Elite Class

Elite Class
BAB IV



"Jarang sekali kamu bekerja sampai menghabiskan malammu" Al menguyah beberapa keripik.


"Semenjak kamu merusak Diva dengan berkas kontenmu, waktu bersantaiku hilang Selama beberapa hari ini"


"Jadi kabar bahwa dia dirawat sudah valid" Al menganggukan kepala.


"Kamu kesini hanya untuk memastikan kabar itu?" Tangan Guruh mengepal lebih keras dari sebelumnya saat pertengkaran Al dengan Diva.


"Bukan, ada pembicaraan serius denganmu" Tatapan Al tajam.


"Wah-wah, sepertinya menarik dari tatapanmu yang serius" Mata Guruh yang seakan menjadi segar bergegas duduk dihadapan Al.


"Sebentar lagi kamu akan melihatku dalam berita viral dalam pendukungan salah satu kandidat turnamen Cinema Campus" Al melipat dahi.


"Benar-benar kabar yang mengejutkan, seorang jenius akan melakukan comeback pada kekalahan tahun lalu" Guruh menyeringai.


"Aku dipaksa oleh sahabat dosenmu, mungkin bisa disebut pendukungan pada kandidat wanita terlemah"


"Aku paham dia sangat mengerti perjalanan politik disana, Bintari membenci sistem kekuasaan yang semakin lama semakin dominan" Guruh dapat menebak dengan mudah.


"Caranya salah dengan menumbalkanku"


"Baiklah, itu tidak terlalu buruk, kamu hanya perlu membentuk kekuatan koalisi yang baik. Mau coba satu, Al?" Guruh bersandar membakar sebatang rokok.


"Kamu akan mati cepat dengan gaya hidupmu"


"Lanjutkan saja analisa payahmu" Guruh menghirup nikmat asap yang dibuatnya.


"Ada beberapa orang yang muncul diwaktu kesepakatan itu"


"Mungkin saja mereka mempunyai keterlibatan"


"Seorang bernama Hanz yang mengaku 2 tahun diatasku dalam kelas elit. Dia juga menyebut orang dominan dikelasku sebagai anak pimpinan politik dan dia juga dapat mengenali sekeliling dataku dengan mudah. Terakhir seorang wanita dari universitas negeri yang sikpanya selalu frontal" Al mengeluarkan kartu nama Hanz dimeja.


"Kemungkinan pertama, Hanz bisa menjadi rekanmu ataupun orang dominan dikelasmu yang menjadi rekanmu. Kemungkinan kedua, mereka semua adalah musuhmu. Jelas mereka terlibat dalam turnamen dan muncul disekeliling waktu kesepakatan, informasi yang diterima dari seorang guide campus lebih cepat dari siapapun di kampus itu. Terakhir, wanita dari kampus negeri tidak memiliki kekuatan yang besar mau dia musuh atau temanmu, kamu bisa menjadikannya rekan sebagai kepanjangan tangan dalam menyebarkan pengaruh" Guruh menghembuskan kembali asap yang dihisapnya.


"Aku tidak bisa memastikan posisi keduanya dalam waktu cepat" Al menulis hal penting dibuku diary yang dikeluarkannya bersama kartu nama Hanz.


"Itu mudah sekali, kamu hanya harus berkomunikasi dengan mereka. Turnamen ini hanya membutuhkan sebuah permainan, permainan terbaik adalah menjadikan musuh terbesarmu sebagai rekan" Logat Medan Guruh sangat kental saat berbicara pepatah.


"Rencana yang bagus. Setidaknya aku memiliki waktu 3 bulan untuk membentuk kekuatan"


"Aku tidak terlalu peduli soal politik, berbeda dengan dosenmu. Tetapi di komunitas Modern banyak sastrawan besar lulusan SANOF, kamu bisa melibatkan beberapa dari mereka untuk dipihak kalian dibanding semua dipengaruhi oleh kekuasaan kampus" Guruh bangkit ke meja kerjanya.


"Baiklah kurasa cukup"


"Dulu kamu sangat sebal terhadap wanita, sampai saat pertama dengan Diva kamu selalu menyalahkannya. Sekarang kamu-lah yang menjadi pendukung penuh akan kemenangan kandidat wanitamu" Guruh tertawa lepas.


"Menjadi pimpinan baru? Kamu lupa dengan konten terbarumu? Militer saat ini memiliki pengaruh yang hampir sejajar dengan sastrawan dan budayawan" Guruh melemparkan sebuah berkas yang dikirimkan Al.


"Pantas saja kamu menghabiskan malammu beberapa hari ini, berkasku terlalu menarik untukmu sepertinya"


"Ya begitulah, mungkin kamu bisa mengembangkan konten itu mungkin bisa dikemas dalam film dokumenter seperti konten viral Modern Command milikmu"


"Masukan yang bagus"


"Selesaikan tulisan kerangka dibukumu, aku belum sarapan meskipun waktu sudah mulai siang" Guruh keluar meninggalkan Al yang fokus menulis.


Al tetap fokus pada buku diarynya. Setelah pembicaraan dengan Guruh, dia mengkombinasikan setiap pola. Mengapa Kevin mau terlibat dalam diskusi kelas bersama Mr. Pieter, mengapa Hanz menyebut Kevin pada perbincangan, dan mengapa keduanya aktif pada waktu yang bersamaan pada kesepakatan.


Orang awam sudah mengira bahwa kejadian ini adalah hal biasa, tetapi jenius menggambarkannya sebagai pertanda. Mereka punya tujuan tertentu, sebuah ancaman, pengaruh, atau unjuk gigi sebagai tawaran berkoalisi.


Teeet..... Teeett....


Getaran ponsel yang diletakan pada pinggiran meja cukup menganggu konsentrasinya. Al jarang sekali menggunakan ponsel karena kontak yang sangat sedikit, hanya orang orang tertentu yang bisa memilki nomor pribadinya.


Al meraih ponsel, sebuah nama Kirana tertera pada kotak pesan masuk.


Pertemuan selanjutnya malam ini jam 6 di Kedai Pojok Sumatera Coffee.


Note : Rapikan dirimu dan jangan terlambat


Salam, Kirana


Sahabat masalalu


Dalam sekejap mata Al berkedut melihat pesan Kirana, waktu yang diberikan tidak kurang dari 6 jam untuk sampai ke tempat yang belum dikunjunginya. Wanita selalu seenaknya, pikirnya.


""Sudah kamu selesaikan analisis sok jagomu itu?" Guruh datang mengelus perut yang membuncit dibanding saat Al datang.


"Hanya butuh waktu untuk memastikannya" Al menggeleng. 


"Bersantailah, kamu bisa berpikir sambil memakan camilan di meja"


"Hal itu sudah kulakukan tadi, Aku butuh bantuanmu lagi Bang" Al merapihkan barang-barangnya di meja.


"Bantuan apalagi yang harus ditanggung komunitasku untukmu"


"Aku pinjam kamar mandimu dan pakaian hangat diruangan pentas"


Pusat kota menjadi titik bulan-bulanan kemacetan. Terdapat banyak mall dan tempat hiburan yang dikunjungi orang-orang saat malam tiba. Al tidak terlalu familiar dengan situasi keramaian yang membludak, berbeda dengan keramaian disekitar daerah SANOF dan apartemennya yang teratur pada keramaian.