
"Sampai disini saja pak, sisanya saya bisa berjalan kaki" Al turun dari taksi setelah kemacetan membuat mobil hanya maju perlahan.
Berjalan dikeramaian membuatnya menjadi perhatian mata-mata wanita. Pakaian pinjaman dari ruang pentas tidak terlalu buruk dengan Hoodie dan celana bahan.
Al hampir menyerah setelah berputar 2 kali pada alamat yang diberikan Kirana. Wajahnya yang kebingungan menarik seorang wanita mendatanginya, Liciknya, Al memanfaatkan wajah tampannya untuk memperbudak wanita itu menunjukkan jalan sampai ke tujuan.
"Kamu pernah mencampakkanku pada saat di taman" Wanita itu membuka obrolan.
"Aku lupa, banyak yang melakukan hal sepertimu" Al sebenarnya ingat dia wanita di taman saat Al selesai berbincang di kantin bersama Herman.
Plang Pojok Sumatera Coffee terlihat mengarahkan jalan berbelok. Sudah beberapa ratus meter berjalan belum menemukan tujuannya
"Namaku Al, dari universitas SANOF" Al memperkenalkan diri.
"Oh ya? Aku kenal seseorang disana"
"Kamu harus berhati-hati dengan orang itu"
"Apa kamu juga termasuk orang yang harus kucurigai? Tujuanmu sudah didepan, aku harus bergegas. Terimakasih perkenalan yang terlambat darimu" Wanita itu menunjuk sebuah bangunan ramai dan meninggalkan Al.
Sebuah kafe bernuansa klasik dengan lampu-lampu sederhana membuat cahaya remang sempurna pada meja. Pengunjung dipenuhi dengan orang-orang pulau sebrang dengan bahasa daerahnya masing-masing. Tatapan aneh keluar dari banyak pengunjung melihat Al sebagai orang asing.
"Pria payah! Naiklah" Teriak Kirana dari rooftop kafe.
"Tatapan mereka seperti ingin dihajar satu persatu" Kicau Al setelah menaiki tangga.
"Wajar sajalah, mayoritas pengunjung disini kebanyakan perantau dari sumatera, tampangmu tidak mewarisi mereka meskipun darahmu dari seorang pejuang Aceh"
"Mengapa kita harus jauh jauh menggelar pertemuan" Al mendengus sebal.
"Disini tempat favoritku, lagipula lebih aman jika kita menjauh dari SANOF"
"Dimana clien si wanita kacamata" Al lupa namanya.
"Dina sedang merapikan alat di dapur, kafe ini milik seorang mahasiswa SANOF, dia kawanku. Kami sering berkumpul di rooftop"
"Baiklah, apa yang harus dibicarakan"
"Aku akan mempublikasikan keberpihakanmu pada Dina" Kirana menyerahkan berbagai poster.
"Cukup bagus, bisa pula kamu memasukan wajahku agar memaksimalkan pengaruhnya kepada wanita" Al cengengesan.
"Poster ini akan menjadi lelucon jika aku menurutimu"
"Jika begitu kamu akan mempropagandakan hal ini kepada pihak lawan"
"Setidaknya kita sudah menyingkirkan lawan lawan kecil"
Suasana rooftop sangat tenang, hanya beberapa pengunjung yang menempatinya. Ditengah pembicaraan seorang pria yang sama miripnya dengan pengunjung dibawah mendatangi meja Al.
"Kita kedatangan tamu special, seorang Guide Campus. Hebat sekali Kirana dapat membuatmu mendatangi tempat ini" Seorang pria menuangkan minuman.
"Kawanmu tipe wanita yang suka menjebak" Al menyeruput kopi.
"Bagaimana ? Biji kopinya murni dikirim dari pulau seberang, aku memiliki banyak kawan disana"
Al yang hanya terbiasa meminum soft coffee kaleng, menyeruput kopi murni menjadi hal pertama kali baginya. Wajahnya masam menahan pahit pada kopi.
"Kopi Sidikalang, Salah satu kopi terbaik di Sumatera"
"Dia penggemar kopi yang hebat"
"Jangan menggodanya, dasar pemuja kopi" Kirana memotong pembicaraan.
"Wanita memang tidak paham pembicaraan pria sejati" Tangan besarnya melipat dada.
"Namanya Levi, penggemar kopi nomor wahid, dia mahasiswa SANOF terbilang paling tua di gedung komunikasi karena sibuk bisnis" Kirana memperkenalkan Al dengan pria pemilik kafe.
"Kumpulan disini sepenuhnya mahasiswa SANOF?" Al memastikan.
"Tidak juga, adikku terlalu lembut untuk berada di SANOF, dia memilih ketempat lain" Jawab Levi.
Pikiran Al terfokus pada sekeliling kafe, kumpulan ini bisa menjadi tempat aman untuk kerahasiaan rencana. Berbeda dengan di kampus, apartemen, dan komunitas yang diisi beberapa pihak.
"Hei-hei apa aku ketinggalan sesuatu di acara kumpul-kumpul ini" Seseorang datang dari balik tangga.
"Bukankah kamu membantu mereka berdua, kebiasaanmu meninggalkan mereka yang sibuk dengan pelanggan, Darren" Nada tinggi Kirana menyeramkan.
"Mereka berdua bisa mengurusnya tanpa bantuanku" Darren mengelus rambutnya berlagak tidak bersalah.
"Pergilah, kami ada pembicaraan penting" Usir Kirana.
"Disini udara segar melimpah, aku tidak akan menganggu diskusi kalian" Pria itu fokus menatap wajah Al.
Kirana memasang muka masam dengan bergabungnya Pria itu di meja.
"Baiklah, Levi, dia adalah Al. Partner Dina pada kejuaraan di kampus" Kirana melanjutkan pembicaraan.
"Nama samaran yang cool untuk pria keren sepertimu"
"Hanya pengambilan sebuah nama sembarangan" Al kembali menyeruput kopi.
"Sepertinya aku mengenalmu, kita pernah bertemu sebelumnya" Darren Bergerak cepat menggenggam erat leher Hoodie Al.
"Apa maksudnya ini Darren, lepaskan tanganmu" Kirana menggebrak meja makan.
"Buang sifat konyolmu" Tegas Levi.
"Aku ingat sesuatu dari wajah orang ini, dia yang mempermalukan harga diriku di kereta beberapa hari lalu' Darren menguatkan genggamannya.
"Lepaskan atau kupukul" Otot Al mengeras menerima serangan dadakan.
"Kita bisa bicarakan permasalahan harga dirimu" Kirana menarik tangan Darren.
"Lupakan basa-basinya, akan kubuktikan ucapanku waktu itu" Rahang Darren mengeras menatap semangat Al.
"Kamu benar-benar harus dihabisi"
Al menepis tangan Darren. Serangan kembali dilancarkan Darren dengan kepalan tangan menuju wajah Al.
PLAAKK!!!...
Tepisan pukulan Darren membuat seluruh meja terbanting. Belum sempat Darren bangkit, Al mengunci pergerakannya dengan teknik Muay keahliannya.
"Kamu sungguh membuatku marah, tidak ada yang nekat menyentuhku" Al menguatkan kunci pada leher Darren.