Elite Class

Elite Class
BAB XII



Kondisi membisu di dalam mobil terjadi hingga sampai ke apartemen melewati sisa kemacetan. Suasana canggung akibat ciuman juga membuat Al tidak menyebalkan seperti biasanya.


"Apa kamu percaya reinkarnasi?" Pikiran Al hanya mencari topik yang bisa dibahas setelah kejadian tadi.


"Mungkin sebuah keajaiban untuk kembali hidup" Rin asal ucap.


"Jawabanmu sama seperti anak SD yang baru selesai ujian"


"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan, Al" Tegas Rin.


"Ya, apa-apaan tindakanmu tadi" Matanya masih terpaku pada parkiran mobil.


"Anggap saja pembelajaranmu menganggap wanita menyebalkan dan pembayaran hutangmu di supermarket, cukup adil" Rin berusaha tersenyum dari kondisi canggung.


"Lebih baik aku yang membayar" Al menghembuskan napas panjang.


"Tidak apa bukan?" Rin kembali mencubit pinggangnya


"Apa kamu selalu melakukan ini?" Al membuka jendela memastikan pelayan di lobby ditugaskan mengangkut bahan belanjaan ke kamar Herman.


"Tidak, itu ciuman pertamaku"


"Jangan membuatku seperti korban kejahatan ****, bagaimana jika meninggalkan trauma" Al kembali kepada pendiriannya yang menyebalkan.


"Aku hanya ingin mengerjaimu yang keras kepala tidak meminjamkan jaket, kuharap kamu bisa merahasiakan ciuman tadi, oke?" Sikap centil dan kekanakan Rin bisa meredam sikap menyebalkan Al.


Rin keluar dari mobil meninggalkan Al dengan sisa barang belanjaan dibawah. Butuh 20 menit untuk memastikan semua bahan diangkut dengan troli ke lantai 14.


Meskipun ruangan kamar Al berhadapan dengan Herman, dia tidak pernah masuk kedalam kamarnya. Bahkan Herman pernah menitipkan kuncinya beberapa Minggu lalu saat dirinya cuti dengan alasan keluarga, Al tidak pernah mengecek dan menugaskan pelayan pribadi untuk merapikan kamarnya.


"Selamat datang Tuan. Pakaian Tuan sedikit basah, apakah bisa saya persiapkan salinan?" Pak Bas menunduk ramah melihat Al masuk.


'Tidak perlu pak, tolong pindahkan semua bahan ini kedapur saja"


"Siap Tuan"


Sofa akhirnya dapat menjadi tempat peristirahatannya, lelahnya dari pagi beraktivitas sampai pikiran berat mengenai sosok wanita seperti Zeline dan masalah ciuman kejutan Rin.


"Adikku memang pria payah, Rin bilang kamu meninggalkannya di supermarket besar itu?" Kak Serena keluar dengan apron kokinya.


"Cerita buruknya hanya mengada-ada" Al merebahkan badannya.


"Aku sudah paham sikapmu, bagaimana styleku? Herman cukup banyak stok apron" Kak Serena berdansa menunjukkan apronnya.


"Dari cara berpikir romantisme Eropa, stylemu hanya cocok dijadikan pembantu rumahan" Al asal bicara.


"Tidak ada yang setuju dengan cara berpikirmu. Aku harus kembali, sahabatmu sudah berapi-api saat membaca resepku dan Pak Bas seperti sibuk membawa barang ke dapur"


"Jika tidak bangun jatah makanmu akan kuhabiskan" Rin mencubit-cubit pinggang Al.


"Tidak hanya menyebalkan, kamu juga suka menganggu" Spontan Al bangun.


"Hanya tersisa kamu yang belum ada di meja makan, tugasku untuk membangunkanmu ternyata cukup berat"


Rin menggunakan sweater yang tertinggal di kamar Herman dengan syal yang menyelimuti lehernya.


"Ayo cepatlah, Al" Rin menggandeng tangan Al.


"Kamu selalu seenaknya" Badan Al terhuyung-huyung tanpa kesadaran penuh.


"Aku hampir demam di mobil karena kamu juga seenaknya" Rin menarik lebih kencang memasuki lorong ke meja makan.


Genggamannya dilepas saat diujung lorong. Al belum paham maksud wanita itu menutupi hal tersebut. Jauh lebih baik mereka tidak tau, dibanding statusku menjadi gosip hangat kampus Pikirnya.


"Kemarilah, kamu belum makan dari siang hari bukan? Ambillah" Kak Serena menyendok nasi sebakul


"Aku akan menjadi phobia nasi jika setiap hari kamu sediakan sebanyak itu" Al mendengus sebal disertai tawaan dari lelucon murahan.


"Kamu harus mencicipi semua menunya Al, terutama daging asap dengan steak ayamnya" Ucap Herman dengan mulut dipenuhi makanan.


Pesta makan momen jarang untuk Al. Suasana meja makan panjang hangat, dihadapannya Rin menyuap kentang goreng dengan elok, dipojok meja Pak Bas baru bisa makan ketika Al menyantap makanannya, Herman dengan makanan tambahannya yang hampir ludes dan kak Serena yang keibuan memperhatikan perbandingan gizi setiap makanan.


"Tidak buruk juga untuk dikategorikan sebagai makanan layak" Al menyicip Steak ayam.


"Akui saja memang enak, Bung" Protes Herman.


"Ya, makanan yang sangat lezat" Puji Pak Bas.


"Kita harus sering mengadakan acara seperti ini" Kak Serena ikut dalam pembicaraan.


Hanya Rin yang tetap menatap Al, menu dietnya membuat makan malamnya sebatas kentang goreng dan sayuran hijau.


"Sepertinya kalian sudah akrab" Herman terkekeh.


"Baguslah, adikku bisa mempunyai teman wanita" Kak Serena meneguk minuman dewasanya.


"Bagaimana kamu bisa membeli minuman itu, aku melarangnya" Al melotot pada cap Orang Tua di botolnya.


"Rin bisa menjadi sekutu yang baik, jika aku yang berbelanja minuman ini tidak bisa didapatkan" Wajahnya memerah dengan mata sayu.


"Cih, Memang para wanita selalu menyebalkan" Seisi meja makan akhirnya dipenuhi tawa setelah berhasil memancing Al mengeluarkan kata jitunya.