
“Usahakan kamu mengetuk pintu sebelum masuk, bocah” Teriak Dosen Bintari.
“Jadwal kita selalu hari Rabu, untuk apa aku mengetuk pintu agar diizinkan masuk? Kamu tentu tau siapa yang akan datang” Al menggerutu, sikapnya tidak memandang umur dan jabatan.
“Lihatlah, makin hari penampilanmu semrawut, hilang niatku untuk menjodohkanmu dengan anakku” Dosen Bintari melipat tangan.
“Siapa peduli dengan perjodohan yang kamu putuskan sepihak”
“Tetapi jenius tetaplah jenius” Kini Dosen Bintari cair dalam suasana.
“Sepertinya kamu terpengaruh dosen konspirasi itu” Al mengingat Mr. Pieter.
Sikapnya sangat serasi jika disandingkan sebagai pendamping Guruh dibandingkan rekan kerjanya di komunitas, marah sesukanya dan menyukai hal gila. Sebagai pendahulu anak politik, sastranya kini mengarah kepada pengaruh politik.
“Aku mendapatkan laporan komunitas bahwa kamu terlambat mengumpulkan berkas” Dosen itu mengibaskan rambutnya yang pendek, perawakannya cukup menjadi favorit mahasiswa sebagai dosen muda.
“Asisten itu sudah pasti melaporkannya, bahkan kesalahan sekecil apapun” Al mendengus sebal.
“Diva menyelesaikan verifikasi berkasmu sampai larut malam dan drop saat ini, Guruh juga menyalahkan keterlambatanmu”
Guruh sudah pasti tidak mau disalahkan sebagai pimpinan dan menjadikan keterlambatanku sebagai kambing hitam, pikirnya geram.
“Pertama, kau terlambat dalam menyelesaikan berkas. Kedua, kau malah menghabiskan waktu semalaman dengan Pak tua dengan mempermainkan Diva. Atur jadwalmu untuk menemuinya sebagai pertanggungjawabanmu, dan ini perintah!” Dosen Bintari mengetukan pulpen bagaikan palu hakim.
“Baiklah, pertemuan sepertinya sudah berakhir” Al meletakkan berkas diamplop coklat di meja.
“Pertama, aku tidak mempunyai waktu untuk membaca konsep penelitian murahan bersama teman payahmu. Kedua, pertemuan baru saja akan dimulai. Kita kekurangan satu tamu lagi untuk memulai pertemuan, mereka terlambat”
Ruangan Dosen Bintari selalu penuh pertemuan pada hari Rabu, Al sudah biasa diajak menemaninya bertemu petinggi-petinggi yang berkepentingan dalam politik. Dari tamu pejabat kampus sampai petinggi partai seringkali disaksikannya, bahkan ikut juga dalam perdebatan.
“30 menit sudah waktuku terbuang. Jika pertemuan membahas hal tidak penting, tamu itu harus membayar banyak dengan tinjuku, tidak peduli petinggi partai sekalipun!” Al mengepalkan tangan merasa tidak dihargai.
“Padahal kau sendiri terlambat 2 jam yang memaksa asisten Guruh lembur, dan tamu kita saat ini hanya mahasiswa” Dosen itu menyilangkan kaki.
“Bualanmu sama jeleknya dengan Pak tua pemimpin komunitas itu” Al melotot kepada Dosen Bintari.
“Itulah faktanya wahai si jenius tampan. Sekarang aku kembali berniat untuk menjodohkanmu dengan anakku, mungkin kau harus sabar menunggu 10 Tahun lagi sampai dia mendapat KTP-nya” Dosen itu puas tertawa melihat wajah Al gemas.
“Sejak kapan kau mau menerima pertemuan dengan mahasiswa lain, bukankah mereka hanya menyusahkanmu?”
“Sekarang Kau yang akan disusahkan, sudah menjadi tanggung jawabmu menyukseskan tamu kali ini. Lagipula kau benar, mereka hanya menyusahkanku” Dosen Bintari tersenyum menyisakan tawanya tadi.
“Keputusanmu sepihak, dan aku….” Ketukan pintu membuat Al mengentikan protesnya.
Tok…. Tok…
“Masuklah…… kalian sangat terlambat loh!!!” Teriak Dosen Bintari.
“Maaf ibu atas keterlambatannya, kami tersesat meskipun sudah diarahkan resepsionis didepan dan arah yang salah membuat kami berakhir di meja seminar salah satu ruangan aula” Seorang tamu membuka pintu.
Suara tamu itu tersengal seperti habis melakukan perlombaan lari cepat. Tetapi Al cukup familiar dengan suara seraknya.
“Selamat Siang menjelang Sore Ibu dan apa kabarmu pria payah?” Wajah Kirana semakin jelas memasuki ruangan.
Dengan sikapnya yang tenang menyapa, Kirana terlihat sudah mengetahui Al akan ikut serta dalam pertemuan.
“Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” Al melotot kearah Dosen Bintari
“Coba saja kau tanyakan kepadanya” Dosen Bintari beranjak dari meja kerjanya.
Langkah kakinya anggun menuju ke meja penerima tamu. Tingginya yang hampir menyerupai Al 176cm selalu dibalut blouse, sulit mengalihkan pandangan dari Dosen itu.
“Kemarilah, kita bisa mulai pertemuan” Dosen Bintari sudah duduk di sofa.
Al dan Kirana sontak bergegas mengikuti perintah.
“Kamu percaya jika seseorang yang mati akan hidup pada sosok baru?” Bisik Kirana.
“Mungkin kamu harus mencoba” Pandangan Al tetap pada langkahnya.
“Apakah keberadaan Zeline ada didalam sosok sahabatku saat ini”
“Kamu tidak ingin memuji penampilan baruku?” Kirana mencondongkan rambut lurusnya sebahu, wajah chinese sangat klop dengan gaya rambut barunya.
“Tidak akan menarik jika kau tidak membayar sepeserpun pada salonnya” Al duduk bersebrangan dengan Dosen Bintari sedangkan duduk Kirana disisi lain.
“Ya, karena salon itu milikku, bodoh” Sebuah tutup pulpen dilemparkan Kirana.
“Hentikkan permainan itu, Aku sudah mengetahui kalian saling mengenal. Tetapi dalam peraturan kamu dilarang mengungkap identitas Al sebenarnya dan aku pun belum mengetahui identitas calon menantu tampanku” Dosen Bintari tergelak tawa.
Kirana menganggukan kepala sopan, senyumnya mengecut mendengar kata “tampan” kepada Al.
“Al dengarkanlah penjelasan Kirana, setelah ini semua urusan akan menjadi tanggung jawabmu” Dosen itu bersandar membentangkan tangannya yang kelelahan.
“Sudah kubilang kau akan membantuku, dasar pria payah!” Kirana memperlihatkan senyum kemenangan.
“Cepatlah jelaskan, karnamu aku tidak bisa bersantai sore ini”
“Kau akan membantu sahabatku dalam memenangkan Turnamen Cinema Kampus, konten “Modern Command” pada komunitasmu cukup menarik perhatian banyak sastrawan” Kirana membeberkan karya-karya Al.