
Halo Guys!!
Selamat Datang Dicerita Gue!!
Jangan Lupa Vote dan Komentarnya
"Jangan terlalu lama berduka, segeralah bangkit dan keluarlah dari kepedihanmu" (AL, 1992).
"Lo mau berangkat bareng ga?" seseorang mengetuk pintu kamar.
Herman gelisah pada sikap ngaret Al yang akan membuatnya selalu senam jantung saat memasuki kelas yang sudah dimulai dosen.
"Buruan, woy!!" Herman mengetuk keras seperti maling yang sedang membobol pintu.
Wajar saja jika Herman bersikap keras pagi ini, jadwal presentasi bimbingan dosen killer akan dipaparkan di depan kelas.
Manusia mana yang tidak emosional menunggu orang yang menumpang kendaraannya ngaret tidak tau diri.
"Masih pagi gini aja udah cerewet, ga aus?" Al membuka pintu kamar.
"Semalam udah gue SMS kalo hari ini bakalan berangkat lebih pagi, ga Sudi gue disemprot dosen cuma gara gara nungguin Tuan Jenius dandan"
"Bentar, cuma pemanasan Muay biar ga kaku amat nih otot" Al meregangkan ototnya.
"Kenapa kalo orang jenius itu susah banget jaga penampilan" Herman memandang pakaian Al dengan tatanan rambut model sisiran tangan.
"Gue mah udah ganteng dari orok" Protes Al yang dituduh amburadul.
"Udahlah, Waktu kita ga banyak" Herman terus memperhatikan tiap detik yang terlewati pada jam tangan.
"Perlu gue jokiin? Biar langsung tancap gas sampe kampus" Al mengulur tangan menunggu kunci motor.
"Gue gamau si broo lo sentuh lagi, yang ada badannya kebelah dua kalo Lo bawa" Herman menepis tangan Al.
Pengalaman pahit ketika Herman bersedia menuruti permintaan Al membuat motor kesayangannya 'broo' masuk selokan air. Sejak itu Herman selalu menolak pria menyebalkan itu.
Al tergolong pria rupawan di kampusnya, tetapi sangat disegani kaum wanita karena sikap menyebalkan dan permintaan yang tidak masuk akal. Berbeda dengan Herman sebagai pecinta wanita sejati.
Herman juga sangat terdepan dalam masalah penampilan, berbeda dengan Al yang males berpenampilan rapi, dengan kaos celana pendek sudah cukup baginya.
"Abis kelas, temuin gue di kantin" Herman memacu motor Trail Suzuki TS125 kebanggaannya 'broo' memasuki jalan protokol. Motor yang cukup memudahkannya terlihat gagah didepan wanita.
"Ada urusan apa Lo disana? Mintain sedekah anak-anak?" Al asal ceplos.
"Gue kangen suasana kantin" Herman terpaksa berhenti menunggu lampu hijau.
Memang benar Herman tidak terlihat hampir 2 minggu karena mengambil cuti dengan alasan keluarga. Hari-hari ketenangan Al telah berakhir ketika kedatangannya semalam.
"Lo mah kangen pemandangan disana, terakhir dapet kenalan anak DPRD, Fani, Lo dah jadiin kan?"
"Lumayan bodynya, duitnya apalagi" Herman mengelus tangannya membayangkan lembaran uang.
Tawa mereka pecah dimotor melihat tingkah Herman berpantomim memegang segepok uang
"Hahahaha, Wah, Kelas Kakap besar nih"
"Kalo Lo berubah pikiran tentang cewe, gue bisa kenalin nih Lo tinggal pilih kelas kakap apalagi bempernya montok, ada Dita, Nisa, Rahma..." Herman menghitung satu persatu kenalan ceweknya.
Keduanya selalu menggambarkan kenalan Herman kedalam beberapa kualifikasi, kelas kakap sampai teri, bahkan istilah bemper depan belakang untuk kemolekan wanita.
"Ambil aja buat Lo semua, ribet kalo urusan sama cewe" Al menjotos helm Herman yang sedang pamer cewe.
