Elite Class

Elite Class
BAB : IV Peristiwa dimasa lalu



Halo Guys!!


Selamat Datang Dicerita Gue!!


Jangan Lupa Vote dan Komentarnya


"Terkadang memikirkan cinta lebih berat dibandingkan sebuah filosofi politik" (Herman, 1992).


******


Terimakasih untuk semuanya, Aku bahagia bisa bersamamu, tidak perlu selamanya, cukup sampai akhir hidupku...


Sinar menyelimuti wanita itu, sebuah senyuman tergambar dari wajahnya sebelum akhirnya membuyarkan pandangan.


Kejadian begitu cepat membuat Al mematung. Entah apa yang dipikirkannya, spontan ia berusaha meraih wanita itu. Gagal, gagal, dan selalu gagal, cahaya semakin buyar bersama kegelapan menenggelamkan dirinya.


"Payah, kembali Lo" Geram Al.


Rasanya sakit, tetapi dirinya tidak mengerti perasaannya. Sakit yang sama ketika 2 tahun lalu. Air matanya mengalir tidak terkendali dengan sesak di dadanya.


Semakin dalam dirinya tenggelam, perasaan tersebut hilang. Berganti dengan suara datang dari kejauhan, kini badan dan kepala yang meringkuk sakit. Suaranya semakin jelas bergetar dan nyaringnya menyakiti telinga.


Kringg..!!


Alarm benar-benar tergeletak dibadannya. Saking tidak tahan dengan nyaring suaranya, Al menekan tombol off hingga terpendam.


Justru hal ini lebih baik dibanding orang lain yang kesal melempar alarmnya.


Meskipun sudah terbangun, badan dan kepalanya benar-benar merasakan sakit. Terakhir dalam ingatannya ia menghabiskan waktu sampai larut dengan Guruh. Pak tua itu tangguh, sangat sulit dikalahkan dan akhirnya memutuskan tidak ada pemenang setelah kembali imbang bermain billiard dengan skor 15-15.


Pulang tengah malam yang membuatnya tidak enak badan. Dari alarm yang terus berbunyi jelas dia bangun kesiangan, baginya tidak menjadi persoalan mengingat hari ini tanggal merah. Dan lelaki polygnik tidak akan menganggu paginya dengan menerobos pintunya seperti kemarin.


Dengan jalan sempoyongan dia membuka lemari pendingin, keinginan untuk memasak sarapan hilang ketika melihat stok bulanannya habis, akhirnya hanya bisa menghabiskan segelas susu dan roti kemasan.


'Cih... Mana kenyang cuma segini' Batin Al.


Pikirannya masih mengawang mengingat mimpi buruk tadi.


"Ah.. udah 10 November, Gue bakal bikin kejutan" Bisiknya melihat kalender di pojok ruangan.


Apartemen Stourton tergolong mewah bagi banyak kalangan. Meskipun kampus banyak diisi elit pejabat dan pimpinan perusahaan, hanya anak pejabat dan pebisnis kelas atas yang mampu bertempat tinggal disini.


Setelah membersihkan diri, ia mengenakan pakaian putih hitam dibalut jas, rapi dengan sisiran rambut yang membelah ke kanan. Tidak pernah Al rapi sebelumnya, hanya satu tahun lalu tepat diwaktu yang sama.


Al berjalan masuk lift menuju basement dengan menggenggam sebuah kunci mobil yang juga sudah setahun ditinggalkannya.


lagipula orang berjas mana yang mau make angkutan umum, apalagi minjem motor trail Herman yang bakal merusak penampilannya oleh terpaan angin.


***


Sinar matahari sore cukup menghangatkan suasana hatinya. Sapuan angin membuat pasir dan debu mengelilingi Al ketika turun dari mobil.


Tangannya membawa seikat Bunga Lily Putih yang ia beli saat diperjalanan. Jakarta tidak sekacau biasanya dengan teror macet dan polusi, tanggal merah memberikan waku luang yang tepat untuk mengemudikan mobil.


