Elite Class

Elite Class
BAB II : Perkenalan Tidak Terduga



Halo Guys!!


Selamat Datang Dicerita Gue!!


Jangan Lupa Vote dan Komentarnya


"Terkadang kita tidak sadar sedang berharap kepada orang yang tidak bisa diharapkan" (Dina, 1992).


"Stasiun Djuanda" Dina menyerahkan sejumlah uang.


Petugas dengan cekatan mencetak tiket masuk kereta lengkap dengan sejumlah bukti pembayaran karcis.


Sifat alami cewek yang susah jauh-jauh sama kawan karibnya membuat Dina mengunjungi kos-kosan Kirana.


Kereta jurusan Manggarai-Kota akan memasuki stasiun.


Sebelum pemberitahuan pemandu stasiun pun, Dina sudah memasang kuda-kuda pada barisan terdepan antrian pintu.


"Perhatikan pintu, kereta akan berangkat" Ucap petugas Stasiun.


Style Dina terbilang ikut-ikutan trend remaja kekinian, sweater kupluk ditambah kacamata untuk bergaya membaca buku dengan bersandar ditiang penyanggah kereta.


Gerbong kereta yang riuh dengan penumpang keluar masuk kini berubah menjadi pasar kaget oleh pedagang liar di dalam kereta.


Pararunten akang teteh, boleh dibeli, Aya tisu, Aya udud, mangga di request sok butuh apa.


Bahkan pasar kaget ini juga menjadi ajang tawar menawar diiringi dengan goyangan alunan gerbong kereta yang maju mundur. Kebayang Gak Lo!! Mirip orang India lagi joget sambil nawar salak.


"Sayang anak neng, robot teranspormer babelbi buat anaknya" Tawar Seorang pedagang yang awam bahasa Inggris.


'Buset dah gue dandan modis gini disangka emak-emak' Batin Dina bergejolak.


"Nggak bang, anak saya sukanya Barbie" Dina asal ceplos.


Moodnya buat baca buku hancur oleh pedagang sialan. Matanya menyapu setiap penumpang gerbong. Kalo dulu gaada sebutan gabut.


"Kak boleh kenalan?"


"Buat apaan?" Seorang cowok terlihat risih didatangi.


"Mau kenal, kagum aja" Jawab wanita itu gugup.


"Al" Singkat Al yang kembali terganggu cewek untuk ketiga kalinya hari ini.


"Boleh minta nomor kak?" Tanya wanita lagi.


"Joget dulu, baru gue kasih"


Dina yang udah ga mood baca buku malah gemas melihat adegan didepannya. Nyali cewek itu langsung ciut dengan permintaan super nyebelin.


Gimana ga gemas coba? Cowok berantakan, bajunya aja gajelas model apa, cuman menang tampang putih ditambah rambut acak-acakan ala Korea, bisa-bisanya belagu begitu diajak kenalan cewek? **** Off buat tuh cowok.


Boooo.....


Dina mengalihkan pandangan ketika sorakan kecilnya justru mendapat perhatian Al. Bakal panjang urusannya kalo tuh cowok denger.


Petaka ternyata selalu didekatnya, bukan karena Al paham bahwa sorakan kecil itu untuknya, tetapi masalah baru datang dari perutnya.


Wtf.... ini baru awal bulan, seharusnya kan Minggu depan. Pasti gara gara stress, mood rusak, dan adegan menjengkelkan tadi.


Ya Lo tau kan kalo cewek udah pms semua hal udah pasti disalahin, kalo pun datang lebih cepat dengan pembalut cadangan masalah bisa kelar, Cewek selalu benar, apalagi kalo lagi pms.


Secepat kilat Dina mengubah sweaternya menjadi penutup bokong yang bocor.


"Permisi pak" Dina segera mencari tempat aman agar tidak menjadi tontonan.


Stasiun Djuanda masih harus melewati 2 stasiun lagi untuk sampai, setidaknya Dina dapat menutupi lingkaran merah seperti sunder bolong yang berada di pantatnya.


"Stop!!" Sebuah tangan tepat berada dipundak menahan bokong Dina yang hampir menyentuh kursi penumpang.


Ia pucat setengah mati mengira ada yang mengetahui tanda lingkaran merah di bagian belakangnya.


