
"Satu suster sudsh cukup menarikmu keluar dengan suntikan bius, sepertinya kamu akan segera mencobanya" Diva melirik suster yang sebelumnya kembali.
"Aku menyerah dalam hal itu" Al angkat kaki keluar dengan mengangkat tangan seperti ditodong pistol.
Ting... Ting....
Rin terus-menerus menekan tombol bel pada pintu apartemen Al. Hampir saja wanita itu mendobrak paksa jika sudah hilang akal menunggu.
"Siapa pula yang menganggu seseorang di hari minggu" Al mengoceh saat membuka pintu.
"Lambat sekali!!"
"Rin? Kamu salah ruangan, apartemen Herman disebelah sana, payah"
"Aku tidak salah, urusanku denganmu" Rin menunjuk wajah Al.
"Hari ini minggu, aku harus mengikuti schedule tidurku"
Rin menerobos masuk disela pintu disaat Al lengah pandangannya beralih.
"Ruanganmu cukup rapi dibanding penampilanmu sehari-hari"
"Berhenti!! Tidak ada yang mengizinkanmu masuk"
"pasti kak Serena yang menata, kamu adik yang menyusahkan" Rin duduk menyila di sofa dengan gaya baju mini casualnya.
Sudah sangat terlambat menarik Rin keluar. Sifat kekanakannya selalu mengalahkan perlakuan masa bodo Al.
"Apa urusanmu kesini?"
"Tentang kelakuanmu semalam"
"Aku tidak melakukan apapun"
"Aku sudah tau semuanya, apa yang kamu lakukan di Cafe"
"Ada pertemuan" Al tidak bisa mengelak.
"Jika situasi tidak kacau, aku pasti menahanmu"
"Ternyata benar pelayan semalam adalah kamu"
Pembicaraan menjadi serius ketika Rin terlibat dalam pelariannya semalam. Al duduk bersebelahan Rin di sofa.
"Rooftop benar-benar berubah menjadi arena pertarungan kalian"
"Bukan aku yang memulainya"
"Darren itu otak udang, tidak perlu meladeninya"
"Dia harus menerima tinju ini jika kembali berulah"
"Kamu sama payahnya dengan mereka" Diva menepuk dahi.
"Jika kamu salah satu dari kumpulan itu, kamu megenal Kirana dan Dina? Dan kamu adalah adik Levi?"
"Pemikiran yang cepat, tebakanmu sangat tepat. Kamu memukul abangku semalam" Diva menyeringai.
Terik matahari siang dapat diredam oleh pengatur suhu ruangan Al yang bisa mengubah temperatur ruangan hangat maupun dingin.
"Kamu tidak menyuguhkan tamumu?"
"Kamu selalu merepotkan" Al beranjak menuju lemari pendingjn.
"Sepertinya kamu terbiasa denganku, berbeda saat pertama kalinya"
"Sama saja untukku. Soft coffee, minumlah"
"Rasanya tidak sebanding di cafeku" Ledek Rin.
"Lalu apalagi tujuanmu?"
"Tidak, lagipula masih banyak urusanku disana"
"Ya, menjadi pendukung Dina dalam kejuaraan berbahaya itu" Diva menyeruput Soft Coffeenya.
"Tidak peduli siapa lawanku, aku pasti menang"
Suara bunyi perut Al terdengar sampai telinga Rin, waktu memang sudah memasuki jam makan siang. Biasanya Al bisa bertahan jika Rin tidak ribut membangunkannya.
"Sepertinya Kak Serena tidak meninggalkan makanan untukmu" Rin tertawa.
"Dia terlalu sibuk untuk melakukannya"
"Baiklah aku akan memasak, setidaknya kamu tidak menyusahkanku saat sampai cafe nanti" Rin melangkah ke dapur.
Permintaan Rin selalu sulit ditolak, Al hanya dapat mengikuti arah kemauannya.
Stok makanan Al dilemari pendingin hanya makanan instan, kentang, nugget, sosis, dan steak beku hanya tinggal digoreng sebentar untuk membentuk matang sempurna.
"Aku yang memotong garnish" Al mengambil pisau.
"Aku sudah bisa menebak buatanmu pasti abstrak"
"Jangan meremehkan, setidaknya tidak ada yang tau keterampilanku"
"Buktikan, payah"
Rin hanya bungkam melihat tangan Al memotong sayuran garnish, keahliannya memotong rapi dan membentuk masakan terlihat lebih indah dengan hiasannya.
Steak dan kentang yang dilumuri berbagai macam saus diukir sayuran garnish ala Al. Pada akhirnya Rin bisa tersenyum puas melihat Al menyelesaikan bagiannya.
"Aku tidak menyangka kamu melakukannya" Rin membawa sejumlah makanan ke meja.
"Bahkan Kak Serena belum mengetahuinya, kamu yang pertama setelah beberapa tahun lalu"
"Baiklah, kuakui itu"
Sejumlah makanan disantap oleh mereka yang menjadi hidangan makan siang. Terakhir Rin berhadapan dengan Al, sebuah ciuman kejutan menjadi pengalaman baru.
"Kamu benar, aku mulai terbiasa denganmu dan kumpulan payahmu" Al menguyah kentang terakhir.
"Wanita tidak selalu menyebalkan, Al"
"Apalagi sejak ciumanmu, kamu memang wanita nekat"
Rin hampir saja tersendak Al membicarakan kejadian itu kembali, ia memgesampingkan protesnya pada cap wanita nekat agar menjaga suasana makan tidak menghilangkan mood Al ke cafe.
"Jangan mengejekku"
"Wanita lain hanya bisa sebatas meminta nomor telepon, tetapi kamu langsung menyerbu seperti sedang menerkam lawan"
"Aku tidak sebejat itu" Wajah Rin merah padam.
Hentakan piring yang mulai kosong semakin nyaring, santapan makan siang hampir selesai. Rin tidak menanggapi ejekan yang akan terus bergulir, dia lebih memilih merapikan meja sisa makanan.
"Bagaimana kamu bisa ahli bela diri? Aku kira orang sepertimu hanya bisa membayar tukang pukul" Rin mengelap meja.
"Hanya hobi, aku lebih senang memukul langsung dibandingkan menonton seseorang dipukul"
"Bukan hanya memasak, kamu juga ahli bela diri. Sampai abangku yang jawara pun bisa terkena seranganmu"
"Dia hanya lengah, tidak menyangka ada serangan pengalih. Kekuatan Levi sebanding dengan gorila"
"Dia memang gila bertarung, tetapi hanya semalam wajahnya hilang gairah dikalahkan oleh pemuda yang ototnya berbeda jauh dengannya" Rin terpingkal-pingkal mengekspresikan wajah Levi.
Bagaimana dengan yang lain?"
"Ada Darren si perusuh, Kamu jelas mengenal Kirana yang paling garang, dan Dina si wanita pemalu. Bahkan beberapa hari ini Dina mengubah model rambutnya untuk menutup dirinya ketika kacamatanya rusak dan kemarin aku harus menemaninya berkonsultasi di optik. Dia juga bekerja di Cafe dan aku ikut membantu. Kamu pasti sudah paham dengan kondisi Dina"