Tempat tujuannya bukanlah apartemen wanita ataupun restoran senja yang menampilkan fenomena matahari tenggelam ditengah makan malam istimewa.


"Selamat datang kembali Tuan. selama tahun lalu, kami menjalankan tugas sangat baik dengan menjaga kejutan Anda" Salah satu pekerja menyalami dan mengawal perjalanannya.


"Terimakasih pak, anda menjalankan tugas dengan baik, akan Saya kirim uang untuk setahun mendatang dengan bonus setiap masing-masing pekerja" Balas Al.


Dihadapannya hanyalah hamparan padang rumput hijau yang luas. Kacamatanya memantulkan kilau matahari sore. Sebuah hal unik mengadakan kejutan di tempat seperti ini. 


'Amel Zeline 10 November 1990' Al membaca batu nisan dihadapannya.


"Kejutan untuk kamu, Mel" Al meletakan bunga Lily disamping nisan.


1990... Kejadian Dimasa itu.


"Selamat, kamu bakal ke Jakarta, kamu tuh pinternya udah kelewatan" Amel duduk di kursi pohon memandang matahari tenggelam di ufuk barat.


"Kamu benar, tidak menarik menjadi pebisnis. Aku akan jadi sastrawan untuk kamu" Senyum Al.


"Aku pasti menyusul kalo pengobatan ini selesai"


Amel tidak mau memperlihatkan wajah sedih kehilangan Al ke Jakarta.


"Aku tunggu di Jakarta, itu janji kamu" Al memberikan Bunga Lily.


"Siap Tuan Jenius, Kita pasti bisa menonton senja berdua disana" Amel memaksa untuk tetap tersenyum.


Cup...


Sebuah ciuman hangat menjadi salam perpisahan. Penyakit ditubuh Amel tidak bisa diobati oleh rumah sakit. Pengobatan alternatif menjadi satu-satunya jalan keluar menyelamatkan nyawanya yang sudah divonis dokter.


Perpisahan panjang akan dijalani mereka. Kini Jakarta-Surabaya menjadi pembatas jarak, hanya surat komunikasi yang bisa digunakan.


Surat Pertama


2 Agustus 1990,


Halo, Aku tau kabarmu sangat baik. Bagaimana di Jakarta? Apa sama besarnya seperti Surabaya? Aku dengar kota itu banyak menawarkan kesuksesan. Kamu juga akan mendapat sukses disana. Sepertinya kamu mendapatkan kawan baru, Kirana juga kuliah ditempatmu, dia sahabat berharga.


Aku Rindu Kamu,


From : Amel Zeline..


Menjadi jenius di kelasnya, pemikirannya tentang filsafat bahasa dan romantisme Eropa membuat takjub para dosen, Dosen Bintari salah satu yang tertarik kepadanya.


Surat Kedua,


1 September 1990,


Aku sangat senang dengan perkembangan kamu, ternyata kesuksesan yang datang kepadamu. Oh ya, sebelum melakukan pengobatan alternatif, aku diperkenalkan oleh anak lelaki dari sahabat papa. Namanya Delvin, impiannya sama sepertimu, masuk ke kampus favorit itu. Tahun depan akan menjadi kelulusannya, kamu akan akrab jika didekatnya.


Hasil dari pengobatan Alternatif, Tabib Baseer menjelaskan kondisiku membaik, aku juga sudah jarang mengalami mimisan. Mungkin hanya beberapa waktu lagi untuk pulih dan membantah semua vonis para dokter payah itu. Tunggu kedatanganku di Jakarta.


Aku Rindu Kamu,


From: Amel Zeline..


Jakarta membuatnya termotivasi untuk melangkah maju dengan memasuki kehidupan komunitas yang diperkenalkan oleh dosen favoritnya.