"Sia-sia tampang Lo kalo gamau Deket cewe"
Motor memasuki Gapura raksasa dilapisi lempengan logam mulia bertuliskan International S.A.N.O.F University. Terpampang tower-tower tinggi membentuk Letter U pada keseluruhan kampus.
"Cih...kayaknya otak Lo makin kecil kalo udah bahas cewek" Al tidak mau menanggapi jika sudah berurusan topik wanita dengan Herman. Hal ini Mungkin masuk ke dalam ranah cita-citanya.
***
Siang hari..
Jakarta sudah berada pada puncak panasnya. Cowok dengan jadwal padat berakhir mati kutu di kantin.
Menunggu Herman menjadi hal terbodoh dalam hidupnya, Pikirnya.
"Sorry, tadi jalan gue kehambat sama mahasiswa baru bimbingan, biasa kating mah" Herman menarik kursi duduk memesan menu andalannya.
"Hari ini mereka sial banget dipaksa kenalan kakak tingkat caper"
Jelas saja Al berpandangan begitu, sudah pasti Herman memanfaatkan momen itu untuk mendapatkan kontak dan berkencan.
Mendapatkan hati kakak tingkat menjadi kebanggaan mahasiswa baru di kampus, tetapi jika itu hanya seorang Herman, semua mahasiswa di tower D tau siapa Herman.
"Terimakasih" Ucap Herman kepada pelayan yang menyerahkan pesanannya.
"Sebenarnya ada urusan apa, gue tau ada yang bakal lu bahas" Al menyeruput es jeruknya yang nikmat ditengah hari bolong ini.
"Gue denger SANOF punya posisi ditingkat Internasional. Bakal makin sombong mahasiswa disini kayaknya" Balas Herman sambil mengunyah kebab.
Al mengerutkan dahi melihat kelakuan rekan makan siangnya yang engga bisa ngejaga etika makan.
Apa semua anak politik punya kelainan aneh begini?
"Gimana masalah sistem kasta kampus? Anak politik lagi rame bahas itu" Tanya Al.
"Percuma, gapunya orang dalem, hahaa" Kekeh Herman.
"Kasta tengah emang susah diatur" Al sedikit memonyongkan bibirnya mengarahkan ke Herman.
"Cowok Macam Lo dikasta atas, pinter udah, ganteng udah, dan ada satu yang kurang" Herman membentuk kamera potret dari jarinya.
"Apa?"
"Pacar, yang pasti cewek. Jangan bilang Lo kelainan"
Tawa lebar terukir pada wajah Herman, sebaliknya Al dengan rahang mengatup. Ingin sekali ia mengantarkan pukulan hasil pemanasan Muay tadi pagi.
Makan siang di kantin berakhir pada hobi Herman dengan kerinduannya cuci mata. Al paham dari tatapan matanya yang berubah pada 'mode Philogynik'.
"Bodo amat yee, Lo bisa dapet kakap besar yang bempernya wuahh..." Gurau Al menyemangati Herman.
Situasi berubah saat seorang wanita duduk di hadapan mereka.
Mungkin aja Herman dapat Kakap Besar, seorang anak gubernur, pikir Al
"Jarang-jarang bisa ketemu Lo disini" Wanita misterius duduk tanpa meminta izin.
"Ada yang bisa gue bantu, nona" Balas Herman dengan nada gagah yang menampilkan pesona wajahnya.
Al mengenal suara wanita itu. Ngga ada wanita tomboy yang suaranya melebihi seraknya.
"Padahal satu tower kampus, tapi kayaknya ada anak kelas elite yang nyasar main ke kantin" Paras kejawaannya memancar dengan rambut kuncir.
Karena anak kelas elite merupakan manusia super sibuk keturunan bos petinggi negara, level kantin yang ramai tidak sesuai dengan kualitas kelas elite.
Dari pagi gue keliling gedung akhirnya nemu nih cowok di kantin, Batin Kirana gemas.
"Terus Lo mau apa disini? Bikin acara reuni kampung?" Al sinis ketika berhubungan dengan wanita.
"Herman...." Tangan Herman menjulur kedepan dengan tangan lainnya yang tetap menyuapi sepotong kebab ke mulutnya.
"Kirana"
"Cantik juga" Goda Herman.
"Gue butuh bantuan Lo" Kirana memulai obrolan serius.