Siapapun tangan itu, petugas kereta, atau masinis kereta sekalipun akan disemprot hujatannya, mereka belum ngerasain emosi cewek pms kayaknya.


"Tuh kuping harus lo korek deh, gue ngomong aja kagak denger"


Padahal baru saja Dina mengucap ribet berurusan dengan itu cowok sombong bernama Al, malah ia dicegat karena menerobos penumpang untuk mendapat bangku kosong dihadapan Al.


"Lo berurusan sama orang yang salah, Lo bilang gue budek? Dan Lo kira Lo siapa nyentuh nyentuh gue haaa?" Dina sudah mengeluarkan sumpah serapahnya, emosinya meluap dibantu mood pmsnya yang hancur.


"Bawel amat neng, lagi pms yak? Gue cuma nahan Lo, itu bangku buat nenek-nenek yang nanti masuk. Masih muda kok letoy amat" Al tidak terima dituduh.


Dina justru semakin napsu, benar saja tampangnya doang yang tampan, kelakuannya super menjengkelkan. Ia langsung merogoh dompetnya mengeluarkan kartu jokernya, biar langsung diem nih cowok, belom tau gue siapa!!


"Hati-hati berurusan sama gue" Dina memperlihatkan kartu identitas mahasiswa SANOF-nya kepada Al.


Mahasiswa SANOF adalah orang pilihan dengan keluarga berlimpah kekuasaan. Apalagi dengan mendapatkan posisi internasional, menambah citra kekuatannya. Bahkan polisi pun segan berurusan dengan mahasiswa itu.


Dengan wajah puas ia mengeluarkan senyuman kemenangan. Dina juga pernah batal ditilang akibat mengeluarkan kartu ampuh ini.


Rasain Lo, bakal Gue suruh sujud minta maaf nih cowok, batin Dina.


Al hanya melongo melihat Dina mengeluarkan kartu itu, bukan karena terkejut Dina seorang mahasiswa SANOF, tetapi semakin meyakinkan pikirannya kalo cewek dihadapannya beloon, otak korslet.


"Sekarang Lo minta maaf" Paksa Dina.


"Mau gue minta maaf? Joget dulu" Balas Al.


"Dikira Gue kayak cewek sebelumnya yang lu mainin seenaknya"


"Wah, fans Gue juga bisa jadi mata-mata sampe ikut dikereta, apalagi iri yang nyorakin Gue barusan"


What?? Fans?? Pede gile nih cowok, gaada faedahnya juga ngikutin Lo, Gerutu batin Dina.


Kalian gatau aja, keributan mereka dua tuh malah sampe jadi tontonan satu gerbong, Al santai karena selalu cuek sama sekitar, beda dengan Dina yang udah hilang kata malu kalo udah emosi ditambah pmsnya yang bikin gerah bodi.


"Kalo cuma kartu Gue juga punya" Jawab Al.


"Kartu apaan? Kartu Ciki Zico baru Lo punya kayaknya" Ucap Dina mengejek Ciki favorit adiknya.


Belum sempat tertawa atas hinaannya, Dina hampir saja melompat melihat kartu Al yang sama dengan miliknya, bahkan terlihat cap bintang emas pada sisinya.


Sialan, Anak kelas elite, Kasta paling atas. ****** Gue!!


***


"Na, Gue bikin es dawet, mau kagak?" Tawar Kirana.


"Boleh, Gue aus parah tadi abis disemprot sama satpam stasiun" Padahal Dina yang malu setengah mati melihat tingkahnya dihadapan kelas elite.


"Oh jadi muka Lo pucet gara-gara tuh satpam? Kartu SANOF kemana? Kan takut tuh pasti"


"Ada, udah aus gini Lo suruh cerita, kering sampe lambung Gue tar"


"Hahahaha, iya iya minum dulu, bentar dikit lagi, Beb" Balas Kirana mengaduk


Biasalah kalo udah sesama cewek apalagi udah Deket banget sekampus, sekelas, sekosan, ga jauh dari kata sikap jeleknya atau ga kata Beb, Cin (kalo Lo agak geser), Say.


