wanita, wanita unsur paling menyebalkan”
“Herman memang benar, dari awal sikapmu menyulitkan untuk diterima. ketidakpedulian dan kejengkelan yang membuatmu tampak buruk. Jika aku tidak mendapat penjelasan dari Herman mungkin aku juga akan menghindar seperti orang lain yang menghindarimu. Kamu selalu menyebut wanita selalu menyebalkan padahal kamulah yang paling menyebalkan” Rin menariknya ke meja kasir.
“Terserah padamu, sekarang lepaskan tanganku, bakteri ditanganmu akan berpindah”
“Tidak mau” Rin menyambar toteback Al dan kembali membayar dengan menggunakan kartu kreditnya.
“Aku tidak mudah ditraktir oleh wanita”
“Sudah kulakukan, payah” Rin menjulurkan lidah.
“Dan aku tidak mudah terpengaruhi meskipun kamu mentraktirku”
“Sudah kubilang anggap saja kamu berhutang padaku. Sudah pukul 7 malam, cepat tunjukan arah mobil. Aku tidak mau terlambat makan malam” Tarik Rin keluar supermarket.
Al cukup mendapat perhatian untuk menjadi bahan tontonan di supermarket. Seorang lelaki tampan yang ditarik-tarik seperti seekor peliharaan.
“Sekarang kulepaskan, Buka bagasi mobilnya agar jasa angkut dapat mudah memasukan bahan kita” Rin masuk ke sisi bangku sopir, melepaskan genggaman tangan Al.
"Kukira Herman sudah maksimal dalam tingkatan menyebalkan, ternyata kamu bisa melampauinya" Al menepuk dahi.
"Kami sejak kecil memang terbiasa seperti ini, apalagi sifatnya yang suka gonta-ganti wanita"
"Penampilanmu lebih cocok menjadi pendiam dan pemalu seperti diawal pertemuan"
Jakarta selalu menjadi lumbung kemacetan pada malam hari, musim hujan membuat situasi kemacetan semakin buruk. Mobil klasik Rin bisa menjadi tempat meneduh yang aman menuju apartemen, tetapi selayaknya mobil tua, udara dingin dan bercikan diatap mobil menjadi penggangu konsentrasi mengemudi Al.
"Dalam keadaan apapun kamu selalu manja" Al tetap dalam fokusnya maju perlahan dikemacetan.
"Kamu memang tidak mengerti keadaan" Rin putus asa kembali ke tempat duduk.
Kondisi jalan sudah payah, ditambah dengan suasana di dalam mobil yang menyebalkan. Dalam film drama sudah pasti pria memberikan jaketnya untuk wanitanya. Tetapi tidak untuk Al.
"Bertahanlah, dua traffic light lagi kita akan sampai" Al mengklakson mobil lambat didepannya
"Aku kedinginan"
"Aku tidak peduli" Al menari tuas gigi mobil.
"Kamu yang pertama aku datangi jika aku mati konyol disini"
Rin menempelkan tangannya pada jemari Al di tuas gigi mobil. Remasan lembut pada tangannya memberikan rasa dingin pada jemari Al.
"Tahanlah sebentar lagi" Kini Al tidak protes.
"Kamu tidak memberikan jaketmu?" Wajah Rin pucat pasi.
"Tidak mau"
Mobil tertahan pada Traffic light terakhir sebelum apartemen yang menjadi kemacetan terpanjang, waktu untuk lampu merah sangat panjang karena banyaknya jumlah kendaraan. Al yang tidak peduli pada Rin meninggalkan rasa khawatir.
"Baiklah jika kamu tidak mau" Rin mencubit pinggangnya yang melepaskan kemudi menunggu lampu berubah hijau.
"Kamu terlalu naif kedinginan pada pakaian casual mini itu" Tangan Al terjatuh pada dahi Rin.
Sikap Al 180° berbeda dari biasanya, badannya condong kearah Rin dengan mata menatap arah lain hanya tangannya yang memeriksa suhu tubuh Rin.
"Kamu hanya manja, suhu tubuhmu masih normal" Al melotot kearah Rin.
"Tetap saja aku kedinginan" Wajah pucatnya berubah kemerahan.
"Kamu bisa menggunakan syalku" Al merogoh pada kantong dalam jaketnya.
masuknya musim hujan membuatnya selalu memprioritaskan membawa benda penghangat.
"Gunakanlah dan cuci sebersih mungkin, aku tidak mau kamu meninggalkan bakteri di syalku" Al menghadap Rin menodongkan Syal Rajut.
"Boleh, asalkan dapat menghangatkan, Tuan Tampan"
Wanita itu mengambil syal dengan menarik tangan Al, badan Al yang tertarik berakhir pada saling menatap, wajahnya berdekatan. Al hanya terkejut tidak mengerti keadaan.
"Bola matamu indah, Al" Rin terhenyak
Rin maju menempelkan bibirnya, sebuah ciuman kejutan yang berlangsung pada kemacetan di lampu merah. Suasana pecah menjadi bisu ketika dentuman klakson mobil dibelakang yang sudah melihat rambu berwarna hijau.
"Terimakasih, akan aku gunakan" Rin tersenyum melupakan kejadian yang baru saja terjadi.