Menuangkan teori dan pemikiran kampus ke dalam realitas komunitas yang menjadi konsumsi publik merupakan sebuah tantangan baru. Budayawan dan sastrawan menjadi kekuatan oposisi saat ini, merekalah dalang yang menggiring opini dengan ilustrasi dalam kalimat indah.


Surat Ketiga,


5 Oktober 1990,


Kamu semakin maju, kini sudah berdiri dalam barisan yang sama dengan para sastrawan di komunitas itu. Seorang pria tampan dan jenius bakal menjadi orang penting. Aku pasti cemburu melihat banyak wanita mendekati kamu.


Jangan khawatirkan kesehatanku, Tabib Baseer hanya memintaku untuk tidak stress dalam program kesehatan. Tabib itu bisa menjanjikan diriku pulih jika keadaan ini stabil sampai bulan depan. Mendengar hal itu, Delvin membujukku untuk menghabiskan waktu keluar dengan alasan menghindari stress dirumah. Aku sering menolak tawarannya, tetapi tidak semua bisa kuabaikan dengan hubungan keluarga yang dekat. Perasaanku selalu menjadi milikmu, sampai bertemu bulan depan.


Aku Rindu Kamu,


From: Amel Zeline...


Siapa orang yang tidak terbakar cemburu, Al juga gemetar saat membaca surat. Jika cinta suatu lambang kebodohan, maka Romeo dan Juliet melakukan kebodohan yang sama dalam cinta mereka.


Surat Keempat,


7 November 1990,


Mungkin kamu sudah mendengar banyak hal sebelum membaca surat ini, dan itulah yang terjadi. Musibah selalu datang dan kecelakaan tersebut ngga bisa dihindari. Entah perkiraan meleset dari tabib ataupun sebuah kebenaran vonis dokter.


Operasi akan segera dijalankan dengan tingkat keberhasilan rendah. Operasi yang selama ini kita berdua tolak karena selalu ada jalan lain, yaitu dengan alternatif. Badan ini sudah sangat rapuh, tetapi tidak mengurangi semangatku untuk pulih. Aku pasti ke Jakarta sesuai janji kita.


Aku Bahagia Bisa Bersamamu.


From: Amel Zeline


Waktu seakan berhenti berjalan. Sebuah jasad yang dimakamkan di Jakarta menjadi bukti janjinya, Amel Zeline 10 November 1990, Kini sudah menikmati bersama matahari tenggelam di Jakarta, senja disini memang lebih indah.


"Mau sampai Lo berdiri disana?"


"Sampai senja abis" Al duduk menatap langit.


"Lo ngga salah, dia juga pasti bilang begitu" Bujuk Kirana.


"Pada akhirnya dia berjuang sendiri, tanpa kehadiran Gue" Tatapan Al kosong.


Setelah pemakaman Al begitu terpukul. Kesendirian dan berlarut dalam kesedihan yang membuatnya melupakan arti senyuman dan menjadi menjengkelkan, anti-cewek juga 


"Apa tujuan Lo?" Tanya Kirana


"Gabisa liat Gue lagi ziarah?"


"Apa tujuan Lo nolak bantu Gue"


"Pertama, Gue gamau ngelakuin apa yang bukan Gue pengen, kedua, Lo itu Cewek" Jelas Al.


Kirana reflek melemparkan kerikil yang telak mengenai kepala Al. Ia semakin rewel melihat Al sangat menjengkelkan.


"Meskipun Amel yang minta?" Ejek Kirana.


Al tidak menanggapi olokannya, ia justru bangkit pergi bersama senja yang hampir selesai.


'Cewek bawel udah jadi salah satu yang harus dihindari di list Gue, urutan pertamanya yang keras kepala, harus di Blacklist!!' Batin Al.


"Woy, dengerin Gue dulu, ********!!!" Terdengar teriakan Kirana semakin lenyap bersama gelap.


***


Next Part? Pertemuan Jebakan


Dukung terus Putrra14!


merangkak menuju profesional.


Vote komen dan masukan sangat berarti untuk Putra14.


Thanks Guys!!..