"Gimana kabar rooftop? Katanya semalam ada anggota baru gua denger dari Levi"


"Rin, adeknya Levi sekarang tinggal disini, Lo manis apa sedeng?" Balas Kirana


"Jangan terlalu manis, kalo perlu tambah makanan kecilnya"


"Udeh ngerepotin malah request, si Beloon" Protes Kirana asal ceplos.


"Yeh, biasanya dikosan Gue juga stok cemilan langsung ludes"


Dina ga nyadar padahal porsi makan dia lah yang paling banyak diantara anggota rooftop lainnya. Mungkin suatu keunggulannya adalah doyan makan dengan tubuhnya yang tetap ideal, tidak meninggalkan lemak diperut. Mukjizat banget gak tuh buat seorang cewek yang suka laper.


"Segini doang mah gabakal kenyang" Dina menyendok bolu kukus yang disediain Kirana.


"Ah Lo nya aja yang gentong"


"Yeh sewot, body goals gini, ga ngaruh juga Gue makan banyak. Jangan bikin bt, Pms nih Gue"


"Kebiasaan sih Lo jadi cewek tuh selalu bawa pembalut cadangan makanya, ****" Kirana terkekeh mengingat kedatangan Dina.


Dina berlari ketika turun dari kereta. Bukan karena takut terlihat lingkaran sunder bolongnya, tetapi sudah hilang sudah martabatnya didepan kasta atas SANOF. Al terus mengoloknya yang menyombongkan diri mahasiswa SANOF.


Mati gaya Gue didepan tuh cowok. Come on... kenapa orang berantakan kayak dia jadi anak kelas elite, Bitchh!!!


Untung saja kos-kosan Kirana hanya beberapa blok dari stasiun Djuanda. Ketika masuk Dina langsung berlari ke WC dan meminjam sejumlah pakaian Kirana.


"Lo beneran jadi ikut tanding, Na?" Tanya Kirana disela menikmati bolu kukus.


"Ikutlah, makanya Gue butuh Lo, ya itung-itung bantu mikir, otak Lo kan agak dewasaan tuh bisa kendaliin tim"


"Ya tapi Lo kan tau bahayanya disana, lawan Lo juga udah beda kelas, beda kasta malah"


"Ga takut Gue mah, beda emak bapak aje Gue hajar" Balas Dina bergaya, padahal sebelum ke kos Kirana ia mati kutu berhadapan dengan kasta atas.


"Yauda, Gue mah dukung sahabat aja" Kirana menghela nafas kalah argumen keras kepala Dina.


Meskipun umurnya sama sebagai mahasiswa tingkat 2, Kirana lebih dewasa dibanding Dina yang semena-mena dalam banyak hal. Apalagi sikap keras kepalanya yang akhirnya membuatnya malu diri sendiri di kereta.


"Terus gimana sama sisa calon tim kita?"


"Bad, kasta atas otaknya sengklek semua kayaknya, susah banget diajak kerjasama" Resah Kirana.


"Nekat Lo ngajak kasta atas, eh tapi keren juga Lo bisa kenal sama anak kelas elite"


"Cuma teman lama di Surabaya, Gue satu satunya orang luar yang kenal identitas dia"


OH IYAA....Seketika meja berhamburan terbanting oleh pukulan. Kirana seperti kesetanan setelah mendengar ucapannya sendiri.


"Gue punya cara, Good Idea..." Kirana senyum-senyum sendiri.


"Woy, Lo kenapa? Mabok Rambo Lo yak? Untung aja kaga ada granat disini, bisa bisa Lo lempar"


"Denger Gue dulu, beloon. Ada ide buat di support anak kelas elite" Heboh Kirana.


"Ngomong ya ngomong, gausa Lo banting semua yang di meja, gagal fokus makan Gue nih" Protes Dina.


"Oke, besok Lo ikut Gue aja, kita temuin anggota tim spesial kita"


"Spesial spesial, dikira martabak, siapa temen lama Lo?"


"Al, anak semester 5 Kelas Elite Sastra" Jawab Kirana.


"Whatttt????"


***


Next ?


Dukung Putra14!!


penulis amatir yang ngerangkak ke dunia profesional.


Vote, komentar, dan masukan kalian sangat berarti untuk penulis.


Thanks Guyss!!