"Skip, males"
"Gaada yang bisa diposisi ini selain Lo"
Kirana itu cewek rewel kalo udah bawa urusan serius. Buktinya aja sampai bela-belain muter tower buat nyari Al seorang.
"Joget dulu, baru gue jawab" Al cuek memainkan anak rambut.
"Siapa juga yang mau nurutin permintaan aneh Lo!!" Geram Kirana.
"Oke.. Husss Huss" Tangan Al mengibas kedepan menyuruh Kirana pergi.
"Lo tambah manis kalo sedikit lebih kalem" Herman kembali ikut menggoda.
Kirana melotot ganas memandang Herman, kengerian dirasakan melebihi rasa sebalnya terhadap Al.
"Gue bakal cari cara lain" Ancam Kirana.
***
Wawancara event kampus 3 hari lagi, belanja bulanan nanti malam, Bimbingan Dosen Bintari lusa. Deadline dokumen konten sore ini.
Peminjaman buku filsafat besok.
Taman menjadi spot Al menyesuaikan jadwal hariannya di buku diary, sebuah buku Kramat yang menjadi bagian isi pikirannya.
Taman Pankreas, namanya mungkin sesuai dengan bentuknya yang menyerupai pankreas orang-orang
Al termasuk jenius, bahkan dia dapat lulus cepat tahun ini atas rekomendasi Dosen Bintari.
Cara lain apalagi yang cewek itu bakal lakuin
Pikiran kecil mulai masuk ke otak Al, Kirana jelas cewek yang suka memaksakan ego yang berarti menghalalkan segala cara.
Ck..
Badan Al hampir terjungkal, bukan karena ia menemukan cara lain yang akan di lakukan Kirana, tetapi mengingat besok tanggal merah yang membuatnya tidak bisa memenuhi jadwal ke perpustakaan.
16.30... Shitt!! Gaakan keburu kalo harus ngurusin dokumen dulu.
Al meraih ponsel dikantong celananya, berusaha mencari kontak seseorang. Belum lagi menemukan kontak yang akan dihubunginya, ponselnya bergetar menuliskan sebuah nama 'Serena'
"Tumben banget Lo langsung angkat telfon Gue" Suara cempreng Serena terdengar jelas.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang sibuk" Al meniru panggilan tidak tersambung.
"Gue bisa bedain mana operator mana suara Lo, ****"
"Lo ribet, Gue lagi sibuk udah telat ini malah ditelfon" Al menggerutu
"Gue lebih sibuk ngurusin masalah yang Lo tinggalin dikeluarga...." Balas Serena.
Telfon terputus akibat Al tombol yang ditekan tanpa merasa bersalah.
Menyebalkan, dingin, berantakan, anti cewek, permintaan yang aneh dan yang terpenting senyumannya adalah palsu. Sifat yang benar benar melekat pada Al. Bahkan telfon antar negara dari Serena pun bisa diputus dengan mudah.
Al melanjutkan mencari kontak di ponsel, nama Guruh akhirnya ditemukan setelah menyeleksi kontak bernama Guruh.
Bukan Al yang pikun menyimpan kontak Guruh, tetapi kebiasaan bos komunitas itu gonta-ganti nomor yang membuat ponsel Al banyak mengoleksi kontak Guruh.
"Gue sampe agak sorean Bang, telat dikit. Kereta penuh jam segini" Ucap Al setelah dering telepon terangkat.
"Bos sibuk. Lo bakal kena masalah kalo dokumen ga sampai sore ini " Diva -asisten Guruh- mengangkat telepon Guruh.
"Gaakan telat, khusus Lo, tar gua suruh keretanya berhenti depan gedung"
"Garing woy, tau sendiri Lo kalo bos tau dokumen itu gamasuk hari ini"
"Siapin kuping aja, Lo kan udah biasa dengar dia ngamuk" Enteng Al.
Terdengar suara gerutu sebelum Diva menutup telepon, mungkin ia sedang menyumpahi Al jika tak kunjung datang.
***
Next ?
Dukung Putra14!!
penulis amatir yang ngerangkak ke dunia profesional.
Vote, komentar, dan masukan kalian sangat berarti untuk penulis.