
“Ayolah, aku harus mengganti tidurku semalam setelah kamu berisik sampai larut malam” Al melotot melihatkan mata merahnya.
“Tapi kita sudah mempunyai acara malam ini” Kak Serena menatap tajam.
“Kamu harus ikut Al, aku memaksa” Herman mendukung penuh rencana Kak Serena.
“Boleh saja, asal bukan acara gila kalian” Al lelah menyandarkan badan.
“Hanya sebuah makan-makan” Kak Serena menepuk tangan girang.
“Cukup bagus, makan siangku terlewatkan gara-gara pertemuan dengan tamu konyol”
Dalam kondisi hampir sepakat, Pelayan Bas sedikit berdeham untuk izin berbicara pamit ke tempatnya.
“Sepertinya Saya harus kembali untuk tidak menganggu acara Tuan, jika perlu sesuatu telfon lobby aktif 24 jam, Tuan” Baskoro menunduk.
“Tidak Pak, Kamu harus ikut acara ini, semakin ramai semakin bagus. Masakanmu cukup enak juga tadi siang” Balas Kak Serena.
Al menepuk jidat, Bahkan Pak Bas ikut dilibatkan dalam acara menyebalkan, tidak ada alasan pelayan itu untuk menolak tamu majikannya. Mungkin semua penghuni apartemen akan diundang jika dia mengenalnya.
“Baiklah sepertinya kita sepakat, sisanya pembagian tugas-tugasnya. Bagianku menyediakan tempat, apartemenku cukup komplit dalam alat masak. Pak Bas bantu aku dalam memasak.” Herman menghitung-hitung apa saja yang dibutuhkan.
“Aku akan berbelanja, stok makananku juga sudah mulai kosong sejak kemarin” Al mengajukan diri.
“Aku akan ikut Al” Kak Serena mengacungkan tangan.
“Permintaan ditolak” Jawab Al ketus.
“Kalau begitu kamu akan bersama Rin, dia kenalanku” Herman menunjuk wanita disebelahnya.
Wanita itu hanya tersenyum malu menatap Al, Herman mendapatkan tangkapan yang mulus, seorang wanita Body Goals dengan baju mini Casual.
“Tidak masalah” Senyum Rin tidak terlepas dari Al.
“Lebih baik dengan Kak Serena” Al mengerutkan dahi.
“Aku menolak, sudah terlanjur sakit hati atas penolakanmu, seperti wanita-wanita yang mengajakmu berkenalan. Libatkan aku dalam memasak Herman” Kak Serena memalingkan wajah.
“Al, Sepertinya kita butuh dua keranjang besar untuk menampung list bahan masakan”
“Bagian itu aku percayakan padamu”
“Tidak perlu sungkan, sahabat Herman sahabatku juga. Anggap saja kita sudah kenal dekat” Rin menoleh melihat Al bungkam selama perjalanan.
Al akhirnya dengan keadaan, penolakannya justru akan membuat situasi menjadi canggung dan makanan-lah yang harus segera mengisi perutnya membuatnya berakhir diparkiran Mega Supermarket bersama Rin.
“Kamu bisa masuk ke supermarket dan membawa bahan-bahannya dengan jasa angkut” Al memejamkan mata di jok mobil.
Al baru sadar selama perjalanan Rin menguncir rambutnya, memperlihatkan leher cerah selaras dengan bahunya.
“Baiklah, singkirkan tanganmu” Al membuka pintu mobil.
“Waktu kita tidak banyak jadi bergegaslah”
Tangan Rin langsung menggandeng Al menyeretnya ke dalam supermarket. Apa-apaan wanita ini, sikapnya frontal, pikir Al.
“Aneka daging ada dipojok sebelah bumbu dapur, kita bareng kesana” Rin menarik kembali tangan Al.
“Mengapa tidak berbagi tugas untuk mengumpulkan barang agar lebih cepat dan berhentilah memandangku seperti itu” Al berpikir keras solusi lepas dari Rin.
“Kamu tidak bisa meninggalkan wanita sendirian, Al” Mata Rin tidak pernah lepas pada paras Al.
Rin mengeluarkan kartu kredit setelah memberikan list daging-daging import yang jarang tersedia di pasar tradisional, tanpa berdiskusi wanita itu menggunakan uang pribadinya yang seharusnya ditanggung berdua.
“Harga itu cukup mudah bagiku, bahkan tidak menjadi beban jika kutanggung semua” Al tersinggung.
“Apa kamu malu ditraktir oleh mahasiswa universitas negeri yang keuangannya tidak seberapa?” Langkah Rin berhenti.
"Karena itu kamu tidak perlu menanggung semua”
“Sudah kubilang tidak perlu sungkan, anggap kamu berhutang padaku” Rin hanya sepundak Al saat berpandangan.
“Terserah jika begitu, Aku akan mengambil keranjang” Al berusaha melepas genggaman tangan Rin sehalus mungkin.
“Tidak perlu, aku setuju denganmu dengan jasa angkut pada bahan berat. Lagipula mana sudi seorang Mahasiswa Cendekia U menggotong daging berat keluar supermarket” Rin terkekeh kembali menarik Al ke blok sebelah.
Mega Supermarket banyak menyediakan pilihan, supermarket terbesar di Jakarta hanya terpaut beberapa kilometer dari Apartemen dan berseberangan dengan taman. Tidak sedikit mahasiswa SANOF memilih berbelanja dengan pelayanan terbaik.
“Tolong ambilkan bumbu halus di rak bawah” Tunjuk Rin.
“Bagaimana aku bisa mencapainya jika tanganmu seperti ini” Al menggoyangkan tangannya yang dipegang penuh oleh Rin.
“Apa aku terlihat centil dan kekanakan?”
“Tidak juga, aku pun tidak peduli” Al memalingkan wajah.
Rin mengusap wajah yang lebih merah, dirinya terbiasa dengan sikap manjanya harus menahan napas untuk sekian kalinya bertatap muka.
“Baiklah, cepat ambil sisanya, aku akan mengambil minuman di rak pojok” Rin melepaskan genggaman tangannya.
Al mahir dalam memilih bahan, kesukaan Amel Zeline dalam memasak membuatnya ikut terjebak dalam trik memilih bahan masakan. Dengan singkat dia menyelesaikan list yang tersisa dengan memenuhi toteback berisikan bumbu dan sayuran segar, bahkan lebih cepat dari Rin memilih. Waktu yang tepat untuk membeli sisa stok kulkas, langkahnya merayap meninggalkan Rin di pojok rak.